Selamat Malam, Pagi...
Gerhana matahari total menyapu dari pesisir barat hingga timur Indonesia. Hari yang baru memasuki pagi kembali gelap-gulita. Jadi obyek riset sekaligus wisata besar-besaran. Sejumlah daerah, layaknya merayakan ulang tahun kota, menggelar pesta.
Scroll
Wisatawan asing saat gerhana matahari total di Tanjung Kodok, Jawa Timur, 1983. Dok.TEMPO/Ilham Soenharjo
Scroll

Pesta Gerhana

Gerhana matahari total menyapu dari pesisir barat hingga timur Indonesia. Hari yang baru memasuki pagi kembali gelap-gulita. Jadi obyek riset sekaligus wisata besar-besaran. Sejumlah daerah, layaknya merayakan ulang tahun kota, menggelar pesta.

TTIM peneliti sibuk mengemasi teleskop dalam kardus-kardus besar di ruang rapat Bidang Program dan Fasilitas Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan) Bandung, Senin tiga pekan lalu. Mereka bakal mempelajari dan mengabadikan citra bintang yang bertebaran di sekeliling piringan matahari saat berlangsung gerhana total, Rabu, 9 Maret. Sebagian instrumen, seperti kamera, laptop, filter matahari, adaptor, dan baterai, bahkan telah dikirim lebih dulu ke lokasi pengamatan di Pulau Ternate, Maluku Utara. Belasan bintang yang akan mereka intip sudah mereka tandai. Posisi dan waktu penampakannya di langit juga sudah lengkap tercatat. "Kami butuh langit yang benar-benar gelap untuk melihat bintang di belakang matahari," kata anggota tim peneliti, Anton Timur Jaelani, Senin, 15 Februari 2016.

Peneliti Lapan itu, juga peneliti dari beberapa universitas, serta komunitas astronomi dari berbagai negara, akan menyebar ke 11 wilayah yang akan dilewati peristiwa langka tersebut. Terakhir, gerhana matahari total menyambangi Indonesia 33 tahun lalu. Sebelas wilayah gerhana tahun ini adalah Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka-Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

Sejumlah daerah juga akan mengalami gerhana sebagian. Menurut Rukman Nugrah, peneliti astronomi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, waktu kejadian gerhana dan setiap lokasi akan berbeda-beda. Gerhana paling awal dimulai di Kotaagung, Lampung, pada pukul 6.19. "Adapun kota yang waktu mulai gerhananya paling akhir adalah Waris, Papua, yang terjadi pada pukul 8:53:44 WIT," kata Rukman.

Gerhana matahari total pertama yang melintasi Indonesia pada abad ke-21 ini disambut meriah di berbagai daerah. Layaknya merayakan ulang tahun kota, sejumlah pemerintah daerah menggelar pesta. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, misalnya, bakal menggelar pesta kuliner, festival budaya, lomba lari Glowing Nite Run, dan selfie alias swafoto ketika gerhana berlangsung. Jembatan Ampera pun akan ditutup karena dijadikan panggung terbuka.

Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah menyiapkan rangkaian acara pengajian, karnaval budaya, pertunjukan dambus dan pencak silat, serta tarian rudat kolosal. Sepuluh teropong disiapkan untuk masyarakat di lokasi pengamatan di sepanjang pantai Desa Terentang, yang akan disterilkan dari kendaraan bermotor. "Untuk menjangkau lokasi acara, kami siapkan 10 bus bagi pengunjung," kata Bupati Bangka Tengah, Erzaldi Rosman Johan, Senin lalu. "Pedagang yang boleh masuk hanya yang menggunakan sepeda."

Ternate, wilayah yang mengalami puncak gerhana matahari total selama 2 menit 45 detik, pun menggelar acara menonton gerhana bersama sebagai ajang promosi wisata. Sembilan lokasi pengamatan di tepi pantai disiapkan. Lebih dari seribu wisatawan asing bakal ikut mengamati gerhana di pulau itu. Menurut Pejabat Wali Kota Ternate, Idrus Assagaf, putri raja Thailand juga akan datang. Selain itu, sejumlah ilmuwan dari Amerika Serikat, Cina, Jepang, dan Thailand berniat melakukan observasi. Hotel-hotel sudah fully-booked sejak sebulan lalu.

Keriaan menyambut gerhana matahari total ini bertolak belakang dengan situasi pada 11 Juni 1983. Kala itu sebagian besar wilayah Pulau Jawa masuk lintasan gerhana matahari total. Ini adalah gerhana matahari total keempat di Indonesia sepanjang abad ke-20 setelah fenomena pada 1901, 1929, dan 1962. Gerhana pertama pada 18 Mei 1901 bahkan sempat dicatat R.A. Kartini dalam surat yang ia tujukan kepada Stella Zeehandelaar, rekan korespondensinya di Belanda. Dalam surat tertanggal 20 Mei 1901 itu Kartini menulis dalam bahasa Belanda, "Pada 18 Mei, ilmuwan dari seluruh dunia datang ke Jawa untuk mengamati sang gerhana." Sayangnya, tulis Kartini, "Malang sekali, di sini kami tak bisa melihatnya sama sekali karena cuaca buruk. Hari berawan dan hujan turun."

