Indonesialeaks: Bukti Baru Buku Merah

IndonesiaLeaks kembali menerima bocoran penting mengenai kasus perobekan buku merah di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi, April 2017 silam. Kali ini bentuknya adalah sebuah rekaman video closed circuit television (CCTV) yang menegaskan bahwa skandal perusakan barang bukti itu benar-benar terjadi. 

Scroll

Video itu datang tanpa disangka-sangka pada pertengahan 2019 lalu. Platform Indonesialeaks memang dibuat untuk menampung bocoran informasi secara anonim. Pengirim informasi tak akan bisa dilacak karena terlindungi secara enkripsi digital.

Durasinya tercatat 1 jam 48 menit. Rekaman tertanggal 7 April 2017 itu memperlihatkan aktifitas sejumlah orang di sebuah ruangan. Gambarnya statis karena hanya berasal dari satu kamera saja.

Penelusuran tim Indonesialeaks menemukan bahwa video itu diambil di ruang Kolaborasi Lantai 9, Direktorat Penyidikan KPK. Sesuai data video, rekaman dimulai pada pukul 18.11 WIB dan berakhir 19.59 WIB.

Terlihat ada sembilan orang yang terpantau video keluar-masuk ruangan. Sebagian besar di antara mereka mengenakan busana batik.

Wawancara dengan berbagai sumber yang mengetahui ihwal peristiwa di ruangan itu memastikan nama-nama sebagian orang yang terekam dalam CCTV. Mereka adalah Ardian, Rufri, Roland Ronaldi, dan Harun. Keempatnya adalah penyidik KPK.

Rekaman dimulai tanpa indikasi apa-apa. Datar dan wajar-wajar saja. Sekelompok penyidik berdiskusi sambil sesekali bercanda.

Kejanggalan mulai terjadi ketika rekaman menunjukkan pukul 18.47 WIB. Ketika itu, Harun mengambil satu buku merah lalu memilih duduk di bawah, di  lantai, tersembunyi dari kamera CCTV. Tak terlihat jelas apa yang ia lakukan saat di bawah meja. Gesture tubuhnya saat memeriksa buku terasa tak lazim. 

Kejadian serupa terulang lagi pada pukul 19.42 WIB. Ketika itu, rekaman menunjukkan Harun mengeluarkan tip-ex dari dalam saku kemejanya. Barang tersebut ia serahkan kepada Roland dan tak lama setelahnya, dia melempar buku yang tergeletak di samping kirinya ke bawah meja. Roland lalu merunduk melakukan sesuatu dengan buku itu di tangannya.

Pada pukul 19.47 WIB, tampak jelas Harun mengeluarkan tip-ex dan menghapus catatan di sebuah buku bersampul hitam. Aksi itu ia lakukan setelah berbicara dengan Roland.


***

Video rekaman CCTV ini adalah bukti terbaru yang menegaskan bahwa memang benar terjadi perusakan barang bukti di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi pada April 2017 lalu.

Penegasan ini penting karena sampai sekarang, pelaku peristiwa pidana itu masih melenggang bebas. Aparat penegak hukum belum menjatuhkan sanksi apapun untuk pelanggaran berat tersebut.

Barang bukti yang dirusak ini memang bukan sembarangan. Buku merah adalah buku laporan keuangan perusahaan CV Sumber Laut Perkasa milik pengusaha impor daging Basuki Hariman.

Basuki ditangkap KPK pada Januari 2017 setelah menyuap hakim konstitusi Patrialis Akbar. Suap berkaitan dengan uji materi Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang akan menentukan nasib pengusaha importir daging seperti Basuki.

Ketika kantor Basuki Hariman, di daerah Sunter, Jakarta Utara, digeledah, penyidik menemukan setumpuk buku berisi laporan keuangan. Di salahsatu buku bersampul merah itu ada catatan pengeluaran uang ke sejumlah pejabat dari berbagai instansi negara, termasuk petinggi polisi. Di dalamnya terdapat nama Tito Karnavian.

Sampai saat ini tidak ada bukti yang bisa menegaskan bahwa Tito benar menerima sejumlah dana seperti yang tercantum dalam catatan di buku merah.


