100 Hari Anies-Sandi, Antara Janji dan Kontroversi

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (kedua dan ketiga dari kiri) bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto (kanan) dan Ketua Umum Perindo Hary Tanoesoedibjo saat kampanye Pilkada DKI, 14 Maret 2017. TEMPO/Fardi Bestari

Scroll

Anies Baswedan dan Sandiaga Uno saat menjalani tes kesehatan, 24 September 2016.TEMPO/Friski Riana

JAKARTA, 30 Januari 2018—Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Anies-Sandi melalui 100 hari pertama pemerintahannya pekan lalu. Sepanjang itu, mereka mengklaim telah menjalankan 29 kegiatan. “Tapi terlalu awal untuk kami berbesar hati,” kata Anies.

Memang, belum saatnya bagi Anies dan Sandi berleha-leha. Selain belum tuntas, sebagian kegiatan yang digagas mereka mengundang kontroversi. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DKI Jakarta, Prasetyo Edi Marsudi, malah menyatakan siap menjalankan hak interpelasi atau meminta keterangan terhadap beberapa kebijakan Anies-Sandi

Berikut kebijakan unggulan Anies-Sandi dan pekerjaan rumah yang masih mengantre di hadapan mata.

 

“100 hari itu terlalu dini untuk melakukan penilaian poin plus ataupun poin negatif. Kami menyerahkan masyarakat untuk menilai dengan sendirinya.”

Wakil Gubernur Jakarta Sandiaga Uno.

 

 

 

“Ada kebijakan yang sudah baik, tapi diubah kebijakannya menjadi Jakarta yang semrawut. Kami enggak salah menyikapi. Masak orang salah didiami?”

Ketua DPRD DKI yang juga penasihat Fraksi PDIP, Prasetyo Edi Marsudi.

 

 

PERBANDINGAN APBD 2017 DENGAN 2018