Pada 1983, sebagian besar masyarakat justru menyia-nyiakan kesempatan yang amat berharga itu. Seperti ditulis majalah Tempo edisi 11 Juni 1983, pemerintah mengeluarkan aturan agar tidak melihat langsung gerhana karena bisa menimbulkan kebutaan yang tak bisa disembuhkan. Instruksi pencegahan itu diikuti berbagai larangan dan aksi "ngawur". Di Jawa Timur dan Jawa Tengah, penjualan kacamata gerhana dari seluloid film yang sudah "dicuci" dilarang dan dimusnahkan. Di Boyolali, para petani disarankan mencari rumput sehari menjelang gerhana agar saat fenomena itu terjadi bisa berdiam di rumah. Bupati Sukoharjo, Gatot Amrih, bahkan menginstruksikan pegawainya pulang dua jam sebelum gerhana agar bisa mendekap anak-anak mereka. "Katakan kepada masyarakat lainnya, mendekap anak di saat gerhana adalah perintah Bupati. Biarlah matahari saja yang buta, jangan kita," kata Gatot.

Di pesisir Pangandaran, Jawa Barat, nelayan dilarang melaut. Di Jawa Timur, sepasukan polisi dikerahkan untuk menghalau warga yang keluar rumah. Buku panduan teknis melihat gerhana yang dilampiri alat observasi disita. Dua juta selebaran, berisi segala macam larangan saat gerhana, disebarkan lewat pesawat gelatik oleh Pramuka dan Federasi Aeromodeling Seluruh Indonesia. Satu-satunya cara melihat gerhana saat itu, menurut pemerintah, hanya melalui siaran langsung di TVRI dan RRI.

"Sekarang saatnya balas dendam. Teman-teman yang dulu dilarang menonton sekarang bertekad menonton gerhana di kota dengan puncak gerhana terlama," kata Avivah Yamani dari komunitas astronomi Langitselatan, yang bermarkas di Bandung.

Pengamatan gerhana matahari total di Tanjung Kodok, Jawa Timur, 1983. FOTO: DOK TEMPO/ILHAM SOENHARJO

Bagi Lapan, kesempatan emas itu akan dimanfaatkan untuk menggelar riset. Salah satu tim, misalnya, bakal mencari bukti adanya efek gravitasi yang membelokkan lintasan cahaya di sekitar obyek astronomi masif. Hal ini sudah dikalkulasi Albert Einstein dalam Teori Relativitas Umum seratus tahun lalu dan dibuktikan pertama kali oleh peneliti Inggris, Arthur Eddington dan Frank Dyson, saat terjadi gerhana matahari total pada 1919.

Alih-alih lurus, menurut Einstein, cahaya bintang yang terlihat di bumi sebenarnya melengkung akibat gravitasi matahari. Saat terjadi gerhana matahari total, Einstein membuktikan posisi bintang-bintang di belakang piringan matahari yang tertutup bulan tak persis sama ketika dilihat saat tidak terjadi gerhana. "Gravitasi menurut Einstein itu manifestasi kelengkungan ruang waktu karena ada massa, bukan seperti teori Isaac Newton yang menyebut gravitasi itu gaya," kata peneliti Lapan, Farahhati Mumtahana.

Terjadinya pembelokan cahaya bintang karena gravitasi matahari akan dibuktikan dengan membandingkan hasil pengamatan bintang-bintang yang sama sekitar 5-6 bulan usai gerhana. "Perlu waktu kira-kira setengah tahun untuk melihatnya di balik matahari, jadi tidak terganggu cahaya matahari," ujar Farahhati.

Dua tim lain dari Lapan Bandung mengamati ionosfer dan geomagnet serta fotometri dan spektroskopi korona matahari di Maba, Halmahera. Korona ini tidak terlihat langsung dari bumi kecuali saat gerhana atau menggunakan teleskop khusus. Menurut Muhamad Nurzaman--seorang anggota tim peneliti--spektrum korona diamati untuk mencari garis unsur logam besi tertentu yang terionisasi. Durasi gerhana matahari total yang mencapai tiga menit dinilainya cukup untuk merekam data. "Tujuan khususnya untuk mengetahui temperatur korona," tutur peneliti yang akrab disapa Zamzam itu.

Para peneliti dari Observatorium Bosscha, Bandung, membuat sembilan teropong lubang jarum untuk membantu masyarakat mengobservasi gerhana matahari. Selain di Bandung, teropong rancangan astronom Mohammad Irfan itu akan dipasang di Balikpapan, Penajam, dan Tana Paser, Kalimantan Timur. Saat diarahkan ke matahari, sinarnya akan menembus lubang kecil dan terpantul di bidang putih berdimensi 120 sentimeter persegi. "Cahayanya berdiameter sekitar 2 sentimeter," ujar Irfan. Bintik sinar itu seperti miniatur matahari. Seiring dengan bulan perlahan menutupi matahari saat gerhana parsial atau total, bintik cahaya itu juga terkikis bayangan hitam.

