Forbidden Stories: Darah Hijau

Tambang Emas di Mara Utara, Tanzania. Foto: Forbidden Stories

Scroll

Green Blood adalah serial laporan investigasi tentang sejumlah wartawan yang menghadapi berbagai ancaman dalam memberitakan dugaan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh beberapa perusahaan tambang di dunia.

Ikhtiar mereka memberitakan isu ini mengancam nyawa dan membuat mereka mempertaruhkan segalanya. Segala upaya jurnalis menginvestigasi perusahaan perusak lingkungan ini selalu dihadapi dengan aksi balas dendam dan usaha penyensoran yang begitu kuat.

Untuk pertama kalinya, 40 jurnalis dari 15 negara yang dinaungi oleh Forbidden Stories menguak jantung industri tambang yang berusaha menutupi jejak aktifitas ilegal mereka. Sejumlah perusahaan tambang ini tersebar di India, Tanzania, dan Guatemala.

Wartawan India Jagendra Singh memuat artikel terakhirnya pada tanggal 1 Juni di laman media sosial Facebook miliknya – platform yang ia gunakan untuk membagikan puluhan reportasenya. Selama lebih dari satu bulan ia memberitakan penambangan pasir ilegal dan hubungannya dengan politisi Rammurti Singh Verma.

Isu lingkungan yang Jagendra Singh beritakan diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai ancaman serius terhadap lingkungan.

Pada hari yang sama, Singh dilarikan ke rumah sakit setelah sekujur tubuhnya menderita luka bakar lebih dari 50 persen. Sebelum Singh meninggal dunia, ia sempat berujar dalam sebuah rekaman video, “Para bajingan itu menyirami  tubuh saya dengan bensin. Mereka melompati tembok untuk mendobrak masuk. Mereka bisa saja menangkap saya kalau mereka mau, mengapa harus sampai membunuh saya?”

Tanpa dapat melihat ke arah kamera dan mata tertutup rapat, Singh menuduh polisi bayaran Verma berada di balik serangan terhadapnya. Rekaman tersebut jelas memperlihatkan luka bakar serius yang dideritanya. Singh pada akhirnya meninggal pada umur 46 tahun setelah dirawat intensif selama tujuh hari.

Laporan resmi polisi mengatakan bahwa Singh bunuh diri, akan tetapi pada hari dia dimakamkan anak Singh melaporkan Verma beserta lima anggota polisi atas dugaan konspirasi pembunuhan berencana. Namun, laporan polisi tersebut ditarik setelah Verma bertemu dengan keluarga Singh.

Forbidden Stories bertemu dengan anggota keluarga Singh—yang terpaksa bungkam karena takut akan aksi balas dendam—mengatakan bahwa mereka menerima sejumlah uang dari Verma sebagai uang tutup mulut pasca kematian Singh.

Jagendra Singh. Foto: Forbidden Stories

Ketika Verma dimintai konfirmasi, juru bicara Verma mengatakan bosnya sedang dirawat dan tidak dapat memberi jawaban atas tuduhan tersebut.

Jagendra Singh ialah satu dari empat jurnalis korban pembunuhan terkait pemberitaan mereka mengenai lingkaran mafia penambang pasir di India. Organisasi kriminal ini dikenal akan reputasi mereka yang sadistis dan paling sulit untuk ditembus. Komite untuk Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalists /CPJ) melaporkan setidaknya 13 jurnalis dunia yang tewas sejak tahun 2009 karena memberitakan isu lingkungan.

CPJ mengatakan ada setidaknya 29 kasus yang terpublikasi dan saat ini sedang menginvestigasi 16 kasus kematian lainnya. Pada tahun 2015, Reporters without Borders menyatakan bahwa wartawan isu lingkungan dari berbagai belahan dunia sedang konstan dipukul mundur.

Konsorsium 40 wartawan investigatif dari 30 organisasi media di dunia, Forbidden Stories, menyatakan bahwa pemberitaan masalah lingkungan menjadi tantangan serius bagi wartawan yang melaporkannya. Ancaman terburuk yang dapat mereka alami, mulai dari pembunuhan sampai dengan penangkapan, pembungkaman, gugatan hukum, dan penyerangan secara fisik.

“Kebanyakan kasus ini dialami para jurnalis yang ditempatkan di Amerika Latin, Asia, dan Afrika. Permasalahan ini seringkali terjadi di daerah yang terpencil,” sebut Profesor Michigan State University, Eric Freedman, penulis jurnal “Bala Jurnalisme Lingkungan.”

Tanzania di Afrika bagian timur menjadi saksi situasi pelik yang dihadapi seorang wartawan dalam memberitakan aktivitas penambangan emas oleh Acacia Mining di wilayah Mara Utara. Perusahaan tersebut sebagian besar sahamnya dimiliki oleh perusahaan raksasa Kanada, Barrick.

Forbidden Stories menemukan bahwa banyak wartawan lokal yang memberitakan penambangan tersebut menjadi korban penangkapan sampai dengan pembredelan yang dilakukan oleh otoritas negara setempat.  Meski berjarak lebih dari seribu kilometer dari kota terbesar Tanzania, Dar es Salaam, mereka yang mendekat akan dihadapkan dengan tantangan.

Tahun 2011 menjadi saksi empat wartawan yang dibawa ke pos polisi saat bergerak menuju area tambang. Mereka berniat memberitakan beberapa kasus kematian yang lumrah terjadi di seputaran tambang.

Forbidden Stories melacak jejak emas dari tambang di Mara Utara hingga ke kilang emas MMTC-PAMP yang berlokasi di India. Perusahaan ini terdaftar sebagai penyuplai beberapa perusahaan teknologi global raksasa seperti Apple, Canon, dan Nokia, perusahaan-perusahaan yang sering menyatakan diri sebagai perusahaan yang menggalakkan etika bisnis dan praktek ramah lingkungan.

Ketiga perusahaan teknologi tersebut mendaftarkan kilang MMTC-PAMP sebagai penyuplai mereka dengan bantuan sebuah badan pengatur Amerika Serikat. Karena bantuan legal inilah kilang tersebut dapat berakhir bersama perusahaan komputer dan telepon genggam terbesar dunia.

“Selama pelaksanaan uji kelayakan di Mara Utara, kami memperlakukan serius berbagai laporan dari sejumlah LSM dan menanyakan pihak tambang terkait laporan tersebut,” kata Hitesh Kalia yang menjabat sebagai penganggung jawab resiko dan kepatuhan MMTC-PAMP.

Selain itu, Canon dan Nokia juga menekankan bahwa smelter di India tersebut telah diaudit dan terbukti patuh pada regulasi yang ada. “Apabila tuduhannya terbukti, kilang emas tersebut akan kami tandai dan minta agar penyuplai kami berpaling dari perusahaan tersebut,” kata juru bicara Nokia. Apple menyatakan hal yang sama.

Akan tetapi, penduduk desa yang tinggal di sekitar tambang terpaksa hidup bersama konsekuensi aktifitas penambangan emas. Penambangan kelas industri Acacia, yang menggantikan posisi penambangan rakyat, membuat aktifitas tambang dan produksi kuantitas logam berat yang dihasilkan jauh lebih besar. Jejak logam berat tersebut pada akhirnya diketahui telah mencemari sungai-sungai di sekitar wilayah tambang.

Tambang Acacia di Mara Utara didenda USD2.4 juta (5.6  miliar shilling Tanzania) pada bulan Mei oleh otoritas setempat atas dugaan pencemaran yang berasal dari tailing tambang tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Acacia Mining mengatakan pada Forbidden Stories bahwa mereka “Mengakui akan adanya kebutuhan untuk managemen tailing tambahan” dan perusahaan telah “memulai perencanaan dan mendesain fasilitas penampung yang baru.”

Perusahaan tambang tersebut tidak hanya dituduh atas pelanggaran-pelanggaran terhadap lingkungan, sejak tahun 2014 organisasi-organisasi LSM mencatat 22 kasus dugaan pembunuhan yang dilakukan oleh polisi maupun anggota keamanan tambang. Tercatat juga lebih dari satu kasus pemerkosaan dan penganiayaan.

Sebagian besar korban kekerasan mereka adalah penambang setempat yang menambang pada skala kecil di area tersebut sebelum berubah menjadi lokasi pertambangan masif. Acacia Mining melihat para penambang lokal ini dianggap sebagai “pengacau.”

Acacia Mining dengan tegas menampik berbagai tuduhan kematian dan pelanggaran hak asasi manusia yang dialamatkan kepada perusahaan. “Dalam kurun waktu empat tahun dari 2014 hingga 2017, enam orang dilaporkan meninggal di lokasi pertambangan di Mara Utara yang disebabkan oleh pelbagai konfrontasi dengan anggota polisi setempat,” katanya. Juru bicara Barrick mengatakan bahwa mereka tidak berwenang atas kontrol operasi pertambangan di Mara Utara.

Forbidden Stories bersama wartawan the Guardian UK menemui Lucia Marambela, 44 tahun. Kepada keduanya, Lucia menuturkan bagaimana ia, pada 2010, dua kali menjadi korban pemerkosaan di lokasi pertambangan.

Lucia Marambela. Foto: Forbidden Stories

Menurut penuturannya, ia ditangkap oleh sekelompok laki-laki saat sedang mencari emas di dalam tambang – yang menurutnya bukanlah hal yang jarang terjadi pada perempuan-perempuan di sekitar area pertambangan.

“Mereka menangkap kami dan membawa kami bersama mereka ketika kami sudah lelah berlari,” tuturnya. “Selanjutnya kami dimasukkan ke dalam kendaran mereka dan menuju area terpencil, dekat dengan sebuah lapangan terbang kecil yang sulit terlihat oleh orang-orang yang lewat.”

Pada lokasi inilah salah satu dari mereka menjalankan aksinya sementara yang lain berjaga mengawasi sekitar. “Mereka melepaskanmu setelah menyelesaikan aksi bejat mereka dan kembali bekerja seperti biasa.”

Privatisasi industri pertambangan Tanzania memaksa penduduk desa di Mara Utara kehilangan satu-satunya mata pencaharian yang mereka andalkan; penambangan tradisional.

