Memerangi Antraks di Jawa Tengah

Beberapa daerah di Jawa Tengah sering diserang antraks. Boyolali ditetapkan sebagai daerah endemis. Pemerintah dan peternak di sana bekerja sama menangkal bahaya penyakit mematikan itu. (TEMPO/ Panca Syurkani)

Scroll

Salah Satu Lokasi Kasus Antraks di Boyolali, Jawa Tengah (TEMPO/ Shinta Maharani)

I
Antraks dan Upaya Menjaga Keamanan Daging Pangan di Indonesia
 
 

COR-CORAN semen menghampar menutupi halaman rumah dan kandang keluarga Ngatijo, pemilik sapi yang positif terserang bakteri antraks di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Seekor kambing menghuni kandang, hanya berjarak dua meter dari rumah Ngatijo. Rumah hewan ternak ini disesaki kayu, bambu, tali tampar, gantungan baju, dan kaus.  

Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo kemudian mengecor kandang dan halaman rumah Ngatijo.“Yang dikubur di tanah bagian dalam (jeroan) sapi. Lalu pemerintah kabupaten mengecor tanahnya,” kata Eko Aprianto, menantu Ngatijo, Selasa, 13 Maret 2018. 

Pengecoran atau tanah diberi semen bertujuan menahan penyebaran spora antraks karena spora bertahan hidup di tanah puluhan hingga ratusan tahun. Spora menjadi sumber infeksi yang bisa bangun dari tidurnya di dalam tanah kapan pun, menyebar, dan menjalar ke mana saja. . 

Kandang inilah tempat sapi yang tiba-tiba sakit dan dinyatakan positif terkena bakteri antraks atau bacillus anthracis (bakteri antraks). Bakteri ini bersifat zoonosis yang berarti ditularkan dari hewan ke manusia dan sebaliknya. Antraks sangat berbahaya dan mematikan hewan ternak maupun manusia.

Ketika seseorang makan daging setengah matang dari hewan yang terinfeksi bakteri antrax, maka yang terjadi adalah gastrointestinal anthrax. Setelah dicerna, spora atau sel dalam ukuran sangat kecil antraks bisa mempengaruhi saluran pencernaan bagian atas, yaitu tenggorokan dan esofagus, lambung, dan usus. 

Infeksi biasanya terjadi satu hingga tujuh hari setelah terpapar spora itu. Dampaknya merusak saluran pencernaan dan merusak jaringan tubuh. Tanpa perawatan yang cepat, orang yang terinfeksi bisa meninggal. Penularan lain adalah spora yang kehirup manusia bisa masuk ke saluran pernapasan. Spora yang masuk ke saluran pencernaan maupun saluran pernapasan ini bersifat akut dan sangat mematikan pada manusia. 

Orang yang berkontak langsung dengan hewan ternak yang kena bakteri antraks juga bisa kena antraks kulit. Spora yang masuk ke darah hewan ternak bersinggungan dengan kulit manusia. Bila ada luka, meski sangat kecil, orang itu bisa terkena antraks kulit. Cirinya sangat khas, bentuknya seperti luka koreng dengan warna hitam di tengahnya. Pengobatan antraks kulit dilakukan dengan cara pemberian antibiotik. 

Akibat antraks, kulit 16 warga Purwosari Kulon Progo melepuh, merah, kering, dan menghitam karena terkena bakteri antraks. Satu orang tewas akibat penyakit itu.“Kami mengira itu penyakit koreng biasa yang sejak zaman simbah saya sudah ada,” kata Kepala Dusun Ngaglik, Purwosari, Girimulyo, Suwaryono. 

Dusun Ngaglik, Purwosari, Girimulyo merupakan lokasi terjadinya kasus antraks. Seorang pemilik sapi, Ngatijo menyembelih seekor sapi yang sekarat bersama penduduk yang tinggal di dekat rumahnya. 

Daging sapi terinfeksi antraks kemudian dibagi-bagikan ke belasan tetangganya. Sebagian daging itu dijual dengan harga murah. Proses infeksi bakteri antraks adalah spora antraks yang menempel di rumput maupun berada di udara tertelan sapi membelah atau menggandakan diri di kelenjar limpa dan darah sapi. 

Spora dalam jumlah banyak itu keluar saat sapi mati melalui sekresi (proses membuat dan melepaskan substansi kimiawi dalam bentuk lendir oleh sel tubuh) berupa darah dari hidung, mulut, anus, atau percikan darah. Spora kemudian terhubung dengan oksigen. Spora inilah yang sangat berbahaya, sangat akut, dan mematikan bila tidak dikendalikan dengan baik. 

Spora antraks di Kulon Progo bisa menyebar ke mana-mana. Itu mengapa hewan ternak yang menunjukkan tanda-tanda terkena antraks tidak boleh dikonsumsi, harus dibakar, dan dikubur. Setelah itu, kandang tempat matinya sapi itu harus disemen agar spora yang berada di dalam tanah terkunci. 

Lalu lintas hewan ternak di sekitar tempat itu harus ditutup dalam jangka waktu tertentu untuk menghambat penyebaran spora. Mobilisasi hewan ternak seperti sapi, kambing, dan domba di Daerah Istimewa Yogyakarta cukup tinggi. Daerah ini punya total populasi sapi potong 314.620 ekor pada 2017. 