Para peneliti Bosscha juga berkutat membuat instrumen pendulum bersensor. Pendulum itu akan dipakai untuk menguji Efek Allais di ekuator saat gerhana berlangsung. Mahasena Putra, Direktur Observatorium Bosscha, yang terlibat dalam pembuatan alat itu, ikut berkerut kening. "Bikin alatnya cukup susah," ujar peneliti yang kerap dipanggil Seno itu.

Rancang bangun pendulum itu mengacu pada alat Foucault, instrumen yang sudah ada lebih dari 150 tahun lalu, yang direvisi tim peneliti dari Argentina pimpinan Horacio R. Salva pada 2010. Alat itu dipakai tim Horacio walau bukan ketika gerhana matahari. Kelebihan alat itu, kata Seno, karena bandul pendulum bisa bergerak terus-menerus dengan sambungan energi listrik. Alih-alih berbentuk elips atau lonjong seperti model lama, lintasan garis pendulum model baru ini hampir lurus. Pencatatan datanya pun otomatis.

Jika ditempatkan di kutub utara atau selatan, pendulum akan ikut berputar seiring dengan gerak rotasi bumi. Selama bumi berotasi 24 jam, pendulum akan berputar sekitar 15-16 derajat per jam. Menurut Seno, gerak pendulum akan berubah di tempat dengan garis lintang berbeda. Di garis ekuator atau khatulistiwa, misalnya, pendulum cenderung diam, namun bandulnya masih mengayun. Saat terjadi gerhana, gerak pendulum yang searah dengan jarum jam sedikit lebih cepat dari biasanya. Hal ini diketahui setelah ilmuwan Prancis, Maurice Allais, melihat ada anomali gerak pendulum saat gerhana matahari total pada 30 Juni 1954 dan 22 Oktober 1959.

Belum ada yang sepakat mengapa ada perbedaan gerak pendulum saat gerhana. Beberapa peneliti yang mempelajari Efek Allais memiliki hasil berbeda-beda. "Kalau ada fenomena alam seperti itu, siapa pun yang melakukan harus teramati, harus sama hasilnya. Celakanya, ada yang bisa dan tidak dari dulu sampai sekarang. Kalau negatif penjelasannya, disebut seperti alatnya kurang bagus," ujar Seno.

Tim astronom Institut Teknologi Bandung juga akan mengukur dampak gerhana matahari total pada gravitasi. Agus Laesanpura, peneliti dari Teknik Geofisika ITB, akan membawa gravimeter untuk mengukur perubahan gravitasi. Ketika terjadi gerhana matahari total, diasumsikan akan muncul perubahan gravitasi. "Di layar alat akan langsung terlihat hasilnya, nilainya kecil sekali tapi bisa terdeteksi," kata Seno.

Tim peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB akan mempelajari efek gerhana terhadap perilaku hewan seperti kelelawar, burung, katak, dan serangga di Desa Kalora, Poso, Sulawesi Tengah. Riset ini berhubungan dengan metode adaptasi spesies untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan faktor lingkungan. Cahaya matahari merupakan faktor yang mempengaruhi aktivitas harian hewan.

Para penggemar astronomi juga ikut memburu gerhana. Ada 12 anggota Langitselatan yang akan berangkat ke Maba. Maba, kata Avivah, dipilih karena cuacanya sering cerah. "Totalitas gerhananya juga paling lama," kata dia. Durasi kegelapan saat bulan menutupi matahari di Maba berlangsung selama 3 menit 17 detik. Setelah itu gerhana akan melaju menuju puncaknya di Samudra Pasifik.

Selain untuk mengobservasi, komunitas Langitselatan akan memberikan edukasi tentang gerhana matahari ke sekolah-sekolah di Maba. Menurut Avivah, pergi memburu gerhana matahari juga menjadi ambisi pribadi para anggota komunitas. "Bagi sebagian besar anggota Langitselatan, ini adalah gerhana matahari total pertama yang bisa diamati," kata Avivah. "Kami tak ingin kehilangan momen penting yang mungkin hanya terjadi sekali dalam hidup ini."

