Jadi Seorang Martir,
Bernama
Dokter Mochtar
3 JULI 1945. Achmad Mochtar, ilmuwan dan dokter terkemuka pribumi yang mengepalai Laboratorium Eijkman di Jakarta, dihukum pancung polisi militer Jepang. Inilah kisahnya.
Scroll
Pasteur Institut, Bandung, 1943. Dok. National Archives The Hague, NEFIS 3036
Scroll

Vaksin Minta Tumbal, Dokter Mochtar Dipenggal

3 JULI 1945. Achmad Mochtar, ilmuwan dan dokter terkemuka pribumi yang mengepalai Laboratorium Eijkman di Jakarta, dihukum pancung polisi militer Jepang. Ia dituduh telah mencemarkan vaksin tipus dengan tetanus, sehingga menewaskan hampir 400 romusha di kamp Klender.

Tujuhpuluh tahun kemudian, 3 Juli 2015, Sangkot Marzuki dan J. Kevin Baird meluncurkan buku tentang Mochtar, berjudul War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine. Sangkot--kini Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, sebelumnya Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman—menyatakan Mochtar dikorbankan Jepang yang tengah bereksprimen membuat vaksin tetanus dengan kelinci percobaan para romusha. Inilah kisahnya.

***
Bergetar bibir RA Kantjana Kusumasudjana, 93 tahun, saat menceritakan pengalamannya ditangkap oleh polisi militer Jepang 70 tahun silam. Beberapa kali ia terdiam dengan tatapan mata ke depan. Ia seperti menahan tangis. Nanny, begitu ia disapa, ketika itu masih gadis dan bekerja sebagai analis di Laboratorium Eijkman di Batavia. Pada tengah hari awal Oktober 1944, saat makan siang di kafe kecil dekat kantor, Nanny dikejutkan oleh datangnya tamu berpakaian putih-putih. Tanpa penjelasan, si tamu menyuruhnya masuk ke mobil.

"Saya sangat kaget, tidak tahu mengapa saya dibawa dan mau dibawa ke mana," ujar Nanny terbata-bata, saat ditemui di kediaman putrinya di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, pada sebuah Selasa, tahun lalu.

Rasa terkejut Nanny bertambah karena ia dibawa memasuki bangunan bekas sekolahnya, Rechthogeschool--kini gedung Kementerian Pertahanan di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta. Ternyata sekolah Nanny telah berubah menjadi markas Kenpeitai. Di dalam bangunan itu terdapat sel-sel tahanan. Nanny mengingat sel itu cukup luas. Bagian depan sel ditutup terali kayu, sedangkan di bagian belakang terdapat selokan air.

Nanny ditempatkan di sel nomor 6. Ternyata di situ sudah ada Ko Kiap Nio, koleganya sesama analis. Belum sempat bertanya gerangan yang terjadi, Nanny harus bungkam begitu penjaga sel menghardiknya. Tanpa Nanny ketahui, di sel-sel lain turut mendekam pimpinan dan staf Laboratorium Eijkman seperti Direktur Achmad Mochtar, Wakil Direktur Joehana Wiradikarta, Kepala Bagian Bakteriologi M. Ali Hanafiah, Kepala Bagian Kimia Soetarman, analis Jatman dan Subekti, serta mantri laboran Moehtar. Juga ada dokter Asikin Widjajakusuma dan Soeleiman Siregar dari Rumah Sakit Umum Pusat, serta dokter Marzoeki, Marah Achmad Arif, dan Soeleiman dari Djawatan Kesehatan Kota.

"Sewaktu diperiksa, saya ditanya apakah saya yang mencuri bersama Achmad Mochtar. Saya jawab mencuri apa? Saya tidak mencuri," kata Nanny. "Mereka tidak sedikit pun menyebutkan apa yang mereka cari!"

Nanny merupakan satu-satunya saksi korban masih hidup yang mengungkapkan kesaksiannya dalam buku baru: War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine. Buku yang ditulis J. Kevin Baird dan Sangkot Marzuki ini telah terbit di Amerika Serikat pada pertengahan Mei lalu dan akan diluncurkan pada akhir pekan ini di Jakarta, bertepatan dengan 70 tahun wafatnya Achmad Mochtar, mantan Direktur Laboratorium Eijkman. Mochtar adalah ilmuwan Indonesia yang menjadi korban Jepang. Ia dipaksa mengaku mencemari vaksin typhus-cholera-dysentery (TCD) untuk romusha di kamp Klender, Jakarta Timur, sehingga menewaskan hampir 400 romusha karena tetanus. Pengakuan itu menjadi tebusan sehingga rekan dan bawahannya yang ditahan dapat dibebaskan.

Nanny mengatakan ia dan 14 orang tahanan lainnya dituduh Jepang sebagai komplotan di bawah Mochtar yang melakukan sabotase terhadap vaksin TCD. Mereka dianggap mencemari dengan basil tetanus. Kenpeitai tahu, beberapa bulan sebelum penangkapan itu, Laboratorium Eijkman melakukan percobaan menggunakan spora tetanus sehingga banyak disimpan botol berisi kultur basil (bakteri) tetanus.

"Botol berisi bakteri tetanus itu tidak ada yang hilang. Semuanya utuh. Saya yang memegang kunci lemari penyimpanannya," kata Nanny mengulangi jawaban yang ia berikan kepada pemeriksanya. Nanny saat itu mulai menyadari, "Ini pasti ada yang tidak beres," ujarnya.

Benar saja, setelah skenario mencemari vaksin TCD dengan bakteri tetanus terbantahkan berdasarkan penjelasan ilmiah yang diberikan rekannya analis Jatman kepada pemeriksanya, sekonyong-konyong tuduhan berubah: bahwa Mochtar telah mencemari vaksin dengan toksin (racun) tetanus. Padahal Laboratorium Eijkman tidak memiliki peralatan dan fasilitas anaerob untuk meneliti toksin tetanus, apalagi membuat vaksin tetanus. Satu-satunya laboratorium yang memiliki kemampuan untuk itu adalah Institut Pasteur di Bandung.