Populasi Sapi Potong Menurut Provinsi (2013-2017)


Populasi Kambing Menurut Provinsi (2013-2017)


Populasi sapi Yogyakarta berada di peringkat 14 dari 34 provinsi. Sapi-sapi Yogyakarta banyak dibeli pedagang besar asal Tasikmalaya, Bandung, Jakarta, dan Jawa Tengah. Pedagang itu kulakan sapi dari sejumlah pasar hewan di Sleman, Bantul, dan Gunung Kidul. 


Antraks di Boyolali

Data Kementerian Pertanian menunjukkan total populasi sapi potong seluruh Indonesia 16.599.247 ekor pada 2017. Populasi sapi dari Jawa Tengah jumlahnya besar, mencapai 1.718.206 ekor pada 2017. Jawa Tengah menyumbang populasi sapi terbesar di urutan kedua setelah Jawa Timur untuk populasi skala nasional. 

Jawa Tengah provinsi yang langsung berbatasan dengan Yogyakarta. Peternak dari Sleman banyak mendatangkan sapi perah dari Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Satu di antara pedagang sapi yang sering datang ke Sleman adalah Wening. Ia menawarkan sapi-sapi perah dan sapi potong dalam berbagai umur. 

Wening menemui Ketua Kelompok Ternak Sapi Perah Sedyo Lestari, Budi di rumahnya di Kaliurang Timur, Sleman. Wening memperlihatkan foto-foto sapi lewat ponselnya beserta harga.  Misalnya harga sapi perah per ekor Rp 15-20 juta dan sapi potong Rp 25 hingga Rp 35 juta per ekor. “Mayoritas sapi perah kami beli dari Boyolali. Banyak blantik (pedagang sapi) dari sana yang datang ke Sleman untuk tukar tambah sapi,” kata Budi. 

Boyolali saat ini punya populasi sapi perah yang besar, yakni 92 ribu ekor dan 96 ribu sapi potong. Kabupaten ini ditetapkan sebagai daerah endemik antraks. Lalu lintas hewan ternak yang tinggi menjadi satu di antara faktor risiko yang bisa menyebarkan antraks ke mana saja. 

Populasi Sapi Potong dan Sapi Perah Jawa Tengah - Sensus Kementan 2013


Populasi Sapi Potong dan Sapi Perah DI Yogyakarta - Sensus Kementan 2013


Antraks terjadi berulang di Boyolali sehingga daerah ini disebut endemik antraks. Kasus antraks terakhir terjadi di Dusun Tangkisan, Karangmojo, Klego, Boyolali. Sapi yang Ramelan dan Raminah sakit mendadak, tiga hari setelah dibeli dari pasar hewan di Boyolali. 

Mereka kemudian menyembelih sapi itu dan menjual dengan harga murah ke tetangga. Ramelan dan Raminah yang berkontak langsung dengan sapi terkena bakteri antraks itu menderita sakit antraks kulit. “Saya terkena di bagian mata,” kata Ramelan. 

Penyakit ini menimbulkan kepanikan dan kerugian yang besar. Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mencatat kerugian karena serangan bakteri antarks ditaksir dua miliar rupiah per tahun di Indonesia.
 

Antraks di Sleman

Antraks masuk dalam daftar penyakit hewan menular strategis zonosis dan endemis di beberapa wilayah di Indonesia. Tahun 1991 Direktorat Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian mencatat pernah terjadi kasus antraks di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tapi, tidak disebutkan secara spesifik kabupaten mana yang terkena antraks. 

Sleman pernah mengalami serangan antraks pada 2003. Tiga ekor sapi perah mati mendadak. “Hasil uji sampel menunjukkan positif antraks,” kata dokter hewan di Sleman, Sigit. 

Waktu itu, ia terjun langsung menangani kasus antraks di Sleman. Sapi yang positif antraks berada di Kaliurang Barat, berjarak sekitar 7 kilometer dari Gunung Merapi. Sapi yang terkena antraks lalu dibakar dan dikubur. 

Gejala antraks pada hewan ternak di antaranya demam tinggi, sapi mati dengan tanda-tanda keluar darah hitam di seluruh lubang tubuh. Sapi-sapi itu mati di Dusun Kaliurang, Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem.
 
Antraks menyerang Kulon Progo November 2016 hingga Januari 2017. Seekor sapi dan 13 kambing mati mendadak di Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo. Tiga dusun yang terserang antarks yakni Ngroto, Ngaglik, Penggung. 

Sapi milik Ngatijo kejang-kejang, sempoyongan, lalu ambruk di kandang pada 12 November 2016 di Dusun Ngaglik, Purwosari, Girimulyo. Ngatijo yang sedang membersihkan kandang terkejut. Keluarga Ngatijo dan tetangga di samping kanan dan kiri menganggap sapi itu hanya sakit biasa. Mereka tak tahu sapinya terkena bakteri antraks. “Kami mengira sapi cuma masuk angin,” kata Eko, menantu Ngatijo. 

Tidak hanya sapi, di dusun lainnya, berjarak dua kilometer dari Dusun Ngaglik terdapat 20 ekor kambing yang mendadak sakit dengan ciri-ciri terkena bakteri antraks pada periode November 2016 hingga Januari 2017. Selain Ngaglik, kambing mati mendadak di Dusun Ngroto dan Penggung. 