GABRIEL WAHYU TITIYOGA, AHMAD NURHASIM, ANWAR SISWADI(BANDUNG), BUDHY NURGIANTO (TERNATE), SERVIO MARANDA (BANGKA TENGAH), PARLIZA HENDRAWAN (PALEMBANG)

Baru 55 Tahun Lagi
Kembali ke Indonesia
Pendulum gerhana matahari buatan Observatorium Bosscha yang akan dibawa ke Poso untuk merekam data ilmiah proses gerhana matahari total di Bandung, Jawa Barat TEMPO/Prima Mulia
Scroll
Tim Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) melakukan pengukuran ketinggian matahari pra Gerhana Matahari Total dari atas jembatan Ampera Palembang, Sumatera Selatan, 19 Januari lalu. ANTARA/Feny Selly

Baru 55 Tahun Lagi Kembali ke Indonesia

KEGELAPAN akan meliputi sebelas kota di Indonesia tatkala gerhana matahari total berlangsung pada 9 Maret mendatang. Inilah gerhana matahari total pertama yang melewati Indonesia pada abad ke-21. "Gerhana kali ini istimewa bagi Indonesia karena lintasannya terentang dari barat ke timur," ujar dosen astronomi Institut Teknologi Bandung, Premana W. Premadi, Selasa, 2 Februari 2016.

Gerhana matahari terjadi manakala bulan melintas di antara bumi dan matahari. Fenomena ini hanya mungkin berlangsung pada fase bulan baru, ketika lintasan bulan tepat di antara bumi dan matahari dan bayangannya menutupi sebagian wilayah planet. Posisi, arah gerakan, dan jarak relatif bumi, bulan, dan matahari, menentukan tipe gerhana yang terjadi: sebagian, cincin, dan total.

Peluang munculnya gerhana bergantung pada mekanisme dan waktu peredaran bumi dan bulan terhadap matahari. Sejak terbentuk 4,5 miliar tahun lalu, bulan sebenarnya perlahan bergerak menjauhi bumi dengan jarak sekitar 4 sentimeter per tahun. Diameter matahari 400 kali lebih besar ketimbang bulan, yang cuma 3.476 kilometer. Namun, mengorbit secara elips, jarak bulan ke bumi 400 kali lebih dekat ketimbang matahari. Pada Rabu 9 Maret nanti, bulan berada di jarak yang tepat sehingga ketika terlihat di langit akan menutupi matahari secara total.

Sepanjang abad ke-21, menurut daftar yang dirilis Badan Antarika Amerika Serikat, ada 224 gerhana matahari: 77 gerhana matahari sebagian, 72 gerhana matahari cincin, 68 gerhana matahari total, dan 7 gerhana hybrid – kombinasi langka antara gerhana total dan cincin. Hingga 2100, Indonesia akan mengalami 14 gerhana matahari, dua di antaranya adalah gerhana hybrid pada 2023 dan 2049.

Menurut Premana, meski bumi dan bulan berotasi dan bergerak mengelilingi matahari secara teratur, fenomena gerhana tidak mudah terjadi. "Tak setiap purnama terjadi gerhana bulan atau setiap fase bulan baru terjadi gerhana matahari," katanya. "Posisi dan sudut bumi, bulan, dan matahari itu menentukan hasilnya." Lalu bagaimana sebenarnya mengetahui kapan dan di mana terjadi gerhana matahari?

Tak mudah memecahkan masalah keteraturan siklus gerhana matahari. Gerhana tak otomatis terjadi setiap fase bulan baru karena posisi bulan yang miring lima derajat terhadap orbit bumi. Akibatnya, bayangan bulan biasanya melewati sisi atas atau bawah bumi sehingga gerhana tak terjadi. "Hingga saat ini siklus gerhana masih dipelajari dengan melihat bagaimana kriteria terjadinya gerhana dan sejarah catatan tentang gerhana yang sudah ada sejak era Babilonia sekitar 700 sebelum Masehi," kata Premana.

Kemungkinan posisi sejajar antara bumi, bulan, dan matahari membuat gerhana berada dalam interval waktu spesifik: gerhana bisa berulang atau kembali. Menurut Premana, ada semacam keteraturan tapi tidak seperti siklus yang sudah dikenal orang sangat rapi seperti fase terbit dan terbenamnya matahari atau siklus spektakuler komet Halley yang akan terlihat dari bumi setiap 76 tahun sekali.

Penemuan penting dari era Babilonia, selain rangkaian jenis gerhana, adalah kalkulasi bahwa gerhana cenderung berulang setelah 18 tahun, 11 hari, dan delapan jam. Perulangan ini dikenal sebagai siklus atau daur saros--berasal dari bahasa Babilonia, sharu. Hasil kalkulasi ini cukup akurat untuk memprediksi pengulangan gerhana.

Menurut Rhorom Priyatikanto, peneliti dari Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional, siklus saros itu dilihat atau dipilah berdasarkan bagaimana cara bulan bergerak menutup matahari dan menjadi identitas gerhananya. "Gerhana seri kesekian dilihat dari gerakan, durasi, dan ukuran bulan menutupi matahari."

Pola perulangan saros itu dibagi rata untuk memprediksi gerhana. Misalnya, tahun ini Indonesia mengalami gerhana tipe tertentu yang didata. Sekitar 18 tahun berikutnya, sepertiga bagian bumi lain merasakan gerhana yang mirip, selang durasi yang sama berikutnya giliran sepertiga bagian lainnya yang mengalami fenomena itu. "Sekitar 55 tahun lagi, gerhana yang saat ini terjadi ada kemungkinan kembali ke Indonesia," kata Rhorom. "Tapi lintasannya pasti bergeser."

