Asian Para Games 2018

Bertanding Melampaui Keterbatasan

Bagaimana cara berenang dengan hanya mengandalkan tangan? Atau berlari dengan kaki yang agak timpang? Dua atlet ini membuktikan, keterbatasan fisik bukanlah halangan untuk berkompetisi.

Suasana Stadion Gelora Bung Karno sebelum digelar upacara pembukaan Asian Games ke-18 tahun 2018 di Senayan, Jakarta, 18 Agustus 2018.[TEMPO/Fakhri Hermansyah]

Ajang olahraga bukan hanya tempat orang-orang dengan kondisi tubuh normal. Komite Olimpiade Asia, misalnya, telah mengadakan kompetisi untuk orang-orang difabel se-Asia sejak 2010 di Guangzhou. Namanya Asian Para Games. Ajang ini diadakan dua pekan setelah Asian Games Guangzhou 2010 berakhir. Sejak itu, Asian Para Games selalu dilaksanakan beberapa pekan setelah Asian Games.

Tahun ini, Asian Para Games diadakan di Jakarta pada 8-16 Oktober 2018. Sebanyak 2.831 atlet dari 43 negara terlibat di dalamnya. Ada 18 cabang olahraga yang dipertandingkan dengan 546 nomor.

Jumlah nomor di Asian Para Games banyak karena kompetisi ini terdiri dari berbagai kategori berdasarkan keterbatasan fisik atlet. Ini untuk memastikan kompetisi berlangsung dengan adil.

Keterbatasan-keterbatasan itu dikategorikan ke dalam kode-kode. Setiap cabang olahraga punya kategorinya sendiri-sendiri. Contohnya, di olahraga renang, ada kode S, SB, dan SM. Yang pertama untuk gaya bebas, kupu-kupu, dan gaya punggung. Yang kedua gaya dada. Yang terakhir gaya ganti perorangan. Kode-kode huruf itu kemudian diberi angka yang menunjukkan derajat keterbatasan.

Misalnya, S3, SB2, dan SM3. Yang bertanding di klasifikasi ini adalah atlet yang kedua tangan dan kakinya teramputasi. Si perenang bisa menggunakan lengannya, tapi tapi tidak bisa menggunakan kakinya. Selain itu, perenang dengan masalah koordinasi di tangan dan kakinya masuk dalam kategori ini.

Laura Aurelia Dinda Sekar Devanti, 19 tahun, dan Sapto Yogo Pratomo, 20 tahun, adalah dua dari sekitar 300 atlet Indonesia yang akan berlaga di Asian Para Games 2018. Prestasi mereka di kancah para games internasional membuat keduanya kini menjadi andalan Indonesia. Simak kisah dua atlet ini. Klik tanda panah di dalam gambar untuk membaca cerita lengkapnya.

Laura Aurelia Dinda

Perenang

Sapto Yogo Pratomo

Pelari

Laura Dinda, atlet renang Asian Para Games 2018, berpose saat berlatih di kolam renang Tirta Bhirawa Yudha, Kartosuro, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis, 20 September 2018. [TEMPO/Bram Selo Agung]

Laura Aurelia Dinda Sekar Devanti menekuni olahraga renang sejak duduk di kelas 3 sekolah dasar. Gadis kelahiran 22 September 1999 jatuh cinta pada olahraga renang dan memutuskan menjadi atlet. Namun, musibah terjadi saat ia sedang mempersiapkan diri mengikuti Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) di Semarang pada 2015.

Sehari sebelum pertandingan, Laura jatuh terduduk di kamar mandi. Saat itu, ia merasa tidak ada yang salah dengan tubuhnya. Bahkan Laura tetap mengikuti pertandingan. “Saya masih beraktivitas normal,” ujar Laura kepada Dinda Leo Listy dari Tempo, Kamis, 20 September 2018.

Laura menyadari ada yang tidak beres baru sebulan setelah jatuh. Suatu kali, ia sedang membungkuk dalam posisi cium lutut. Lalu dia mendengar bunyi “krek”. Sejak itu, Laura tak bisa bergerak lagi.

Dokter menyatakan tulang punggungnya remuk. Walhasil, alumnus SMA Negeri 1 Solo yang pernah menyandang gelar sebagai perenang terbaik tingkat SMA di Kota Solo itu musti mengenakan semacam alat penyangga tulang punggung yang tertanam di dalam tubuhnya.