Kepala Dusun Ngroto, Suyatno, mengatakan dampak antraks melumpuhkan perdagangan hewan ternak di Desa Purwosari selama berbulan-bulan. Harga sapi dan kambing dari sana anjlok hingga 50 persen. “Kami perlu waktu yang lama untuk pulih dan meyakinkan blantik (pedagang sapi) datang membeli sapi dan kambing,” kata Suyatno. 

Harga sapi umur 6 bulan per ekor misalnya turun dari Rp 14 juta menjadi Rp Rp 7 juta. Kambing dari harga Rp 1 juta per ekor menjadi Rp 500 ribu. Sapi dan kambing dari Purwosari dijual kepada para blantik yang mendatangi rumah-rumah penduduk. Transaksi hewan ternak berjalan di pasar hewan Pengasih di Kulon Progo. Hewan ternak yang keluar masuk ke sana di antaranya berasal dari Magelang dan Purworejo.  

Dampak antraks tak hanya merugikan warga Purwosari secara ekonomi. Suyatno berharap kasus antraks tidak terulang di Purwosari. Pemerintah Kulon Progo, kata dia seharusnya menambah jumlah dokter hewan untuk memeriksa hewan-hewan ternak mereka secara rutin. “Kalau cuma lima dokter hewan menangani satu kecamatan kurang,” kata Suyatno. 

Desa Purwosari berjarak 30 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Desa ini berada di bukit Menoreh, berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan air laut. Desa ini menjadi langganan longsor dan satu di antara desa miskin di kabupaten dengan urutan paling miskin di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Badan Pusat Statistik DIY pada medio 2017 menetapkan Kulon Progo sebagai kabupaten paling miskin di Yogyakarta. Desa ini memiliki 27 ribu total penduduk. Kabupaten ini punya 12 kecamatan dengan total penduduk 470.520 jiwa.  

Sebagian penduduk Desa Purwosari tinggal di permukiman di antara tebing-tebing di bukit menoreh. Mereka rata-rata keluarga miskin yang mengandalkan hasil pertanian dan peternakan. 

Kandang-kandang sapi dan kambing mereka berdekatan dengan rumah tinggal penduduk. Rata-rata kandang berjarak 2-7 meter dari rumah.  “Sapi dan kambing jadi tabungan untuk kebutuhan mendesak, misalnya hajatan,” kata Suyatno. 

Kepala Dusun Ngaglik, Suwaryono mengatakan setelah terjadi antraks, Pemerintah Kabupaten Kulon Progo secara intensif memberikan vaksin pada seluruh hewan ternak. Suwaryono diminta mendata semua penduduk yang punya hewan ternak untuk mendapatkan jatah suntik vaksin dua kali setiap tahun. “Kami juga diminta untuk menjaga kebersihan kandang,” kata dia. 

Suwaryono adalah tetangga rumah keluarga Ngatijo yang ikut menyembelih sapi yang sakit mendadak. Menurut dia, penduduk di sana tak mengenal penyakit antraks. Di Dusun Ngaglik rata-rata tiap kepala keluarga punya tiga hingga empat sapi. Ada juga keluarga yang punya puluhan kambing. Setidaknya ada total 32 sapi dan 80 kambing milik 91 kepala keluarga.  


Spora antraks di tanah

Balai Besar Veteriner Wates Yogyakarta menyatakan hasil uji laboratorium menunjukkan ada spora antraks pada sampel tanah yang diambil di lokasi penyembelihan sapi, yang sakit mendadak. Balai Besar Veteriner kemudian setiap tahun melakukan surveilans penyakit antraks berbasis risiko, termasuk Kulon Progo. 

Surveilans itu mereka lakukan selama 3-5 tahun. “Petugas ambil sampel, mendata, menguji sampel tanah tiap tahun,” kata dokter hewan dari Balai Besar Veteriner Wates, Daerah Istimewa Yogyakarta, Suhardi.  

Balai Besar Veteriner belum mengumumkan dari mana sumber penyebaran bakteri antraks yang masuk ke Kulon Progo berasal. Kasus antraks selama ini tidak pernah terjadi di Kulon Progo. Mereka masih melakukan uji hipotesis dan melakukan kajian analisis resiko secara epidemologi. 

Suhardi yang juga Kepala Seksi Pelayanan Teknis Balai Besar Veteriner Wates mengatakan, ada banyak faktor risiko yang menyebabkan bakteri itu menyerang Kulon Progo. Bakteri antraks muncul karena adanya spora antraks yang bersinggungan dengan udara. Spora antraks bisa menempel di mana saja, di air, udara, rumput, lainnya. 

Spora antraks yang menempel di rumput misalnya dimakan hewan ternak lalu masuk ke tubuh hewan ternak dan melumpuhkan hewan itu. “Waktu itu musim hujan. Tanah yang lembab dan stabil cenderung membuat bakteri spora antraks bertahan,” kata Suhardi. 

Lalu lintas hewan ternak juga menjadi satu di antara faktor risiko yang bisa membuat hewan ternak terkena bakteri antraks. Setelah kejadian antraks, lalu lintas hewan ternak di Kulon Progo ditutup selama 21 hari. 

Selain mengambil sampel tanah, pengendalian antraks dilakukan melalui pemberian vaksin dan antibiotik pada hewan ternak. Setiap tahun vaksinasi diberikan dua kali pada seluruh hewan ternak. 

