Ketika Gizi Buruk Datang Lagi

Indonesia kembali diserang kejadian luar biasa gizi buruk. Kali ini di Kabupaten Asmat, Papua. Bagaimanapun, ada banyak daerah lain yang berpotensi mengalami kejadian serupa. 

Scroll
Dokter melakukan tindakan ke pasien bernama Surfana (1 tahun) saat penanganan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agats, Kabupaten Asmat, Papua, 27 Januari 2018. Data terakhir jumlah pasien campak dan gizi buruk di RSUD tersebut mencapai 88 orang. ANTARA/M Agung Rajasa

Pada pembuka tahun, kabar buruk menyeruak dari timur Nusantara. Puluhan anak di Kabupaten Asmat, Papua, dikabarkan terserang wabah campak dan gizi buruk. Akibat wabah tersebut, 71 korban meninggal.

Kini, akibat wabah yang telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir itu, sebanyak 819 anak yang terserang campak dan gizi buruk masih dirawat di rumah sakit setempat. Kondisinya tidaklah terlalu menyenangkan.

Gizi buruk memang merupakan berita buruk. Bukan sekali ini saja kabar tentang kondisi itu muncul. Kondisi ini selalu saja muncul dan tak pernah terduga.

Nyatanya tak hanya di Asmat, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek menduga ada 10 daerah di Provinsi Papua yang berpotensi tergolong kejadian luar biasa gizi buruk. Nila menyebutkan beberapa daerah itu di antaranya Kabupaten Nduga, Kabupaten Yahukimo, Tolikara, dan Pegunungan Bintang.

Lebih mengejutkan lagi, gizi buruk tak hanya terjadi di Papua. Di Jakarta, yang menjadi pusat pemerintahan, juga terjadi kasus menyedihkan ini. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Jakarta, jumlah penderita gizi buruk di Jakarta Utara mencapai 34 orang.

Angka ini memang menurun dibanding tahun lalu yang mencapai 194 orang. Namun keberadaan penderita gizi buruk itu, yang tersebar di enam kecamatan, tetap saja menjadi berita buruk.

Apakah gizi buruk?
Gizi buruk atau yang dikenal sebagai kwashiorkor dalam dunia medis bisa diartikan sebagai kondisi ketika seseorang kekurangan asupan yang mengandung energi dan protein. Padahal protein dibutuhkan tubuh dalam proses perbaikan dan pembentukan sel-sel baru.

Gizi buruk kebanyakan menyerang anak-anak di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 54 persen kematian bayi dan anak balita disebabkan oleh kondisi gizi buruk. Risiko kematian anak dengan gizi buruk 13 kali lebih besar dibandingkan dengan anak normal.



Jumlah Kasus Gizi Buruk yang Ditemukan dan Ditangani pada 2017 

Provinsi DKI Jakarta memiliki jumlah kasus yang tinggi pada 2017. Hal ini disebabkan oleh jumlah penduduk atau populasi anak balita yang besar.

NTT dan Papua juga memiliki jumlah kasus yang tinggi dengan jumlah penduduk yang lebih kecil dibanding Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat.


Hasil Pemantauan Status Gizi 2017

Dari hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 yang dilakukan Kementerian Kesehatan, terlihat bahwa prevalensi kasus gizi buruk tertinggi ada di Maluku sebesar 16,8 persen, di atas prevalensi nasional yang hanya sebesar 9,6 persen.

Kabupaten Asmat, berdasarkan hasil PSG 2017, prevalensinya sebesar 28,8 persen. "Angka ini tertinggi di Provinsi Papua, yang prevalensi kasus gizi buruk di Papua sebesar 13,6 persen," kata Doddy kepada Tempo, Minggu, 4 Februari 2018. Berikut ini data prevalensi sangat kurus+kurus (wasting di Indonesia):

Mengatasi Gizi Buruk

Kondisi kesehatan dan gizi buruk merupakan dampak dari berbagai akar masalah, termasuk di antaranya situasi politik, ekonomi dan sumber daya, lingkungan, perubahan iklim, serta bencana.

Dengan demikian, pengentasannya perlu dukungan dan keterlibatan dari berbagai sektor, kelembagaan, serta seluruh lapisan masyarakat.

Menurut Doddy, Kementerian Kesehatan melakukan percepatan perbaikan gizi masyarakat melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, seperti yang tertuang dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017.

Pelayanan kesehatan ini diarahkan pada pencegahan, yakni dengan cara pendekatan keluarga, yakni tenaga kesehatan melakukan kunjungan langsung ke masyarakat.

Dalam upaya ini diprioritaskan untuk memantau terlaksananya pemantauan pertumbuhan anak balita dan pemberian ASI eksklusif, yang efektif dapat mencegah terjadinya kasus gizi buruk.

Kementerian Kesehatan menyatakan telah menempatkan tenaga Tim Nusantara Sehat di daerah-daerah terpencil. Tim itu, antara lain, terdiri atas dokter, perawat, tenaga gizi, dan bidan.

Antisipasi juga dilakukan dengan pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan dasar, imunisasi lengkap, disertai pemenuhan logistik obat, termasuk makanan suplemen.

Terbit pertama kali di Koran Tempo, Senin, 5 Februari 2018
Teks: Afrilia Suryanis

Foto: Antara