Sejak saat itu, fungsi tubuh bagian bawahnya menurun drastis. Ia harus menggunakan kursi roda untuk beraktivitas. Laura sempat depresi dan ingin bunuh diri. Tapi berkat dukungan orang tua, teman-teman, dan pelatihnya, Laura kembali bangkit dan melanjutkan perjalanannya sebagai atlet renang. Dia bergabung sebagai atlet difabel di National Paralympic Committee of Indonesia (NPCI) pada 2016.

Dalam laga perdananya sebagai atlet para renang, Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XV/2016 Jawa Barat, Laura langsung menyabet satu medali perak. Laura semakin menunjukkan taringnya saat menyabet dua medali emas di ASEAN Para Games 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia.

Di Asian Para Games 2018, Laura akan turun di enam nomor, yaitu 50 meter gaya bebas, 100 meter gaya bebas, 50 meter gaya punggung, 200 meter gaya bebas, 200 meter gaya ganti, dan estafet, dengan kategori S6. “Persiapan sudah maksimal. Fasilitas dari pemerintah juga sudah bagus. Semoga saya bisa memberikan yang terbaik,” kata mahasiswa semester tiga jurusan Psikologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu.

Pelari cerebal palsy Jateng Sapto Yogo Purnomo (kanan) memasuki garis finish dalam final nomor 200 meter klasifikasi T38 putra Peparnas XV di Gelora Bandung Lautan Api, Bandung, Jawa Barat, Rabu (19/10). [ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan]

Sapto Yogo Pratomo mengalami cerebral palsy sejak berumur tiga bulan. Ini adalah gangguan gerakan, otot, atau postur yang disebabkan cedera atau gangguan saat otak sedang berkembang. Sapto mengalaminya karena saat masih berumur tiga bulan itu ia mengalami panas tinggi hingga kejang-kejang. “Akibatnya jadi begini,” kata Sapto kepada Dinda Leo Listy dari Tempo, sambil menunjukkan lengan dan jemari kanannya yang agak menekuk serta kaki kanannya yang timpang saat berjalan.

Sapto baru menyadari tubuhnya berbeda dengan teman-temannya setelah masuk sekolah dasar. “Saat masih TK rasanya biasa saja,” kata dia.

Masa-masa terberat sebagai penyandang disabilitas baru dia rasakan setelah masuk sekolah menengah pertama. “Di SMP saya mulai ramai di-bully. Ada yang bilang saya tidak normal sebelah, dan lain-lain,” kata putra kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Tulusno dan Umiyati itu.

Tidak betah dengan bermacam perundungan secara verbal, seperti gunjingan, olok-olokan, hingga cacian, Sapto terpaksa sering membolos sekolah. “Guru sampai sering datang ke rumah. Orang tua juga terus menyemangati agar saya tetap mau bersekolah,” kata Sapto.

Setelah lulus SMP, Sapto mulai merasa nyaman bersekolah di SMK Muhammadiyah 2 Ajibarang karena tidak pernah lagi dirisak teman-temannya. Di SMK itu pula Sapto mulai mengasah bakatnya sebagai atlet, khususnya di nomor lari jarak pendek dan lompat jauh.

Di awal kariernya sebagai pelari, Sapto langsung meraih prestasi yang gemilang. Mewakili Jawa Tengah dalam Pekan Paralimpik Nasional XV/2016 Jawa Barat, Sapto—yang saat itu masih kelas II SMK—berhasil meraih lima medali emas dari lima nomor pertandingan yang diikutinya, yaitu lari 100 meter, lari 200 meter, lari estafet 4 x 100 meter, lari estafet 4 x 400 meter, dan lompat jauh.

Sejak itulah Sapto dirangkul National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) mengikuti pelatnas untuk ASEAN Para Games IX Malaysia 2017. Meski baru sekali itu berlaga dalam kompetisi tingkat internasional, Sapto langsung meraih dua medali emas dari nomor lari 100 meter dan 200 meter serta perak dari lompat jauh.

Dalam Asian Para Games 2018, Sapto akan mengikuti tiga nomor lari, yaitu 100 meter, 200 meter, dan 400 meter. Di nomor ini, dia akan tampil di kelas T37 untuk atlet yang punya gangguan fungsional pada tangan dan kaki. “Meski lawannya lebih berat, saya optimistis dapat memberikan yang terbaik,” kata pemuda yang baru merayakan ulang tahun ke-20 pada 17 September 2018 lalu.