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo, Drajad Purbadi, mengatakan sulit untuk melacak dari mana asal bakteri antraks yang menyerang sapi dan kambing warga Kulon Progo. Ia menduga, lalu lintas ternak bisa menjadi satu di antara faktor yang menyebabkan bakteri antraks menyerang hewan ternak.

Di dekat Desa Purwosari terdapat Pendem, pasar hewan ternak dengan lalu lintas hewan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dugaaan lainnya adalah sapi dan kambing memakan rumput maupun jerami yang tercemar bakteri antraks. “Belum bisa disimpulkan asal bakteri dari mana. Harus dilacak secara menyeluruh,” kata Drajad.




II
Perubahan Iklim Kian Merepotkan Penanganan Antraks di Indonesia

Hujan deras mengguyur desa di perbukitan Menoreh.  Curah hujan di Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo waktu itu melebihi kondisi normal. Hujan dengan intensitas tinggi terjadi sepanjang Oktober 2016 hingga Januari 2017. 

Desa Purwosari berada di antara tebing-tebing Menoreh. Bukit ini terletak pada ketinggian 800 meter di atas permukaan air laut. Purwosari berjarak 30 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta. Desa ini langganan longsor ketika musim penghujan tiba. 

Di desa inilah, kasus antraks yang meresahkan penduduk terjadi. Seekor sapi yang sakit mendadak dan disembelih. Belasan kambing lainnya ikut mati mendadak. “Kami diguyur hujan ketika hewan ternak kami mendadak sakit secara beruntun,” kata Kepala Dusun Ngaglik, Purwosari, Girimulyo, Suwaryono. 

Kepala kelompok data informasi Stasiun Klimatologi Yogyakarta Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika, Djoko Budiyono mengatakan pada Oktober 2016 hingga Januari 2017, jumlah curah hujan di Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo melebihi rata-rata curah hujan normal. Stasiun Klimatologi misalnya mencatat curah hujan pada Oktober 2016 sebesar 526 milimeter. Dalam kondisi normal, curah hujan rata-rata pada bulan itu seharusnya 236 milimeter. 

Pada November curah hujannya mencapai 392 milimeter, melebihi rata-rata 378 milimeter. Curah hujan rata-rata ini dihitung selama sepuluh tahun terakhir (2008-2018). 

Perubahan iklim di antaranya ditandai dengan perubahan suhu, meningkatnya curah hujan. Dampaknya adalah meningkatnya vektor atau agen penyakit. Perubahan iklim secara sederhana terjadi ketika musim hujan dan kemarau datang tidak menentu. “Musim hujan datang dengan waktu yang lebih panjang atau lebih pendek. Begitu juga dengan musim kemarau,” kata Djoko. 

Intergovernmental Panel on Climate Change (IPPC), Panel Perubahan Iklim Antar-Pemerintah menyebutkan pemanasan global telah terjadi di bumi selama beberapa dekade terakhir. Suhu permukaan bumi rata-rata naik 0,74 derajat celcius dalam 100 tahun terakhir dan diperkirakan akan terus berlanjut. 

Perubahan iklim di kawasan Asia Tenggara, Indonesia satu di antaranya menjadi masalah serius karena meningkatkan ancaman terhadap ketahanan pangan, kesehatan manusia, ketersediaan air, keragaman hayati, dan kenaikan muka air laut. Pemanasan global ini terjadi karena efek gas rumah kaca. 

Pembakaran bahan bakar fosil sektor energi, transportasi, dan industri menghasilkan gas karbon dioksida yang menyumbang pemanasan global. Ada pula kegiatan peternakan dan pertanian juga menghasilkan gas metana. 

One health

Koordinator One Health Collaborating Center (OHCC) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Profesor Wayan Tunas Artama mengatakan dampak perubahan iklim mendukung penyebaran penyakit zoonosis, penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Juga mendukung munculnya penyakit-penyakit baru. 

Perubahan iklim, kata Wayan mendukung bertahannya patogenitas atau mikroba pada penyakit-penyakit zoonosis. Dia mencontohkan misalnya di suatu daerah endemik antraks. Meskipun hewan ternaknya telah dikubur, namun bisa jadi masih ada sporanya. Di situ spora bisa bertahan puluhan hingga ratusan tahun di tanah. Spora ini bisa masuk melalui saluran irigasi ketika hujan turun. 

Spora itu masuk ke pori-pori tanah, terbawa oleh akar rumput. Spora yang ada di rumput itu dimakan hewan ternak dan membunuh hewan ternak tersebut. Selain rumput, spora bisa masuk ke air yang diminum sapi. “Spora antraks bertahan dalam cuaca ekstrem,” kata Wayan. 
 
Curah hujan yang meningkat mendukung penyebaran spora, jangkauannya meluas ke mana-mana. Bisa jadi dari daerah yang terkena antraks dengan topografi tinggi menuju ke daerah yang lebih rendah ketinggiannya.  Misalnya dari daerah pegunungan menuju ke daerah bawah sekitarnya. Menurut Wayan, kasus antraks di Kulon Progo terjadi pada musim penghujan. 

