Ekonomi Digital di Indonesia: Raksasa Asia Tenggara?

Ilustrasi transformasi digital. Shutterstock

Scroll

Beberapa anak muda dari komunitas digital startup Surabaya berdiskusi di co-working space di lantai 3 Siola bernama Koridor, Surabaya, 14 Oktober 2017. TEMPO/Artika Farmita

Indonesia perlahan-lahan berjalan menuju ekosistem ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Dua tahun lalu, orang yang berbelanja online baru 7,4 juta jiwa dengan transaksi Rp 48 triliun. Tahun lalu, angka itu naik menjadi 11 juta dengan total transaksi Rp 68 triliun. Meski belum diketahui persisnya, taksiran total transaksi tahun ini mencapai Rp 95,48 triliun. 

Angka-angka itu baru dari perdagangan online atau e-commerce. Tak aneh bila perkembangan perusahaan rintisan berbasis digital alias startup menarik perhatian pemerintah. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara masih ingat, dua tahun lalu, ia tanpa pikir panjang menyebut bakal ada lima unicorn di Indonesia pada 2019. “Waktu itu saya ditanya petinggi-petinggi perusahaan modal ventura di Silicon Valley, Amerika Serikat,” kata Rudiantara, Senin pekan lalu. “Saya jawab saja lima. Gak tau dari mana.”

 

Nyatanya, perkembangan ekonomi digital melampaui daya ramal manusia. Praktik e-commerce dalam bentuk iklan jual-beli, retail, hingga mal online menanjak cepat. Tahun ini, nilai transaksinya diperkirakan mengambil 3,1 persen pasar retail. Transaksi melalui teknologi finansial atau fintech menyentuh Rp 252 triliun, yang sebagian besar berasal dari pembayaran digital. Sedangkan e-travel, yang diwakili bisnis mobilitas dan perjalanan, menyumbang Rp 105,798 triliun pada tahun ini. 

Baca liputan tentang unicorn lokal, reportase dan analisis sektor fintech, e-travel dan e-commerce di Majalah Tempo

Derasnya laju pertumbuhan ekonomi digital itu mengantarkan empat startup menyandang status unicorn--perusahaan dengan valuasi nilai lebih dari US$ 1 miliar. Yang terakhir menyandang gelar tersebut adalah Bukalapak.com, pasar online yang didirikan Achmad Zaky. “Saya belum bisa menyebut siapa investor Bukalapak,” kata Zaky, Kamis dua pekan lalu di Jakarta. “Pokoknya valuasi Bukalapak sudah satu miliar dolar.” Bukalapak menemani Go-Jek, Tokopedia, dan Traveloka, yang sudah lebih dulu mendapat investasi jutaan dolar. 

 

Investasi Digital Dibanding Sektor Lain (kuartal I 2017, Rp triliun) 

Dipicu pertumbuhan yang bikin bungah inilah Tempo menyusun proyeksi ekonomi digital 2018. Banyak hasil penelitian meramalkan konsumsi dan investasi ekonomi digital bakal menjadi juru selamat perekonomian tahun depan. Pada 2016, sektor informasi dan komunikasi tumbuh 8,87 persen. Sampai kuartal ketiga tahun ini, pertumbuhannya 9,35 persen. Angka-angka itu tentu lebih tinggi bila memperhitungkan sektor lain yang memanfaatkan informasi dan teknologi. 

Tanda-tanda ekonomi digital bisa menjadi pendorong perekonomian tahun depan sudah kentara sejak tahun ini. Riset Google bersama A.T. Kearney yang dirilis pada September 2017 menunjukkan nilai investasi di perusahaan-perusahaan rintisan berbasis digital menyentuh angka Rp 40 triliun sampai semester pertama tahun ini. Angka itu melompati nilai investasi sektor makanan dan minuman. Investasi lokal dan global pada perusahaan rintisan hanya kalah dibanding kucuran modal ke sektor pertambangan serta minyak dan gas bumi. Angka Rp 40 triliun itu tentu belum memasukkan investasi yang diterima Bukalapak. 

Investasi Besar 2017 

Tren perusahaan rintisan kebanjiran modal diperkirakan berlanjut sampai tahun depan. Tapi ada sedikit pergeseran. Startup e-commerce dan e-travel sudah tidak menjadi primadona. “Pasar e-commerce Indonesia sudah penuh sesak,” kata Mifza Muzayan, Sales Operations & Strategy Lead Google Indonesia. “Secara alami, hanya dua-tiga pemain yang akan menjadi pemenang di pasar e-commerce.”

Baca tentang dampak dan prospek ekonomi digital di Indonesia selengkapnya di Majalah Tempo

Tahun 2018 adalah milik financial technology dan industri kesehatan. Preferensi investor tersebut didapat Google dan A.T. Kearney dari survei mereka terhadap puluhan pemodal--baik personal maupun institusional--lokal dan global. Sebanyak 64 persen investor lokal lebih doyan menanam modal di fintech, 29 persen ke sektor kesehatan, dan sisanya ke sektor lain. Sedangkan 70 persen investor global memilih membenamkan modal di teknologi finansial, 20 persen kesehatan, dan sisanya sektor lain. 

