DI BALIK AKSI BRUTAL JAKMANIA

The Jakmania menjadi musuh bebuyutan para suporter klub sepakbola lain.

Scroll

SIANG itu, 5 November 2016, enam belas bus yang dipenuhi ratusan suporter klub sepakbola Jakarta, Persija, dengan berbagai atribut oranye kebanggaan mereka, beriring-iringan melintas di jalan tol Palimanan, Cirebon, Jawa Barat. Mereka baru saja usai menyaksikan pertandingan Persija melawan musuh bebuyutan mereka, Persib Bandung. Pertandingan digelar di tempat netral yakni di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, karena polisi tidak memberikan ijin laga digelar di kandang Persija di Jakarta.

Pertandingan itu sendiri berakhir dengan skor imbang 0-0: tidak ada yang menang. Jakmania --sebutan  buat suporter Persija-- sebenarnya bisa pulang tanpa dendam. Total ada 170 bus Jakmania yang pulang dari Solo hari itu. Polisi memperkirakan ada 19 ribu Jakmania yang hadir menyemangati tim kesayangan mereka.

Adapun para Viking --julukan buat fans Persib Bandung-- dilarang menonton pertandingan itu, karena sejarah konflik fans kedua klub ternama ini.  Meski demikian, banyak laporan menyebut para bobotoh Persib tetap nekat berangkat ke Solo. Hari itu, ada laporan, sekitar 13 bus yang dipenuhi pendukung Persib ditahan polisi di dekat Brebes dan Cilacap, dan dilarang mendekat ke Solo.  

“Kami sempat dapat informasi bakal ada penghadangan di pintu tol Palimanan,” kata Pelaksana Tugas Ketua Umum The Jakmania Donal Aldiyansah, Rabu, 9 November 2016. Setelah sempat menunggu di sebuah rest area sampai kondisi keamanan membaik, rombongan Jakmania memutuskan melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Mereka dikawal beberapa polisi.

Hubungan Viking dan Jakmania memang sedang panas-panasnya. Pada 23 Oktober 2016, sebulan sebelum pertandingan di Solo itu, seorang fans Persib tewas dikeroyok beberapa orang yang menggunakan atribut Jakmania. Muhammad Rovi Arrahman, 17 tahun, diserang rombongan Jakmania ketika hendak menyaksikan laga Persib vs Persegres Gresik di Stadion Wibawa Mukti Bekasi. Kesalahan Rovi hanya karena dia melintasi wilayah Jakarta dengan menggunakan atribut Persib, dan melewati sekumpulan fans Jakmania.

Kembali ke Tol Palimanan, tepat ketika rombongan Jakmania mendekati gerbang tol, mendadak iring-iringan bus mereka dihujani batu. Donal tak yakin penyerang mereka adalah warga setempat seperti penjelasan polisi belakangan. Kuat dugaan, para bobotoh-lah yang menghadang mereka.  

Bus-bus itu segera menepi. Sebagian mencoba berbalik arah. Sementara ratusan massa Jakmania yang marah, menghambur keluar dari bus, menyerbu penyerangnya.  “Saat itu anak-anak turun dari bus, keluar semua mengejar pelaku pelemparan itu,” kata Donal. Tawuran pun pecah di pinggir jalan tol,  dekat Desa Lungbenda, Kecamatan Palimanan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, itu.

Beberapa jam kemudian, bentrokan secara sporadis mereda. Ketika itulah fans Persija baru sadar, salahsatu dari mereka, tersungkur di tanah, penuh dengan luka memar. Pria itu, Harun Al Rasyid Lestaluhu,  merupakan Koordinator Wilayah Jakmania di kawasan Kali Malang, Bekasi. Kematiannya menambah kemarahan Jakmania.  

Mengapa kekerasan dan kematian seperti menjadi bagian tak terpisahkan dari ekspresi fans Persija Jakarta? Mengapa seperti ada hawa kemarahan yang begitu meluap-luap setiapkali Jakmania hadir dan mendukung pertandingan Persija? Apa pemicunya?