Gerhana matahari total pada 9 Maret nanti, kata Rhorom, mirip dengan yang terjadi di Indonesia pada 1962. Gerhana itu terulang setelah 54 tahun atau tiga kali siklus saros. "Lintasannya di wilayah Indonesia mirip, tapi tak sama persis melewati kota-kota yang saat ini masuk jalur gerhana matahari total."

Premana mengatakan, sejauh ini tak ada formula yang pasti untuk menghitung gerhana bisa terjadi di tempat dan waktu yang sama. Selain sudut dan posisi bulan terhadap bumi, kecepatan rotasi bumi dan bulan yang berbeda--sementara mereka juga mengelilingi matahari--membuat kian sulit memprediksi gerhana melintasi lokasi yang sama persis. "Yang diperhatikan adalah seperti apa proses gerhana lalu dicocokkan dengan tipe yang sudah tercatat untuk memprediksi kemungkinan muncul berapa tahun kemudian."

GABRIEL WAHYU TITIYOGA

Kisah dari
Tantu Panggelaran
Kitab Ilmu Falaq dan perhitungan gerhana matahari total ala kiai, 1983. Dok.TEMPO/Herdianto Santoso
Suasana Jalan Malioboro ketika gerhana matahari di Yogyakarta, 1983. Dok.TEMPO/Yusro M.S.

Kisah dari Tantu Panggelaran

Peristiwa gerhana matahari dikitari banyak mitos.

SEKARANG orang tak lagi percaya. Sumber keabadian dalam kendi itu disebut tatwamerta siwamba. Dalam kitab Tantu Panggelaran (Saka 1577) diceritakan bahwa para dewa menggelar pesta. Kendi itu sebelumnya sempat hilang, dicuri oleh dua raksasa. Di hadapan Batara Prameswara, yang derajatnya lebih tinggi dari para dewa, mereka berpesta minum air keabadian tersebut.

Tanpa diketahui, seorang raksasa bernama Rahu menyelinap di antara para dewa, ikut berpesta dan minum air keabadian. Sang Hyang Raditya (Dewa Matahari) dan Sang Hyang Candra (Dewa Bulan) menangkap basah si Rahu hendak ikut-ikutan minum. Rahu diadukan kepada Dewa Wisnu. Penuh amarah, Dewa Wisnu melempar cakra ke arah Rahu. Lehernya kesabet sampai putus. Kepalanya terpenggal.

Sabetan Dewa Wisnu sedikit terlambat. Air keabadian sudah telanjur masuk ke mulut Rahu, mengalir hingga kerongkongan, tapi beruntung belum sampai badan. Jadilah, meski terpenggal, kepala Rahu tetap abadi. Dalam keabadiannya itu, Rahu menyimpan dendam kepada dua pengadu: Dewa Matahari dan Dewa Bulan. Demi menuntaskan dendam itu, Rahu selalu berusaha memakan matahari dan bulan.

"Kepala Rahu yang hidup hingga kini menjadi musuh matahari dan bulan," kata Turita Indah Setyani, dosen Fakultas Ilmu Budaya UI yang banyak meneliti Tantu Panggelaran. Kisah Rahu yang tertuang dalam kitab Tantu Panggelaran ini bisa disebut sebagai asal-muasal mitos tentang Batara Kala, makhluk raksasa yang bertanggung jawab atas hilangnya surya saat terjadi gerhana matahari. Beredar kepercayaan di masyarakat Jawa bahwa matahari hilang karena ditelan Batara Kala.

Batara Kala hanya satu dari sekian banyak mitos yang hidup di masyarakat Indonesia mengenai fenomena gerhana matahari. Mitos yang beredar di Palembang beda lagi. Di kalangan masyarakat Tiongkok Palembang, beredar cerita bahwa gerhana matahari terjadi karena ada seekor naga yang melahap habis matahari.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Museum Balaputra Dewa, Toton Dai Permana, mengatakan untuk menakut-nakuti si naga, warga berusaha membuat kebisingan dengan menyalakan petasan dan memukul-mukul kentongan. Suasana gaduh dipercaya ampuh mengusir si naga sehingga matahari bisa bersinar kembali.

Ada pula mitos yang beredar di Suku Dayak Kaharingan. Mereka percaya banyak makhluk gaib keluar bersamaan dengan munculnya gerhana matahari. Tokoh suku Dayak Ma’ayan dari Balikpapan, Abriantinus, mengatakan sejak kecil sering diceritakan bahwa ada kekuatan magis di balik fenomena gerhana. Kekuatan itu bisa dipakai untuk menguatkan kesaktian. Penganut kepercayaan Kaharingan biasanya memanfaatkan hari terjadinya gerhana untuk bertapa. Mereka akan mendatangi tempat-tempat yang dianggap keramat. Bisa berupa gua di pegunungan, bisa juga pohon di hutan. Mereka bertapa untuk menyerap kekuatan yang terpancar dalam peristiwa gerhana matahari.

