Menyongsong 100 Juta Penumpang, Bandara Soekarno-Hatta Membenahi Diri

Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia. (TEMPO/ Marifka Wahyu Hidayat)

Scroll

Gedung transit terpadu atau Transit Oriented Development (TOD) di Pintu M1 Bandara Soekarno-Hatta yang menjadi akses baru ke dalam bandara. (TEMPO/ Joniansyah Hardjono)

JAKARTA, 1 Mei 2018 - Bandar Udara Soekarno-Hatta sedang menggeliat hebat. Pembangunan tak berhenti dengan selesainya Terminal 3 yang berkapasitas 25 juta penumpang per tahun. Beroperasinya kereta eksekutif bandara serta kereta layang berteknologi automated people mover system pun bukan akhir cerita.

Pelbagai infrastruktur baru lainnya akan bermunculan. PT Angkasa Pura II bersiap membangun landas pacu baru, Runway 3. Ada pula rencana integrated building alias gedung yang menyatukan Terminal 1 dan 2. Itu semua bakal mengubah total wajah Soekarno-Hatta dibanding saat peletakan batu pertama revitalisasi bandara pada 2 Agustus 2012.

Begitu sibuknya Soekarno-Hatta, Skytrax menobatkan bandara terbesar di Indonesia ini sebagai The World Most Improved Airport 2017. Toh, Direktur Utama Angkasa Pura II, Muhammad Awaluddin, tak berpuas diri dengan penghargaan itu.  “Kami terlambat membangun,” kata Awaluddin ketika berkunjung ke kantor Tempo, beberapa waktu lalu.  

Ya, Bandara Soekarno-Hatta, yang mulai beroperasi pada 1984, kini sedang memacu kapasitasnya yang jauh tertinggal oleh pertumbuhan penumpang pesawat. Tahun lalu, penumpang yang tiba dan berangkat dari Soekarno-Hatta mencapai 63 juta orang. Padahal kapasitas bandara ini hanya 43 juta penumpang. Tahun ini, jumlah penumpang diproyeksikan naik menjadi 70 juta. Pada 2025, penumpang diperkirakan menembus angka 100 juta. Saat itu, Soekarno-Hatta bakal menjadi salah satu bandara tersibuk di dunia.

PERBANDINGAN BANDARA SOEKARNO-HATTA (CGK) DAN CHANGI (SIN

Mengimbangi pembangunan fisik infrastruktur, Angkasa Pura II merancang digitalisasi semua sistem pelayanan. Digitalisasi tak hanya dirintis untuk menjadikan Soekarno-Hatta sebagai smart airport. Lebih dari itu, “Kami ingin memanusiakan manusia di sini,” kata Kepala Kantor Cabang Utama AP II Bandara Soekarno-Hatta, M. Suriawan Wakan.

Pembangunan pelbagai infrastruktur baru terus berderap di lingkungan Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta. PT Angkasa Pura II berkejaran dengan pertumbuhan jumlah penumpang yang melampaui kapasitas bandara hingga 20 juta orang tahun lalu. 

"Cengkareng (Soekarno-Hatta) itu mengambil porsi 60 persen dari rencana pengembangan bandara-bandara yang dikelola AP II," kata Direktur Utama PT Angkasa Pura II, Muhammad Awalludin. 

Sepanjang 2017, penumpang yang tiba dan berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta berjumlah 63 juta orang. Padahal kapasitas bandara hanya 43 juta, itu pun setelah Terminal 3 beroperasi penuh per November lalu. Kapasitas sebelumnya hanya 22 juta penumpang. 

10 MASKAPAI DENGAN PERGERAKAN PESAWAT TERTINGGI (PER 2016)

10 MASKAPAI DENGAN PERGERAKAN PENUMPANG TERTINGGI (PER 2016)

Soekarno-Hatta menjadi penyumbang terbesar di bandara-bandara yang dikelola AP II, yang mencapai 105 juta orang. Penumpang pesawat yang datang dan pergi di Bandara Soekarno-Hatta melampaui total populasi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi yang mencapai sekitar 50 juta orang. Padahal di Jakarta juga ada Bandara Halim Perdanakusuma, yang menampung 7 juta penumpang. 

Wakan menyembut pertumbuhan jumlah penumpang di Soekarno-Hatta berada di atas rata-rata bandara lain di kawasan Asia-Pasifik, bahkan global, yang berkisar 5 persen. Pada 2016, misalnya, jumlah penumpang di Soekarno-Hatta tumbuh 7 persen. "Pada 2017 sampai 9 persen," kata dia. Karena itulah, Wakan menyakini bahwa industri bandara di Tanah Air "sangat menjanjikan".

DESTINASI INTERNASIONAL DAN DOMESTIK TERFAVORIT

Angkasa Pura II tak hanya menggeber pembangunan fisik bandara. Menurut Awaluddin, perusahaannya juga mulai berfokus pada digitalisasi Bandara Soekarno-Hatta. Mereka mengusung konsep "Airport Digital Journey Experience" yang diawali dari Terminal 3. Tujuannya, meningkatkan efisiensi operasional sekaligus kepuasan pengguna jasa bandara. "Di samping infrastruktur, kami sebenarnya menciptakan pula business enhancement," kata dia. 

Contoh paling sederhana, Awaluddin menutukan, di Terminal 3 kini tak boleh lagi ada standing banner. Seluruhnya telah diganti dengan digital banner, yang membuat terminal lebih rapi dan bersih. Kelebihan sistem digital, jumlah konten jadi tak tebatas "Waktu semua standing banner diganti dengan digital, ada peluang baru. Kami bisa mengisinya dengan iklan," ujar dia. 

Awaluddin juga mencontohkan potensi bisnis lain ketika mengembangkan aplikasi Indonesia Airports untuk konsep "airport in your hand". Angkasa Pura II tahun ini menglokasikan dana Rp 200 miliar untuk pengembangan infrastruktur lunak ini. 

Lewat pengembangan infrastruktur digital, Angkasa Pura II tak hanya meningkatakan kenyamanan untuk calon penumpang. Pengelola bandara juga membidik potensi bisnis lain: big data. "Ketika kita berbicara perilaku pelanggan," kata Awaluddin, "semua data masuk. Itu bisa jadi bisnis baru."

STATISTIK JUMLAH PENUMPANG YANG MELEWATI SOEKARNO-HATTA

Awaluddin meyakini, lini bisnis di luar penerbangan (non-aero) berpotensi untuk terus tumbuh. Di samping layanan digital, misalnya, ada bisnis sewa properti, usaha retail, kargo, hotel, dan parkir. 

Angkasa Pura II membebankan seluruh target pengembangan potensi bisnis non-aero kepada anak perusahaan: Angkasa Pura Solusi. "Tahun ini targetnya dia menjadi one trillion company," ujar Awaluddin.

TIM LIPUTAN KHUSUS
KOORDINATOR:
ZACHARIAS WURAGIL B.K
PENULIS: ZACHARIAS WURAGIL B.K, LINDA HAIRANI, INGE KLARA SAFITRI
PENYUMBANG BAHAN: LINDA HAIRANI, INGE KLARA SAFITRI, JONIANSYAH HARDJONO
MULTIMEDIA: KRISNA ADHI PRADIPTA

Terbit pertama kali di Koran Tempo Edisi 30 April 2018