Tipu-tipu Agen Perjalanan Umrah

Calon jemaah umrah korban penipuan First Travel mengambil pasport di Kantor Bareskrim, Jakarta, 30 Agustus 2017. Total pelapor via email sudah mencapai 6.847 orang dan yang datang langsung ke posko pengaduan sebesar 16.043 orang. (TEMPO/Subekti)

Scroll

Ekspresi terdakwa kasus dugaan penipuan biro perjalanan umrah First Travel Andika Surachman, Anniesa Hasibuan, dan Kiki Hasibuan saat menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Kota Depok, Jawa Barat, 19 Februari 2018. Sidang perdana itu beragenda pembacaan dakwaan kasus penipuan biro perjalanan umrah First Travel yang menimbulkan kerugian hingga ratusan miliar rupiah. (ANTARA/Indrianto Eko Suwarso)

KOMISI Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mensinyalir masih banyak agen perjalanan umrah dan haji yang melakukan penipuan, di luar kasus yang sudah terungkap oleh kepolisian saat ini. “Banyak laporan masuk terkait adanya praktek curang yang dilakukan operator umrah dan haji,” kata Ketua KPPU Syarkawi Rauf, akhir pekan lalu.

Pertengahan Maret lalu, Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan menangkap pemilik PT Amanah Bersama Umat (ABU) Tours, Muhammad Hamzah Mamba, karena dugaan penipuan. ABU Tours diduga menipu 86.720 calon anggota jemaah umrah. Total duit yang ia raup sekitar Rp 1,8 triliun. Sejumlah kasus serupa juga terjadi sebelumnya. Misalnya kasus penipuan oleh First Travel, Solusi Balad Lumampah, dan Hannien Tour. Korbannya juga puluhan ribu orang. Korban First Travel sekitar 63.310 orang dengan total kerugian mencapai Rp 905 miliar.


Jumlah korban dan kerugian akibat penipuan agen travel umrah

Para agen perjalanan umrah itu memiliki modus yang sama, yaitu menawarkan umrah dengan biaya di bawah rata-rata, yakni berkisar Rp 14 juta hingga Rp 18 juta. Calon anggota jemaah umrah tergoda promo murah dari biro tersebut.

Awalnya, pemberangkatan jemaah tak menemui masalah. Namun, ketika jumlah peminat yang membayar meningkat pesat, mereka tidak memberangkatkannya.

Menurut Syarkawi, bisnis agen perjalanan umrah dan haji ini masih berpotensi memakan lebih banyak korban karena masih banyak yang menawarkan biaya murah yang tak masuk akal. Karena itu, ia mendesak Kementerian Agama segera menetapkan referensi biaya minimum umrah Rp 20 juta ke dalam regulasi. Begitu muncul promo harga di bawah Rp 20 juta, kata dia, Kementerian harus segera meminta penjelasan biro tersebut. “Tidak boleh ada kompromi,” katanya.


Terbatasnya kuota haji berkebalikan dengan tingginya minat umat muslim untuk beribadah di Mekah. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab melonjaknya jumlah anggota jemaah umrah.

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Haji Umrah In-bound Indonesia (Asphurindo), Syam Resfiadi, mengatakan rata-rata biro perjalanan umrah itu menipu dengan memanfaatkan skema multilevel marketing (MLM) atau Ponzi. “Ini penipuan terselubung,” ujarnya. Metode ini memungkinkan jemaah umrah berangkat dengan biaya murah karena kekurangan bayar mereka ditambal oleh calon peserta baru. Selanjutnya, nasib jemaah baru itu akan bergantung pada calon yang lebih baru lagi. 

Akumulasi pembiayaan itu menyebabkan besar biaya yang mesti ditanggung anggota jemaah baru semakin besar. Kondisi akan semakin berat ketika pengelola memanfaatkan duit itu untuk keperluan lain. “Skema ini baru bisa berhenti saat kiamat,” kata Syam.

Syam mengklaim modus penipuan ini paling banyak dilakukan biro perjalanan umrah tak berizin. Tapi sejumlah kasus besar justru melibatkan biro-biro yang telah mengantongi izin resmi dari Kementerian Agama.

Direktur Bina Umrah dan Haji Khusus Kementerian Agama, Arfi Hatim, mengakui ada banyak bisnis ibadah umrah yang terindikasi bermasalah. “Kami sudah larang sistem MLM dan Ponzi,” ujarnya.

Teks: Maya Ayu Puspitasari
Grafis: Gadi Makitan
Pertama kali diterbitkan di Koran Tempo Edisi 2 dan 3 April 2018