"Mereka inilah yang masih percaya adanya kekuatan gaib di pohon besar, rumah angker, dan batu tua," kata Abriantinus.

Hari terjadinya gerhana juga jadi waktu yang tepat bagi penganut Kaharingan untuk mengeluarkan benda pusaka seperti mandau, rompi, hingga minyak gaib. Kesaktian benda-benda itu dipercaya akan bertambah bila terkena bilasan matahari pada saat gerhana.

"Ritual ini dipercaya mampu mengisi kekuatan magis pada benda pusaka selama bertahun-tahun ke depan," katanya.

Adapun sebagian warga awam suku Dayak percaya akan adanya makhluk gaib bernama Ruhi alias Taluh yang gentayangan saat terjadi gerhana. Makhluk itu menelan matahari dan bulan karena marah terhadap kemungkaran manusia. Itu sebabnya, pada saat terjadi gerhana, masyarakat di pedalaman Kalimantan beramai-ramai membunyikan gong, lesung, dan lain lain guna meredakan kemarahan Ruhi, berharap ia segera memuntahkan matahari yang ditelannya.

Uniknya, para suku Dayak ini melaksanakan ritual itu sambil menutup kepala dengan wajan. Mereka percaya besi wajan penggorengan mampu menangkis pengaruh jahat yang memancar pada saat gerhana matahari terjadi.

Seiring dengan berkembangnya pengetahuan, semakin sedikit yang percaya terhadap mitos seperti itu. Perbedaan yang mencolok bisa kita amati hari-hari ini. Sepekan menjelang terjadinya gerhana, tak banyak pengumuman dan penyuluhan beredar. Jauh berbeda dengan situasi 33 tahun lalu.

Majalah Tempo edisi 11 Juni 1983 melaporkan pada saat gerhana muncul di Indonesia 33 tahun lalu, ketakutan melanda masyarakat. Sebabnya, pemerintah memberi peringatan pada masyarakat agar tidak keluar rumah selama gerhana matahari. Masyarakat juga diperingatkan agar tidak menatap gerhana dengan mata telanjang. Akibatnya berbahaya: mata bisa jadi buta. Satu-satunya cara yang aman untuk melihat gerhana adalah melalui televisi.

Aparat pemerintahan diberdayakan untuk menyampaikan penyuluhan kepada warga di berbagai provinsi. Pamflet berisi peringatan bahaya gerhana diedarkan. TVRI, stasiun televisi satu-satunya ketika itu, setiap petang mendengungkan bahayanya melihat gerhana secara langsung. "Hanya satu cara melihat gerhana dengan aman, lihatlah melalui layar TVRI Anda," seru TVRI bernada iklan sebagaimana dilaporkan majalah ini 33 tahun lalu.

Pejabat desa, kelurahan, kecamatan, hingga aparat Polsek turut dikerahkan untuk membuat peringatan semakin nyaring terdengar. Pejabat kantor Gubernur Jawa Tengah meminta penduduk segera masuk ke rumah begitu terdengar sirene. Jendela, genting, dan segala lubang yang memungkinkan sinar matahari bisa masuk harus ditutup. Orang dilarang pergi. Kaca mobil harus ditutup.

Di Boyolali, para petani dianjurkan mencari rumput stok untuk ternak mereka agar pada hari terjadinya gerhana mereka tak perlu keluar rumah. Bupati memperingatkan agar orang tua mendekap anak-anak mereka. Khawatir bocah-bocah jadi buta kalau tak jaga kelakuan pada saat gerhana. Di Jawa Barat, dilaporkan bahwa di mana-mana terdapat spanduk mengingatkan warga untuk tak melihat gerhana.

Beda rakyat, beda pula pejabat. Meski pemerintah berkoar-koar memperingatkan warga agar hati-hati pada hari terjadinya gerhana, beberapa pejabat negara malah santai jalan-jalan ke luar rumah. Sebagaimana tertulis dalam laporan Tempo 25 Juni 1983, mantan wakil presiden Adam Malik malah sengaja bertandang ke Tuban bersama keluarga untuk melihat gerhana. Gerhana matahari total terjadi pula di Tuban. Adam dilaporkan membawa kamera Nikon lengkap dengan lensa tele untuk mengabadikan momen langka itu.

Menteri Kependudukan dan Lingkungan Hidup pada saat itu, Emil Salim, juga datang ke Tuban bersama istrinya. Setelah mengamati gerhana matahari total di layar televisi, ia turun ke lapangan mengamati langsung peristiwa papasan bulan dan matahari. Berkebalikan dengan peringatan yang disampaikan pemerintah, Emil malah menyarankan seharusnya masyarakat tak perlu takut. Justru harus melihat langsung peristiwa yang jarang terjadi itu. Takut jadi buta adalah kekhawatiran yang mengada-ada. Buktinya, sampai sekarang ia sehat-sehat saja.

