Mencegah Becak ke Jakarta

Setelah lebih dari 40 tahun dilarang beroperasi, kini becak mendapat angin segar di bawah pemerintahan Anies Baswedan. Bagaimanapun, ia tak ingin tukang becak datang dari daerah lain. (foto: Shutterstock)

Scroll

Masyarakat menggunakan transportasi becak di Cilincing, Jakarta Utara, 17 Januari 2018. Becak masih dapat ditemui di antaranya di Tanah Pasir, Pejagalan, Muara Baru, Semper, Kali Baru, dan Tanjung Priuk. TEMPO/Fakhri HermansyahSetelah lebih dari 40 tahun dilarang beroperasi, kini becak mendapat angin segar di bawah pemerintahan Anies Baswedan. Bagaimanapun, ia tak ingin tukang becak datang dari daerah lain.

JAKARTA - Pemerintah DKI Jakarta melarang becak dari daerah masuk ke Ibu Kota, meski Gubernur Anies Baswedan telah mengizinkan becak sebagai alat angkutan di perkampungan. "Tidak boleh. (Kalau ada) kami akan tahan dan kumpulin, lalu kami pulangin lagi," kata Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno kepada wartawan, Jumat, 26 Januari 2018. 

Sandiaga menyatakan larangan tersebut diterapkan setelah berembus kabar bahwa becak-becak dari luar kota secara bergelombang akan memasuki Ibu Kota. Menurut dia, pemerintah DKI hanya mengizinkan pengemudi becak yang telah berdomisili di Jakarta. Bagi pengemudi becak yang memiliki kartu tanda penduduk Jakarta, Sandiaga menjanjikan pelbagai pelatihan. Salah satu pelatihan itu, kata dia, "Gimana cara genjot yang bagus."

Gubernur DKI Anies Baswedan membenarkan kabar masuknya becak dari luar Jakarta. Anies mengaku mendapat informasi dari Satuan Polisi Pamong Praja ihwal becak asal Indramayu yang masuk ke Jakarta pada Selasa lalu. "Belum turun dari truknya, kami sudah suruh kembali," ucap Anies di Balai Kota.

Menurut Anies, pengemudi becak lama di Jakarta pun tak menghendaki kedatangan becak dari luar kota. Karena itu, Anies meminta Dinas Perhubungan DKI mengantisipasi agar tidak ada lagi "urbanisasi" becak ke Jakarta.

Wakil Kepala Dinas Perhubungan, Sigit Wijatmoko, mengatakan Gubernur telah menugasi instansinya untuk mendata becakdi Jakarta. Dinas Perhubungan mulai memasang stiker di badan becak yang telah didata.

Sigit memperkirakan, becak "asli" Jakarta jumlahnya lebih dari 1.000 unit. Becak itu tersebar di pasar-pasar dan perkampungan di Ibu Kota, terutama di Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Jakarta Pusat.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Yani Wahyu, menambahkan, Satpol PP bakal menggelar razia rutin untuk mengantisipasi masuknya becak dari luar kota. "Kalau ada becak baru, kami tangkap," katanya.

Lurah Pekojan, Jakarta Barat, Tri Prasetyo, mengatakan telah berkoordinasi dengan Serikat Becak Jakarta (Sebaja) untuk menghalau becak dari daerah. Kemarin, Tri mengumpulkan para pengemudi becak. Bersama pengurus Sebaja Pasar Tanah Pasir, Tri mewanti-wanti para tukang becak agar melapor jika menemukan becak asal daerah. Menurut Tri, selama ini ada 121 becak yang beroperasi di sekitar Pekojan dan Tanah Pasir.

Kabar tentang "urbanisasi" becak juga datang dari Cirebon, Jawa Barat. Kirno, seorang tukang becak, mengatakan ada 135 becak yang diangkut dengan truk ke Jakarta dalam dua hari terakhir. "Becak saya sudah berangkat semalam, katanya berhenti di Cakung," ujar Kirno, kemarin.

Menurut Kirno, pengemudi becak yang hendak hijrah ke Jakarta berkumpul di kawasan Pasar Pasalaran, Kabupaten Cirebon. Semua becak lalu diangkut dengan truk ke Jakarta. Adapun pengemudinya berangkat terpisah dengan bus.

Kirno mengaku mendapat tawaran dari temannya yang bekerja mengayuh becak di Jakarta. Rekannya itu bercerita bahwa gubernur baru Jakarta membolehkan becak menjadi alat transportasi kampung. Di Jakarta, Kirno berharap bisa memperbaiki nasib. Selama di Cirebon, pendapatan dia dari mengayuh becak hanya Rp 10-20 ribu per hari. 

Kebijakan Becak di Jakarta dari Masa ke Masa

Teks: Avit Hidayat, Hendartyo Anggi, Ivansyah (Cirebon)
Desain: Gadi Makitan
Muncul pertama kali di Koran Tempo Akhir Pekan Edisi 27-28 Januari 2018