Di sisi lain, Rudiantara memprediksi startup atau inisiatif digital yang terjun ke sektor pendidikan punya masa depan cerah pada tahun depan. Acuan Rudiantara sederhana. Tiap tahun, kata dia, pemerintah menggelontorkan 20 persen anggaran buat pendidikan. “Contoh yang bagus itu Ruangguru, yang menghubungkan guru bimbingan belajar dengan murid,” ujarnya. Berawal dari ruang sempit tak berjendela di Universitas Siswa Bangsa Internasional di Jakarta Selatan pada 2013, marketplace guru les itu per Mei 2017 telah menggandeng 80 ribu pengajar. 

Nilai Transaksi Ekonomi Digital

Tantangan Ekonomi Digital

Ilustrasi Ekonomi Digital. Shutterstock
Scroll
Ilustrasi startup. Shutterstock

Laporan Majalah Tempo ini disiapkan tak lama setelah pemerintah menerbitkan Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map e-Commerce). Garis besar peta itu mencakup program pendanaan, perpajakan, perlindungan konsumen, pendidikan sumber daya manusia, infrastruktur komunikasi, logistik, dan keamanan cyber. Yang menjadi pertanyaan: apakah pemerintah mampu mewujudkan target-target pendukung ekosistem ekonomi digital itu secepatnya? Palapa Ring, yang akan menjadi tulang punggung ekosistem ekonomi digital, paling cepat rampung pada 2019. 

Gegasnya pertumbuhan ekonomi digital sudah membuka bolong-bolong yang mesti segera ditambal. Indonesia, misalnya, masih kekurangan tenaga terampil teknologi. Dari satu juta populasi, Indonesia hanya menghasilkan 278 teknisi yang terampil teknologi digital. Padahal Malaysia dan Vietnam masing-masing bisa menghasilkan 1.834 dan 1.094 talenta digital dalam populasi yang sama. “Kami dulu sudah sepakat dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, coding masuk silabus sekolah menengah kejuruan,” kata Rudiantara. “Tapi, setelah ada pergantian menteri, saya harus sering melakukan pendekatan lagi.” Akhirnya, kekurangan teknisi ini dipatri oleh tenaga luar negeri. 

Baca tentang tantangan dan hambatan regulasi ekonomi digital selengkapnya di Majalah Tempo.

Tantangannya bukan itu saja. Dari nilai penjualan Rp 68 triliun e-commerce pada tahun lalu, Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat, 60 persennya adalah barang impor. “Angka riil barang dalam negeri di e-commerce masih kecil sekali,” ujar Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution di kantornya, awal bulan ini. 

Teknisi digital di berbagai negara

Derasnya arus modal yang masuk ke industri digital dalam negeri, bagi sejumlah orang, juga menyimpan kekhawatiran. Dari empat unicorn Indonesia, tiga di antaranya disuntik modal besar dari luar. Bukalapak sendiri belum mengumumkan asal-usul investornya. “Kalau begini terus, kita lama-lama hanya akan jadi pasar,” kata Yansen Kamto, Chief Executive Officer Kibar Kreasi Indonesia, yang kini banyak merawat bayi startup

Baca tentang investasi ekonomi digital selengkapnya di Majalah Tempo.

Dua tahun lalu, ada 107 kesepakatan investasi yang melibatkan startup dengan pemodal. Pada 2016, ada 123 kesepakatan, dan sampai semester pertama tahun ini ada 53 kesepakatan. Dari sisi jumlah kesepakatan, investor lokal memang masih menguasai porsi terbesar, yakni 54 persen. Tapi, dari sisi nilai, 72 persen berasal dari kantong pemodal asing. Itu menandakan pemodal lokal mayoritas mengucurkan dana dalam pendanaan awal, sementara pemodal global mengincar pendanaan tahap selanjutnya. 

Sebetulnya swasta lokal dan badan usaha milik negara sudah membaca gelagat pelaku asing mengeruk pasar Indonesia. Sejumlah inkubasi, yaitu manajemen perawatan startup, mulai muncul dari perusahaan nasional dan BUMN, juga institusi pendidikan. Perusahaan-perusahaan lokal ini juga sudah mulai sadar, untuk bertarung di era digital, tidak perlu malu mengambil alih startup daripada membuat sendiri. Salah satunya Bank Mandiri, yang memilih berinvestasi di sejumlah perusahaan rintisan fintech, sektor yang sebelumnya dikhawatirkan menggerus pasar perbankan. 

Dengan meleknya konglomerat lokal, dan ditopang peta jalan e-commerce yang disiapkan pemerintah, tak aneh bila banyak yang berharap ekonomi digital menjadi suplemen pertumbuhan tahun depan. Pada Agustus lalu, Bank Indonesia memproyeksikan ekonomi digital bisa menyumbang 10 persen produk domestik bruto Indonesia pada 2025. Selain menciptakan banyak lapangan kerja, sektor ini melahirkan banyak pengusaha. 

Tim Edisi Khusus Outlook Ekonomi Digital 2018 Majalah Tempo