“Akuisisi lahan mereka oleh Acacia Mining mengacaukan sumber penghidupan mereka, dan perusahaan tidak mengkompensasi mereka secara layak,” sebut Mary Rutenge, dosen Universitas Mzumbe di Tanzania.

“Sumber daya alam sangat berharga bagi industri atau pemerintah suatu negara, terutama di negara ekonomi berkembang yang masyarakatnya sangat mengandalkan sumber daya alam tersebut. Situasi ini bisa membahayakan wartawan yang sedang memberitakan [aktifitas penambangan],” kata Meaghan Parker, direktur eksekutif Masyarakat Jurnalis Lingkungan (Society of Environmental Journalists).

Situasi bisa bertambah runyam mengingat wartawan isu lingkungan yang bekerja di wilayah terpencil akan sulit untuk dikenali oleh otoritas setempat. “Hal ini memburamkan batas antara jurnalis dan aktifis lingkungan,” kata Parker. “Aktifis yang sedang menjalankan aksi protes dan wartawan yang sedang memberitakan sama-sama berada dalam bahaya.”

Kejadian itulah yang terjadi pada Carlos Choc, wartawan yang juga anggota komunitas Maya Q’eqchi di El Estor. Selama lebih dari satu tahun, Carlos menginvestigasi efek sosial dan lingkungan tambang feronikel setempat. 

Pada 27 Mei, 2017, sekelompok nelayan memprotes pemerintah dan pihak tambang yang dimiliki oleh Solway, sebuah grup yang berbadan hukum Swiss, yang ditengarai telah mengkontaminasi Danau Izabel. Danau tersebut menjadi salah satu lokasi penting sumber penghidupan mereka.

Dalam sebuah aksi protes, pihak kepolisian menjawab lemparan batu para nelayan dengan tembakan. Hanya berselang satu setengah jam kemudian, salah seorang nelayan tergeletak bersimbah darah di jalan setelah terkena tembakan di bagian dada oleh polisi.

Carlos Choc. Foto: Forbidden Stories

Pada akhirnya, Carlos Choc dituntut pidana setelah mengabadikan tragedi tersebut dengan kameranya. “Beberapa karyawan perusahaan tambang menuduh saya pada saat aksi membawa senjata api, sebilah parang, dan menuduh saya memimpin para pengunjuk rasa,” kata Choc.

“Atas tuduhan tersebut saya tekankan bahwa saya tidak pernah mempersenjatai diri saya dengan senjata api. Saya hanya membawa kamera, perekam suara, telepon seluler dan sebuah notebook. Hanya barang-barang itulah yang saya bawa.”

Para jurnalis bekerja sama dengan Forbidden Stories mengumpulkan bahan untuk membalikkan hasil laporan otoritas Guatemala mengenai aktifitas Solway dan efeknya terhadap lingkungan.

Seorang juru bicara perusahaan tambang menangkis tuduhan bahwa pihak tambang memencarkan asap merah pada malam hari, meskipun tuduhan tersebut disertai bukti foto yang menunjukkan adanya persebaran asap merah tersebut.

Kami bertemu para ahli yang mempertanyakan laporan akhir pemerintah atas pencemaran di danau tersebut. Salah seorang dari mereka adalah ahli biologi dari Portugal, Eduardo Limbert yang mengatakan; “Kandungan nikel yang ditemukan di danau dekat tambang dan kilang pemrosesan bijih nikel adalah bukti yang cukup kuat bahwa tambang dan kilang tersebut telah mencemari danau.”

Akan tetapi Solway sebagai perusahaan induk menampik keras dan mengatakan tingkat polusi tidak berubah bertahun-tahun semenjak pengilangan itu memulai operasinya.

Pada waktu bersamaan pihak otoritas mengejar tuntutan pidana terhadapnya,  Carlos Choc terpaksa mengasingkan diri dari pantauan otoritas dan hidup jauh dari anak-anaknya selama lebih dari satu tahun sampai ia mendapatkan jadwal persidangan praperadilan. Kehati-hatian Carlos  beralasan setelah salah seorang koleganya pernah ditangkap atas dasar tuduhan yang sama.

Pada bulan Januari, Carlos Choc akhirnya bisa menghadap hakim dan berhasil menghindari penahanan praperadilan. Saat ini ia sedang menunggu jadwal sidang.

Salah seorang hakim dari Peradilan Guatemala yang kami temui, José Felipe Baquiax, secara terbuka mengatakan kepada jurnalis media Portugal Expresso dan media perancis Le Monde, bahwa ia akan menginvestigasi hakim Édgar Aníbal Arteaga López yang bertanggung jawab dalam penuntutan terhadap para nelayan dan Carlos Choc.

Baquiax menekankan; “Kebebasan dalam berekspresi dilindungi oleh Konstitusi, jadi [aksi mereka] tidak bisa dianggap sebagai tindakan kriminal.”

“Wartawan yang memberitakan isu-isu lingkungan seringkali berurusan dengan perusahaan atau individu korup yang sepenuhnya berafiliasi dengan pihak pemerintah,” kata Bruce Shapiro, direktur Pusat Jurnalisme dan Trauma dari Sekolah Pascasarjana Jurnalisme Universitas Kolombia.

“Dengan kata lain, yang mereka hadapi dapat dianggap sebagai kelompok paling berbahaya di dunia. Sulit untuk menemukan jenis wartawan investigatif lainnya yang secara rutin berhadapan dengan aktor-aktor berbahaya seperti yang dihadapi jurnalis isu lingkungan.”

Beralih ke bagian Selatan India tempat pengusaha tambang pasir setempat S. Vaikundarajan memimpin perusahaan tambang yang di prakarsai ayahya pada tahun 1989. Perusahaan inti mereka yang bernama V.V. Mineral menambang pasir melebihi apa yang diizinkan dan diluar tempat yang dizinkan oleh otoritas negara.

Menjawab tuduhan tersebut, juru bicara Vaikundarajan mengatakan bahwa; “Semua hal itu adalah tuduhan tak berdasar.”

Menurut jurnalis Sandhya Ravishankar (37); “Sekitar 85 hingga 90 persen aktifitas penambangan pasir pantai yang legal maupun illegal di monopoli oleh dinasti keluarga ini,” Sandhya bekerja dari Tamil Nadu, sebuah negara bagian India yang semakin tergerus oleh aktifitas penambangan pasir ilegal.

Wilayah itu menjadi saksi aktifitas penambangan pasir pantai ilegal yang semakin tak terkendali dari tahun 2000an. Namun pada tahun 2013 otoritas negara akhirnya memilih untuk mengakhiri semua itu. Larangan aktifitas penambangan pasir dikeluarkan seiring dengan dibukanya inspeksi terhadap dugaan aktifitas ilegal penambang swasta. Akan tetapi, laporan ekspor ahli yang diajukan ke Pengadilan Tinggi Madras menyatakan bahwa para penambang terus mengekspor lebih dari dua juta metrik ton mineral dari tahun 2013 hingga 2016.

Pada bulan Mei, Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations Environment Programme / UNEP) merilis laporan mengenai dampak sosial dan lingkungan dari aktifitas mengekstraksi pasir sungai dan pantai. Dalam laporan itu mereka berpendapat bahwa isu ini  memiliki signifikansi global

 “Ada indikasi bahwa kita mendekati situasi dengan akses ke sumber daya alam ini merupakan penghalang serius keberlanjutan, saat segala dampak dari penambangan pasir tak terkendali akan terjadi,” tegas laporan tersebut.

“Kami adalah satu-satunya perusahaan yang beroperasi dibawah izin lingkungan yang valid… Ketakutan akan degradasi lingkungan yang muncul adalah cerita imajiner yang diperkuat dengan agendanya sendiri,” sebut juru bicara Vaikundarajan yang juga menyalahkan pemanasan global sebagai penyebab erosi.

Ravishankar mulai melaporkan mengenai penambangan pasir pantai ilegal pada tahun 2013. Dia diingatkan mengenai tingkat sensitivitas isu tersebut sesaat setelah mempublikasikan laporan pertamanya.

“Hari pertama kami mempublikasikan laporannya, selang satu hingga dua jam, kami dilaporkan untuk gugatan pencemaran nama baik. Nama saya masuk kedalam daftar nama tertuduh,” kata wartawan yang berbasis di Chennai tersebut.

Ravishankar menulis enam artikel terpisah di dalam seri laporan investigasinya. Tak ada satupun yang bersedia mempublikasikan tulisannya, hingga pada akhirnya di bulan Januari 2017 hasil laporan investigasi Ravishankar naik di sebuah media nirlaba India, The Wire.

Pasca publikasi laporan investigasnya, Ravishinkar mulai menerima panggilan telepon bernada ancaman dan mendapati bahwa salah satu pertemuannya dengan seorang narasumber diunggah ke internet dalam sebuah rekaman video CCTV.

“Sandhya Ravishankar punya permasalahan pribadi dengan perusahaan kami,” kata juru bicara Vaikundarajan di dalam responnya. Dia juga menuduh Ravishinkar bekerja untuk salah satu kompetitor mereka. 

Atas dasar alasan keamanan, Ravishinkar tidak pernah berkunjung ke wilayah tersebut lagi sejak tahun 2015.

Saul Elbein adalah seorang wartawan lepas untuk Pulitzer Center yang menulis tentang pembunuhan yang menimpa pewarta isu lingkungan. “Ada efek mengerikan nyata dari serangan tersebut,” sebutnya, “Seiring dunia memperlihatkan kecondongan terhadap krisis lingkungan, semakin sedikit pemberitaan yang berarti yang datang dari daerah terpencil tempat kejahatan lingkungan sering terjadi. Dengan kata lain, cahaya tersebut mulai memudar pada saat yang sangat dibutuhkan.” Sebut Saul.

Marion Guégan, Cécile Schilis-Gallego

Mafia Pasir Membungkam Wartawan di India

Jagendra Singh. Foto: Forbidden Stories

Scroll

Sekitar 50 miliar ton pasir dan kerikil ditambang tiap tahun di seluruh dunia. Kebutuhan yang tak kunjung habis di negara yang berkembang pesat ini menjadi lahan subur untuk kegiatan ilegal yang sekarang dikenal sebagai ‘mafia pasir’. ‘Forbidden Stories’ (kisah terlarang), konsorsium internasional yang terdiri dari 40 wartawan dari 30 media dari seluruh penjuru dunia, meneliti sensor ketat dan perusakan lingkungan yang diakibatkan oleh gembong-gembong mafia tersebut. Ini adalah bagian dari seri ‘Green Blood’ (darah hijau): proyek yang mengikuti kisah wartawan-wartawan yang telah diancam, dipenjara dan bahkan dibunuh selagi mengusut kasus lingkungan.