BIANG KERUSUHAN DI LUAR STADION

Sepakbola acapkali berujung pemakaman, bukan lagi hiburan.

Scroll

LEMBAGA pemerhati sepak bola, Save Our Soccer (#SOS), sudah lama getol menyuarakan reformasi manajemen sepakbola di Indonesia. Mereka menilai masalah kekerasan dalam pertandingan bola di Indonesia sudah mencapai tahap mengkhawatirkan.   

Akmal Marhali, Koordinator #SOS, mengatakan seharusnya sepak bola jadi panggung hiburan, bukan tempat pemakaman. Sejak Liga Indonesia digelar pada 1993/1994, kata dia, SOS mencatat sudah 54 nyawa pendukung klub bola jadi korban. “Ini tidak bisa dianggap remeh atau disebut sebagai kecelakaan. Terlalu mahal jika sepak bola harus dibayar dengan nyawa,” kata Akmal, Rabu, 9 November 2016.

Soal pemicu kekerasan, Akmal punya beberapa penjelasan. Menurutnya, yang utama, adalah lemahnya antisipasi aparat keamanan. Dia menunjuk sejarah kekerasan dalam setiap pertandingan antara Persija Jakarta versus Persib Bandung. “Ada fanatisme di masing-masing kubu dan ada rivalitas yang tinggi,” katanya. Dia heran polisi tidak melakukan mekanisme pencegahan untuk mengantisipasi bentrokan meluas dan memakan korban nyawa. 

Selain itu, Akmal juga menyalahkan tidak adanya program pembinaan supporter, baik itu dari klub, pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), dan operator atau penyelenggara pertandingan. Menurut Akmal, sampai saat ini suporter hanya dijadikan obyek dan tidak pernah dikelola secara optimal. “Jika setiap perseteruan, tidak diselesaikan secara tuntas dan jelas, bukan tidak mungkin kejadian serupa akan terus terulang,” katanya.

Sikap fanatik suporter sebenarnya bisa dibenahi dengan adanya komunikasi atau pembinaan antar suporter. “Itu yang pernah sukses dilakukan Bonek (supporter Persebaya Surabaya) dengan Pasoepati (supporter Persis Solo). Mereka dulu juga sering bentrok,” ujar Akmal. Sekarang, pimpinan kedua lembaga supoter itu berdamai dan bentrok nyaris tak pernah terdengar lagi.

Bagaimana kalau akar masalahnya justru tidak terletak pada urusan sepakbola? Tempo mencoba menelusuri beberapa kantong pendukung Persija di Jakarta dan menemukan bahwa sebagian besar pendukung klub bola legendaris ini punya kesulitan ekonomi. Anak-anak muda anggota Jakmania rata-rata pengangguran atau tak punya pekerjaan tetap.

Lihat saja salah satu kantong Jakmania di kawasan Manggarai, Tebet, Jakarta Selatan. Tak sulit mencari markas mereka, karena ada penanda menyolok berupa tulisan grafiti yang menampilkan simbol-simbol pendukung Persija di sepanjang tembok yang membatasi rel kereta api di Jalan Bukit Duri Utara.

“Ada 200 orang Jakmania di sini,” kata koordinator Jakmania wilayah Manggarai, Herdian Lesmana atau Uban, Rabu, 9 November 2016. Itu hanya yang tercatat sebagai anggota resmi. Jumlah fans yang tak terdaftar justru lebih banyak lagi. Sebagai koordinator, Uban bertugas merencanakan dan melaksanakan sejumlah pertemuan anggota, hingga mengatur keberangkatan fans sebelum pertandingan.

Di kalangan Jakmania, daerah Uban kerap disebut sebagai wilayah ‘Barrabravas’ karena sikap mereka yang amat sering memicu kerusuhan di lapangan bola. Istilah ‘barrabravas’ identik dengan kelompok suporter hooligan di Amerika Latin.

