Babak-belur Taksi Konvensional

Pendapatan dua perusahaan taksi terpuruk. Bursa Efek Indonesia menghentikan perdagangan saham taksi Express. (foto: TEMPO/Tony Hartawan)

Scroll

Taksi Blue Bird. (TEMPO/Dwianto Wibowo)

SEPEKAN ini menjadi masa terberat bagi PT Express Transindo Utama Tbk, perusahaan operator taksi Express. Perseroan menangguhkan kewajiban pembayaran bunga ke-15 obligasi I yang mestinya paling lambat disetor pada Senin pekan lalu ke rekening PT Kustodian Sentral Efek Indonesia.  

Lewat keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Sekretaris Perusahaan Express Transindo, Megawati Affan, menyatakan perusahaan sedang berupaya mencari dana untuk membayar bunga obligasi—surat utang yang terbit empat tahun lalu untuk dana sebesar Rp 1 triliun. “Kami menunda pembayaran menjadi 5 April 2018 (besok),” kata Megawati, Selasa, 3 April 2018.  



Pada Selasa, 3 April 2018, otoritas Bursa Efek Indonesia mengumumkan penghentian sementara perdagangan efek, baik saham maupun obligasi, TAXI—kode emiten taksi Express. Penghentian terhitung dilakukan sejak Senin dan belum ditentukan kapan akan berakhir. Lembaga pemeringkat utang, PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), juga menurunkan peringkat utang perusahaan yang mempunyai merek dagang Taksi Express itu dari idBB- menjadi idD (single D) alias gagal bayar. 

Penurunan peringkat tersebut juga didorong oleh laporan keuangan perusahaan per 30 September 2017 yang belum diaudit dan menunjukkan kinerja negatif. Dalam laporan keuangan yang terakhir disetor ke otoritas bursa itu, keuangan perseroan terpuruk hingga merugi Rp 210 miliar. Pendapatannya merosot hingga 54,81 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Megawati Affan tak merespons pertanyaan Tempo tentang kondisi tersebut. 

Pendapatan Express yang terjun bebas. 

Operator taksi lainnya, PT Blue Bird Tbk, mengalami nasib serupa, meski tak seburuk Express. Sepanjang tahun lalu, BIRD—kode saham Blue Bird—meraup pendapatan bersih Rp 4,2 triliun, turun 12,31 persen dibanding 2016.


Laba Blue Bird dan kerugian Express.

Head of Investor Relation Blue Bird, Michael Tane, mengatakan tekanan pendapatan dalam dua tahun terakhir tidak lepas dari semakin ketatnya persaingan, termasuk akibat keberadaan taksi online. Selain itu, perubahan lanskap atau shifting ke kawasan di luar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi juga menjadi faktor terhadap kinerja keuangan. “Tapi mulai ada tanda-tanda perbaikan dibanding 2016,” ujarnya.


Pendapatan Blue Bird yang juga turun. 

Teks: Aditya Budiman
Editor: Agoeng Wijaya
Grafis: Gadi Makitan
Pertama kali diterbitkan di Koran Tempo Edisi Rabu, 4 April 2018