Jeblok Investasi Freeport di Masa Transisi

Beban keuangan PT Freeport Indonesia menjadi sorotan PT Indonesia Asahan Aluminium, induk perusahaan tambang milik negara yang ditugasi mengambil alih 51 persen saham Freeport. Inalum meminta diskon harga.

Scroll

Direktur Utama PT Inalum Budi Guna Sadikin berbicara dalam acara penandatanganan perjanjian antara Pemerintah Pusat, Pemprov Papua, Pemkab Mimika dan PT Inalum tentang Pengambilan Saham Divestasi PT Freeport Indonesia di Kementerian Keuangan, Jakarta, 12 Januari 2018. TEMPO/Subekti

POS belanja dan potensi beban keuangan PT Freeport Indonesia di masa depan menjadi sorotan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum). Induk perusahaan tambang inilah yang ditunjuk pemerintah untuk mengambil alih 51 persen saham Freeport pada April 2018.

Sorotan Inalum berupa tunggakan pajak, ganti rugi kerusakan lingkungan, hingga pendapatan yang diproyeksikan turun selama tambang terbuka beralih ke bawah tanah. Itulah alasan Inalum meminta diskon harga, baik kepada Rio Tinto maupun Freeport-McMoran.

Simak grafik-grafik di bawah ini:

Belanja Modal Freeport Indonesia 2018-2041 (US$ juta)


Sensitivitas Net Present Value (NPV) Grasberg terhadap Weighted Average Cost of Capital (WACC) dalam US$ miliar


Proyeksi Pendapatan Negara (US$ juta)


Potensi Beban Keuangan PT Freeport Indonesia


Teks: Khairul Anam
Sumber: Deutshe Bank, Data Perusahaan, Diolah Tempo
Grafis Digital: Gadi Makitan