Menanti Terobosan di Sektor Hulu Migas

Pengeboran minyak lepas pantai milik pertamina, 1974. (Dok. Tempo/Syahrir Wahab)

Scroll

Ilustrasi pekerja di pengeboran minyak lepas pantai. (shutterstock) 

BISNIS migas Indonesia saat ini menghadapi dua tantangan: rendahnya harga minyak dunia dan kendala investasi. Lesunya harga minyak menyebabkan banyak operator besar menahan investasi dan menghemat biaya operasi. Ujung-ujungnya, kegiatan eksplorasi sumber minyak baru maupun pengembangan produksi lapangan yang sudah beroperasi tersendat.

Namun, di lain pihak, para operator dan calon investor mengeluhkan kebijakan pemerintah, salah satunya skema bagi hasil kotor, yang dinilai tidak menguntungkan investor. Padahal, tanpa terobosan besar, produksi minyak dan gas nasional bakal semakin seret.

Berikut beberapa data mengenai sektor hulu migas Indonesia.

 

Realisasi dan Prediksi Lifting Minyak Bumi (Barel per Hari)

 

 

Sebaran Wilayah Kerja

 

 

Cadangan Minyak dan Kondensat Indonesia (Miliar Kaki Kubik/BSCF)

 

 

Cadangan Minyak dan Kondensat Indonesia (Juta Stok Tangki Barel/MMSTB)

 

 

Realisasi dan Prediksi Lifting Gas Bumi (Juta Standar Kaki Kubik per Hari)

 

 

Pembagian Hasil Migas (US$ Miliar)

 

 

Tujuh Daerah Pemroduksi Gas Terbesar 2017 (dalam mmscfd)

 

 

Profil Lifting Minyak 2017 (Ribu Barel per Hari)

 

 

Investasi Hulu Migas (US$ Miliar)

 

 

Efek Berganda Belanja Sektor Hulu Migas

 

Sumber: ESDM, SKK Migas, Kementrian Keuangan, LPEM UI/ Teks: Robby Irfany/ Desain: Gadi Makitan/Sadika Hamid

Muncul pertama kali di Koran Tempo Edisi 15 Januari 2018