Apakah Belanja Online Membuat Banyak Toko Tutup?
Scroll

Kuat dugaan, bisnis retail konvensional mulai tergerus oleh maraknya belanja online

Tapi, Asosiasi Pengusaha Retail Indonesia (Aprindo) memprediksi usaha retail akan kembali bangkit seiring meningkatnya pengeluaran pemerintah pada akhir tahun. Staf ahli Aprindo, Yongki Suryosusilo, memperkirakan perbaikan bisa berlanjut hingga tahun depan karena anggaran dana sosial (social fund) pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2018 naik hingga Rp 73,7 triliun. "Tahun depan akan lebih baik," kata Yongki, 26 Oktober 2017.

Bulan Oktober, misalnya, PT Mitra Adiperkasa Tbk mengumumkan penutupan tiga gerai Lotus Department Store di kawasan Thamrin (Jakarta Pusat), Cibubur (Jakarta Timur), dan Bekasi. Sebagai gantinya, perusahaan ini meluncurkan gerai online, Map Emall. "Sejalan dengan tren pasar, kami akan terus berinvestasi di bisnis active, fashion, dan food and beverage," kata Sekretaris Perusahaan Mitra Adiperkasa, Fetty Kwartati.

Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, tahun ini industri menengah yang bermigrasi dari retail konvensional ke e-commerce sebanyak 1.285 perusahaan. Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Gati Wibawaningsih, menargetkan pada tahun depan ada 5.000 perusahaan yang menjajakan barang secara online. "Kalau pelatihan kami konsisten dan anggarannya tersedia," tutur Gati. Jika target itu tercapai, menurut Gati, pada 2019 hampir separuh dari industri menengah nasional bakal bergabung dalam jaringan e-commerce.

Menurut catatan Yongki, pertumbuhan retail jenis barang rumah tangga di luar fashion sepanjang Januari-September tahun ini hanya 2,7 persen. Padahal, sebelum 2015, pertumbuhan retail mencapai 11 persen. Meski optimistis, Yongki enggan memprediksi berapa pertumbuhan bisnis retail tahun depan.

Meski begitu, Yongki menepis anggapan bahwa geliat belanja online berdampak signifikan atas kelesuan bisnis retail. Alasannya, sebagian besar komoditas yang laku di pasar online adalah barang elektronik rumah tangga, gawai, dan busana. Adapun masyarakat kebanyakan masih berbelanja kebutuhan rumah tangga di gerai retail. "Shifting ke online pasti ada. Tapi yang kena adalah retail fashion, gadget, atau travel," tutur Yongki.

Porsi Barang Terjual di E-Commerce Tahun 2016

Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman  Indonesia, Adhi Lukman, juga memprediksi kenaikan bantuan sosial bisa berpengaruh pada pertumbuhan sektor retail. "Kelesuan tahun 2015 bisa diatasi dengan pemerintah menggenjot belanja," ujar dia mencontohkan. 

ROBBY IRFANY | ADITYA BUDIMAN