Eksplorasi Museum MACAN & Museum E.Z. Halim

Ikuti tur virtual museum pribadi di Indonesia.

Dokumentasi Museum MACAN

Begin

SUDAH lima bulan pengusaha Haryanto Adikoesoemo meresmikan Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN) di Jakarta. Museum seni rupa ini ternyata banyak menarik minat anak muda berkunjung. Mereka dapat bertemu dengan teman serta ber-selfie-ria di depan karya-karya dunia

Usaha kolektor seni rupa membuka museum juga dilakukan pengusaha E.Z. Halim, yang mendirikan E.Z. Halim Art Museum (EZHAM) di Bogor, Jawa Barat. Di museum ini, koleksi dan fasilitasnya memang tak semewah dan seinternasional di Museum MACAN. Tapi koleksinya cukup berarti karena minatnya khusus. Meski belum dibuka untuk publik, museum ini bisa dikunjungi dengan perjanjian.

Instruksi: Halaman ini mempunyai tampilan gambar 360 derajat. Tiap kotak adalah sebuah area di Museum MACAN dan EZHAM. Jika Anda melihat halaman ini melalui komputer, klik sebuah titik, tahan, dan geser tetikus atau jari Anda untuk melihat ruangan dari berbagai sudut. Jika Anda melihat halaman ini melalui telepon seluler, cukup gerakkan gawai Anda ke berbagai arah. Jika Anda ingin membaca kisah selengkapnya di Majalah Tempo klik disini.

Museum MACAN

Pameran pertama Museum MACAN terdiri dari enam bagian yang menampilkan perjalanan seni rupa Indonesia dan dunia.

Bumi, Kampung Halaman,
Manusia

Karya seniman di era kolonial Indonesia.

Kemerdekaan dan Setelahnya

Koleksi karya nasionalis dari periode setelah Perang Dunia II hingga masa Kemerdekaan Indonesia.

Pergulatan Bentuk dan Isi

Kumpulan karya periode 1960 dan 1970, ketika seniman Indonesia sedang mengalami pergulatan identitas artistik.

Racikan Global: Setelah Orde Baru Runtuh

Karya seniman Indonesia di dunia internasional pasca reformasi.

Infinity Mirrored Room, Halusinasi Tak Terbatas

Instalasi ciptaan Yayoi Kusama, karya terpopuler Museum MACAN.

Racikan Global: Perayaan Individualisme

Koleksi seniman dunia yang mencerminkan tren pasar seni kontemporer.

EZHAM

Pemilik museum, pengusaha E.Z. Halim, suka mengumpulkan karya seniman Sanggar Bumi Tarung yang berafiliasi dengan Lekra pada 1960-an.

Kebakaran Hutan

Karya Amrus Natalsya yang dramatis menyambut tamu di pintu depan.

Polusi

Ruang ini menampilkan kritik seniman Amrus Natalsya terhadap pencemaran laut.

Tenggelamkan!

Observasi laut menurut mantan seniman Lekra.