Uban tidak menampik jika wilayahnya sering disebut sebagai biang rusuh. “Tanpa Jakmania pun, kawasan sini sering rusuh,” kata Uban sambil tertawa. Sebagai koordinator wilayah, Uban tidak punya kantor atau sekretariat. Pertemuan dengan para pentolan fans Persija di sana kerap dilakukan sambil nongkrong di pinggir jalan, atau di salahsatu kedai milik anggota.

“Kami tidak menutup mata banyak pecinta Persija buat kerusuhan,”  kata Uban. Namun dia tak bisa menjelaskan apa yang membuat kawan-kawannya punya energi kemarahan yang begitu besar. “Kami sudah wanti-wanti agar tidak rusuh, tapi sulit,” katanya.

Bukit Duri sendiri merupakan salahsatu kawasan paling padat di Jakarta. Angka penggangguran di wilayah Jakarta Timur, di mana banyak Jakmania tinggal, juga yang tertinggi di Ibu Kota. Kombinasi itu membuat kawasan ini tak pernah sepi dari tawuran massal. Meski sempat dibangun pagar pembatas, toh ‘perang’ tak surut, bahkan berubah jadi ajang saling lempar batu.

Ketika menyemangati Persia di lapangan hijau, perilaku itu terbawa. Apalagi, kata Uban, polisi tidak membantu mereka meredam situasi. Ketika menjaga pertandingan, kata dia, polisi kerap bertindak sembrono dan berlebihan. “Mereka cepat sekali memukul atau menyemprotkan gas air mata,” kata Uban. “Kami ini suporter ini sepak bola, bukan teroris. Sebentar-sebentar ada gas air mata, ini justru akan memancing kerusuhan,” kata Uban.

Kebencian Jakmania pada polisi memuncak setelah seorang pemuda 16 tahun, Muhammad Fahreza, tewas di tengah pertandingan Persija vs Persela Lamongan, di Stadion Gelora Bung Karno, Jumat, 13 Mei 2016 lalu. Dia terjebak kerusuhan di luar stadion, antara massa yang tidak punya tiket dan berusaha menerobos masuk, melawan polisi. Kakaknya, Sholeh, yakin Fahreza babak belur dipukuli petugas keamanan. Polisi sudah membantah tudingan ini dan mengaku masih menyelidiki kematian remaja tanggung ini.

Fahreza sendiri sempat pulang setelah pertandingan, namun kondisinya memburuk dengan cepat. Keesokan harinya dia dilarikan ke rumah sakit dan kemudian meninggal. Tubuhnya penuh luka memar dan ada luka benjolan di kepalanya setebal 2 sentimeter. 

Kematian Fahreza membuat Jakmania murka. Pada pertandingan bulan berikutnya, antara Persija  melawan Sriwijaya FC di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jumat, 24 Juni 2016 lalu, ratusan fans Persija mengeroyok beberapa polisi yang tengah berjaga.

Kericuhan dimulai dari aksi salah satu supporter yang nekat masuk lapangan setelah Persija tertinggal 0-1. Tindakan si suporter itu memicu reaksi ribuan Jakmania lain yang beramai-ramai menerobos pagar pembatas lapangan. Pertandingan pun dihentikan.

Seorang polisi, Brigadir Hanafi, yang lepas dari barisannya, menjadi sasaran amarah dan dikeroyok massa. Beberapa pagar besi sengaja ditumpuk di atas tubuhnya yang sekarat. Dalam kondisi kritis, dia dilarikan ke rumah sakit. Kini kondisinya membaik meski mata kirinya harus diangkat.



“TERLALU MAHAL JIKA SEPAK BOLA HARUS DIBAYAR DENGAN NYAWA.”