Perjalanan dari Lucknow, ibu kota Uttar Pradesh, ke kota besar Shahjahanpur makan waktu hampir empat jam. Jalan yang sempit, dipadati sepeda dan penjual asongan, sulit untuk dilewati. Bising suara klakson selalu terdengar. Lepas dari jalan besar, ada sebuah alun-alun yang dikelilingi rumah-rumah kecil. Satu rumah kelihatan sepi, tersembunyi dibalik tembok hijau setinggi tiga meter dan pintu besi berwarna biru. Disana, apa yang terjadi pada wartawan independen India Jagendra Singh empat tahun yang lalu masih tetap belum terungkap.

Pada tanggal 1 Juni 2015, Singh sedang menunggu seseorang, meskipun dia sendiri tidak tahu secara pasti siapa yang akan datang. Sudah beberapa minggu, Singh menulis tentang dugaan keterlibatan Rammurti Singh Verma, seorang politisi lokal, dalam pertambangan pasir ilegal. Hari itu, Singh menunggu untuk bertemu seseorang.

Namun, yang muncul sore itu di rumah Singh adalah polisi. Keluarga Singh mengatakan bahwa pendukung Verma juga ikut ke sana. Tidak lama sesudah itu, Singh tiba di rumah sakit dengan luka bakar di sekujur tubuhnya.

“Mengapa saya harus dibunuh?” kata Singh dalam rekaman video di lorong rumah sakit tempat dia dilarikan.

“Orang-orang biadab itu menyiram badan saya dengan bensin. Mereka memanjat tembok dan masuk ke dalam. Kalau mau, mereka bisa membawa saya ke kantor polisi.”

Dengan mata terpejam, tanpa mampu memandang kamera, Singh mengatakan bahwa polisi dan para pendukung Verma membakar dirinya. Dalam rekaman video tersebut, jelas terlihat bahwa luka-luka bakar Singh, 46, amat parah. Dia meninggal tujuh hari kemudian akibat luka-luka tersebut.

Selain tanggal dan pelaku, fakta-fakta lain masih diperdebatkan. Keluarga Singh mengatakan bahwa sang wartawan diserang dan disulut api. Polisi, di pihak lain, menyatakan bahwa Singh bunuh diri. Satu-satunya saksi mata kejadian tersebut – teman yang sedang berada di rumah Singh – semula mendukung apa yang dikatakan Singh, tapi kemudian merubah pernyataannya berkali-kali. Bahkan dalam wawancara baru-baru ini, dia dengan gugup memberi tiga versi berbeda tentang apa yang terjadi hari itu.

Forbidden Stories, konsorsium internasional yang terdiri atas 40 wartawan dari 30 organisasi media dari berbagai negara, mengumpulkan kesaksian yang bertentangan dengan versi resmi yang menyatakan bahwa Singh bunuh diri.

Yang muncul adalah gambaran bahwa kematian Singh adalah bagian dari sejarah penindasan dan pembungkaman wartawan oleh para penguasa industri pasir.

“Begitu dia mulai menulis Verma, dia mulai kesulitan,” kata janda Singh. “Saya marah padanya. Saya bilang bahwa dia seharusnya tidak menulis tentang hal-hal tersebut, tapi dia bilang bahwa dia mau merampungkan cerita tersebut.”

Sejak memulai karir jurnalistiknya di tahun 1999, Singh pindah kerja berkali-kali karena merasa dirinya disensor. “Terkadang atasannya diminta untuk tidak menerbitkan sesuatu, atau dibayar untuk membatalkan penerbitan. Ini membuat ayah gusar,” kata Rahul, anak kedua Singh.

Singh mengunggah cerita pertamanya tentang Verma di akun Facebooknya pada tanggal 27 April 2015. Dalam posting tersebut, dia menuding Verma, yang saat itu menjabat sebagai menteri sosial Uttar Pradesh, sebagai pelaku operasi yang melanggar hukum. Akun Facebook Singh memiliki ribuan pengikut.

“Hampir tidak ada bisnis ilegal yang tidak ditangani Menteri Ramamurthi Singh Verma,” tulisnya.

Salah satu bisnis gelap Verma, seperti dipaparkan Singh, adalah pertambangan ilegal. Singh menerbitkan cerita, lengkap dengan foto, yang menuturkan bahwa Verma mempekerjakan orang untuk menambang pasir secara ilegal di Sungai Garra. Verma, kata Singh, menyuap polisi setempat dengan 10,000 rupi (US$150) sehari untuk menutup mata mereka.

Aktifitas tambang di Sungai Garra. Foto: Forbidden Stories

Juru bicara Verma mengatakan bahwa Verma tidak bisa memberi komentar karena sedang diopname di rumah sakit.

Suasana makin menegang di minggu-minggu berikut. Para pendukung Verma telah mengajukan tuduhan palsu terhadap Singh. Suasana makin memburuk karena si wartawan tidak berhenti menulis tentang Verma. Ancaman terhadap Singh mulai menjadi kenyataan: Singh menyatakan bahwa pergelangan kakinya patah ketika dia diserang oleh begundal-begundal Verma.

Walau demikian, Singh pantang mundur. Teman-temannya mengaku bahwa, diluar kebiasaannya, Singh memutuskan untuk meniru kelakuan sang menteri.

Tersudut, Singh ikut dalam tuduhan palsu yang mengatakan bahwa Verma telah memperkosa seorang perempuan. Tuduhan tersebut dicabut setelah Singh meninggal. 

Pada hari Sing dikubur – 9 Juni 2015 – anaknya Rahul mengajukan tuntutan terhadap Verma dan lima anggota polisi dengan tuduhan bersekongkol untuk mengorbankan dan membunuh Singh. Tidak lama setelah itu, Verma menghubungi keluarga Singh.   

Anak kedua Jagendra Singh, Rahul Singh. Foto: Forbidden Stories

Untuk pertama kalinya, anggota keluarga Singh mengatakan pada Forbidden Stories dan seorang wartawan harian Perancis Le Monde bahwa mereka mencabut tuntutan mereka dan mencapai kesepakatan dengan Verma.

Beberapa minggu setelah kematian Singh, keluarganya masih merasa aman karena mereka berada dibawah sorotan media. Namun setelah perhatian wartawan mulai memudar, keluarga Singh mulai merasa terpojok dan tak berdaya menghadapi Verma. Kerabat mulai mendorong mereka untuk menerima penyelesaian dengan Verma.

Janda Singh mengatakan bahwa dia kuatir akan keselamatan anak-anaknya. “Banyak kerabat kami tiba-tiba menentang kami,” katanya. “Mereka mengatakan bahwa nyawa anak-anak saya terancam.”

Keluarga Singh menuturkan bahwa Verma memberi mereka uang tunai 3 juta rupee India (US$45,000). Mereka mengerti bahwa sumbangan besar ini diberikan dengan syarat bahwa keluarga menyatakan bahwa Singh mengambil nyawanya sendiri. 

Akhirnya, pada tanggal 23 Juli 2015, Rahul Singh mencabut tuntutannya.  

Sebulan kemudian, Verma menyatakan pada polisi bahwa tuntutan Rahul terhadapnya adalah “bohong”.

Verma juga menyatakan bahwa tidak ada pihak yang mengusik Singh, dan tidak ada orang yang membakar si wartawan. Dalam pernyataan ini, Verma tidak menyinggung tentang persetujuan dengan keluarga Singh, atau perihal uang sumbangan.

Menurut keluarga Singh, Verma memperuntukkan uang sumbangannya untuk Diksha, puteri Singh. “Didik dia, biarkan dia menuntut ilmu, lalu nikahkan dia dan pakailah uang itu untuk pernikahannya,” kata Verma, seperti dikutip oleh Rahul, putera Singh.

Sekarang, keluarga Singh berselish pendapat tentang persetujuan ini. Puteri Singh – bersikeras bahwa sang ayah dibunuh – menolak keras untuk menyentuh uang sumbanga Verma, dan menolak untuk menikah.

 “Ayah berjuang untuk keadilan, dan dia selalu mau berbuat yang terbaik untuk Shahjahanpur,” kata Diksha. “Tidak banyak orang berani melawan menteri yang begitu berkuasa. Ayah adalah satu dari segelintir orang yang mengungkapkan kebenaran.”

Di India, Singh bukan satu-satunya wartawan yang diduga dilabrak karena menulis tentang mafia pasir.

Diksha Singh. Foto: Forbidden Stories

Sandeep Kothari, yang meninggal dua minggu setelah Singh, Karun Misra (Februari 2016) dan Sandeep Sharma (Maret 2018): semua tengah mendalami penambangan pasir ilegal ketika nyawa mereka dihabisi.

“Mafia pasir sekarang dianggap sebagai kelompok kriminal yang paling menonjol, kejam dan terselubung di India,” kata Aunshul Rege, dosen di fakultas hukum kriminal di Temple University di Philadelphia, Amerika Serikat.

Sementara di lapangan, LSM dan wartawan yang mencoba untuk menguak liku-liku industri pertambangan pasir harus berhadapan dengan serentetan ancaman. Makin dekat ke sumber, ancaman makin gencar: mendekat ke bisnis pasir berarti menghadapi intimidasi dan korupsi yang beruntun.  

Walau kelihatannya pasir tersedia dengan mudah, ia merupakan komoditas yang berharga. Pantai kaya akan sumber mineral, seperti batu delima, ilmenit dan zirkon, yang antara lain dipakai untuk memotong dan meledakkan logam dalam industri pesawat atau mobil.

