Mikroplastik dalam Botol Air Mineralmu

Sampel air minum kemasan yang beredar di Jakarta, Medan, dan Denpasar mengandung partikel mikroplastik. Berbahaya terhadap kerja hati dan ginjal bila terus terakumulasi. (foto: Shutterstock)

Scroll

Kandungan mikroplastik dari hasil penelitian atas tiga merek air mineral dalam kemasan saat diteliti di laboratorium FMIPA-Universitas Indonesia, Depok, Rabu (14/3). (foto: TEMPO/ Gunawan Wicaksono)

Air minum dalam kemasan yang beredar luas di pasar ternyata mengandung mikroplastik. Temuan ini terungkap dalam hasil penelitian global State University of New York at Fredonia yang didukung Orb Media, organisasi media nirlaba di Amerika Serikat.

Tempo menjadi satu-satunya media di Indonesia yang memperoleh akses untuk menerbitkan liputan ini secara eksklusif. Hari ini, Kamis, 15 Maret 2018, hasil penelitian dipublikasikan serentak oleh 12 media di seluruh dunia. Selain Tempo, ada BBC dari Inggris, Deutsche Welle (Jerman), dan CBC (Kanada).

Peneliti State University of New York at Fredonia menguji 259 botol air minum dari 11 merek yang dijual di delapan negara. Hasilnya,  93 persen air botolan yang menjadi contoh ternyata mengandung mikroplastik. Sampel juga diambil dari Indonesia karena menjadi salah satu negara dengan pangsa besar air minum dalam kemasan. Sebanyak 30 botol Aqua yang dibeli di Jakarta, Bali, dan Medan, diterbangkan ke New York pada November 2017 untuk diuji oleh tim dari University of New York at Fredonia. Tim ini dipimpin Sherri A. Mason, Victoria Welch, dan Joseph Nerako.

Sebaran Sampel di Berbagai Negara (klik titik merah untuk melihat negara dan merek sampel)
Hasilnya mencengangkan. Setiap botol Aqua yang menjadi sampel rata-rata mengandung 382 mikroplastik partikel per liter. Ukurannya beragam, mulai dari 6,5 mikrometer atau setara sel darah merah, hingga lebih dari 100 mikrometer atau setara dengan diameter rambut manusia.

Kandungan terbanyak dalam 1 sampel Aqua mencapai 4.713 partikel mikroplastik per liter. Adapun secara global, kandungan partikel ini paling banyak ada di air kemasan Nestle Pure Life dengan total 10.390 partikel mikroplastik per liter.

Kadar Mikroplastik dalam Partikel per Liter (klik untuk melihat angkanya) 

Kandungan mikroplastik dari hasil penelitian atas tiga merek air mineral dalam kemasan saat diteliti di laboratorium FMIPA-Universitas Indonesia, Depok, Rabu (14/3). (foto: TEMPO/ Gunawan Wicaksono)

Scroll

Tiga merek air mineral dalam kemasan saat diteliti di laboratorium FMIPA-Universitas Indonesia, Depok, Rabu (14/3). (foto: TEMPO/ Gunawan Wicaksono)

Tempo, bekerja sama dengan laboratorium kimia Universitas Indonesia, juga melakukan uji mandiri atas air minum Aqua untuk mengkonfirmasi temuan State University of New York at Fredonia. Agar berimbang, dua air minum merek lain juga diteliti, yakni Le Minerale dan Club. 

Sebanyak sembilan sampel botol air minum ukuran 600 mililiter dari tiga merek itu dibeli dari minimarket, warung, dan pedagang asongan agar bervariasi. Penelitian dipimpin Agustinos Zulys, kepala laboratorium. Hasilnya, plastik berukuran mikro juga ditemukan dengan ukuran beragam antara 11 hingga 247 mikrometer.

Ahli toksikologi dari Universitas Indonesia, Budiawan, menanggapi temuan Tempo dan Orb Media mengenai mikroplastik dalam air kemasan. Ia mengatakan partikel yang berukuran sama atau lebih kecil dari sel manusia berpotensi menjadi bahaya karena dapat diserap dan masuk aliran darah. Sel darah merah sendiri berdiameter sekitar 8 mikrometer.

Selain itu, akumulasi mikroplastik dalam tubuh dapat mengganggu kerja organ vital seperti ginjal dan hati. “Akumulasi terjadi kalau tubuh tidak mengeluarkan partikel asing secara alami lewat ekskresi,” kata Budiawan kepada Tempo, Selasa, 13 Maret 2018, di kantornya.

Ahli nutrisi, Tan Shot Yen, mengatakan potensi bahaya semakin nyata terhadap tubuh karena semakin kecil partikel mikroplastiknya, semakin mudah dan semakin banyak diserap sel. Menurut Tan, penelitian menyeluruh tentang dampak mikroplastik bagi manusia memang masih minim. Namun ia merunjuk salah satu penelitian dari Pusat Informasi Bioteknologi Nasional Amerika Serikat tentang dampak partikel itu terhadap plankton di perairan bebas yang telah tercemar.

“Dampak terberatnya adalah gangguan pertumbuhan dan reproduksi. Tentu saja, jika mencetuskan radikal bebas, resiko kanker tidak bisa ditepis,” kata Tan.

Penelitian yang dilakukan Tempo dan Orb Media ini memang tidak mampu mengungkap sumber mikroplastik –apakah dari sumber mata air atau saat proses pengemasan air minum ke dalam botol. Namun, Orb menemukan bahwa salah satu jenis mikroplastik yang ditemukan adalah polypropylene–bahan yang biasa ditemukan dalam tutup botol.

Kepala Divisi Komunikasi PT Mayora Indah Tbk, Sribugo Suratmo, mengatakan tidak dapat mengomentari kandungan partikel dalam air minum Le Minerale yang mereka produksi. “Kalau soal kandungan, saya tidak tahu,” katanya.

Sementara General Manager Corporate Communication PT. Indofood Sukses Makmur Tbk yang memproduksi Club, Stefanus Indrayana, menyerahkan hak menanggapi kepada Asosiasi Pengusaha Air Minum dalam Kemasan Indonesia (Aspadin).

Communications Director Danone Indonesia, Arif Mujahidin, mengatakan proses pembotolan produk perusahaan telah mengikuti standar tertinggi dalam kebersihan, kualitas dan keamanan pangan. Arif juga meminta Tempo mengkonfirmasi kepada Aspadin.

Ketua Umum Aspadin, Rachmat Hidayat, mengatakan hingga kini belum ada konsensus ilmiah mengenai dampak mikroplastik terhadap kesehatan. Menurut dia, seluruh perusahaan yang tergabung dalam Asosiasi wajib memenuhi standar baku mutu sesuai aturan di dalam negeri. “Tapi kami terus mengamati pemberitaan dan temuan-temuan ini,” kata dia.

Produser: Gadi Makitan
Naskah: Indri Maulidar 
Reportase: Christopher Tyree, Dan Morrison, Gadi Makitan, Indri Maulidar
Foto: Gunawan Wicaksono
Video: Gunawan Wicaksono, Ridian Eka Saputra
Artikel ini juga telah terbit di Koran Tempo edisi Kamis, 15 Maret 2018. Liputan lengkap Orb Media dapat dilihat di www.orbmedia.org