***

Asisten Laboratorium di Pasteur Institut, Bandung, 15 Agustus 1943. Dok. NIOD

ACHMAD Mochtar, pria kelahiran Sumatera Barat, pada 1892 merupakan orang Indonesia pertama yang menjabat Direktur Laboratorium Eijkman, institusi yang didirikan Christiaan Eijkman (1858-1930), peraih Hadiah Nobel Kedokteran pada 1929 atas penemuannya berupa vitamin pencegah neuritis (antineuritic), yakni tiamin alias vitamin B1 (antiberi-beri). Mochtar lulusan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) pada Juni 1916. Ia bergabung dengan Laboratorium Eijkman pada 1937, Mochtar menjadi orang nomor dua setelah Direktur Willem Karel Mertens, karena ia mengepalai bagian bakteriologi. Sebelum kedatangan Jepang, pada 1938-1940, Laboratorium Eijkman mencapai masa puncaknya.

Sebelum bekerja di Laboratorium Eijkman, Mochtar dikirim pemerintah untuk menempati pos sebagai dokter di Penyambungan, wilayah Mandailing, Sumatra Utara. Saat bertugas di sana, secara kebetulan sedang berlangsung survei untuk penelitian epidemiologi malaria oleh WAP Schuffner dan NH Swellengrebel yang terkenal. Mochtar pun masuk dalam tim penelitian tersebut.

Schuffner terkesan dengan pekerjaan Mochtar sehingga merekomendasikannya melanjutkan pendidikan doktoral di Universitas Amsterdam di bawah bimbingan Schuffner pada 1920. Ia meraih gelar doktor pada 1926. Sekembalinya ke Hindia Belanda pada 1927, Mochtar berpindah-pindah tempat tinggal, dari Bengkulu, Sumatera Barat, hingga ke Semarang. Dia aktif menghasilkan karya ilmiah yang dipublikasikan di jurnal kedokteran terpandang.

Tempo sempat mengunjungi rumah kelahiran Mochtar di Pasar Hilia, Nagari Ganggo Hilia, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Rumah bercat putih berukuran sekitar 25 x 15 meter itu bergaya arsitektur kolonial. Pintu dan jendelanya besar, atapnya lancip. Memiliki tiga kamar dan empat ruangan besar. Di sanalah orang tua Mochtar, Omar dan Roekajah, membesarkan dan keenam anaknya. Di ruangan tengah terdapat foto besar ayah dan ibu Mochtar, juga foto Mochtar bersama saudaranya, serta piagam penghargaan Achmad Mochtar dari Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Republik Indonesia.

Rumah itu kini didiami oleh menantu Mochtar, Februman Proehoeman, 96 tahun. Februman menikah dengan Rebeca (Rika), keponakan yang diangkat anak oleh Mochtar. Rika merupakan anak dari Adik Mochtar yang bernama Siti Chairani. Karena Mochtar hanya memiliki dua anak laki-laki--Baharsjah (1918-1944) dan Imramsjah (1919- 1980)--ia mengangkat Rika menjadi anak sepeninggalan Siti Chairani. "Kami pindah ke rumah ini sekitar 1988. Saat itu rumah ini tidak terawat, tinggal atap dan tembok saja. Lalu kami permak sedikit," ujar Februman pada Ahad pekan lalu sembari berupaya mengingat-ingat. Menurut dia, rumah itu berdiri di lahan yang sangat luas. Namun ia lupa luas tanah tersebut. Kata Februman, pihak keluarga telah mewakafkan tanah itu kepada madrasah sanawiyah. "Dulu di sini tak ada sekolah. Tertinggal. Maka kita berikan tanah untuk bangun sekolah," ujarnya.

Putri Februman yang bernama Siti Chairani (sama dengan nama neneknya), yang dihubungi tengah berada di Malaysia, mengatakan Rika ibunya sejak bayi sudah dirawat oleh Mochtar dan istrinya, Siti Hasnah. Siti Chairani mendengar cerita ibunya tentang tuduhan palsu Jepang kepada Opa Achmad Mochtar, yang mencemari vaksin untuk romusha. Menurut cerita ibunya, kata Siti Chairani, Achmad Mochtar menawarkan dirinya untuk dihukum mati asalkan yang lain dapat diselamatkan.

"Menurut Ibu, Opa Achmad Mochtar tidak dipancung kepalanya. Tapi digilas atau digiling hidup-hidup dengan stoomwals," kata Siti Chairani. Setelah kejadian tersebut, Rika dan Nursamsu keponakan Siti Hasnah diminta Jepang untuk mengambil barang-barang dia di penjara. "Ibu bercerita ke saya, yang diberikan (Jepang) hanyalah bekas baju Opa yang hancur robek-robek dan berdarah bekas gilingan" ujarnya.

Kepedihan atas kematian Mochtar juga dirasakan Baheramsjah (Bas), 65 tahun, yang terhitung keponakan Mochtar. Ahli bedah cardiothoracic dan profesor di University Hospital Maastrich ini adalah cucu Siti Rafiah, kakak ipar Mochtar. "Sedih! Sebagai dokter, saya tahu betul memberikan vaksin percobaan kepada manusia itu sangat tidak manusiawi dan kejam. Dan paman saya mengakui perbuatan yang tidak dilakukannya. Itu sikap kesatria dari ilmuwan papan atas pada zamannya. Terus terang, saya bangga dan kagum sekali dengan sikapnya itu," ujar Bas sambil menangis ketika ditemui di kediamannya di Kota Laren, Provinsi Noord Holland, awal Juni lalu.

Bas mengungkapkan kekecewaan dirinya atas sikap pemimpin Indonesia saat itu: Soekarno-Hatta. Menurut Bas, keduanya sebenarnya tahu bahwa Mochtar tidak bersalah, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan Bung Karno memiliki kesimpulan yang sama dengan Kenpeitai terhadap Mochtar. Seperti dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Bung Karno menyatakan. "Dr Muchtar mengepalai laboratorium yang bertugas menyuntik para romusha yang bergerbong-gerbong banyaknya dengan serum antitetanus, sebelum mereka dibawa berlayar. Obatnya salah. Dalam tempo tiga hari puluhan ribu orang mati. Jumlah korban yang besar ini adalah di luar batas kemampuan yang dapat saya berikan kepada Jepang sebagai gantinya."