Sepanjang pesisir Tamil Nadu, penambangan pasir ilegal sudah marak sejak 2000. Di tahun 2013, pihak yang berwajib akhirnya mulai bertindak. Kegiatan penambangan dihentikan selagi aktivitas penambang swasta mulai diselidiki. Walaupun demikian, menurut laporan ahli yang diserahkan pada pengadilan tinggi Madras, antara 2013 dan 2016 penambang swasta tetap mengekspor lebih dari dua juta ton mineral ke luar India. 

Tamil Nadu. Foto: Forbidden Stories

Sandhya Ravishankar adalah satu dari segelintir wartawan dari Tamil Nadu yang mendalami masalah ini. Begitu artikel pertamanya terbit di tahun 2013, dia langsung bertatap muka dengan kepekaan kasus ini.

 “Selang satu dua jam setelah tulisan saya terbit, koran saya langsung dituntut untuk pencemaran nama baik, dan nama saya termasuk dalam daftar mereka yang dituntut.”

Sandhya, yang bermukim di Chennai, menulis enam artikel mengenai topik ini. Namun, tidak ada media yang berani memuat tulisannya. Akhirnya, di bulan Januari 2017, situs nirlaba India The Wire menerbitkan hasil penyelidikannya.

Sandhya mulai menerima telpon penuh ancaman, dibayang-bayangi, dan sebuah video ketika dia menemui seorang sumber diunggah di Internet.

 “Sandhya Ravishankar punya pertikaian pribadi dengan perusahaan kami,” kata juru bicara salah satu perusahaan yang disebut dalam artikel Sandhya. Perusahaan tersebut mengeluarkan pernyataan panjang yang isinya mengecam si wartawan dengan tuduhan bahwa dia bekerja untuk salah satu saingan mereka.

Meski diancam, Sandhya tetap tegar dan meneruskan investigasinya. Untuk alasan keamanan, dia tidak pernah kembali lagi ke lokasi tersebut. Forbidden Stories bekerja sama dengan Ravishankar agar dia tetap bisa menulis tentang pertambangan pasir pantai ilegal di Tamil Nadu. Di satu wilayah di mana pertambangan ilegal dilakukan dengan amat agresif, kebanyakan orang takut untuk angkat suara. Sedemikian takutnya penduduk setempat, sehingga mereka bahkan tidak berani mengucapkan nama empirium penambang pasir pantai setempat:

V.V. Mineral.

Perusahaan ini dikepalai oleh S. Vaikundarajan, yang sudah berulang kali disebut dalam penyelidikan berbagai penyelidikan resmi. “Antara 85% and 95% dari pertambangan pasir pantai, resmi dan ilegal, dimonopoli oleh satu keluarga,” kata Ravishankar.

Dalam pernyataan yang diberikan pada Forbidden Stories, juru bicara Vaikundarajan mengatakan bahwa dalam penyelidikan tentang mereka, “semua tuduhan tidak beralasan dan berlawanan dengan hukum.”

Keberadaan V.V. amat terasa di Thisayanvilai, seperti V.V. College of Engineering (Sekolah Tinggi Teknik V.V.), berlokasi di gedung baru yang mentereng sejak 2010, lengkap dengan petugas keamanan. Gedung bercat merah jambu dan putih itu amat menyolok di tengah-tengah desa yang terpencil dan miskin ini. Tidak jauh dari gedung tersebut, nama perusahaan yang sama terpampang di sebuah poliklinik. Meski demikian, dampak lingkungan dari pertambangan pasir perusahaan tersebut menodai nama agung dan sejarah mereka.  

Dalam sebuah laporan yang terbit bulan Mei, organ lingkungan PBB, the United Nations Environment Programme atau UNEP, menggaris bawahi dampak lingkungan dan sosial dari penambangan pasir, dan bahwa ini merupakan isu lingkungan global yang serius. “Volume mineral yang diambil yang kian meningkat, sering secara ilegal, dari ekosistem sungai dan laut, mengakibatkan erosi sungai dan pantai, mengancam perikanan air tawar dan laut, dan biodiversitas,” kata laporan tersebut.

Penambangan mineral pantai memang memerlukan lebih sedikit pasir daripada industri bangunan, tapi tetap bisa mengganggu ekosistem. “Kami satu-satunya perusahaan yang beroperasi dengan ijin lingkungan yang resmi ... Jadi tuduhan degradasi lingkungan adalah isapan jempol yang disebar dengan motif tersembunyi,” kata juru bicara Vaikundarajan, yang menuding pemanasan global sebagai pengakibat erosi. Sampai sekarang, pemerintah setempat, wartawan dan LSM tidak berbuat banyak untuk mengukur dampak lingkungan dari penambangan pasir di Tamil Nadu. Meski demikian, pernyataan-pernyataan tentang hal ini semua kedengaran senada. “Dampak yang amat jelas adalah bahwa bukit pasir menghilang, dan air laut makin mendekat ke daratan,” Ravishankar menjelaskan. 

Pantai Tamil Nadu. Foto: Forbidden Stories

 Wartawan-wartawan Forbidden Stories bertemu dengan seorang nelayan dari Kovali, sebuah desa di Tamil Nadu, yang mengeluh bahwa air laut makin lama makin mendekat ke pantai. Erosi ini, menurut para nelayan, adalah dampak pertambangan ilegal di daerah tersebut. Bila tidak dipindah lebih jauh dari pantai, rumah-rumah mereka akan ditelan lautan. “Rumah kami semua menghilang sekitar tiga atau empat tahun yang lalu. Untuk selamanya,” kata si nelayan. Dia menjelaskan bahwa sekitar 300 orang telah kehilangan tempat tinggal mereka. Air laut juga diduga telah meresap masuk ke air tanah karena hilangnya pasir, yang merupakan penghalang alami. “Air terasa asin sekarang,” kata seorang petani dari Kuttam. “Pohon pisang tidak bisa beradaptasi dengan air asin. Akhirnya saya harus menjual tanah saya.”

Dampak ini bisa berkepanjangan. “Erosi pantai masih tetap bisa berlangsung puluhan tahun setelah penambangan pasir sudah berhenti,” kata Pascal Peduzzi, kepala unit Global Change & Vulnerability (Perubahan dan Kerentanan Global) dari UNEP.

Sementara itu, wartawan yang mencoba untuk mengungkapkan aktivitas mafia pasir yang mengikis habis pantai India terus menerus dibayangi ancaman. Di bulan Mei 2019, Committee to Protect Journalists CPJ (Komite Pelindung Wartawan) mencatat serangan baru di Odisha, propinsi pesisir di sebelah utara Tamil Nadu. “Enam orang tak dikenal bersenjatakan golok dan senjata tajam lainnya menyerang wartawan Pratap Patra.” CPJ lebih lanjut mengatakan bahwa menurut perkiraan Pratap, serangan ini bersangkutan dengan artikelnya, yang menyebutkan bahwa sebuah operator pertambangan pasir lokal bekerja secara ilegal. “Ada beberapa wartawan lain sebelum saya, tapi mereka terus diganggu. Keluarga mereka takut dan diancam, dan mereka terpaksa mundur. Mereka tidak punya pilihan lain,” kata

Ravishankar tentang aktivitas jurnalistik seputar pertambangan pasir ilegal di Tamil Nadu. “Sekarang kelihatannya saya adalah satu-satunya orang yang masih meliput aktivitas ini.”

Marion Guégan, Cécile Schilis-Galleg

Bagi Tambang di Tanzania, Diam adalah Emas

Sekelompok orang melompati pagar pembatas dekat tambang. Foto: Forbidden Stories

Scroll

Di Tanzania, para jurnalis yang mengusut kekerasan, kerusakan lingkungan, dan bentuk-bentuk pelanggaran lain yang berkaitan dengan tambang emas di bagian utara negara tersebut terperangkap antara kebungkaman perusahaan tambang raksasa dan kebohongan pemerintah yang represif. Belasan jurnalis, baik domestik dan internasional, yang menulis tentang tambang itu disensor atau diintimidasi.

Forbidden Stories (cerita-cerita terlarang), suatu konsorsium internasional yang terdiri dari 40 jurnalis yang diterbitkan di 30 organisasi media di seluruh dunia telah menyingkapkan sejarah kelam tentang bagaimana emas dari tambang North Mara berakhir di berbagai telepon dan komputer berteknologi mutakhir. Cerita ini bagian dari seri “Green Blood” (darah hijau), sebuah proyek yang menelusuri cerita jurnalis yang telah diancam, dipenjara atau dibunuh ketika sedang menyelidiki masalah-masalah lingkungan.

“Produk-produk yang betul-betul inovatif meninggalkan jejak mereka di dunia, dan bukan pada planet ini,” tutur Apple di situs web perusahaan itu dengan penuh kebanggaan. “Kami tengah membangun dunia yang lebih baik untuk generasi-generasi masa depan,” kata CEO Canon. Sementara itu, teknologi Nokia dikatakan “memperbaiki kehidupan.” Tyler Gillar, ahli uji tuntas dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi, mengatakan bahwa, “Saat ini pemasokan yang bertanggung jawab merupakan bagian yang jelas dari biaya melakukan bisnis. Antara lain, ini adalah bagian dari kebutuhan komersil suatu perusahaan untuk mengakses pasar dan pendanaan.

Dalam kata lain, mengiklankan diri sebagai produsen produk “hijau” dan etis pada akhirnya akan menguntungkan. Inilah alasan berbagai perusahaan teknologi besar membeli emas yang mereka butuhkan untuk komponen-komponen elektronik tertentu dari pemasok yang bersertifikasi. Untuk Apple, Canon, Nokia, dan lebih dari 500 perusahaan yang terdaftar dengan U.S. Securities and Exchange Commission, pemasok ini adalah MMTC-PAMP di India.

Meskipun demikian, selama ini sertifikasi yang menjamin mineral bebas konflik telah fokus pada tambang skala kecil, bukan perusahaan tambang multinasional. Di Tanzania, perusahaan tambang yang secara tidak langsung dimiliki oleh perusahaan tambang raksasa dari Kanada, Barrick, memiliki sejarah pelanggaran hak asasi manusia dan perusakan lingkungan. Saat ini, tambang emas North Mara mengirim emas batangan ke MMTC-PAMP di India, yang berarti tambang emas ini adalah pemasok bagi banyak perusahaan teknologi.

