Crowdfunding Jurnalisme Investigasi: Cara Baru Agar Publik Lebih Berkuasa

Ilustrasi crowdfunding. SHUTTERSTOCK.

Scroll

Ilustrasi anti-hoax. SHUTTERSTOCK.

Kita paham era digital membawa banjir informasi. Sekarang semua orang punya akses pada saluran komunikasi massa, terutama lewat media sosial. Di saat yang sama, banyak yang khawatir, tak semua banjir informasi itu bermanfaat untuk khalayak. Maraknya hoaks, fake news dan disinformasi, membuat publik kehilangan pegangan tentang apa yang fakta dan nyata.

Media massa harus menyediakan solusi. Tentu yang diharapkan warganet dari media bukan kuliah soal pentingnya verifikasi, juga bukan aksi sepihak menyodorkan isu yang dianggap krusial oleh redaksi. Media bisa mengambil peran baru dengan membuka ruang percakapan publik yang setara dan berorientasi pada kepentingan orang banyak. 

Karena itulah, Tempo.co bekerjasama dengan change.org dan kitabisa.com membuat 'Bongkar'. Inisiatif ini menggabungkan kekuatan change.org sebagai situs petisi online dengan lebih dari 4 juta pengguna dengan keunggulan kitabisa.com sebagai situs crowdfunding yang pada 2016 lalu berhasil mengumpulkan dana publik secara kolektif sebesar Rp 61 miliar, dan menyatukannya dengan Tempo.co, situs berita online yang merupakan bagian dari tradisi jurnalisme investigasi Majalah dan Koran Tempo. 

"Jurnalisme investigasi sangat penting untuk mendukung fungsi akuntabilitas publik dan memperkuat demokrasi. Ini sejalan dengan upaya Change.org Indonesia untuk memulai, menggerakkan, dan memenangkan kampanye sosial, sebagai bagian dari upaya memperkuat demokrasi," kata Desmarita Murni, Direktur Komunikasi change.org. Dia berharap kerjasama ini bisa mengangkat berita-berita investigasi yang tidak hanya berpihak pada kepentingan publik namun juga dalam prosesnya, didorong oleh partisipasi aktif warganet. 

Sementara Alfatih Timur, co-founder kitabisa.com menegaskan bahwa jurnalisme tidak hanya perlu crowdsourcing secara konten, namun juga pendanaan. "Sehingga jurnalisme betul-betul dari publik untuk publik," katanya. Dengan meminta pendapat dan dana dari publik, kata Alfatih, ada validasi bahwa isu yang diangkat media memang isu yang menarik dan diinginkan oleh masyarakat. "Kami akan memastikan proses donasi yang mudah, cepat dan transparan untuk membantu program ini," katanya lagi.
 
Philipus Parera, Kepala Proyek 'Bongkar' yang juga Redaktur Eksekutif Koran Tempo, menegaskan bahwa model crowdsourcing untuk jurnalisme semacam ini belum pernah dilakukan sebelumnya di Indonesia. "Selama ini, media selalu berusaha mendorong partisipasi publik, tapi model semacam ini memang baru pertama kalinya dicoba," katanya. Dia yakin warganet sudah menunggu kesempatan untuk ikut menentukan agenda media dan terlibat langsung memastikan kelangsungan proses liputannya.    

Berikut tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh warganet untuk terlibat dalam proyek 'Bongkar' ini:

1. Anda bisa memilih satu dari tiga isu yang diajukan redaksi Tempo untuk diinvestigasi lebih lanjut, melalui laman https://change.org/bongkar

Proses voting online akan berjalan selama satu bulan. Isu yang mendapat suara terbanyak akan masuk ke tahap selanjutnya yakni pendanaan kolektif alias crowdfunding

2. Untuk memberikan bantuan dana secara sukarela, Anda diharapkan masuk ke laman https://kitabisa.com/bongkar. Semua dana yang diperoleh di sana akan dikelola kitabisa.com dan hanya dipergunakan untuk kepentingan liputan isu tersebut oleh redaksi Tempo. 

3. Setelah satu bulan penggalian dana usai, redaksi Tempo akan mulai bekerja. Hasil liputan akan dimuat di https://investigasi.tempo.co

Untuk gelombang pertama ini, proyek 'Bongkar' menawarkan tiga isu yakni soal (1) raibnya aset-aset Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, (2) derita pekerja seks komersial yang menjadi korban perdagangan manusia dan (3) kasus penyiksaan hewan sirkus, yang tersembunyi selama bertahun-tahun. 

Topik apa yang Anda pilih? Anda yang menentukan: Ayo kita 'Bongkar!'