Czeslaw Mystkowski, Pelukis Polandia yang Jatuh Cinta pada Indonesia

Seorang mahasiswi doktoral dari Institut Seni, Akademi Sains Polandia di Warsawa, Joanna Waclawek, menulis kisah memikat tentang seorang pelukis asal negaranya yang memilih hidup dan mati di Indonesia. 

Scroll

Czeslaw Mystkowski menikah dengan perempuan Indonesia dan meninggal di Indonesia. Makamnya kini hilang ditelan pembangunan Ibu Kota.

Dia pertama kali melihat Pulau Jawa pada 4 Februari 1928. Waktu itu, dia menulis, hari Sabtu,  dan dia langsung terpikat pada pandangan pertama ketika turun dari kapal di pelabuhan Tanjung Priok, di Batavia –nama kolonial untuk Jakarta--  bersama istrinya yang baru saja dia nikahi. Pria itu, Czeslaw Mystkowski, baru berusia 30 tahun dan dia belum sadar kalau sisa hidupnya akan dihabiskan di tanah yang baru diinjaknya itu.  

Dilahirkan pada 17 Juni 1898 di Dubin Wolhynia, Mystkowski berasal dari keluarga tuan tanah. Sejak kecil, dia sudah tertarik pada seni. Pelajaran melukis dan menggambarnya  dimulai di Moskow, pada waktu Perang Dunia I. Ketika Polandia mendapatkan kembali kemerdekaan, Mystkowski mengambil keputusan untuk pindah dari Rusia ke Warsawa. 

Di tempat yang baru, dia melanjutkan pendidikan seni. Enam tahun di kota itu, Mystkowski  kemudian memutuskan untuk pergi ke Perancis yang pada saat itu dikenal sebagai pusat seni di Eropa. Dia sempat mengadakan pameran lukisan di Caen dan Paris, sampai bertemu dengan Corry van Rhjin, seorang gadis blasteran Indo Belanda asal Jawa. Mereka menikah dan pindah ke Hindia Belanda. Keputusan itu tidak hanya mengubah seluruh kehidupan Mystkowski, namun juga membuka ruang kesempatan seni baru untuknya. 

Di Indonesia, para pecinta dan kritikus seni dengan segera menerima pelukis Polandia muda ini dengan antusias. Mereka melibatkannya ke dalam pergaulan kesenian di Batavia. Mystkowski memperkenalkan diri sebagai seorang seniman profesional yang pernah tinggal di Moskow dan Paris, dan segera saja, karya-karyanya mulai rajin dipamerkan, baik secara tunggal maupun bersama-sama pelukis lain. 

Teknik Mystkowski pun mengalami perubahan. Pada permulaannya, dia kerap membuat lukisan pemandangan alam dan potret, dengan teknik cat air. Seiring berjalannya waktu, dia mulai memakai cat minyak.  Namun demikian dia tidak meninggalkan ciri khasnya yakni  sering menggunakan  warna tertentu, yang diperoleh dengan menyapu kuas secara cepat di dasar bahan lukisan (kadang dia menggunakan kanvas, kali lain kertas atau kayu), lalu melukis warna kontras untuk mendapatkan efek terang.

Selama hidup di Indonesia, Mystkowski terpesona dengan alam dan orang-orang Jawa. Bersama isterinya, dia pindah ke luar Batavia untuk tinggal di daerah yang terletak di pegunungan Sindanglaja, di antara Bogor dan Cianjur. Di sana, dia membangun rumah dari bambu bergaya Sumatera yang diberi nama Villa Mystkowski. Tempat itu juga dia jadikan sanggar kerja dan banyak dikunjungi tamu. 

Hanya ada satu masalah yang mengganggunya. Selama berbulan-bulan sewaktu tinggal di Paris, Mystkowski tidak mempunyai uang banyak. Oleh karena itu, kamarnya di sana tak dilengkapi fasilitas pemanasan yang baik. Akibatnya, Mystkowski menderita sakit paru-paru. Sayangnya, iklim tropis Hindia Belanda tidak bagus untuk kesehatan Mystkowski, hingga dia beberapa kali terpaksa kembali ke Eropa. Tapi dia selalu kembali ke Jawa. 

Mystkowski pernah mengatakan, “Wanita bisa dicintai, pada saat Anda menyukai, semuanya bisa dilakukan demi dia. Kalau menemukan wanita seperti itu, tidak mungkin tidak bisa jatuh cinta. Mirip dengan seni lukisan. (Anda) harus menangkap sesuatu, seperti cinta […] Itu bukan saya yang mau tapi harus melukis […] Saya juga harus mencintai wanita tertentu bukan yang lain.”

Dari pernyataan itu, tampak bahwa Mystkowski mencintai dengan sepenuh hati. Cintanya terhadap pulau Jawa dan orang-orang Jawa, juga berpengaruh pada perkembangan artistik  Mystkowski. Semakin lama, setiap pameran karyanya dinilai lebih tinggi.  

Yang tragis, kecintaannya pada Hindia Belanda harus dibayar mahal. Pada 28 Mei 1938, sepuluh tahun setelah dia mendarat di Tanjung Priok, Mystkowski meninggal pada umur 40 tahun. Panyakit paru-paru yang dia derita sejak hidup di Prancis, merenggut nyawanya.  

Dia kemudian dimakamkan di makam keluarga van Rhijn di Pemakaman Tanah Abang,  Batavia. Setelah bertahun-tahun dilupakan, makam tersebut sempat ditemukan oleh kolektor seni dan diplomat Polandia di Jakarta, Andrzej Wawrzyniak.  Berkat usaha Wawrzyniak, makam itu kemudian direstorasi dan diresmikan kembali pada 1970 dalam sebuah upacara khidmat yang dihadiri tamu-tamu penting dari Polandia dan Indonesia. Wawrzyniak sendiri kemudian kembali ke Warsawa dan mendirikan Museum Kepulauan Nusantara, yang kini dikenal sebagai Museum Asia dan Pasifik.   

Kisah tragis Mystkowski tak berhenti di situ. Beberapa tahun lalu, daerah pemakaman di Tanah Abang itu diperkecil dan makam Mystkowski dianggap tidak berharga lalu dibongkar. Dengan itu, hilang sudah jejak terakhir Czes?aw Mystkowski di Jakarta. Meski begitu, dia akan selalu dikenang sebagai satu-satunya seniman Polandia sebelum Perang Dunia II yang memilih Jawa sebagai tanah airnya yang kedua.  (*)