Canon dan Nokia telah menekankan bahwa penyuling emas di India tersebut telah diaudit dan dinyatakan memenuhi kepatuhan. “Kalau tuduhan-tuduhan terkonfirmasi, smelter ini akan diberikan ‘bendera merah’ dan kami akan meminta rantai suplai kami untuk mengalihkan bisnis dari smelter tersebut,” ucap juru bicara Nokia. Apple juga mengeluarkan pernyataan serupa.

Di ujung rantai yang berseberangan, wartawan-wartawan lokal dan asing yang telah berusaha meliput kejadian di lapangan telah mengalami intimidasi dan disensor oleh pemerintah. Forbidden Stories (cerita terlarang), suatu konsorsium internasional yang terdiri dari 40 jurnalis yang diterbitkan di 30 organisasi media di seluruh dunia, menemukan pelanggaran-pelanggaran di tambang emas North Mara. Kenyataan ini tidak sesuai dengan klaim-klaim perusahaan tersebut. 

Tambang Emas di Mara Utara, Tanzania. Foto: Forbidden Stories  

Tambang yang dekat dengan wilayah Danau-Danau Besar di Afrika (African Great Lakes) ini telah dilanda kekerasan selama sekitar dua dekade. Akibatnya, tambang ini dikelilingi oleh tembok setinggi tujuh meter dan dijaga layaknya sebuah benteng, baik secara fisik dan kiasan.

Forbidden stories berbicara dengan beberapa jurnalis yang telah dihalangi usahanya untuk meliput tambang ini. Beberapa menerima ancaman anonim, sementara lainnya disensor oleh pemerintah. Satu jurnalis bahkan memutuskan untuk kabur dari Tanzania selama lebih dari satu tahun.

“Mereka telah menciptakan ketakutan.” Jabir Idrissa, seorang jurnalis berusia 55 tahun dari Zanzibar, belum melupakan kejadian yang menimpanya dua tahun lalu. Saat itu, ia sedang bekerja untuk dua surat kabar: mingguan MwanaHalisi dan Mawio dalam bahasa Swahili, yang keduanya adalah bagian dari grup surat kabar yang dihormati karena reportase investigasi mereka.

Pada bulan Juni 2017, Mawio menerbitkan artikel yang menghubungkan dua mantan presiden dengan dugaan penyimpangan dalam persetujuan tambang yang ditandatangi pada tahun 1990-an. “Kami berdiskusi panjang di ruang wartawan saat memutuskan topik artikel,” kata Idrissa menceritakan rapat redaksi sebelum cerita diterbitkan. “Sebenarnya ada beberapa topik yang tidak kami tulis karena suasana umum saat itu,” namun, lanjutnya, topik yang satu ini harus ditulis. Mereka tidak bisa menghindarinya “karena jurnalisme adalah pekerjaan untuk menceritakan yang sebenarnya.”

Hal ini sulit di Tanzania, di mana kebebasan pers dalam keadaan terancam di lima tahun terakhir, tepatnya sejak John Magufuli terpilih sebagai presiden pada tahun 2015. Ada hukum yang baru dibuat yang memberikan hukuman tiga tahun penjara, denda lebih dari 5 juta shilling Tanzania (sekitar US$2,100) atau keduanya untuk orang-orang yang secara sadar menerbitkan informasi atau data yang dipercaya sebagai “palsu, menipu, menyesatkan, atau tidak akurat.”

Selain itu, “jurnalis diserang tanpa sebab,” kata Ryan Powell, seorang spesialis pengembangan media yang bekerja di Afrika Timur dan Barat. “Polisi akan mengusik wartawan dan orang-orang tidak akan ikut campur.” Saat ini, Tanzania berada di peringkat 118 dari 179 negara dalam indeks kebebasan pers oleh Wartawan Lintas Batas (RSF)—turun 25 peringkat dari tahun lalu.

Satu hari setelah investigasi Mawio diterbitkan, Menteri Informasi Harrisson Mwakyembe melarang surat kabar tersebut selama dua tahun. Pemimpin redaksi Mawio, Simon Mkina, mengakui ia mulai menerima telepon yang bernada mengancam. Sedangkan Idrissa kehilangan pekerjaan dan tidak diberikan kesempatan kerja lain dalam dunia jurnalisme. Karena ia tidak lagi memiliki pemasukan sementara harus menghidupi tiga anaknya, Idrissa meninggalkan Dar es Salaam dan mulai bekerja di toko barang bekas milik sepupunya di Zanzibar.

Jabir Idrissa. Foto: Forbidden Stories

Artikel yang menyebabkan kemalangan ini tentang Acacia Mining, perusahaan yang terdaftar di Britania Raya, yang telah memiliki tambang emas North Mara dalam nama berbeda sejak 2006 dan sebagian besar sahamnya dimiliki oleh perusahaan emas raksasa, Barrick. Perusahaan induknya, asal Kanada, mungkin dalam waktu dekat akan menjadi pemilik langsung tambang North Mara dan dua tambang lain karena sengketa pajak antara Acacia dan pemerintah Tanzania.

Setelah meraup untung selama bertahun-tahun dari persetujuan pajak yang menguntungkan dengan pemerintah Tanzania, perusahaan ini lalu kalah dalam pertarungan lingkungan dengan pemerintah. Pada bulan Mei, pemerintah memberikan denda 5,6 milyar shilling Tanzania (US$2,4 juta) atas tuduhan pencemaran lingkungan yang berasal dari bendungan tailing North Mara.

Menurut January Makamba, menteri yang bertanggung jawab atas masalah-masalah lingkungan, denda tersebut berdasar, antara lain karena masalah tersebut sudah lama. “Sudah 10 tahun, dan fasilitas penyimpanan tailing masih bocor,” ujarnya tentang bendungan yang seharusnya mencegah pencemaran lingkungan oleh produk sampingan kegiatan tambang. “Tambang emas North Mara telah menyimpan air beracun dalam fasilitas ini dalam waktu yang lama, dan bendungan ini tidak dibangun secara layak. Karena itu, racun telah merembes ke air tanah serta sungai-sungai dan aliran-aliran air di daerah sekitarnya.” Makamba mengakui bahwa pemerintah Tanzania juga bertanggung jawab karena pemerintah “secara konsisten mempercayai perkataan perusahaan tambang.”

Acacia Mining berkata kepada Forbidden Stories bahwa perusahaan “telah menyadari kebutuhan untuk menambah manajemen tailing” dan bahwa perusahaan “telah memulai perencanaan dan desain fasilitas penyimpanan tailing yang baru.” Politisi oposisi Tundu Lissu, yang telah menulis tentang aspek-aspek lingkungan industri pertambangan di Tanzania, pernah menyuarakan “pencemaran sungai-sungai dan padang rumput di mana orang-orang desa mengambil air dan memelihara hewan mereka” serta masalah-masalah kesehatan serius yang berhubungan dengan pencemaran.”

 

Sungai Tigite dekat tambang emas di Mara Utara. Foto: Forbidden Stories

“Saya melihat enam orang yang mandi di air dekat area pertambangan dan mereka mengalami reaksi buruk,” kata Dr. Mark Nega, mantan petugas kesehatan kecamatan di area tersebut, menceritakan pasien-pasien yang ia tangani pada tahun 2013.

Pada tahun 2009, sebuah studi menemukan arsenik dalam level tinggi di dalam air di dekat tambang. Konsentrasi arsenik yang tinggi seringkali ditemukan di dekat situs tambang emas. Pada tahun 2015, para peternak di wilayah tersebut mengirimkan sampel air dari tambang di Kenya untuk dites. Analisis toksikologi oleh pemerintah Kenya menemukan bahwa “tingkat nitrat dan nitrit dianggap tidak aman untuk konsumsi hewan ternak.”

“Suatu insiden lingkungan terjadi di tambang North Mara di saat curah hujan tinggi pada musim semi 2009, di kala air yang mengandung cairan dari kolam-kolam penampungan dan limpasan dari tambang masuk ke Sungai Tigithe di dekatnya,” tulis Acacia Mining dalam suatu pernyataan. Acacia Mining mengatakan bahwa perusahaan tersebut langsung mengambil tindakan setelah insiden terjadi.

Selain kejadian-kejadian di atas, berbagai LSM telah mencatat 22 dugaan pembunuhan oleh polisi atau petugas keamanan tambang sejak 2014. Mayoritas korban adalah penambang ilegal yang disebut sebagai “penyusup” oleh perusahaan. “Penambang skala kecil yang dulu memiliki izin dari pemerintah sebelumnya memiliki sebagian besar tanah (di wilayah tambang),” kata Mary Rutenge, seorang dosen di Universitas Mzumbe di Tanzania. “Akuisisi tanah mereka oleh perusahaan mendestabilisasi penghidupan mereka, dan perusahaan ini tidak memberikan kompensasi yang cukup.”

Semua hal ini mengakibatkan bencana: berbagai kelompok pengangguran yang masih berusia muda dari desa-desa tetangga mempersenjatai diri dengan parang atau tombak dari logam, kemudian minum bir dan Konyaqi—merk gin lokal—sampai mabok setiap malam agar berani memanjat tembok dengan harapan bisa menghasilkan tidak lebih dari sekitar US$20. Namun di balik tembok mereka justru dihadang polisi bersenjata.

Mengapa mengambil risiko begitu besar? “Kami harus pergi supaya bisa mendapatkan emas untuk menolong keluarga kami,” kata Monchena Mwita, pemimpin dari para “penyusup” dari Kewanja, desa di pinggiran tambang. “Kami tidak bisa mendapatkan emas tanpa masuk ke tempat itu, dan tidak ada tempat lain untuk menghasilkan uang, jadi itulah satu-satunya sumber pemasukan kami.”

Pimpinan Barrick menyalahkan polisi Tanzania untuk pelanggaran apa pun. “Sudah ada sangat banyak penyelidikan untuk berbagai tuduhan, dan kamu tidak bisa menyalahkan saya untuk sesuatu yang merupakan kewenangan (kesalahan) pemerintah,” kata CEO Barrick Mark Bristow saat Forbidden Stories menanyakan soal pembunuhan-pembunuhan tersebut.