Hewan ternak, yakni sapi sakit mendadak dan kambing mati terus menerus karena terinfeksi bakteri antraks selama Oktober 2016 hingga Januari 2017. Sekali terkena antraks, maka daerah itu harus mendapatkan tindakan khusus. 

Daerah yang terkena antraks seperti Kulon Progo harus dipantau terus menerus, misalnya pengambilan sampel tanah secara rutin oleh Balai Besar Veteriner. Itu mengapa di tanah tempat sapi sakit dan disembelih harus ditutup dengan menggunakan semen sedalam 5-8 sentimeter. 

Wayan menyebutnya sebagai betonisasi. “Spora itu bisa bangkit kapan saja. Bila semen itu dibongkar, maka spora bisa menyebar ke mana-mana dan bisa terjadi outbreaks antraks,” kata Wayan. 

Dari sisi ekologi, perubahan ekosistem sangat mempengaruhi penyebaran antraks. Dia mencontohkan kasus antraks yang menyerang ternak burung unta milik PT Cisada Kemasuri di Purwakarta, Jawa Barat tahun 2000. Dahulu tempat itu tidak dipakai untuk aktivitas peternakan. Spora kemungkinan menyebar lewat tanah yang beralih fungsi menjadi lokasi peternakan burung unta. 
 

Melibatkan kampus

Antraks salah satu penyakit zoonosis mematikan yang mendapat perhatian One Health Collaborating Center (OHCC). One Health merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada kolaborasi dokter hewan, dokter manusia, petugas kesehatan masyarakat, ahli epidemologi, ahli ekologi, toksologi, dan ahli lingkungan hidup. Kolaborasi itu bertujuan mendeteksi, mencegah, dan mengatasi penyakit infeksi emerging dan zoonosis di Indonesia. 

Para ahli lintas ilmu itu berhimpun pada Indonesia One Health University (Indohun). Ini merupakan platform yang melibatkan akademisi, ilmuwan, komunitas, pemangku kepentingan, dan kalangan profesional dari Indonesia. Indohun berdiri sejak 2012. “Di Indonesia terdapat 34 fakultas dari 20 universitas yang telah terdaftar sebagai bagian dari Indohun,” kata Wayan. 

Proyek percontohan One Health telah diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia. Satu di antaranya adalah Boyolali. Dokter hewan alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta telah menerapkan pendekatan one health di Boyolali untuk mengatasi antraks dan penyakit zoonosis lainnya. 

Pemerintah Kulon Progo belajar dari Boyolali bagaimana mengatasi antraks. “Koordinasi yang kuat dari tim One Health menjadi kunci mengatasi antraks. Apa yang sudah dilakukan terus dievaluasi,” kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Boyolali, Afiany Rifdania. 

Afiany yang juga dokter hewan itu mengatakan sama seperti Kulon Progo, serangan antraks di Boyolali tahun 2011 juga terjadi di musim penghujan. Di Sleman, antraks juga terjadi ketika musim hujan pada 2003. Tiga sapi perah mati mendadak di Dusun Kaliurang, Hargobinangun, Pakem. 

Dusun ini berjarak 7 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Seekor sapi perah milik Seno Tiyoso di Dusun Kaliurang Barat mati mendadak dan positif terkena antraks. “Waktu itu turun hujan,” kata Pengurus kelompok ternak sapi perah Sedyo Rahayu, Sleman, Agus Salim. 
 
Sapi-sapi perah milik peternak Sleman sebagian besar didatangkan dari Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Sleman bagian utara menjadi sentra sapi perah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sleman sebelah utara berbatasan dengan Boyolali. 

Kementerian Pertanian menetapkan Boyolali sebagai satu dari sekian daerah yang endemik antraks. Pada 2011, Kabupaten Boyolali ditetapkan sebagai daerah dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) antraks. Kasus antraks menjadi langganan di daerah dengan populasi sapi perah dan sapi potong yang tinggi ini. 

Dosen Departemen Mikrobiologi, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Profesor AETH. Wahyuni, memiliki pengalaman panjang menangani antraks di banyak daerah. Ia terjun langsung ke lokasi peternakan sapi, termasuk di Kabupaten Semarang dan Boyolali pada 1990. 

Dua kabupaten ini terkena wabah antraks. Di sana terdapat perusahaan pembibitan sapi perah dan plasma yakni PT NAA. Data Kementerian Pertanian menunjukkan 1.296 ekor sapi perah mati tahun itu. Di Sragen, Jawa Tengah, Profesor Wahyuni ikut menangani antraks bersama tim Balai Besar Veteriner Wates tahun 2011. Ia juga turun ke lokasi serangan antraks pada burung unta di Purwakarta, Jawa Barat tahun 2000. 

Antraks merupakan penyakit bakterial, yang disebabkan Bacillus anthracis pembentuk spora. Spora antraks terbentuk apabila bakteri berkontak dengan oksigen dan bisa bertahan hidup di tanah selama puluhan tahun. Spora antraks yang ukurannya sangat kecil (hanya bisa dilihat melalui kaca pembesar, tahan terhadap perubahan lingkungan sehingga sulit dibasmi.

Spora sangat mudah menyebar ke mana saja. Bisa menempel pada apapun, terbawa angin dan air. “Spora antraks ini sifatnya akut dan menimbulkan kematian pada hewan ternak dan manusia” kata Profesor Wahyuni.  