***

Investigasi Indonesialeaks sebelumnya, pada Oktober 2018, mengungkap bukti-bukti soal bagaimana para penyidik KPK dari unsur kepolisian, merusak barang bukti buku merah tersebut. Diduga, tujuannya untuk melindungi agar nama Tito Karnavian, tak sampai muncul di berkas penyidikan.

Di dalam KPK sendiri, pengusutan sempat dilakukan. Pengawas Internal KPK memeriksa semua orang yang ada di dalam ruangan ketika barang bukti dirusak. Dua nama yang paling disorot adalah penyidik berasal dari polisi: Roland Ronaldi dan Harun. Salahsatu rekan mereka, Rufri, juga membenarkan bahwa dia berada dalam ruangan itu seperti yang tampak dalam CCTV. Namun dia  enggan menjelaskan detil kejadian. “Iya, (itu) rekaman dalam ruang rapat,” kata dia.

Ketua KPK Agus Rahardjo memastikan pengawas internal KPK menjatuhkan sanksi berat untuk Rolan dan Harun. Mereka dipulangkan ke institusi kepolisian. Surat pemulangan keduanya kepada Mabes Polri juga menyertakan keputusan hasil pemeriksaan. “Diberitahukan ke sana, orang ini waktu di KPK seperti ini. Tindakan berikutnya dilimpahkan kepada polisi,” ujar Agus.

Toh meski dinyatakan bersalah oleh KPK, Divisi Profesi dan Pengamanan Mabes Polri menganulir keputusan tersebut. Hasil pemeriksaan ulang menyatakan Roland dan Harun tidak bersalah.

Alih-alih dijatuhi sanksi, karier keduanya malah makin moncer. Roland didaulat menduduki jabatan Kepala Kepolisian Resor Kota Cirebon usai mendapat penugasan sebagai staf di Divisi Hubungan Internasional, Mabes Polri. Jabatan itu resmi diserahterimakan kepadanya sejak Maret 2018.

Adapun Harun, yang berpangkat Komisaris, diberikan tiket mengikuti Sekolah Staf dan Pimpinan Menengah. Usai menjalani studi, jabatan baru menunggunya di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Ia sempat menjabat Kepala Unit Tindak Pidana Korupsi. Selang sebulan kemudian ia dipromosikan sebagai Kepala Sub Direktorat Fiskal, Moneter, dan Devisa, Polda Metro Jaya.  

Dalam beberapa kesempatan, Roland dan Harun juga membantah peran mereka dalam insiden perusakan buku merah itu.

***

Munculnya video CCTV ini menjadi penting karena pada akhir Oktober ini, tenggat yang diberikan Presiden Joko Widodo kepada Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menyelesaikan kasus penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan, bakal berakhir.

Novel disiram air keras pada dini hari 11 April 2017. Akibat serangan itu, matanya nyaris buta. Sampai sekarang, polisi belum berhasil menemukan pelaku penyerangan.

Pada awal Juli 2019 lalu, Tim Gabungan Pencari Fakta yang dibentuk Kapolri mengumumkan temuan mereka soal kasus penyerangan Novel. Mereka menyebut ada enam kasus pidana yang bisa jadi terkait dengan serangan keji tersebut. Kasus korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) elektronik, dan kasus korupsi Sekretaris Jenderal Mahkamah Agung sempat disebut sebagai kasus yang bisa jadi memicu serangan tersebut.

Menyikapi temuan itu, Presiden Joko Widodo lalu menugaskan Kapolri menelusuri kembali hasil kerja tim pencari fakta. “Kapolri minta waktu enam bulan, namun saya sampaikan: tiga bulan,” kata Jokowi di Istana. Ultimatum itu kini mendekati akhir.

Ketika diumumkan, hasil kerja TGPF sempat memicu reaksi dari publik. Pasalnya dari enam kasus yang disebut, ada satu kasus besar yang tak disinggung sama sekali.