Kenyataannya, tidak ada garis batas yang jelas antara polisi Tanzania dan personel keamanan tambang. Menurut LSM asal Inggris, Rights and Accountability in Development, Acacia telah menandatangani nota kesepahaman dengan polisi, yang menyatakan bahwa perusahaan akan “menyediakan ‘dukungan keuangan atau sejenisnya’ kepada polisi, akan membayar tunjangan, menyediakan makanan dan akomodasi, menyediakan bahan bakar” bagi polisi untuk melindungi tambang. Menurut beberapa korban, yang menyerang mereka bukanlah polisi tetapi petugas keamanan tambang.

Sekelompok orang melompati pagar pembatas dekat tambang. Foto: Forbidden Stories

Forbidden Stories dan seorang wartawan dari Guardian (Britania Raya), berbincang dengan Lucia Marembela, seorang perempuan berusia 44 tahun yang mengaku diperkosa dua kali pada tahun 2010. Menurut Marambela, ia mengenali para pemerkosa sebagai petugas keamanan tambang karena mereka memakai seragam biru dan bukan seragam cokelat muda polisi. Marambela ditangkap oleh sekelompok pria saat mencari emas dari tambang, nasib yang menurutnya sering menimpa perempuan di daerah itu. “Saat kami lelah berlari, mereka akhirnya akan menangkap dan membawa kami pergi dengan mereka,” katanya. “Mereka akan melempar kami ke dalam kendaraan mereka dan membawa kami ke tempat yang terisolasi, di dekat landasan udara kecil, jauh dari penglihatan orang yang lewat.” Katanya, satu orang kemudian akan memerkosa mereka sementara yang lainnya berjaga-jaga. “Ketika mereka sudah selesai, mereka membiarkan kamu pergi, masuk ke dalam kendaraan mereka, dan lanjut bekerja.”

Kami sudah bertemu dua perempuan lain yang menggambarkan pengalaman serupa. Marambela terpaksa hidup menanggung akibatnya. Pasangan hidupnya meninggalkannya ketika ia tahu bahwa Marambela telah diperkosa. Ia lalu harus membesarkan keenam anaknya sendiri. “Saya punya kenangan-kenangan buruk tentang apa yang telah diperbuat pada saya,” katanya. “Terutama karena semua orang tahu saya telah diperkosa, termasuk anak-anak saya. Terkadang orang-orang saling memberi tahu apa yang terjadi pada saya di jalanan, dan ini sangat menyakiti saya.”

Marambela dan perempuan-perempuan lainnya mengajukan keluhan ke manajemen perusahaan tambang. Menurutnya, perusahaan tambang yang saat itu bernama African Barrick Gold kemudian menghubunginya dan memintanya menandatangani persetujuaan kerahasiaan dengan imbalan 13,9 juta shilling Tanzania (US$8.600). Marambela melepaskan haknya untuk menuntut pihak tambang atau Barrick ke pengadilan. Ia menjelaskan bahwa ia tidak bisa membaca dan mengerti penuh dokumen persetujuan yang diberikan sebelum membubuhkan tanda tangan.

Lucia Marambela. Foto: Forbidden Stories

“Kamu tidak boleh membungkam masyarakat, tetapi akan selalu ada balasan,” kata CEO Barrick Mark Bristow. “Dan, selama waktu singkat saya di Barrick, telah ada tuntutan untuk pembalasan. Bukan untuk keadilan. Untuk pembalasan. Untuk membayar mereka yang menuntut.” Situasi terus berlanjut sampai hari ini. “Perlakuan kejam ini, terutama di tambang emas North Mara, datang dan pergi, datang dan pergi,” kata Lissu, yang sebelumnya merupakan perwakilan hukum orang-orang desa setempat. Lissu adalah korban percobaan pembunuhan pada tahun 2017, setelah ia menuduh administrasi Magufuli telah berbohong tentang kontrak pertambangan. “Ada waktu-waktu yang tenang, kemudian sesuatu terjadi dan semuanya meledak. Tetapi ketegangan terus ada sampai hari ini.”

“Pelanggaran hak asasi manusia yang berhubungan dengan kekerasaan yang berlebihan oleh petugas keamanan tambang swasta dan publik meningkat jelas sekitar 2005 dan sangat tinggi antara 2009 dan 2016,” kata Catherine Coumans dari LSM Kanada, Mining Watch, yang telah mencatat kejadian-kejadian di North Mara selama bertahun-tahun. “Kontak-kontak lokal kami, dan bahkan personel tambang yang saya wawancarai bercerita kepada saya bahwa perhatian internasional yang telah diciptakan MiningWatch dan RAID pada masalah ini telah membantu mengurangi jumlah kasus penembakan, tetapi kasus-kasus pemukulan serius, terutama pada kepala dan sendi-sendi, yang terkadang mengakibatkan cacat seumur hidup, tetap sangat tinggi.”

Acacia Mining menyebutkan dalam pernyataannya bahwa perusahaan tersebut telah secara konsisten menangkis berbagai tuduhan dari kedua LSM mengenai pelanggaran yang berujung pada kematian serta masalah-masalah hak asasi manusia. Wartawan-wartawan Forbidden Stories bertemu dengan keluarga dua lelaki yang ditembak oleh polisi dalam  dua insiden terpisah pada tahun 2014 dan 2016, saat mereka berada dalam area tambang. Menurut keluarga mereka, mereka tidak diberikan kompensasi. Polisi mengatakan mereka bertindak untuk membela diri. “Jelas dari cerita Acacia sendiri bahwa pelanggaran hak asasi manusia terus terjadi di tambang North Mara,” tulis RAID pada bulan Juli 2017. Meskipun begitu, emas batangan dari tambang tersebut tetap disuling di MMTC-PAMP—penyuling India yang merupakan bagian dari Swiss-Dutch MKS PAMP Group—yang disertifikasi oleh London Bullion Market Association, asosiasi perdagangan yang paling bergengsi dalam industri emas.

“Dalam uji tuntas kami pada North Mara, kami menanggapi laporan-laporan dari LSM-LSM dengan sangat serius dan menantang pihak tembang mengenai masalah-masalah yang diangkat,” ucap Hitesh Kalia, petugas risiko dan kepatuhan MMTC-PAMP. “Kami telah mengevaluasi langkah-langkah yang diambil pihak tambang untuk membenahi tuduhan-tuduhan HAM, yang sebagian besar terjadi di masa lalu dan berhubungan dengan aktivitas polisi negara yang beroperasi di wilayah tambang.”

Pada tahun 2010, di puncak pelanggaran-pelanggaran HAM, sebuah dokumen yang ditulis untuk investor mengindikasikan bahwa emas disuling oleh perusahaan Swiss, Argor-Heraeus, yang juga disertifikasi dan merupakan terdaftar sebagai pemasok bagi 600 perusahaan. Ketika ditanya oleh seorang wartawan dari Tamedia (Swiss), Argor-Heraus tidak menyangkal atau mengkonfirmasi bahwa emas mereka termasuk dari North Mara.

Menurut para ahli, label tidak begitu berarti seperti anggapan orang. “Sangat penting untuk tahu bahwa skema-skema semacam ini di sektor emas dikelola oleh asosiasi-asosiasi industri,” kata Gillard. “Mereka memeriksa penyuling (untuk memastikan mereka) memiliki sistem untuk memasok emas secara bertanggung jawab, sesuai dengan standar-standar OECD. Mereka tidak dimaksudkan menjamin status setiap produk emas, yaitu jaminan bahwa tidak ada pekerja anak, jaminan bahwa tidak ada konflik pendanaan pada setiap potongan emas yang dibeli.” Menurut Gillard, rantai suplai emas yang kompleks membuat kepastian-kepastian semacam ini susah tercapai, dan kualitas audit seringkali tidak memadai. Pada akhirnya, tanggung jawab melemah sepanjang rantai suplai.

Jürgen Heraeus, ketua dewan pengawas Argor-Heraeus, menggambarkan situasi ini secara terus terang dalam wawancara pada tahun 2016: “Dalam industri ini tidak mungkin menyuling emas bersih.” Akibatnya, di Tanzania, “penyusup” yang terjeblos dalam kemiskinan terus mencari emas dengan mempertaruhkan nyawa mereka, dan wartawan terus dihukum dan dihalang-halangi langkahnya untuk membongkar perusakan lingkungan dan berbagai pelanggaran lain. “Setelah mereka telah menguras habis emas yang ada, mereka akan pergi, dan mereka akan meninggalkan racun,” ujar Lissu tentang operasi tambang.

Sementara itu, jurnalis Jabir Idrissa harus menyaksikan karir dan penghidupannya kandas. Pada bulan Desember 2018, Mawio memenangkan tuntutan mereka terhadap menteri informasi di pengadilan. Meskipun demikian, surat kabar tersebut tidak akan kembali diterbitkan dalam waktu dekat karena mereka membutuhkan izin pemerintah untuk kembali terbit. “Jadi tergantung pemerintah. Kalau mereka memberikan kami izin, kami akan kembali bekerja,” kata Idrissa. “Saya belum kehilangan harapan bahwa kami akan kembali bekerja dengan status luhur dan dengan keberanian.”

Marion Guégan, Cécile Schilis-Gallego

Foto yang Menyeret Tambang di Guatemala

Detik-detik pasca penembakan terhadap Carlos Maaz. Foto: Forbidden Stories

Scroll

Foto yang Membuat Tambang Swis-Rusia di Guatemala Harus Bertanggungjawab

Kelompok nelayan masyarakat adat di Guatemala menuntut pembeberan tentang dampak lingkungan sebuah tambang feronikel yang dibangun di atas tanah ulayat mereka. Seorang nelayan dibunuh, dan wartawan setempat dikriminalisasi ketika meliput berita tersebut. Forbidden Stories (Berita-berita Terlarang), konsorsium internasional 40 wartawan dari 30 organisasi media di seluruh dunia, menyatukan langkah guna melanjutkan penggalian berita para wartawan tersebut. Tulisan ini bagian dari seri “Green Blood” (“Darah Hijau”), projek yang memburu berita para jurnalis yang terkena ancaman, dipenjara mau pun dibunuh kala melakukan investigasi masalah lingkungan.