***

Nani Kusuma, salah satu analis lembaga penelitian biologi Eijkman pada jaman pendudukan Belanda memberikan keterngan saat diwawancarai TEMPO di Jakarta, 23 Juni 2015. TEMPO/Frannoto

Tragedi serum di kamp romusha Klender berawal dari ditemukannya sekitar 478 romusha yang mengalami sakit yang diduga sebagai serangan meningitis (radang selaput otak). Pada Ahad pagi, 6 Agustus 1944, Bahder Johan sebagai dokter di Rumah Sakit Umum Pusat (kini Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) diperintahkan oleh atasannya, Wakil Direktur Dr Tamija, untuk datang memeriksa. Bahder datang bersama dokter Aulia dan seorang kapten dokter Jepang, serta dua mantri laboran dari Laboratorium Eijkman yang akan melakukan tusukan tulang belakang untuk memastikan apakah betul meningitis.

Seperti diceritakan M. Ali Hanafiah dalam bukunya Drama Kedokteran Terbesar, sesampainya di kamp Klender, ketiga dokter itu menyaksikan berpuluh-puluh orang mengalami kesakitan yang sangat. Namun ketiganya seketika itu juga berkesimpulan berdasarkan gejala yang terlihat, bahwa para romusha itu tidak menderita meningitis melainkan terkena tetanus. Pemeriksaan tusuk tulang belakang terhadap belasan pasien pun mendapatkan hasil negatif.

Menurut Bahder dalam buku itu, penjaga kamp mengakui bahwa sepekan sebelumnya para romusha yang terkena tetanus itu semuanya mendapatkan suntikan vaksin tifus-kolera-disentri buatan Institut Pasteur Bandung yang telah berganti nama menjadi Bo’eki Kenkyujo. "Kami ditunjukkan sederetan botol-botol kosong yang masih ada mereknya," tulis Bahder dalam Drama Kedokteran Terbesar. Kemudian Bahder berinisiatif membawa sekitar 90 pasien untuk dirawat di RSUP dan diberi suntikan serum antitetanus. Namun tak satu pun tertolong.

Upaya Bahder mengungkap apa yang sebenarnya terjadi akhirnya pupus karena Jepang menyatakan kamp Klender tertutup bagi sipil. Permintaan untuk mengirim pasien-pasien yang tersisa ke RSUP pun ditolak Jepang. Juga permintaan mengirim botol-botol kosong vaksin TCD untuk diperiksa lebih lanjut tidak diindahkan. Kenpeitai mengarahkan kesalahan kepada Laboratorium Eijkman, tempat vaksin TCD itu tersimpan. Beberapa pekan kemudian terjadilah sejumlah penangkapan. Dua dokter yang melakukan penyuntikan atas perintah Jepang, yakni Marah Achmad Arif dan Soeleiman Siregar, juga tewas dalam pemeriksaan dengan siksaan yang keji.

Kenyataan bahwa vaksin dibuat di Institut Pasteur tidak terbantahkan. Yang masih menjadi spekulasi adalah yang disuntikkan kepada para romusha itu apakah vaksin TCD yang tercemar toksin tetanus, vaksin tetanus yang diuji coba, atau justru toksin tetanus dosis tinggi. Aiko Kurasawa, sejarawan dan penulis buku Kuasa Jepang di Jawa: Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-1945, mengatakan ada kemungkinan Jepang meneruskan eksperimen Belanda membuat vaksin tetanus di Institut Pasteur. Dia merujuk pada karangan Louis Otten dan I Ph Hennemann yang berjudul "De Gecombineerde Immunisatie tegen tetanus" dalam jurnal Geneeskundig Tjidschrift voor NI (1949), pada akhir zaman Belanda, Jepang di Bo’eki Kenkyujo (Institut Pasteur) mengadakan eksperimen untuk imunisasi vaksin tetanus dengan campur vaksin penyakit lain.

"Saya yakin Jepang menganggap vaksin tetanus mereka sudah aman. Jadi mereka sendiri sangat bingung melihat akibatnya," ujar Aiko menjawab pertanyaan Tempo via surat elektronik.

Namun Sangkot dan Baird, penulis buku War Crimes in Japan-Occupied Indonesia, memiliki spekulasi lain. Seperti ditulis dalam buku itu, vaksin yang dipakai untuk menyuntik para romusha di kamp Klender itu bukan vaksin gagal tapi justru vaksin dalam dosis yang sangat tinggi. "Kalau vaksin gagal, orang yang disuntik itu akan mengalami kejang-kejang tapi tidak mati," ujar Sangkot. "Memang tidak ada bukti tapi kami berspekulasi bahwa eksperimen itu menggunakan vaksin tetanus dengan toksin yang tinggi," kata Sangkot menambahkan.

Kegairahan Bo’eki Kenkyujo memproduksi serum dan vaksin terungkap dalam tulisan Aujke M. Zuidema berjudul "The Serum Case" pada The Encyclopedia of Indonesia in the Pacific War. Setelah pengambilalihan laboratorium itu dari Belanda, Tentara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang mengumumkan perluasan aktivitas laboratorium. Ahli serum mereka yang terkenal, Kikuo Kurauchi, pada Mei 1944 mengumumkan lembaganya akan memasok serum dan vaksin untuk seantero Kekaisaran Jepang bagian selatan. Sebagai konsekuensi, jumlah karyawannya pun berlipat-lipat, saat itu ada 23 anggota staf Jepang dan 335 anggota staf Indonesia. Di surat kabar Tjahaja edisi 25 Agustus 1943, muncul iklan lowongan pekerjaan mantri laboran. Juga ada iklan yang membutuhkan ribuan hewan percobaan seperti kelinci yang hendak dibeli.