"Apa yang disampaikan TGPF tentang kasus-kasus yang pernah ditangani Novel, justru ada beberapa kasus penting yang tidak disebut. Termasuk kasus impor daging sapi, dimana ada dugaan penghilangan catatan dalam buku merah,”  kata Zaenur Rahman dari Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Pusat Kajian itu adalah bagian dari Koalisi Masyarakat Sipil Anti Korupsi yang rajin mengawal kasus ini.



Indikasi keterkaitan skandal buku merah tampak dari rangkaian peristiwa sebelum penyiraman air keras atas Novel. Perusakan barang bukti itu terjadi hanya empat hari sebelum Novel diserang.

Sepekan sebelum penyerangan, pada 4 April 2017, ada dua peristiwa yang terkait dengan penemuan buku merah. Pertama, kedatangan Novel ke rumah dinas Kapolri. Pertemuan itu merupakan inisiatif Novel, atas seizin pimpinan KPK. Tujuannya adalah mengklarifikasi isu bahwa KPK sudah menetapkan Kapolri sebagai tersangka dalam kasus buku merah.

Menurut Novel, pertemuan itu semula berjalan datar. Tito hanya sesekali memberi tanggapan. Kendali pembicaraan lebih banyak di tangan para perwira polisi yang menemani Tito kala itu.  Situasi mulai memanas ketika Novel dituduh sebagai otak di balik pemeriksaan buku merah. “Saya tegaskan, saya bukanlah anggota tim penyidik kasus itu,” kata Novel.

Peristiwa kedua, dialami penyidik KPK, Surya Tarmiani. Surya dijadikan target lantaran diduga menyimpan buku merah dan dia pernah memberkas keterangan Kumala Dewi, staf keuangan Basuki Hariman ihwal catatan buku merah. Pada hari yang sama dengan kedatangan Novel ke rumah dinas Tito, tas Surya dijambret. Dia kehilangan laptop dan salinan buku merah di dalam tas itu.

Kemungkinan keterkaitan buku merah dengan penyerangan Novel bahkan disampaikan sendiri oleh Tim Gabungan Pencari Fakta saat menemui Novel dan pimpinan KPK pada bulan Mei 2019. Pertemuan di lantai 15 itu dihadiri dua Wakil Ketua KPK, La Ode Syarief dan Saut Situmorang. Hadir juga dua pejabat biro hukum dan pengawas internal. Adapun tim pakar TGPF diwakili Indriarto Seno Aji, Ifdhal Kasim, Nurcholis, dan Hendardi.

Dalam pertemuan itu, menurut Novel, seorang anggota tim pakar menyatakan bahwa mereka sudah mengantungi petunjuk ihwal pelaku penyiraman. Pelaku penyiraman tersebut terindikasi berkaitan dengan orang-orang di kepolisian. “Saat itu disebut bahwa penyerangan terhadap saya terkait dengan buku merah,” ujar Novel. Yang janggal, temuan itu justru tak pernah dirilis TGPF sendiri. 

Salahsatu anggota TGPF Nurcholis tak membantah bahwa tim pernah melontarkan indikasi keterkaitan buku merah di balik penyiraman air keras pada Novel. Namun, dugaan keterkaitan itu belakangan dianulir oleh tim karena bukti pendukungnya tak cukup kuat. “Dari beberapa sumber, dari Polri, ditegaskan tidak ada kaitan,” kata Nurcholis.  

***

Kini bola ada di tangan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri Komisaris Jenderal Idham Azis. Dialah yang ditunjuk Tito memimpin tim teknis yang menindaklanjuti temuan TGPF.

Sayangnya, Idham enggan meladeni permintaan wawancara. Begitupun dengan Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri, Inspektur Jenderal Mohammad Iqbal. Permohonan wawancara kepada Tito melalui surat sejak empat pekan lalu juga tak mendapatkan respon. Begitupun dengan konfirmasi melalui pesan singkat.

Kepada majalah Tempo, Tito sempat membenarkan pertemuannya dengan Novel. Menurut dia, persamuhan itu untuk menjaga hubungan baik antara penyidik dari polisi dan penyidik non-polisi di KPK. “Hubungan saya dengan Novel secara pribadi juga baik,” kata dia.
 

TIM INDONESIALEAKS