BUDHY NUGIARTO (NTT) | PARLIZA (Palembang) | S.G. WIBISONO (Balikpapan)

5.500 Kacamata
di Bangka Tengah
Instalasi bambu di lokasi pemantauan gerhana matahari total di Dusun Ngata Baru, Desa Kapopo, Sigi, Sulawesi Tengah. ANTARA/Basri Marzuki
Petugas Graha Teknologi Palembang melakukan cek fisik terhadap teleskop sebagai persiapan melihat limit waktu gerhana matahari total di atas jembatan Ampera Palembang, Sumatera Selatan.

5.500 Kacamata di Bangka Tengah

Untuk menggaet pelancong, pemerintah daerah menyiapkan berbagai acara dan festival. Fenomena gerhana sebagai dagangan plus mendongkrak wisata Nusantara.

JWARGA Ternate akan kedatangan tamu agung saat gerhana matahari total nanti. Putri Kerajaan Thailand secara khusus akan menyambangi wilayah ini. Pemerintah kota dan Kesultanan Ternate sudah menyiapkan penyambutan istimewa.

Satu sajian kuliner yang akan disuguhkan adalah sirup buah pala. Buah ini banyak tumbuh di Kepulauan Maluku, yang dikenal sejak berabad lampau dan diburu bangsa Eropa. "Kami sudah menyiapkan untuk dicicipi oleh wisatawan mancanegara. Kami ingin sirup ini setara dengan anggur," ujar Wali Kota Ternate, Burhan Abdurahman.

Ternate dan Maba di Maluku Utara merupakan wilayah dengan durasi gerhana total yang cukup lama. Di Maltara, Ternate, gerhana akan berlangsung 2 menit 45 detik, sedangkan di Maba, Halmahera Timur, berlangsung 3 menit 17 detik. Tak mengherankan jika pulau ini akan dibanjiri tamu asing seperti rombongan Kerajaan Thailand, pelancong, dan ilmuwan dari berbagai negara.

Burhan Abdurahman menyadari bahwa momentum ini dapat diberdayakan untuk mendongkrak pariwisata wilayahnya. Karena itu dia dan jajarannya sudah menyiapkan aneka festival serta mengenalkan berbagai tujuan wisata. "Harapan kami tahun ini menjadi momentum kebangkitan wisata Ternate," katanya.

Masyarakat dan wisatawan juga akan menikmati Festival Legu Gam, sebuah pesta rakyat Maluku Utara untuk merayakan ulang tahun Sultan Ternate. Tarian Legu Gam ini sebelumnya hanya digelar untuk dinikmati keluarga Sultan Ternate, tapi kini bisa dinikmati khalayak. Dalam festival ini ada ritual Doru Gam, yakni ritual mengunjungi kampung, lalu ritual Kololi Kie, yaitu ritual perjalanan mengelilingi Gunung Gamalama melalui laut. Ada lagi ritual Fere Kie, yang berisi kegiatan mendaki Gunung Gamalama. Bagi pencinta makanan laut, jangan khawatir, karena Pemerintah Kota Ternate juga menggelar aksi makan gohu–sashimi ala Maluku Utara. "Kami akan melibatkan suku Togutil pada puncak peristiwa."

Sultan Tidore Husain Syah menggelar ritual adat dolo-dolo di Pulau Tidore. Ritual itu dilakukan untuk memohon perlindungan dari gangguan roh jahat. Dolo-dolo merupakan tradisi turun-temurun yang sudah mengakar di masyarakat adat Kesultanan Tidore. Tradisi tersebut dimulai dengan membaca doa permohonan perlindungan dan berakhir dengan memukul kentongan secara bersamaan di seluruh wilayah kampung saat terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan.

Tak hanya Ternate dan Tidore yang menyiapkan acara yang meriah. Belasan kota di 12 provinsi juga bersiap menyambut gerhana ini dengan sangat antusias. Padahal, 33 tahun lalu, tatkala gerhana matahari total melintasi Jawa Tengah saat itu, masyarakat dicekam kecemasan dan ketakutan. Masyarakat berdiam di rumah masing-masing. Minimal, sejak setahun lalu, pemerintah pusat dan daerah sudah berkoar-koar berjualan menikmati sensasi peristiwa langka ini. Aneka festival disiapkan dalam paket perjalanan bagi para pelancong.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebutkan gerhana ini hanya merupakan magnet besar yang disematkan pada festival dan paket-paket wisata untuk menyambangi daerah wisata Indonesia. Apalagi saat ini pemerintah menyiapkan 10 tujuan wisata utama. "Ibaratnya kami hanya menunggangi gerhana ini," ujar Arief.