Apakah perubahan iklim mempengaruhi bertahannya spora antraks? Cuaca menurut dia ikut memberikan andil untuk mempercepat proses sporulasi atau proses pembentukan spora bakteri antraks. 

Mengapa musim penghujan harus diwaspadai terhadap serangan antraks? Wahyuni menyebutkan spora bisa menempel di air dan alirannya turun dari lokasi yang lebih tinggi (kasus antraks terjadi) ke tempat yang lebih rendah. Spora antraks yang menempel pada rumput bisa termakan hewan ternak lalu masuk ke darah dan limpa hewan. “Spora yang sulit dikendalikan bisa bercampur dengan air dan udara. Lalu masuk ke tubuh hewan ternak,” kata Wahyuni. 

Persoalan utama penyebaran antraks, kata Wahyuni adalah mobilitas hewan ternak yang tinggi. Spora bisa menyebar ke mana saja. Dia mencontohkan spora bisa mengenai ban mobil peternak yang diangkut ke tempat baru. 

Wahyuni menjumpai kasus antraks di Kabupaten Semarang dan Boyolali pada 1990 terjadi pada musim hujan di daerah dengan topografi tinggi. Spora yang bertahan puluhan hingga ratusan tahun itu terbawa air pada saat musim hujan. Kasus antraks di Purwakarta, Jawa Barat tahun 2000 juga terjadi pada musim hujan. 

Spora bisa membelah atau menggandakan diri pada suhu 25-30 derajat celcius. Spora yang masuk di tubuh hewan ternak menjadi sel vegetatif. Hewan ternak yang tidak punya pertahanan tubuh yang bagus rentan terinfeksi bakteri antraks.   

Untuk bebas dari antraks, menurut Wahyuni tidak mudah dan perlu usaha keras dari banyak kalangan. Sebab spora antraks tak bisa dikendalikan bila sudah menyebar ke mana-mana. Satu di antara yang bisa dilakukan untuk menghambat penyebaran antraks adalah pemberian vaksin pada hewan ternak. 

Pemerintah, kata dia harus lebih gencar sosialisasi bahaya antraks yang mematikan kepada semua kalangan. Bila ada tanda-tanda hewan ternak terkena antraks, maka hewan itu tak boleh diperjual belikan dan tak boleh dikonsumsi. 

Hewan ternak yang terkena bakteri antraks harus dibakar dan dikubur sedalam 3 meter. “Di tempat dikuburnya hewan ternak terkena antraks harus ditutup semen dan ditandai bahwa di lokasi itu pernah terjadi antraks,” kata Wahyuni. 

Tapi, sayangnya belum semua orang memahami bahaya antraks. Satu di antaranya adalah pedagang dan peternak sapi. Seorang blantik atau pedagang sapi asal Boyolali mengatakan tak memahami apa itu antraks dan bagaimana penyebarannya. Orang-orang di pelosok desa banyak yang tak mengenal antraks. 

Belum lama ini ia bahkan membeli sapi sekarat yang hanya dijual Rp 1 juta oleh pemilik sapi. Sapi sekarat itu disembelih lalu dijual bebas di pasar. “Peternak di Kecamatan Selo, Boyolali menjual murah karena sapinya sakit keras. Saya kasihan,” kata dia. Peternak ini meminta untuk tidak disebutkan nama dengan alasan keamanan dirinya.
 

III
Menghadang Antraks, Belajar dari Boyolali

 

Dokter hewan Drajad Purbadi blusukan ke kandang-kandang penduduk Kulon Progo. Bersama timnya, ia memimpin vaksinasi hewan ternak pada pertengahan Maret 2018. Sapi, kambing, dan domba disuntik vaksin anthravet, musuhnya bakteri antraks. Vaksin ini menjaga kekebalan tubuh hewan ternak. 

Selasa pagi, 13 Maret, Drajad dan petugas kesehatan Hewan menyebar ke Dusun Wonosari, Patihombo, dan Ngroto Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo. Desa Purwosari merupakan desa yang pernah terserang bakteri antraks pada akhir 2016 hingga awal 2017. Drajad dibantu tiap kepala dusun untuk mendata hewan-hewan ternak milik penduduk. Mereka mendata umur hewan ternak dan kondisi tubuhnya.  

Drajad yang juga Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo menerjunkan 10 tim untuk melakukan vaksinasi. Masing-masing tim bertugas ke setiap rukun tetangga. “Kami terus melakukan vaksinasi hingga awal Mei di tahun ini. Tahun-tahun selanjutnya terus vaksinasi dan pemantauan,” kata Drajad, Selasa, 13 April 2018. 

Kementerian Pertanian telah menyalurkan 17.600 vaksin untuk hewan ternak ke Kulon Progo. Menyuntikkan vaksin anthravet, kata Drajad tak boleh sembarangan. Bila sapi sedang bunting, maka tidak boleh disuntik vaksin. Petugas kesehatan hewan hanya boleh memberikan vitamin untuk sapi itu. Sapi-sapi yang berumur tiga bulan misalnya hanya boleh disuntik obat cacing. 

Dari satu kandang ke kandang lainnya, para petugas memilah mana sapi dan kambing yang harus disuntik vaksin dan tidak boleh. “Sebelum disuntik, saya tanya kondisi sapi dan kambing. Ada puluhan yang disuntik,” kata Kepala Dusun Ngroto, Suyatno. 

