Greenpeace: Merek-merek Besar Dunia Masih Dipasok Perusahaan Sawit Nakal

Greenpeace International menemukan bahwa perusahaan-perusahaan dengan merek-merek terkenal di dunia masih menggunakan minyak kelapa sawit dari perusahaan-perusahaan yang merusak hutan di Indonesia.

Scroll

Jakarta - Penyelidikan terbaru Greenpeace International mengungkapkan, sejumlah perusahaan pemasok minyak sawit telah menghancurkan area hutan hampir dua kali luas Singapura dalam waktu kurang dari tiga tahun. Ternyata, pasokan sawit mereka masih digunakan merek-merek terbesar dunia seperti Unilever, Nestlé, Colgate-Palmolive, dan Mondelez.

Penyelidikan itu dimuat dalam laporan yang berjudul Hitung Mundur Terakhir: Sekarang atau Tidak Sama Sekali untuk Mereformasi Industri Kelapa Sawit. Laporan itu dipublikasikan Rabu, 19 September 2018. Di dalamnya, Greenpeace International mengungkapkan hasil penyelidikan atas praktik deforestasi 25 produsen minyak sawit besar. Ini temuan mereka:



Menurut Greenpeace International, investigasi ini menunjukkan kegagalan total Wilmar International, yang merupakan pedagang minyak sawit terbesar di dunia, dalam memutus hubungan dengan perusakan hutan. Padahal, pada 2013 lalu, Greenpeace International sudah mengungkapkan bahwa Wilmar dan pemasoknya bertanggung jawab atas deforestasi, penebangan ilegal, kebakaran di lahan gambut, dan pembukaan habitat harimau secara ekstensif.

Setelah laporan itu terbit, pada tahun yang sama, Wilmar memang mengumumkan kebijakan NDPE atau Kebijakan Tanpa Deforestasi, Tanpa Pembukaan Lahan Gambut, Tanpa Eksploitasi (No Deforestation, No Peat, No Exploitation). Namun, analisis Greenpeace menemukan bahwa Wilmar masih mendapatkan minyak sawit dari kelompok-kelompok perusahaan yang menghancurkan hutan dan melakukan penyerobotan lahan dari komunitas lokal, seperti terlihat dalam grafis di bawah ini:





Beberapa merek itu memberikan konfirmasi kepada Greenpeace, sementara yang lain tidak memberi tanggapan. Direktur Utama Wilmar International Kuok Khoon Hong, misalnya, menyatakan pihaknya terus menghadapi penyalur yang nakal dan saat ini berada di jalur yang benar. Sedangkan konfirmasi perusahaan-perusahaan lain bisa dilihat di laporan lengkap Greenpeace International di sini.

“Merek-merek global tersebut harus memperbaiki masalah ini, sekali untuk selamanya, dengan memangkas pasokan Wilmar hingga mereka dapat membuktikan bahwa minyak sawitnya bersih,” kata Kiki Taufik, kepala kampanye hutan global Greenpeace Indonesia.

Dalam investigasinya, Greenpeace International juga menunjukkan bahwa kondisi Papua mengkhawatirkan. Menurut Kiki, Papua adalah salah satu wilayah yang paling banyak memiliki keanekaragaman hayati di bumi dengan hutannya yang sangat alami karena terhindar dari kehancuran seperti yang terjadi di wilayah lain di Indonesia. “Tapi, saat ini industri kelapa sawit bergerak masuk dan menggunduli hutan Papua dengan kecepatan yang mengkhawatirkan,” ujarnya. “Jika kita tidak menghentikan mereka, maka hutan Papua yang indah akan dihancurkan untuk kelapa sawit seperti di Sumatera dan Kalimantan.”

Teks dan data: Greenpeace
Grafis: Moerat Sitompul