GRAFITI BERTULISKAN BARRABRAVAS DI TEMBOK JALAN BUKIT DURI UTARA, MANGGARAI/LARISSA

TERKEPUNG HOOLIGAN LIAR

Suporter The Jakmania ditangkap Polda Metro Jaya, Jakarta, 18 Oktober 2015. Polisi menangkap sedikitnya 200 anggota The Jakmania yang diduga akan melakukan kericuhan pada pertandingan antara Persib Bandung dengan Sriwijaya FC. Tempo/Eko Siswono Toyudho

Scroll

‘All Cops Are Bastards’. Coretan di atas gambar sederhana di buku Fahreza itu membuka tabir ada masalah yang lebih dalam di balik kerusuhan demi kerusuhan yang dipicu fans garis keras Jakmania. Dalam gambarnya, Fahreza menyebut dirinya ‘Ultras’, sebutan untuk hooligan di Eropa yang kerap memancing kerusuhan dalam pertandingan sepakbola. Buku dan coretan itu ditemukan keluarga Fahreza sehari setelah kematiannya.

Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi The Jakmania Diky Soemarno membenarkan adanya istilah ‘All Cops Are Bastards’ atau ACAB, atau biasa juga dikenal dengan kode ‘1312’ di kalangan Jakmania.  “Banyak kawan yang hanya ikut-ikutan istilah yang tren di Inggris,” kata Diky.  Dia tidak tahu bagaimana mulanya istilah itu menyebar di kalangan pendukung Persija, namun dia menduga banyak Jakmania yang menilai polisi kerap melakukan pengamanan yang kasar dan berlebihan pada mereka.   

Di kalangan Jakmania, kaos dan asesoris ACAB sangat mudah ditemui. Di sebuah toko t-shirt yang menjual berbagai pernik Persija Jakarta di Kalimalang, Jakarta Timur, Tempo menemukan banyak kaos bertuliskan ACAB.  Di rak sebelahnya, dijual kaos yang bertuliskan ‘No one like us, we don’t care. We are the real Persija Fans’.

Dicky bukannya tak menyadari bahaya dari penyebaran paham kebencian terhadap polisi ini. Namun, dia mengaku tak kuasa menghalanginya. “Ini jadi tren di media sosial di antara remaja belasan tahun anggota Jakmania,” katanya.  

Mantan Ketua Umum The Jakmania Richard Achmad Supriyanto membenarkan sulitnya mengendalikan perilaku puluhan ribu suporter fanatik Persija Jakarta. “Karakter pendukung Persija ini sangat beragam,” katanya.  Apalagi,  anggota Jakmania tak hanya orang yang tinggal di pusat kota, tetapi juga tersebar sampai di kota-kota pinggiran Jakarta, seperti Bekasi, Tangerang, Cikarang, Bogor, hingga Karawang.  

Dari puluhan ribu fans yang menyaksikan pertandingan Persija Jakarta, Richard menegaskan, hanya sebagian kecil yang tercatat sebagai anggota resmi Jakmania. “Mereka rutin membeli tiket terusan dan punya kartu anggota Jakmania,” kata Richard.

Sebagian besar fans Persija tidak terdaftar. “Kami menyebutnya Rojali, atau ‘Rombongan The Jak Liar’ karena mereka tidak pernah beli tiket,” katanya lagi. Harga tiket termurah untuk menonton satu pertandingan di Stadion Utama Gelora Bung Karno adalah Rp 50 ribu. Buat banyak pendukung klub itu, harga itu terlampau mahal. Karena tak tercatat sebagai anggota, identitas mereka pun tak terdeteksi.

Pada setiap pertandingan Persija, para fans liar inilah yang kerap meramaikan suasana.  Mereka datang ke stadion dengan menyewa bus atau metro mini, namun berada di luar koordinasi kepengurusan The Jakmania. Banyak dari mereka masih berusia amat muda, belasan tahun, dan tinggal di pinggiran Jakarta.

Kepada Tempo, Akbar alias Bontot, 22 tahun, salah satu anggota The Jakmania yang berada di bawah koordinator wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, membenarkan kondisi itu. “Biasanya mereka itu yang nyanyi-nyanyi dan teriak dari luar stadion, dan kadang tunggu jebolan,” kata Akbar. Istilah ‘jebolan’ merujuk pada dibukanya pintu stadion untuk penonton tanpa tiket. Biasanya akses itu dibuka setelah pertandingan berlangsung dan polisi tak mampu lagi menahan desakan massa.