Sayangnya, PT Bio Farma, yang menjadi ahli waris Institut Pasteur, tidak mempunyai catatan dan dokumentasi tentang sejarah perusahaan itu pada zaman Jepang. Menurut Head of Corporate Communication Department Bio Farma N. Nurlaela, pihaknya tidak mengetahui ihwal aktivitas pembuatan serum dan vaksin yang terjadi di sana pada masa Jepang. "Kalau (catatan dan dokumen pada) zaman Belanda banyak," kata dia saat ditemui di kantornya, pertengahan Juni lalu.

***
PENELITIAN terhadap Mochtar sebagai pelaku tindak kriminal seperti dituduhkan Jepang itu tidak pernah secara resmi dilakukan pemerintah Indonesia. Status Mochtar sampai kini tetap menjadi pelaku pembunuhan massal terhadap bangsa sendiri. Namun, pada 1972, melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 037/TK/Tahun 1972, Mochtar dianugerahi bintang tanda jasa kelas 3 (Bintang Jasa Nararya). Penganugerahan itu sebagai penghargaan atas kesetiaan dan jasa-jasanya yang besar terhadap negara dan bangsa, khususnya dalam bidang kesehatan. Tidak ada keterangan apakah pemberian bintang jasa atas usul Menteri Kesehatan pada 1970 dan 1972 ini sekaligus upaya merehabilitasi nama Mochtar.

Di Bukittinggi, Sumatera Barat, penghargaan terhadap Mochtar diwujudkan dengan menamai rumah sakit umum dengan nama Mochtar. Sebelumnya, rumah sakit yang berada di Jalan Dr A. Rivai itu bernama Rumah Sakit Umum Bukittinggi Klas C. Gubernur Sumatera Barat Azwar Anas mengusulkan pergantian nama kepada Menteri Kesehatan, yang disetujui melalui surat keputusan tertanggal 13 Oktober 1981. Di depan gedung utama rumah sakit dengan 306 tempat tidur itu terdapat patung putih Mochtar dengan tangan kanan menunjuk ke depan dan tangan kiri mengapit buku.

DODY HIDAYAT | ERWIN Z PRIMA | ANDRI EL FARUQI (BONJOL) | YUKE MAYARATIH (BELANDA) | ANWAR SISWADI (BANDUNG)

Jejak Keparat
Unit 731
Unit 731, salah satu laboratorium tempat uji coba senjata biologi dan kimia milik Tentara Kekaisaran Jepang, kini di Tokyo menjadi museum. Unit 731 ini yang cabangnya dulu kemungkinan didirikan di Indonesia
Scroll
Achmad Mochtar (kacamata) dan Chairil Anwar Mochtar. Dok Baheramsjah Mochtar

Jejak Keparat Unit 731

Unit 731, salah satu laboratorium tempat uji coba senjata biologi dan kimia milik Tentara Kekaisaran Jepang, kini di Tokyo menjadi museum. Unit 731 ini yang cabangnya dulu kemungkinan didirikan di Indonesia

DI Kota Kawasaki, sebelah selatan Tokyo, terselip di antara gedung-gedung Universitas Meiji kampus Ikuta, terdapat satu bangunan kecil yang pernah berperan penting pada masa Perang Dunia II. Dikenal dengan nama Laboratorium Noborito, gedung ini dulu dikelola oleh Lembaga Riset Pencegahan Epidemi Tentara Kekaisaran Jepang. Kantor pusat lembaga ini dulunya terletak di sebelah selatan kampus Universitas Waseda di Shinjuku.

Noborito merupakan salah satu laboratorium penelitian yang dimiliki oleh Tentara Kekaisaran Jepang dan berfungsi sebagai lembaga penelitian yang terfokus pada riset dan pengembangan senjata biologi dan kimia. Karena sifatnya yang sangat rahasia, tidak banyak informasi yang keluar tentang kegiatan yang dilakukan di lembaga penelitian yang terpencil di atas bukit ini.

Namun, setelah Universitas Meiji membeli kawasan ini dan membangun kampus fakultas pertanian di sana, secara perlahan informasi dan data tentang laboratorium penelitian militer ini terkuak. Saat ini, Universitas Meiji menjadikan salah satu bekas bangunan laboratorium itu sebagai museum yang menyimpan data penting tentang kegiatan Tentara Kekaisaran Jepang dalam Perang Dunia II yang belum banyak terungkap.

Tempo berkesempatan mengunjungi museum itu pada Mei lalu, dan menyaksikan beberapa koleksi museum yang berkaitan dengan aktivitas laboratorium. Misalnya, diperagakan peralatan pemurnian air yang pernah dipakai di Distrik Pingfang, Manchuria; juga informasi tentang percobaan balon udara pembawa kuman yang dikirim ke Amerika Serikat; pameran bermacam peralatan spionase yang mengandung racun; serta beragam eksperimen yang memanfaatkan bisa ular.

“Museum ini dibuka untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat bahwa, pada masa perang, Jepang pernah terlibat penelitian senjata biologi dan kimia. Diharapkan kegiatan itu tidak lagi jadi rahasia dan publik bisa mempelajarinya,” ujar perempuan muda petugas Museum Noborito di bagian informasi.

Laboratorium Noborito bukan satu-satunya tempat uji coba senjata biologi dan kimia milik tentara kekaisaran. Pada 1980, seorang sejawaran bernama Seiichi Morimura menulis novel berjudul The Devil’s Gluttony berdasarkan kesaksian yang ia dapat tentang riset senjata biologi Jepang pada masa Perang Dunia II. Buku tersebut mengungkap kegiatan Unit 731, salah satu fasilitas penelitian terbesar yang dikelola oleh Tentara Kekaisaran Jepang.

Dalam novel itu Morimura menggambarkan kemampuan militer Jepang dalam riset dan percobaan senjata biologi dan kimia yang setara dengan apa yang dilakukan oleh rezim Nazi Jerman dan militer Uni Soviet. Buku itu kemudian menjadi perdebatan karena Morimura mengungkapkan informasi mengejutkan bahwa Unit 731 melakukan percobaan langsung kepada manusia dan hewan untuk menguji prototipe senjata biologi.

