Banjir Jakarta, Pengembang Proyek Diminta Bertanggung Jawab

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau bekas tanggul jebol di Jatipadang, Jakarta Selatan. Tim Anies-Sandi

Scroll

Pekerja Penanganan Sarana dan Prasaranan Umum saat menangani banjir yang menggenangi kawan Gondangdia, Jakarta, 12 Desember 2017. Tempo/Subekti.

Untuk melihat kondisi banjir Jakarta, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau bekas tanggul jebol di Jatipadang, Jakarta Selatan, pada 13 Desember. Tanggul itu jebol untuk kesekian kalinya Senin dua pekan lalu, mengakibatkan daerah sekitarnya diterjang banjir hingga satu meter.

Dua hari sebelumnya Anies Baswedan meminta seluruh wali kota memanggil pemilik atau pengembang proyek infrastruktur yang dianggap menjadi penyebab banjir di Jakarta. Wali kota diinstruksikan memantau kewajiban para pemilik proyek di wilayahnya untuk merapikan jaringan drainase yang tersumbat karena adanya pekerjaan proyek masing-masing.

Baca juga: Hati-hati, 6 Kawasan Banjir Jakarta Pekan Ini. 

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Yusmada Faizal, mengatakan beberapa proyek pembangunan seperti LRT pasti akan berdampak terhadap fungsi jaringan drainase ataupun penyerapan air permukaan. Dia mencontohkan pemasangan tiang pancang proyek itu di tengah Jalan H.R Rasuna Said, Jakarta Selatan, membuat resapan air berkurang. “Dulu di sana (di tengah) ada tanaman, sekarang dibongkar, dibuat jalan LRT, pasti ada dampaknya,” tuturnya.

Corporate Secretary PT Adhi Karya (Persero) Tbk, Ki Syahgolang Permata, tak terima dianggap sebagai penyebab banjir besar di beberapa ruas jalan di Jakarta. Dia menjelaskan, perusahaannya melakukan optimalisasi terhadap sistem drainase yang sudah ada.

Baca juga: Perbaikan Tanggul Jatipadang Jebol Dilakukan Nonstop 24 Jam

“Di sepanjang lokasi proyek LRT, semua gorong-gorong yang ada dibersihkan dan lubang air yang terkena proyek dibuatkan penggantinya dengan ukuran yang lebih besar,” katanya, “Ukuran yang lebih besar agar volume air yang masuk ke gorong-gorong menjadi lebih besar.”

Adapun sebaran banjir di Ibu Kota kini tak lagi didominasi kawasan bantaran-bantaran sungai. Banjir parah kerap terjadi justru di ruas jalan dan terowongan. Seluruhnya ada 12 terowongan di Jakarta dan seluruhnya diklaim telah dilengkapi pompa untuk mengantisipasi banjir. Pompa berfungsi menguras air yang menggenangi terowongan seperti yang belakangan kerap terjadi saat hujan lebat mengguyur Jakarta.

Berikut ini persebaran terowongan untuk antisipasi banjir Jakarta serta lokasi tanggul yang rawan jebol.