GAMBAR BUATAN MUHAMMAD FAHREZA, SUPORTER PERSIJA YANG TEWAS USAI MENONTON DI STADION GELORA BUNG KARNO. TEMPO/FRISKI RIANA

ROJALI MELAWAN POLISI

Tiap pertandingan Persija selalu rawan dengan kerusuhan akibat dendam yang tak kunjung padam.

Scroll

SALAHSATU anggota Jakmania yang tak punya kartu anggota adalah Jamaludin alias Oboi. Dia kini ditahan Polda Metro Jaya dengan tuduhan menganiaya Brigadir Hanafi, pada pertandingan Persija vs Sriwijaya, akhir Juni 2016 lalu. 

Ditemui di tahanan, akhir Agustus 2016 lalu, Oboi terlihat pucat. Sosoknya tampak lebih kurus dibandingkan foto dirinya di media sosial. Rambutnya digundul dan dia harus mengenakan kemeja lusuh berwarna oranye, seperti semua tahanan di kantor polisi. 

Oboi adalah koordinator fans Persija dari Cikarang, sebuah wilayah di pinggiran Jakarta. Dialah Jakmania pertama yang melompati pagar pembatas dan masuk ke lapangan pada pertandingan nahas itu. “Saya lompat ke lapangan untuk menghindari gas air mata,” katanya. Dia menolak dituduh sebagai provokator.

“Saya sendiri hampir pingsan,” katanya kemudian. Dia menuding polisi yang memicu keributan karena menembakkan gas air mata ke arah kerumunan Jakmania. “Kondisinya sudah kacau, saya justru mau menyelamatkan kawan-kawan,” kata Oboi lagi. Dia tak mau berkomentar banyak soal ACAB dan sentimen negatif Jakmania pada polisi. Berulangkali dia menegaskan dirinya tak bersalah.

Sejumlah anggota Jakmania yang ditemui Tempo, membenarkan cerita Oboi. Nicko Pratama Suhendar, 20 tahun, yang ada di lapangan pada saat kericuhan, mengakui mereka memang menyalakan petasan ketika gawang Persija kebobolan pada menit ke-80. “Ada kegaduhan, tapi kemudian polisi menembakkan gas airmata,” katanya.  

Serangan polisi itulah, kata Nicko, yang memancing emosi Jakmania. “Kami masih dendam pada polisi soal Fahreza yang tewas dipukuli,” katanya lagi. Rekannya, Habibie atau Bibay, 24 tahun, menuding polisi tak serius mengusut kematian Fahreza.   “Kenapa anak Jakmania yang mati, sampai sekarang tidak diusut? Sementara, polisi yang disenggol sedikit sampai diburu?” katanya.

Sejak kematian Fahreza, Bibay mengaku dia dan kawan-kawannya memang berencana membalas dendam pada polisi. Ketika Persija bermain di Gelora Bung Karno melawan PS Tentara Nasional Indonesia dalam ajang Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016 pada awal Juni 2016 lalu, mereka sudah gencar melempari polisi dengan petasan. “Tapi polisi diam saja, mungkin karena waktu itu banyak tentara,” kata Bibay. Aksi itu mereka ulangi sebulan kemudian, namun kali ini reaksi polisi lebih tegas. Bentrokan pun terjadi.

Kepala Sub Direktorat Kejahatan dengan Kekerasan Kepolisian Daerah Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Hendy F Kurniawan mengaku sudah mendengar adanya penyebaran paham kebencian pada polisi di kalangan Jakmania.  Tapi dia mengaku polisi belum mengkaji seberapa berpengaruh sentimen itu di kalangan suporter Persija. “Belum dipelajari,” katanya.

Sampai kedua kubu benar-benar mengenali akar perseteruan mereka, tampaknya sejarah kekerasan para pendukung Persija akan terus berulang.  (*)

LARISSA HUDA



“KAMI MASIH DENDAM PADA POLISI SOAL FAHREZA YANG TEWAS DIPUKULI.”