Unit 731 (Nana-San-Ichi Butai) awalnya bernama Boueki Kyuusuibu (Unit Pencegahan Epidemi dan Pemurnian Air). Unit ini dipimpin oleh Shiro Ishii, dokter militer Jepang yang sangat ambisius. Awalnya unit ini ada di Tokyo sebagai bagian dari Lembaga Riset Pencegahan Epidemi Tentara Kekaisaran Jepang. Baru pada 1932, setelah Jepang menduduki Manchuria, Boueki Kyuusuibu dipindah ke Manchuria. Pusat kegiatan Unit 731 terletak di daerah pedalaman Manchuria.

Selain di Cina, Unit 731 mendirikan stasiun penelitian di Singapura dan kemungkinan di Thailand dan Indonesia. Meskipun secara resmi dikatakan tugas utama Unit 731 ini adalah untuk mengelola kebutuhan air bersih dan kesehatan anggota militer Jepang di wilayah pendudukan, di kawasan seluas 144 hektare itu ternyata Shiro Ishii dan Unit 731 melakukan pengembangan dan uji coba senjata biologi dan kimia.

Sejarawan Amerika, Sheldon Harris, mengungkapkan hal yang lebih menyeramkan yang diperolehnya dari kesaksian Jenderal Otozoo Yamada, Letnan Jenderal Ryuji Kajitsuka, dan Letnan Jenderal Takaatsu Takashi, yang ada di antara arsip tahanan perang Uni Soviet. Dari kesaksian itu diperoleh pengakuan bahwa ilmuwan di Unit 731 melakukan percobaan terhadap manusia dan hewan secara langsung dan secara tak langsung melalui air atau tanaman yang sengaja mereka racuni.

Shiro Ishii adalah tokoh kunci di belakang Unit 731. Ishii lulus sekolah kedokteran Universitas Kekaisaran Kyoto pada 1920. Setelah lulus, ia langsung bergabung dengan Tentara Kekaisaran Jepang. Didukung oleh kepandaiannya melayani atasan, karier militer Ishii langsung naik. Pada 1924 ia dikirim kembali ke almamaternya untuk mengambil spesialisasi bakteriologi, serologi, patologi, dan pencegahan penyakit. Gelar doktor bidang mikrobiologi diraihnya pada akhir 1926 atau awal 1927.

Meskipun awalnya militer tidak tertarik pada usulan Ishii tentang pengembangan senjata biologi, setelah lulus, Ishii meneruskan minatnya dalam riset senjata biologi. Pada 1928 ia mengunjungi Eropa, Amerika, dan Asia Tenggara untuk memperdalam pengetahuan tentang perang biologi dan kimia. Setelah dua tahun berkeliling ke beberapa negara, Ishii kembali ke Jepang dan langsung menemukan perubahan sikap militer Jepang yang mulai menganggap penting senjata biologi. Dengan dukungan pejabat tinggi militer, Ishii mendirikan Laboratorium Riset Pencegahan Epidemi.

Di laboratorium tersebut Ishii ingin mengembangkan dua jenis senjata biologi, yaitu Tipe A (fungsi penyerangan) dan Tipe B (fungsi pertahanan). Namun ia tak bisa menguji coba lapangan karena orang Jepang sendiri bisa terkena dampak langsung percobaan itu. Saat Jepang berhasil menduduki Manchuria, Ishii melihat kesempatan yang terbuka lebar untuk menguji hasil laboratorium di lapangan. Secepatnya ia minta ditugaskan ke Manchuria serta mendirikan stasiun yang dinamakan Pabrik Beiyinhe.

Di Beiyinhe, Ishii mulai menguji bakteri kolera yang dijadikan senjata biologi. Dukungan politik dan dana yang besar memungkinkan Ishii memperluas cakupan risetnya dengan mendirikan kompleks laboratorium yang lebih besar di Distrik Pingfang, Manchuria. Setelah pembangunan fasilitas laboratorium di Pingfang selesai pada 1939, seluruh aktivitas Unit 731 dipusatkan di tempat ini.

Berdasarkan kesaksian mantan pekerja dan peneliti di Unit 731 yang menjadi dasar penyelidikan Sheldon Harris dan sejarawan Hal Gould, terungkap bahwa Ishii dan peneliti di Unit 731 melakukan percobaan terhadap manusia. Percobaan itu diberi kode maruta (balok kayu), yang menguji teknologi pengantar yang paling efektif untuk menyebarkan kuman antraks, tifus, paratifus, disentri, dan kolera dalam skala yang sangat luas. Unit 731 juga melakukan percobaan untuk menguji beragam reaksi tubuh manusia dan hewan apabila terpapar pada virus dan bakteri yang mematikan.

Untuk melakukan percobaan itu, Unit 731 membangun fasilitas pengembangbiakan bakteri yang sangat besar dan fasilitas pembuatan prototipe bom bakteri. Manusia yang dijadikan sarana percobaan ini diambil dari tawanan perang, orang Cina yang dituduh sebagai penjahat dan mata-mata. Ishii berhasil meyakinkan petinggi militer bahwa percobaan terhadap manusia dan hewan ini penting dan harus dilakukan untuk mempersiapkan dan memperkuat daya tahan tentara Jepang.

Militer Jepang bukan satu-satunya yang melakukan percobaan senjata biologi dan kimia pada masa Perang Dunia II. Jerman, Inggris, Amerika, dan Uni Soviet juga memanfaatkan bakteri, kuman, virus, dan cairan kimia untuk membuat prototipe senjata. Namun kegiatan Unit 731 menjadi persoalan berbeda karena pada 1933 Jepang menarik diri dari keanggotaan Liga Bangsa-Bangsa, sehingga segala bentuk riset dan percobaan yang dilakukan Shiro Ishii dan Unit 731 tidak lagi tunduk kepada Protokol Jenewa.