Setiap pemilik hewan ternak melihat bagaimana petugas kesehatan hewan menyuntik hewan milik mereka. Kepada setiap pemilik hewan ternak dan kepala dusun, petugas meminta agar mereka aktif memberi tahu petugas bila terjadi masalah. “Kalau terjadi apa-apa dengan hewannya setelah disuntik, silakan melapor,” kata seorang petugas kepada Kepala Dusun Wonosari, Suryadi. 

Menurut Drajad, selain vaksinasi, Dinas Pertanian dan Pangan Kulon Progo juga telah melakukan penyemprotan disinfektan di kandang penduduk. Mereka juga menyemen tanah tempat hewan ternak terkena bakteri antraks untuk menghadang spora agar tidak menyebar ke mana-mana. Untuk penduduk yang terkena antraks kulit, petugas kesehatan dari Pusat Kesehatan Masyarakat telah memberikan antibiotik. Semua yang terkena antraks kulit sudah sembuh. 

Ia mewanti-wanti penduduk untuk aktif melapor kepada petugas kesehatan hewan bila menjumpai hewan ternak yang sakit dan mati mendadak. Drajad mengajak tokoh-tokoh desa untuk aktif mengajak masyarakat sadar akan bahaya antraks. Semua hewan ternak yang terindikasi antraks dilarang keras untuk dikonsumsi. “Hewan ternak yang terkena bakteri antraks harus dibakar dan dikubur,” kata Drajad.

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo belajar dari Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah untuk menangani antraks. Mereka belajar hingga teknis, misalnya bagaimana menyuntikkan vaksin antraks terhadap hewan ternak supaya tidak menyebabkan reaksi berlebihan. Bila tidak tepat menyuntikkan vaksin itu, maka hewan ternak bisa mati.

Misalnya untuk penyuntikan antraks pada domba dan kambing berbeda caranya. Ada beberapa hewan ternak yang juga peka terhadap vaksin antraks dan ada obat penawarnya. Menyuntik vaksin pada domba dilakukan pada lipatan kulit yang bersih pada ekor. Pada ekor domba yang menggantung ada lipatan kulit yang bersih. “Kami berbagi ilmu kepada rombongan dokter hewan dan petugas kesehatan Kulon Progo,” kata Dokter hewan di Boyolali, Afiany Rifdania. 

Boyolali memiliki total 19 dokter hewan. Boyolali dikenal dengan lalu lintas hewan ternak yang tinggi. Saat ini, populasi sapi perah mencapai 92 ribu dan sapi potong 96 ribu. Boyolali punya sejarah serangan antraks yang kuat. Antraks menyerang kota penghasil susu ini berkali-kali sehingga pemerintah menetapkannya sebagai daerah endemik. 

Antraks menyerang Desa Kopen, Teras, Boyolali tahun 1992. Sebanyak 25 orang positif terkena antraks, 18 di antaranya orang meninggal. Tahun 2011 antraks menyerang seekor sapi potong di Dusun Tangkisan, Desa Karangmojo, Klego. Pemilik sapi kemudian menyembelih dan menjual dagingnya dengan harga murah ke tetangga kanan kiri. 

Sebagian orang yang menyembelih dan mengkonsumsi daging sapi terkena antraks kulit. Sapi ini dinyatakan positif terkena bakteri antraks setelah petugas mengambil sampel tanah di tempat sapi dan ekor sapi kering yang digantung di depan rumah pemilik sapi. Serangan antraks kembali terjadi di Desa Sempu, Andong selama dua kali pada 2012. 

Sampel yang diambil petugas adalah potongan telinga sapi. Pemerintah Boyolali menetapkan daerahnya sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Total sapi yang mati karena serangan antraks ada empat ekor. 

Dokter hewan Afiany Rifdania merupakan dokter yang pernah terjun langsung menangani antraks di Desa Karangmojo, Klego dan Desa Sempu, Andong. Ia mengumpulkan semua dokter hewan dan petugas kesehatan hewan untuk melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak. Ada 15 ribu ekor yang divaksinasi. “Kami mengisolasi daerah yang diserang antraks,” kata Afiany. 

Vaksinasi sapi dan kambing, kata Afiany hingga sekarang masih terus dilakukan. Boyolali punya kebijakan khusus orang yang melakukan vaksinasi harus dokter hewan untuk mengantisipasi kegagalan vaksinasi. 

Ketua kelompok peternak sapi perah Sidomakmur Dusun Ngemplak, Banyuanyar, Ampel, Boyolali, Suwarto mengatakan selain vaksinasi, peternak rajin memeriksakan sapinya ke dokter hewan. Setiap tiga bulan sekali, sapi perah mendapatkan obat cacing dan vitamin. “Dokter hewan dari pos kesehatan hewan jemput bola, mendatangi rumah-rumah penduduk untuk memeriksa sapi perah mereka,” kata Suwarto. 

Kelompok ternak sapi perah Suwarto dianggap berhasil menjaga sapi-sapi mereka dari serangan berbagai penyakit, termasuk antraks. Selain rutin memeriksakan sapi ke dokter hewan, kandang sapi perah di sana dijaga kebersihannya. 

Suwarto dan kelompok ternaknya sukses menjalankan wirausaha susu sapi dalam produk susu, es krim, dan yogurt. Mereka menang dalam lomba kewirausahaan di tingkat Provinsi Jawa Tengah belum lama ini. 

