Mengatasi Surplus Listrik

Petugas berada di dekat gardu listrik tegangan tinggi di Pusat Pengatur Beban (P2B) Jawa-Bali, Gandul, Depok, Jawa Barat, 24 Desember 2016. (foto: ANTARA)

Scroll

Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Dirut PT PLN Sofyan Basir (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) dan Menteri ESDM Ignasius Jonan (kanan) meninjau lokasi proyek PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Desa Terate, Serang, Banten, 5 Oktober 2017. Secara simbolis Presiden meresmikan peletakan batu pertama pembangunan tiga proyek serta pengoperasian satu unit PLTU IPP berkapasitas 660 MW dengan total nilai investasi Rp35 triliun serta menyerap tenaga kerja lebih dari tiga ribu orang. (foto: ANTARA)

DIREKTUR Perencanaan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Syofvi Felienty Roekman mengatakan, sejak 2015 pertumbuhan listrik menunjukkan gejala anomali: gairah penggunaan listrik berada di bawah pertumbuhan ekonomi. Padahal sebelum 2014, pertumbuhan konsumsi setrum selalu 1,5 kali lipat dibanding angka pertumbuhan ekonomi.  

Perubahan ini memaksa perseroan mengubah asumsi pertumbuhan listrik dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2018–2027. Konsumsi listrik hanya dipatok tumbuh rata-rata 6,9 persen per tahun, dari rencana sebelumnya 8,3 persen per tahun. Perusahaan setrum negara ini pun memangkas target tambahan kapasitas dari 77 gigawatt (GW) ke 56 GW.

“Memang asumsinya masih tinggi. Tapi kami optimistis tercapai,” kata Syofvi.



Direktur PLN Regional Sulawesi dan Nusa Tenggara, Syamsul Huda, mengatakan pihaknya harupihaknya menerapkan berbagai promosi untuk menggenjot penjualan listrik demi mengatasi surplus listrik. Salah satunya dengan memperbolehkan pelanggan mencicil biaya pemasangan instalasi setrum dan penambahan daya.

Program ini, kata Syamsul Huda, sudah dimulai di Jawa Timur. Nantinya, PLN akan menerapkan program ini di seluruh Indonesia. 
 


Angka surplus listrik (megawatt) yang didapatkan dari pengurangan beban puncak atas daya mampu netto.

Direktur Lembaga Pengkajian Energi Universitas Indonesia, Iwa Garniwa, justru meragukan rencana PLN. Menurut dia, pertumbuhan listrik tidak sebagus dulu karena sistem besar seperti Jawa-Bali sudah memasuki masa mature. Iwa menilai seharusnya PLN merombak kembali rencana kelistrikan, bukan memaksa peningkatan konsumsi listrik. “Kalau perlu beberapa programnya diterminasi karena ancaman surplus listrik masih ada,” tutur dia.

Penjualan Listrik Sistem Besar Satu Dekade (terawatt jam)



Teks: Robby Irfani
Editor: Ali Nur Yasin
Sumber data: PLN, ESDM, IEEFA
Grafis: Gadi Makitan 
Pertama kali diterbitkan di Koran Tempo Edisi Kamis, 5 April 2018