Dalam situasi bebas semacam ini, penelitian dan percobaan yang dilakukan oleh Unit 731 di Manchuria maupun oleh cabang Unit 731 di Asia Tenggara dalam bidang biokimia dan medis langsung dimanfaatkan oleh Tentara Kekaisaran Jepang untuk mendukung aktivitas mereka di daerah pendudukan. Tragedi serum tetanus di Klender dan Surabaya patut diduga terkait dengan program sains dan teknologi yang dikelola oleh Lembaga Penelitian Tentara Kekaisaran Jepang. Untuk membuktikan atau menyangkal dugaan itu, pengungkapan sumber sejarah yang dapat dipercayai sangat diperlukan.

FADJAR I THUFAIL (JEPANG)

Tragedi Romusha Klender dan
Misteri Shigeru Matsui
Oleh: Aiko Kurasawa
Rumah Sakit Achmad Mochtar.

Tragedi Romusha Klender dan Misteri Shigeru Matsui

Oleh: Aiko Kurasawa

PPADA 26 Januari 1948, di Tokyo terjadi perampokan Bank Teigin (Teikoku Ginko) cabang Shiinamachi, Toshima, yang menewaskan 12 karyawan. Pelaku masuk ke bank dan mengaku sebagai ahli medis dari Kantor Kesehatan Kota Tokyo bernama Shigeru Matsui. Dia mengatakan hendak melakukan sterilisasi penyakit menular karena telah ditemukan seorang warga yang terjangkit tifus. Di Jepang tifus tergolong berbahaya dan penderitanya harus diisolasi. Matsui mengambil obat cair dari dalam botol dan menyuruh semua karyawan meminumnya. Cara dia memakai pipet sangat lancar dan kelihatan berpengalaman. Dia sendiri minum terlebih dulu, lalu 16 karyawan bank mengikuti. Tak berselang lama, semua yang minum mulai merasa sakit dan 12 orang di antaranya kemudian tewas. Matsui lalu mengambil semua uang di kasir dan melarikan diri.

Mula-mula polisi mencurigai pelaku mestilah orang yang paham betul kefarmasian. Shigeru Matsui, yang namanya dipakai si pelaku, adalah nama seseorang yang memang betul ada. Tapi Shigeru Matsui tidak mungkin menjadi pelaku perampokan dan pembunuhan di Bank Teigin itu. Polisi menyangka pelakunya salah satu orang dekatnya. Dari memorandum (catatan) seorang detektif (polisi) yang masih tersimpan, diketahui bahwa tim reserse mencurigai keterlibatan bekas anggota Unit 731, unit riset dan pengembangan senjata biologi dan kimia milik angkatan bersenjata Jepang. Letnan Jenderal Shiro Ishii, Direktur Unit 731, juga berpendapat bahwa pelakunya kemungkinan besar seorang ahli medis tentara Jepang.

Namun, entah apa yang terjadi, akhirnya yang ditangkap dan dijadikan tersangka adalah seorang pelukis uang bernama Sadamichi Hirasawa. Alasannya, dia kebetulan menyimpan kartu nama Shigeru Matsui. Menurut keterangan Matsui, dirinya pernah bertukar kartu nama dengan Hirasawa ketika bertemu di kapal yang menyeberang ke Hokkaido, dan kesaksian ini menjadi dasar penangkapan Hirasawa. Dia dituduh menggunakan kartu nama itu untuk mengaku sebagai Shigeru Matsui. Hirasawa membantah tuduhan itu dan masyarakat juga banyak yang tidak percaya penjelasan versi aparat, tetapi akhirnya dia divonis hukuman mati. Peristiwa ini sampai sekarang merupakan salah satu skandal yang paling misterius di dunia hukum pidana Jepang.

***
MENGAPA saya menerangkan peristiwa ini sebelum menceritakan peristiwa romusha di kamp Klender, Jakarta Timur? Karena riwayat Matsui sangat mengejutkan saya. Ahli medis yang mempunyai gelar PhD ini ternyata pernah ditugaskan ke Indonesia oleh Angkatan Darat selama zaman pendudukan Jepang. Dia mulai bekerja di Singapura pada Desember 1942 lalu pindah ke Bukittingi, Sumatera, pada April 1943. Saya yakin Matsui yang kartu namanya dipakai oleh perampok bank sama dengan orang yang dikirim ke Indonesia karena tulisan kanji yang dipakai untuk nama kecilnya, Shigeru, sangat langka dan persis sama.

Saya sendiri tidak yakin 100 persen tetapi Matsui mengaku pernah menewaskan 200-an orang Indonesia selama di Sumatera dengan memberikan injeksi imunisasi. Dia bermaksud mengimunisasi tetapi terjadi kesalahan dalam memberikan vaksin yang ternyata masih mengandung kuman tetanus. Menambah keterkejutan saya adalah fakta bahwa Shigeru Matsui, sesudah kejadian itu, dipindah ke Institut Pasteur (Bo’eki Kenkyujo) di Bandung pada Juni 1944 sebagai kepala bagian penelitian, dua bulan sebelum peristiwa Klender.

Peristiwa Klender adalah tragedi yang menimpa 478 orang romusha dari Pekalongan dan Semarang. Kamp seperti ini bukan hanya ada di Klender, tapi juga di Kemayoran dan Jalan Kartini, Jakarta Pusat. Selama di kamp, mereka mendapatkan beberapa jenis imunisasi termasuk pes dan campuran tifus-kolera-disentri (TKD). Beberapa hari sesudah imunisasi, ke-478 romusha itu secara bertahap memperlihatkan gejala penyakit tetanus, dan 368 orang di antaranya kemudian meninggal.

Sudah diketahui bahwa vaksin imunisasi yang dipakai dan menewaskan ratusan orang romusha di kamp Klender itu dibuat di Institut Pasteur. Jika merujuk pada kasus di Sumatera, ada kemungkinan pada waktu itu Matsui dan rekan-rekannya sedang berusaha membuat vaksin imunisasi antitetanus. Dalam berbagai pertempuran, banyak prajurit Jepang terkena tetanus. Karena itu pembuatan vaksin antitetanus dibutuhkan.

