Rupiah Bikin Resah

Petugas penukaran mata uang asing menghitung uang pecahan 100 dolar AS di lokasi penukaran uang di kawasan Kwitang, Jakarta, 28 Maret 2018. Kurs rupiah menyentuh posisi Rp 13.745 per dolar AS berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Rabu, 28 Maret 2018. (TEMPO/Tony Hartawan)

Scroll

Petugas tengah memindahkan uang rupiah ke dalam Cash Center Bank Mandiri, 2 Maret 2018. Di pasar spot, pergerakan nilai tukar rupiah terpantau melemah 17 poin atau 0,12% ke level Rp13.765 per dolar AS pada pukul 10.20 WIB. (TEMPO/Tony Hartawan)

TEKANAN terhadap rupiah belum mereda setelah melampaui Rp 13.900 per dolar Amerika Serikat, pada Senin, 23 April 2018. Rupiah memang menguat tipis ke level Rp 13.889 per dolar AS, keesokan harinya, seiring dengan intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing dan surat berharga negara. Namun, sejumlah pengamat memperkirakan pelemahan bakal berlanjut hingga melewati Rp 14.000 per dolar AS—terakhir kali pada Desember 2015.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira, mengatakan hampir pasti—peluangnya mencapai 90 persen—level terendah itu akan terjadi pada Mei nanti. Menurut dia, permintaan terhadap dolar AS akan terus meningkat seiring dengan tekanan moneter global yang semakin kuat. Belum lagi untuk keperluan pemenuhan impor bahan baku hingga pembayaran dividen dan utang luar negeri korporasi. “Pembiayaan utang luar negeri terancam lebih besar tahun ini,” kata Bhima kepada Tempo, Selasa, 24 April 2018. 

Posisi Nilai Tukar Rupiah dalam Setahun Terakhir

 

Ekonom PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual, menilai rupiah saat ini telah berada di bawah nilai fundamentalnya. “Level sekarang sudah agak lemah karena prediksi tahun ini ada di kisaran 13.600,” ujarnya. “Akibatnya menimbulkan gejolak di pasar modal dan pasar uang.” 

Kemarin, sentimen melemahnya rupiah dianggap menjadi salah satu faktor terpuruknya perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. Indeks harga saham gabungan kembali ditutup dengan rapor merah, turun 78,513 poin ke level 6.229,635. Begitu pula indeks LQ45 yang melemah 16,583 poin ke 1.010,876. 

Kekhawatiran tentang meningkatnya risiko utang luar negeri diamini Kepala Subdirektorat Perencanaan dan Strategi Pembiayaan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Erwin Ginting. Dia mengungkapkan, hingga akhir Maret lalu, utang pemerintah dalam valuta asing sebesar US$ 109,6 miliar—dari total Rp 4.136 triliun total utang pemerintah dalam rupiah. “Itu penghitungan ketika nilai tukar rupiah sekitar Rp 13.750 per dolar AS,” kata Erwin. Menurut dia, setiap terjadi depresiasi Rp 100 per dolar AS, stok utang yang sama akan meningkat Rp 10,96 triliun. Artinya, saat ini total utang (outstanding) telah membengkak menjadi sekitar Rp 4.146,96 triliun. 

Utang Luar Negeri Indonesia di Berbagai Sektor


Pelaku usaha kini yang paling ketar-ketir. “Kami menyikapinya dengan waspada. Banyak bahan baku industri yang masih bergantung pada impor,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Bidang Hubungan Internasional dan Investasi, Shinta Kamdani. Dia berharap pemerintah dan BI segera merespons situasi saat ini dengan kebijakan yang konkret. “Kami memahami penyebabnya faktor eksternal, dari The Fed. Tapi, jika bisa dimitigasi dengan baik, risiko terhadap internal harusnya dapat berkurang,” ujarnya. 

Teks dan kompilasi data: Ghoida Rahmah
Editor: Agoeng Wijaya
Sumber data: Bank Indonesia
Grafis: Gadi Makitan
Pertama kali diterbitkan di Koran Tempo Edisi Rabu, 25 April 2018