Jika tidak ada wartawan yang mengambil gambar hari itu, boleh jadi sekian pihak bisa mengaku bahwa saat-saat terakhir Carlos Maaz dirundung terlalu banyak ketidakjelasan. Terjadi semprotan gas airmata, huru-hara sebuah unjuk rasa yang spontan, rentetan peluru dan batu beterbangan di tengah gerombolan manusia. Namun, dalam sebuah foto, ia tampak berdiri di tengah jalan di antara para pengunjuk rasa, kedua tangannya berlenggang bebas tidak menggenggam senjata apa pun. Sesaat kemudian, tubuh nelayan tersebut terkulai di trotoar dan seorang polisi, tersentak ke belakang di atas truk bak terbuka, pistol masih terhunus, tampak sedang membidikkan senjata apinya ke arah kamera. Pegunungan megah nan hijau Santa Cruz menjulang bisu di kejauhan, saksi atas pembunuhan yang dilakukan aparat berseragam. Untuk waktu yang lama, seri foto tersebut satu-satunya bukti konkret mengenai apa yang terjadi hari itu.

Menurut istrinya, jenazah Maaz dibiarkan tergeletak di tempat kejadian selama setengah hari sebelum warga desa, yang jadi sadar bahwa aparat tidak berniat untuk memindahkan jenazah itu, mengangkat tubuh tidak bernyawa rekan mereka dan memakamkannya. Carlos Maaz anggota masyarakat Maya Q’eqchi’ di Guatemala, kelompok masyarakat adat yang mempunyai ikatan khusus dengan alam. Carlos nelayan tradisional. Ia mencemaskan kecurigaan rekan-rekannya bahwa danau tempatnya mencari nafkah telah tercemar. Carlos juga seorang suami dan seorang ayah.

“Ia mengurus dan menafkahi kami,” kata jandanya, Cristina Maaz Pop. “Ketika ia dibunuh, saya bahkan tidak terpikir mengenai kebahagiaan. Sejak hari itu, saya jadi tidak betah. Dan kini tidak ada lagi yang dapat membantuku.”

Cristina Maaz dan putranya. Foto: Forbidden Stories

Perusahaan yang jadi sasaran kecurigaan para nelayan bernama Solway, kelompok usaha asal Swiss yang semula beroperasi di Rusia dengan kantor pusat di Malta. Perusahaan itu tiba di El Estor – kota terpencil lagi tersembunyi di tengah perbukitan daerah pegunungan—pada 2011 guna mengambilalih suatu tambang feronikel bernama Projek Fenix, yang menjual perpaduan logam besi dan nickel ke sekian perusahaan manufaktur baja di pasaran internasional.

Polisi segera menyelenggarakan konferensi pers dan menyangkal bahwa ada korban meninggal dalam aksi demonstrasi tersebut. Penyangkalan mereka kebohongan belaka, kata Carlos Choc, wartawan dari situs berita Maya, Prensa Comunitaria, yang mengambil gambar tubuh Maaz saat telah kehilangan nyawa. Situs milik masayarakat tersebut baru saja melancarkan projek selama satu tahun guna meliput dampak sosial dan lingkungan pertambangan itu. Untuk waktu yang lama, projek reportase mereka terhenti Cuma sampai di situ, sejak hari naas tadi.  Investigasi terhadap kematian Maaz diam di tempat, seraya pihak berwenang berjibaku menyusun kasus kriminaliasi terhadap sosok Carlos Choc.

Forbidden Stories, konsorsium internasional 40 wartawan dari 30 organisasi media di seantero dunia—termasuk Prensa Comunitaria—melanjutkan pekerjaan Choc. Setelah melakukan investigasi selama delapan bulan, kami mendapatkan bahwa pihak penguasa Guatemala telah berulangkali berbohong mengenai apa yang menimpa Maaz, dan juga mengenai dampak lingkungan tambang tersebut. Kami juga menemukan bahwa wartawan yang melakukan investigasi mengenai isu ini dikriminalisasi sekadar karena melakukan tugasnya. Juga, bahwa masyarakat-masyarakat Maya Q’eqchi penghuni El Estor tidak meleset dalam mereka mengkhawatirkan tanah serta kesehatan diri mereka.

Carlos Choc. Foto: Forbidden Stories

Pada hari ia meninggal, Carlos Maaz ikut dalam unjuk rasa bersama sekelompok nelayan. Kegalauan mereka dipicu suatu lapisan merah mengkilap yang muncul pada Maret 2017 di permukaan Danau Izabal, danau terbesar di Guatemala. Mereka tudingkan lapisan merah berminyak itu disebabkan pertambangan feronikel tersebut.

Mereka menuntut dilakukan analisis dampak lingkungan. Satu bulan kemudian, lembaga pemerintah mengambil sampel air dan menyimpulkan bahwa warna kemerahan pada danau disebabkan suatu alang-alang air liar.

Itu dipicu tanaman air invasif jenis hidrila, kata Menteri Lingkungan Hidup Alfonso Alonzo, “yang berwarna merah, dan bagian yang memerah tersebut merupakan muncul akibat ekosistem danau. Tanaman hidril itu merekah karena air di situ terkontaminasi bakteri, yang disebabkan ketiadaan sistem pengolahan air buangan di Sungai Polochic.”

Proyek Fenix. Foto: Forbidden Stories  

Namun, kami berkonsultasi dengan ahli yang merumuskan kesimpulan yang berbeda. “Seluruh hasil dari analisis yang ada jelas-jelas menunjukkan kehadiran sekian unsur yang lazim akibat kegiatan pertambangan,” kata Lucas Barreto Correa, peneliti biologi asal Brazil dengan bidang keahlian polusi air. "Pernyataan-pernyataan resmi banyak yang tidak konsisten, dan dibutuhkan lebih banyak informasi terpadu dari pemerintah mengenai polusi yang terdapat pada danau itu."

Ketika rombongan wartawan Forbidden Stories melakukan lawatan ke tambang itu, Compañía Guatemalteca de Níquel (CGN) – perusahaan yang mengoperasikan pertambangan itu – tegas-tegas menyangkal melakukan pengrusakan terhadap lingkungan.  “Kami tidak mencederai danau, karena baik Pronico [lembaga yang mengolah logam] dan CGN mempunyai program pemantauan lingkungan,” kata Carlos Fernandez, direktur sebuah suaka alam yang dikelola oleh tambang tersebut. “Kami memiliki sertifikat dari IOS, Organisasi Standardisasi Internasional, serta memegang komitmen untuk mematuhi analisis dampak lingkungan yang dikeluarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Energi dan Pertambangan, dan kedua komitmen kepatuhan tersebut merupakan tanggungjawab sangat besar yang kami penuhi sebagai perusahaan.” Solway mengatakan tingkat polusi Kawasan itu tidak berubah dan masih sama dengan sejak mereka mulai beroperasi pertambangan di sana.

Para nelayan tidak yakin dan menuding bahwa mereka tengarai adanya pencemaran yang telak-telak berdampak terhadap mereka.

“Kami takkan dapat mencari nafkah bernelayan jika mereka terus mencemari air kami,” kata Alfredo Maquin, seorang nelayan. “Lalu, bagaimana kami akan hidup, apa yang akan kami berikan kepada anak-anak kami? Di mana harus  kami bekerja?”

Selang sekian lama, Kementerian Lingkungan Hidup mengumumkan secara mendadak akan melangsungkan pertemuan di sebuah lokasi 60 kilometer dari situ guna membahas kekhawatiran para nelayan, kata Ernesto Rueda Moreno, pendeta yang jadi penghubung warga lokal dengan pihak berwenang.

Nelayan Guatemala. Foto: Forbidden Stories

Namun, muncul desas-desus bahwa proses kriminalisasi telah dimulai terhadap mereka karena mereka pernah memblokir lalulintas truk dari  dan ke pertambangan beberapa pekan sebelumnya. “Para nelayan itu ketakutan bakal ditangkap,” kata Ernesto.

Kala mereka berembuk pada subuh 27 Mei 2017, untuk memutuskan apakah mau menghadiri rapat itu atau tidak, para nelayan mengungkapkan perasaan mereka bahwa pemerintah Guatemala sebetulnya samasekali tidak menghiraukan mereka. Sebagai tanggapan, mereka mengatur lagi gerakan pemblokiran jalan. Ini bukan pertamakalinya mereka lakukan hal serupa. Ternyata, pada saat bersamaan, polisi sedang menuju tempat mereka berkumpul. Ketika para nelayan mulai melempar batu, pasukan polisi menanggapi dengan melepaskan tembakan. Satu setengah jam kemudian, Maaz terkulai tak bernyawa di atas tanah dengan darah masih mengucur dari tubuhnya, ditembak di dadanya oleh seorang polisi.

Dua tahun kemudian, kendati telah terbit laporan balistik, Alonzo masih bersikukuh tidak terjadi sebuah kematian. Kala wartawan dari  Expresso (Portugal) dan Le Monde (Prancis) mengkonfrontasi Menteri Lingkungan Hidup tersebut di kantornya di Guatemala City, ia Cuma kembali dan kembali lagi ke suatu masalah teknis: “Investigasi tidak dilakukan, tidak ada investigasi yang dapat dilakukan, tiada seorang jaksa penuntut umum mau pun siapa pun dari pemerintah yang secara resmi muncul untuk memverifikasi apakah orang tersebut meninggal,” katanya.

Karenanya, tidak seorang pun ditunjuk sebagai yang bertanggungjawab atas pembunuhan Carlos Maaz. Sebaliknya, yang terjadi malah kriminalisasi baik terhadap nelayan mau pun wartawan. Surat perintah penangkapan yang diterbitkan pada Agustus 2017 mengatakan tujuh di antara para nelayan itu sebagai merupakan “ancaman,” “pemicu untuk melakukan tindakan kriminal” dan “berkumpul secara tidak sah.”

Para nelayan itu awalnya dituntut secara hukum untuk demonstrasi  yang mereka lakukan sebelumnya, saat mana mereka menutup jalan di El Estor, Mereka dituduhkan telah menahan pegawai pertambangan di dalam sebuah mobil. Choc dan rekannya, Jerson Xitumul, cuma di sebut-sebut di dalam berkas pengadilan pada tahap lanjutan. “Kami yakin bahwa fakta yang diajukan perusahaan sebagai tudingan tidak cukup memadai untuk menerbitkan sebuah surat perintah penangkapan,” kata kuasa hukum  Choc. “Dari analisis kami terhadap isi berkas, tampak bahwa tudingan didasarkan pada identifikasi yang dibuat kuasa hukum perusahaan yang justru tidak hadir saat fakta-fakta tersebut sedang terjadi.”