Di Surabaya, angkatan laut Jepang juga pernah membuat vaksin antitetanus. Sebanyak 17 orang terpidana mati asal Lombok dijadikan kelinci percobaan untuk mengetahui efek vaksin antitetanus itu. Setiap terpidana mati disuntik vaksin antitetanus tiga kali. Sesudah beberapa minggu, untuk mengetahui apakah tubuh mereka sudah kebal terhadap tetanus, disuntikkan toksin tetanus yang masih aktif. Percobaan ini gagal dan sebagai akibatnya 15 dari 17 pesakitan itu tewas.

Fakta bahwa banyak romusha meninggal karena tetanus sesudah diinjeksi vaksin yang dibuat di Institut Pasteur mendorong kami mencurigai bahwa toksin tetanus tercampur ke dalam vaksin antitifus atau antipes. Masalahnya, siapa yang memasukkan itu. Apakah ahli medis Institut Pasteur melaksanakan percobaan hasil temuannya dengan memakai tubuh romusha? Ataukah toksin antitetanus tercampur dengan vaksin antitifus merupakan kesalahan Laboratorium Eijkman, tempat penyimpanan sementara obat yang dikirim dari Bandung itu sebelum dipakai untuk romusha? Ataukah staf Laboratorium Ejikman dengan sengaja mencampurkan toksin antitetanus dengan vaksin antitifus seperti dituduhkan oleh pihak Jepang?

Memang, saya tidak berani memberi jawaban, tetapi hanya bisa mengemukakan beberapa hasil penelitian saya selama 20 tahun ini. Satu hal yang ingin saya jelaskan di sini adalah bahwa tragedi terjadi bukan hanya di Klender tetapi juga di kamp romusha Kemayoran dan Jalan Kartini, meskipun jumlah korbannya relatif kecil. Kejadian di Klender pada Augustus 1944 itu pun bukan tragedi pertama. Sebelum itu, 177 (dari total 561) orang romusha yang sudah dikirim ke Palembang terkena penyakit ini di sana dan 128 di antaranya kemudian meninggal. Lalu 168 (dari total 633) orang yang dikirim ke Borneo terkena penyakit yang sama dan 97 orang meninggal. Juga 45 orang yang sudah dikirim ke Bintan dari kamp Kramat juga terkena tetanus.

***
PADA 6 Augustus 1944, kejadian di kamp romusha Klender dilaporkan ke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP, sekarang Cipto Mangunkusumo) dan dengan segera pasiennya dibawa ke sana dan ditangani oleh beberapa dokter, termasuk guru besar Jepang Prof Kenji Tanaka dari Perguruan Tinggi Kedoktoran Jakarta. Tetapi beberapa hari kemudian dokter sipil dilarang masuk ke kamp romusha dan pemeriksaan dilakukan oleh pihak tentara termasuk Bagian Medis AD (Rikugun Gun’i-bu) dan Unit Pencegahan Penyakit Infeksi dan Perolehan Air Bersih (Unit for Southern Army Epidemic Prevention and Acquisition of Clean Water, Bo’eki Kyusuibu) dari AD. Lalu kejadian itu dirahasiakan dan orang yang bersangkutan dilarang bicara.

Sejalan dengan itu, cerita keterlibatan Laboratorium Eijkman diciptakan oleh Bagian Medis AD ke-16 dan Kenpeitai. Letnan Jenderal Nakamura, dokter AD Jepang dari Epidemic Prevention Unit, menyerahkan laporan rahasia (top secret) yang berjudul “On Deliberate Contamination with Bacteria by Means of Tetanus Germ” pada 8 Desember 1944. Dalam kesimpulannya, dia memutuskan bahwa kepala Laboratorium Eijkman, Prof Ahmad Mochtar, dan rekannya harus bertanggung jawab atas kejadian ini.

Karena kurangnya arsip dan saksi, kita tidak bisa memastikan apa peran Shigeru Matsui dalam Institut Pasteur. Tetapi, dari pengakuan diri sendiri bahwa dia pernah menewaskan 200-an orang Indonesia di Sumatera, kita mencium sesuatu yang mencurigakan. Dan peristiwa perampokan dan pembunuhan di Bank Teigin diduga dimotori oleh salah satu orang yang dulu ikut uji coba obat di medan perang di Asia. Fakta bahwa penyelidikan (pengusutan) terhadap mereka dibatalkan di tengah jalan dengan menciptakan kambing hitam seorang pelukis juga menambah kegelapan peristiwa ini.

* Profesor Emeritus Universitas Keio, Tokyo, Jepang

Sekiranya Mochtar
Tak Dipancung...
SANGKOT MARZUKI
Rumah Achmad Mochtar.

SANGKOT MARZUKI

Sekiranya Mochtar Tak Dipancung...

JEPANG berusaha melindungi pasukan mereka dari ancaman tetanus. Dan mereka menggunakan 900 romusha di Kamp penampungan di Klender, Jakarta Timur, sebagai kelinci percobaan untuk menguji vaksin buatan mereka. Dalam beberapa hari, ratusan romusha menderita dan meninggal akibat tetanus akut. Namun, ketika Sekutu di ambang kemenangan, Jepang membutuhkan kambing hitam atas kejadian ini. Mereka secara brutal menyiksa Achmad Mochtar, ilmuwan Indonesia terkemuka, bersama rekan-rekannya di Lembaga Eijkman di Batavia, hingga Mochtar menandatangani pengakuan atas pembunuhan massal yang tidak dilakukannya.

Pengakuan itu dipilih Mochtar untuk menukar nyawanya dengan kebebasan sejawatnya sesama ilmuwan. Jepang memancung Mochtar beberapa minggu sebelum perang berakhir. Buku War Crimes in Japan-Occupied Indonesia: A Case of Murder by Medicine karya Sangkot Marzuki dan J. Kevin Baird ini membongkar peristiwa tragis itu. Kevin Baird adalah direktur Unit Riset Eijkman-Oxford di Jakarta, sedangkan Sangkot Marzuki kini adalah Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia dan Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman periode 1992-2014. Dody Hidayat dan Erwin Zachri dari Tempo mewawancarai Sangkot sebelum peluncuran buku ini di Jakarta.