Kecamatan Ampel menjadi kawasan yang terus dipantau di Boyolali karena di kecamatan ini pernah terjadi serangan antraks tahun 2011. Ketika antraks menyerang Boyolali pada 2011, pemerintah kabupaten punya kebijakan mengganti hewan ternak yang dibakar dan dikubur milik peternak karena diduga kena bakteri antraks. 

Mereka menggunakan dana bantuan sosial sebagai dana kompensasi untuk peternak yang memusnahkan hewan ternak yang dicurigai terkena antraks. Per ekor sapi diganti Rp 2,5 juta dan kambing Rp 500 ribu.  

Pemerintah Kabupaten Boyolali membuat semacam perjanjian yang ditandatangani peternak, ketua rukun tetangga, dan kepala desa sebagai saksi bahwa hewan ternak telah dimusnahkan. Ini sebagai bukti pertanggung jawaban. 

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali, Juwaris mengatakan dana total untuk penggantian hewan ternak beberapa waktu setelah terjadi kasus antraks sebesar Rp 700 juta. Skema penggantian hewan ternak yang dimusnahkan karena diduga terkena antraks dilakukan selama tiga bulan. “Kalau sekarang bisa menggunakan dana cadangan bencana non-alam,” kata Juwaris. 


Percontohan

Sebagai daerah dengan populasi hewan ternak yang besar, Boyolali sangat rentan dengan penyakit zoonosis. Daerah ini kemudian menjadi lokasi proyek percontohan One Health. Selain Boyolali, Minahasa Provinsi Sulawesi Utara, Ketapang Provinsi Kalimantan Barat dan Bengkalis Provinsi Riau juga menjadi percontohan program One Health untuk menangani rabies 

One Health merupakan kolaborasi dokter hewan, dokter manusia, petugas kesehatan masyarakat, ahli epidemologi, ahli ekologi, toksologi, dan ahli lingkungan hidup. Kolaborasi itu bertujuan mendeteksi, mencegah, dan mengatasi penyakit infeksi emerging dan zoonosis di Indonesia. 

Secara sederhana, pendekatan ini melihat siapa yang terkena, kenapa terjadi, kapan terjadi, dan apa solusinya lewat kolaborasi antar bidang. Program ini ada sejak 2012. Tapi, pedomannya koordinasi antar-sektor baru tersusun tahun 2016. 

Ada tiga aktor yang bertanggung jawab terhadap program ini. Mereka adalah Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, serta Kementerian Pertanian. 

Petugas kesehatan Boyolali pada 2016  mendapatkan berbagai pelatihan, misalnya mengidentifikasi apa saja penyakit zoonosis yang ada di daerah itu. Juga melihat bagaimana daerah itu mengatasi penyakit itu. 

Koordinator One Health Collaborating Center (OHCC) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Profesor Wayan Tunas Artama, mengatakan Boyolali dipilih sebagai proyek percontohan One Health karena daerah ini menjadi pusat hewan ternak, di antaranya sapi perah. Banyak daerah membeli anakan sapi dari Boyolali. Daerah ini menjadi satu dari sejumlah daerah yang ditetapkan sebagai wilayah endemis antraks.  

One Health, kata dia menjadi bagian dari advokasi terhadap masyarakat dengan pendekatan lintas sektor. Masyarakat harus punya kesadaran untuk sigap melapor bila hewan ternaknya sakit mendadak dan dalam kondisi tidak normal. Pendekatan One Health juga mendorong pengambil kebijakan, misalnya di tingkat daerah perhatian terhadap penyakit yang mematikan, satu di antaranya antraks. 

Sistem kontrol antraks di daerah-daerah endemis misalnya, kata Wayan harus ketat. Masyarakat tidak boleh menjual ternaknya ketika terduga kena antraks. “Kepala daerah harus punya kesadaran yang kuat bahwa antraks sangat berbahaya, mematikan, dan bisa menular ke banyak tempat,” kata Wayan. 


Kolaborasi

Menurut dia, pendekatan One Health tidak hanya diterapkan untuk mengatasi antraks, melainkan juga penyakit zoonosis lainnya dan penyakit infeksi emerging. 

Tahun 2017, Boyolali menggunakan pendekatan One Health untuk menangani dugaan kasus rabies yang disebabakan gigitan anjing dan monyet ekor panjang. Pemkab Boyolali membentuk kolaborasi lintas sektor. 

Mereka yang berkolaborasi adalah dokter hewan, dokter di dinas kesehatan, dan Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam atau BKSDA. Ini diterapkan pula untuk menangani dugaan kasus rabies oleh gigitan anjing dan monyet ekor panjang. 

Cara kerjanya adalah tim melakukan surveilans terpadu, memetakan risiko dengan melibatkan tokoh masyarakat. Selain itu ada tim yang bertugas mengirim sampel hewan ke Balai Besar Veteriner Wates. BKSDA mengurusi satwa liar. Sedangkan tenaga kesehatan masyarakat merujuk pasien ke puskesmas misalnya untuk mendapatkan vaksin anti rabies.

Teks: Shinta Maharani
Editor: Sunudyantoro
Sumber data grafis: Kementerian Pertanian
Visualisasi data: Gadi Makitan