Dari kemasan paket wisata dengan gerhana ini, pemerintah menargetkan tak kurang dari 5 juta pergerakan wisatawan Nusantara dengan perkiraan penerimaan Rp 3,8 triliun dan menggaet pelancong mancanegara hingga 100 ribu orang dengan perkiraan penerimaan devisa Rp 1,56 triliun. Pemerintah menggandeng Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) serta Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia. Ketua Asita, Asnawi Bahar, mengatakan paket-paket wisata sudah diluncurkan dengan fokus gerhana matahari.

Mereka mengemas dalam paket tujuan baru, tempat wisata baru, dengan beragam festival di dalamnya. Seperti Pemerintah Kota Balikpapan yang menggandeng anggota Asita Balikpapan, yang menargetkan kunjungan pelancong mencapai angka 2,5 juta. "Kami sudah menjual gerhana matahari di Balikpapan sejak setahun lalu," kata Direktur Trans Borneo Adventure, Joko Purwanto.

Menteri Arief menyatakan tak kurang dari 100 aktivitas yang tersebar di 12 provinsi akan digelar. "Yang paling besar di Palu, Bangka Belitung, lalu Palembang," ujarnya. Sejumlah artis Ibu Kota akan meramaikan festival yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah setempat. Aneka macam tarian, perlombaan, dan ritual juga akan digelar. Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah menyiapkan 10 teropong dan 5.500 kacamata khusus untuk masyarakat. "Agar masyarakat dapat merasakan fenomena alam ini," ujar Bupati Bangka Tengah, Erzaldi Rosman.

Festival melihat gerhana akan dipusatkan di pantai Desa Terentang sepanjang 4,5 kilometer. Sejak 6-9 Februari diselenggarakan bermacam acara seperti karnaval budaya, pertunjukan, dan pengajian Kyai Kanjeng Emha Ainun Najib, salat gerhana berjemaah, pertunjukan dambus, pencak silat, dan tarian rudat secara kolosal. "Nanti rencananya ada pertandingan 1.001 bola api dan lomba kereta sorong yang sudah diakui UNESCO."

Lain di Bangka Tengah, lain pula di Palembang. Di kota pempek ini wisatawan akan menikmati festival kuliner yang digelar di food truck di sepanjang Jembatan Ampera. "Wisatawan dapat menikmati makanan yang digelar di truk makanan," ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan, Irene Camelyn Sinaga.

Mereka bisa melakukan wisata kuliner sambil melihat atraksi barongsai, tur edukasi, atau mengikuti lomba selfie. Sehari sebelum acara puncak, digelar pula Festival Ogo-ogo, pergelaran mitos gerhana, dilanjutkan pada acara Glowing Nite Run to GMT 2016. Sedangkan bagi warga Muhammadiyah, mereka akan menyemarakkan peristiwa ini dengan menggelar salat gerhana dan kajian keilmuan di kampus, sekolah, masjid, serta musala milik Muhammadiyah.

Pemerintah Daerah Balikpapan menyiapkan lokasi khusus untuk menikmati gerhana matahari nanti, seperti adanya pesta laut Pantai Manggar yang menyajikan kuliner tradisional khas Kalimantan berikut peragaan seni budayanya. Rangkaian pesta laut ini juga digelar di Lapangan Merdeka Pertamina, bersamaan waktunya dengan gerhana matahari total.

Menyambut peristiwa langka ini, semua berkemas. Transportasi dan akomodasi menjadi pendukung utama untuk para pelancong. Ketua ASITA, Asnawi Bahar, menyebutkan upaya menjaring wisatawan sudah dilakukan jauh-jauh hari. Dia menyatakan animo wisatawan cukup besar. Hal ini dibuktikan dari tingginya pemesanan perjalanan dan hotel di kota-kota yang dilintasi gerhana. Beberapa grup organisasi ini mendapat pesanan dari kelompok wisatawan dalam jumlah besar. Para wisatawan asing pun, khususnya ilmuwan pemburu gerhana, berlomba-lomba mencari tempat strategis untuk mengamati fenomena ini. "Terutama ke Maluku Utara, 15 hari lalu saja ada 2.500 orang ke sana," ujar Asnawi.

Umumnya, kata dia, wisatawan memang mencari spot, akses transportasi, dan akomodasi yang memadai, seperti Palembang, Bangka Belitung, Palangkaraya, dan Balikpapan. Hal ini juga tak lepas dari keterbatasan angkutan udara dan hotel yang tersedia. Bagi mereka yang berkantong tebal, tersedia pula empat kapal pesiar yang akan melintasi Indonesia saat gerhana, yakni Orion Cruise milik National Geographic, Caledonian Cruise, Coral Princess Cruise, dan Peter Deilmaan Cruise. PT Pelni juga merencanakan tiga kapal besar sebagai hotel terapung di Bangka Belitung, Palu, dan Ternate. Nah, sudahkah Anda memilih tempat untuk memburu gerhana nanti?

DIAN YULIASTUTI, SERVIO MARANDA (BANGKA), PARLIZA HENDRAWAN (PALEMBANG), SG WIBISONO (BALIKPAPAN), BUDHY NURGIANTO (TERNATE)