Difteri: Gejala, Penyebab dan Pencegahannya.
Scroll

Seorang siswa menahan rasa sakit saat disuntik imunisasi difteri di Batu, Jawa Timur. TEMPO/Aris Novia Hidayat.

Difteri menjadi kasus kejadian luar biasa di beberapa wilayah Indonesia, seperti di Jawa Timur, Jabodetabek, Banten, Jawa Barat, dan beberapa wilayah lain. 

Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat mempengaruhi kulit. 

Penyakit ini menyebabkan kematian karena bakteri menyumbat saluran pernapasan, menimbulkan komplikasi miokarditis atau radang pada dinding jantung bagian tengah, dan berakhir dengan gagal ginjal serta gagal sirkulasi.

Penyakit yang disebabkan Corynebacterium diphtheriae ini sangat menular dan termasuk infeksi yang berpotensi mengancam jiwa. Sepanjang Desember saja, sebanyak enam orang meninggal akibat bakteri yang menyerang saluran pernapasan bagian atas itu. Jumlah kematian akibat difteri meningkat menjadi 38 dari 32 kasus selama Januari-November 2017.

Untuk mencegah penyakit ini, pemerintah mengimbau masyarakat untuk melakukan imunisasi ulang bagi anak berusia 0-19 tahun, yang dilakukan serentak sejak 11 Desember lalu.

Pencegahan Difteri

Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Imunisasi terhadap difteri termasuk dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. 

Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DPT (difteri, pertusis, dan tetanus). Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat tiga kali imunisasi DPT.

Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DPT sampai tiga kali di Indonesia, pada 2016, sebesar 84 persen. Jumlahnya menurun jika dibanding cakupan imunisasi DPT yang pertama, yaitu 90 persen.

Vaksin tidak hanya untuk anak-anak, orang dewasa dapat dilindungi dari 14 penyakit mematikan.

Cara Kerja Vaksin

Kawanan imunitas mengacu pada perlindungan sebagian besar populasi yang divaksinasi diberikan kepada kelompok yang tidak divaksinasi. Perlindungan melemah karena tingkat vaksinasi difteri turun. 

AFRILIA SURYANIS (KORAN TEMPO EDISI 18 DESEMBER 2017)/ SUMBER BAHAN: NATIONAL FOUNDATION FOR INFECTIOUS DISEASES, NATIONAL INSTITUTE OF HEALTH. 

DIUNGGAH JUMAT, 22 DESEMBER 2017.