Apa alasan menulis buku ini?
Awalnya personal. Sewaktu dipanggil Menteri Riset dan Teknologi B.J. Habibie pada 1990 untuk menjadi Direktur Lembaga Eijkman, ibu saya--Putir Chairani Siregar (masih sanak dari Sanusi, Armjn, dan Lafran Pane)--memberikan sebuah buku karangan Mohammad Ali Hanafiah: Drama Kedokteran Terbesar. Dari situ saya tahu perihal Achmad Mochar. Sejak itu ada keinginan suatu waktu namanya harus dibersihkan. Di buku War Crimes in Japan-Occupied Indonesia ini saya ambil sebagian dari buku Drama Kedokteran Terbesar itu. Sekarang rasanya lebih baik ditulis kembali, karena ada masukan dari Dr Marzoeki dan dari Bahder Johan yang bagus sekali.

Berhasil mendapatkan kesaksian Marzoeki?
Ada. Jadi, begitu dia keluar dari tahanan pada 18 Agustus 1945, Marzoeki langsung menulis dengan tulis tangan untuk mengeluarkan unek-uneknya dan pengalaman di penjara. Di situ ada daftar siksaan yang dilakukan Kenpeitai. Itu menarik karena siksaan itu mirip yang dilakukan Amerika Serikat di Guantanamo.

Mengapa Mochtar yang dijadikan kambing hitam oleh Jepang?
Pencarian vaksin antitetanus sudah menjadi kebijakan Angkatan Bersenjata Kekaisaran Jepang karena sebentar lagi mereka akan menghadapi perang. Dalam pikiran mereka peperangan itu adalah head to head. Jadi, musuh utamanya adalah tetanus. Dugaan kami, Mochtar terlalu banyak tahu, mungkin dari apa yang dia dengar selama interogasi. Kalau tidak, mustahil dia disimpan sampai hampir enam bulan. Pemeriksaan kasusnya kan selesai pada Januari 1945, lalu semua anak buahnya yang ditahan dilepas. Jadi, di situlah--mungkin pada akhir Desember 1944--dia menandatangani pernyataan pengakuan tersebut. Jepang sudah tahu akan kalah pada 4 Juli, maka Mochtar harus mati.

Kapan mulai menulis buku ini?
Saya menulis tidak fokus. Tiga tahun lalu, sewaktu kami mengirim banyak pelajar ke luar untuk mengambil PhD, ada pelajar yang ke Oxford University, dan Kevin, yang jadi supervisor, menyuruh menulis esai tentang Lembaga Eijkman. Anak itu datang kepada saya dan saya kasih buku Hanafiah itu. Kevin lalu membacanya, ternyata klik. Kevin sangat merasa tidak nyaman dengan kejadian itu. Sebagai bagian dari Eijkman-Oxford Unit, dia bertanya kepada saya, lalu saya bercerita. Kami kemudian ke Latifah Kodijat-Marzoeki, anak Dr Marzoeki. Kevin akhirnya yang lebih kerasukan. Kami selesaikan penulisan buku ini dalam dua-tiga tahun, walaupun draf pertama selama enam bulan.

Apakah ada kaitan antara Unit 731 dan insiden serum di Klender?
Dari buku karangan Peter Williams dan David Wallace, Unit 731: Japan’s Secret Biological Warfare in World War II, disebutkan bahwa ada cabang Unit 731 di Bandung. Kedua penulis itu mengatakan melihat film dokumenter 16 milimeter yang memperlihatkan kunjungan pimpinan Unit 731 Shiro Ishii ke Singapura dan Bandung pada 1943. Kami cari film dokumenter itu tapi tidak ketemu. Di Bandung pertanyaannya di mana? Kita ketahui di Bandung ada Institut Pasteur yang dikuasai Jepang dan berganti nama menjadi Bo’eki Kenkyujo. Kalau bisa melihat film dokumenter itu pasti bisa diidentifikasi lokasinya di Bandung.

Lembaga Eijkman itu memang bertugas memberi vaksin?
Bukan Lembaga Eijkman yang melakukan penyuntikan vaksin melainkan dokter Sulaiman Siregar dari RSUP (kini Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) dan dokter Achmad Arif dari Djawatan Kesehatan Kota. Mereka berdua disuruh ke sana, tidak bawa apa-apa. Vaksinnya datang dari Institut Pasteur yang disimpan di cold room Lembaga Eijkman sebelum dibawa ke Klender. Baik Arif maupun Sulaeman meninggal saat diinterogasi Kenpeitai.

Bagaimana status Achmad Mochtar sekarang?
Dia itu kalau dibilang tidak direhabilitasi tidak juga, karena diberi bintang jasa kelas 3 oleh Pak Harto. Menurut saya, dia lebih dari itu. Dia pemimpin Lembaga Eijkman, dia pembantu rektor di Ika Daigaku (sekolah kedokteran), orang Indonesia tertinggi di situ. Sebelum Jepang masuk, Eijkman sedang berada di puncak, 1938-1940, dan Mochtar menikmati puncaknya. Bahwa dia jadi Direktur Eijkman itu logis. Dia orang kedua saat itu, kepala laboratorium bakteri. Jadi, begitu Willem Karel Mertens (Direktur Eijkman) ditangkap, dia yang naik.

Secara kelembagaan, apa pengaruh kasus ini?
Bukan hanya bagi Lembaga Eijkman. Saya berpikir, kalau sekiranya Mochtar tidak dipancung, mungkin Lembaga Eijkman tidak mati. Mungkin ilmu pengetahuan Indonesia tidak habis begini....

Apa harapan dengan terbitnya buku ini?
Saya dan Kevin lebih berharap masyarakat umum memberi pengakuan. Kalau hal itu membuka jalan untuk pemberian penghargaan yang lebih tinggi daripada bintang jasa, itu lebih baik.