Cara Melawan Berita Hoax di Media Sosial
Scroll

Informasi yang dinyatakan hoax oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi mengenai kartu registrasi prabayar. (Humas Kominfo)

JAKARTA, 21 Maret 2018--Informasi palsu atawa hoax saat ini marak di antara 143,27 pengguna Internet di Indonesia. Berbagai hoax menyebar lewat media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Pesatnya perkembangan dunia telekomunikasi—telepon pun disebut telepon pintar—membuat publik semakin mudah mengakses beragam informasi dan berita hanya dengan sentuhan dan genggaman tangan. Namun, jika tak hati-hati, imbasnya, informasi palsu ikut tersebar dengan mudah. Ironisnya, bagi sejumlah orang, informasi palsu malah diyakini sebagai kebenaran.

Hoax adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar tapi dibuat seolah-olah benar. Istilah dalam bahasa Inggris ini muncul sejak era industri, sekitar 1808. Penyebaran hoax bisa dari mulut ke mulut, melalui kata-kata di atas kertas, dan kini lewat jejaring media sosial.

“Sekarang pemerintah dan polisi benar. Suatu saat siapa tahu rezim berganti, pemerintah dan polisi asal tangkap. Kritik terhadap pemerintah dianggap menyebarkan hoax.”

– Agus Sudibyo, Direktur Indonesia New Media Watch.

“Hoax menyebar luas dan dikapitalisasi kepentingan tertentu tanpa memperhitungkan dampak benturan masyarakat. Ada yang memproduksi konten hoax, mendistribusikan, dan menjadi sniper untuk menghancurkan akun orang lain.”

– Brigadir Jenderal Rikwanto, Kepala Biro Multimedia Divisi Humas Mabes Polri

NASKAH dan BAHAN: EVAN (PDAT) | SUKMA LOPPIES

SUMBER: APJJI | Mastel | Kominfo.go.id | Global Web Index (Diolah)

GRAFIS: SADIKA HAMID