Menurut José Felipe Baquiax, hakim yang mengetuai sidang kriminal di Pengadilan Guatemala, jenis tudingan yang dibukukan terhadap para nelayan dan wartawan itu lazimnya untuk kejahatan terencana, bukan untuk demonstran. “Kebebasan berekspresi termaktub di dalam Konstitusi, maka, ini tidak bisa dikatakan merupakan tindak kriminal,” kata Baquiax. “Wajib kukatakan bahwa saya tidak melihat di sini, sejak saya menjadi hakim sampai kemudian menjadi ketua pengadilan, belum pernah saya melihat seseorang dihukum karena ikut di dalam sebuah demonstrasi.”

Bagi kedua reporter dari Prensa Comunitaria, tudingan tersebut sama dengan penangkapan. Jerson Xitumul mengendon selama satu bulan di dalam salah satu penjara paling mengerikan di negara itu. Ia kemudian boleh pulang tapi dengan kondisi tahanan rumah. Pada Juli 2018, seluruh tudingan terhadapnya dibatalkan, namun ia sudah terlanjur memutuskan untuk berhenti jadi wartawan.

Ketika Choc mengamati apa yang terjadi kepada rekannya, ia memutuskan untuk bersembunyi. “Saya terpaksa hidup secara klandestin,” ia mengenang. “Seluruh hatiku untuk kotaku,  gairahku untuk pekerjaan jurnalisme adalah untuk El Estor, namun terjadi saat-saat kala saya jadi sangat putus asa,” Pada masa itu, Choc terpisah dari anak-anaknya dan terpaksa menjual hampir seluruh harta bendanya karena ia tidak lagi bisa bekerja. Choc mulai menjadi jurnalis 12 tahun lalu dan bergabung dengan Prensa Comunitaria pada Desember 2016. Prensa Comunitaria merupakan kantorberita Maya di Guatemala yang bertujuan “mendokumentasikan suara masyarakat dan beragam perjuangannya.”

Choc menggambarkan pekerjaannya sebagai sekadar “mengatakan kebenaran.” Semangatnya menjadi wartawan dapat ditilik sejak ia masih remaja. “Ketika saya berusia 15, saya ingat ayahku gemar sekali mendengarkan siaran sepakbola,” katanya sambal tersenyum. “Maka kuingat, begitu beliau menyalakan radio, terkadang saya melaporkan urut-urutan pertandingan. Itulah awal kegiatan jurnalistik saya. Ketika saya mulai mengetahui lebih banyak, saya mendapatkan bahwa kota ini punya kebutuhan, dan saya coba menginformasikan kebenaran mengenai hal-hal sekitar.”

Ketegangan antara masyarakat-masyarakat Maya Q’eqchi, pihak penguasa dan pihak pertambangan ternyata telah merebak selama berdekade. Di El Estor, operasi tambang feronikel membabat paru-paru hijau raksasa kawasan itu, yakni hutan kebanggaan mereka. Dari udara kita bisa melihat gorokan jingga yang kian meluas di lokasi di mana tadinya pohon rimbun bertumbuhan: bangunan dan pipa saluran bertaburkan debu logam.

Asap merah El Estor. Foto: Forbidden Stories

Tindak tanduk awal yang dibutuhkan guna mendirikan pertambangan tersebut memicu tudingan sengit bahwa polisi dan pihak keamanan tambang melakukan perkosaan dan pembunuhan pada 2007 dan 2009. Kala itu,  tambang itu dimiliki perusahaan Kanada, Skye Resources, sebelum dibeli oleh perusahaan Kanada lainnya, Hudbay, yang kemudian menjualnya kepada Solway.

Di El Estor, para manajer dan pegawai berkebangsaan Rusia menggantikan warga Kanada pada 2011, namun operasional perusahaan tetap ada pada CGN. Keamanan industrial perusahaan tersebut berulangkali dipertanyakan. Pada 2016, sebuah ketel uap meledak dan menewaskan lima orang. “Banyak dari kami mewanti-wanti bahwa ketel uap tersebut membahayakan, namun mereka mengabaikan kami,” kata Manuel Ramos Ochoa, yang pernah bekerja di sana. "Mereka cuma peduli pada produksi, produksi, produksi... Mereka tidak peduli pada nyawa siapa pun!”

Janda salah satu pekerja yang meninggal tersebut mengisahkan cerita yang mirip. Ia minta disembunyikan identitasnya karena takut jika ia berbicara, perusahaan bakal memutus kompensasi keuangan yang ia terima akibat kematian suaminya.

“Ketika ia tewas, mereka terus melanjutkan bekerja,” katanya. Suaminya telah beberapa kali mewanti-wanti bahwa ketel uap itu mengidap beberapa masalah, sampai hari naas itu ketika ketel akhirnya meledak. “Bosnya mengatakan, tidak apa-apa, ia tetap harus melanjutkan bekerja, bahwa tidak akan terjadi sesuatu. Ia bahkan mengatakan bahwa di negaranya sendiri, malah lebih banyak orang sempat tewas dan hal itu tidak menjadi masalah, bahwa mereka terbiasa kehilangan orang.”

Dalam sebuah pernyataan, ketua komisaris Solway Dan Bronstein menegaskan bahwa pada pagi 13 Agustus 2016, hari ketel uap tersebut meledak, timbul beberapa masalah pada unit penyimpanan sampah sementara yang berdampingan dengan ketel uap. "Staf pembangkit tenaga listrik thermal mendeteksi bahwa dinding  hopper (corong) ketel telah menjadi aus," katanya. Namun "berdasarkan dokumentasi rancangan ketel uap jenis tersebut, penyimpangan macam itu tidak mengharuskan dihentikannya pekerjaan," katanya, menjelaskan keputusan untuk tidak menutup kegiatan. Ia menambahkan, perusahan tengah menggantikan ketel uap yang rusak dengan ketel buatan perusahaan manufaktur lain, dan bahwa ketel mereka satunya, yang identik dengan yang meledak, telah ditutup. Pakar yang ditugaskan perusahaan operasonal dan sebuah investigasi oleh pemerintah gagal menetapkan penyebab ledakan, katanya.

Di luar tambang itu sendiri, kekhawatiran mengenai dampak lingkungannya kian merebak. Kendati belum ada bukti definitif untuk mendukung kecemasan lingkungan usungan kaum nelayan dan pihak-pihak lainnya sekitar urusan tambang, namun bukti lain menunjukkan kian parah kerusakan lingkungan di sekitar. Warga desa melapor melihat asap merah membubung dari pertambangan di malam hari.

“Pada malam hari, mereka melepaskan penyaring, saat mereka memroses produk-produknya,” kata Ochoa. “Mereka mengira masyarakat takkan melihat, dan pada akhirnya, masyarakat memang tidak mengusik tentang itu samasekali.” Jurubicara tambang menyangkal bahwa pabrik pengolahan mereka menerbitkan asap merah di waktu malam, sekali pun terdapat foto-foto yang membuktikan demikian.

 

Asap merah El Estor 2. Foto: Forbidden Stories

Forbidden Stories melakukan uji mutu udara selama satu bulan dengan menggunakan suatu sensor lingkungan. Hasilnya menunjukkan puncak konsentrasi butir-butir kasar materi enam kali lipat lebih tinggi dibanding pemaparan per jam yang direkomendasi Organisasi Kesehatan Dunia. “Ini sama dengan kadar yang diukur di Cina saat sedang berlangsung kurun-kurun polusi berat,” kata ilmuwan ahli atmosfer Boris Quennehen.

Dalam sebuah pernyataan, Solway mengatakan bahwa “konsentrasi eksesif dari [partikel-partikel halus] di sekitar masyarakat terkait dengan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan sumber-sumber debu dari pertambangan: debu jalanraya, pembakaran sampah di ladang dan kayu bakar yang digunakan untuk masak.”

“Kami cemas karena itu pasti akan mempunyai dampak jangka panjang,” kata Anibal Coti, direktur pusat kesehatan masyarakat di  El Estor. “Kami temukan warga yang dilaporkan mengidap masalah ISPA, asthma, bronkhitis, pneumonia.” Ketika dikonfrontasi dengan temuan-temuan ini oleh reporter dari Le Monde (Prancis) dan Expresso (Portugal) saat mereka mengunjungi tambang pada April, Maynor Alvarez, manajer CGN untuk urusan masyarakat, menjawab sederhana bahwa: “Pemantauan kami lakukan, tidak saja untuk air: tapi air, debu, kebisingan. Dan  monitoring itu dilakukan secara periodik sesuai dengan garisan hukum dan ditandatangani. Kami menaruh kepercayaan, diriku sebagai Pronico, diriku sebagai pihak berwenang, diriku sebagai masyarakat, kami meletakkan kepercayaan penuh pada hasil monitoring tersebut.”

Terkait pemerintah, masyarakat desa beranggapan bahwa sebagian besar keprihatinan mereka tidak dihiraukan. “Pemerintah sebetulnya tidak pernah benar-benar memikirkan masyarakat adat,” kata Cristobal Pop, pemimpin persatuan nelayan. “Bagi mereka, yang ada cuma kepentingan, yakni dana dan perusahaan yang dapat memberikan laba tinggi, tidak peduli kehidupan rakyat, masyarakat pedesaan, kehidupan penduduk asli.”

Setelah menghabiskan satu setengah tahun dalam persembunyian, wartawan Carlos Choc akhirnya bisa bertemu dengan seorang hakim pada Januar, dan berhasil lolos dari penahanan pra pengadilan. Ia kini menunggu sidang kasusnya.

“Saya tidak pernah menyangka, tak pernah selama 12 tahun saya bekerja sebagai wartawan, bahwa suatu hari saya akan mengalami ini karena pekerjaan saya,” katanya. “Saya tahu tudingan-tudingan palsu itu kelak akan berakhir. Dan saat semuanya usai, saya tetap takkan menangis.”

Marion Guégan, Cécile Schilis-Gallego