SETELAH MICHAEL
TAK MENGAUM LAGI
Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Di Surabaya, singa mati malah meninggalkan misteri. Tak cuma satu, ratusan satwa Kebun Binatang Surabaya hilang nyawa selama konflik tak berkesudahan melanda lembaga konservasi berusia hampir seabad itu. Selama dua bulan sejak Januari 2014 lalu, Tempo menelisik siapa yang bertanggung jawab atas kematian binatang langka di sana.
Scroll
Rusa Timor mengalami kecacatan pada tanduknya di Kebun Binatang Surabaya, 25 November 2013. (TEMPO/Fully Syafi)
Scroll
Santi, harimau putih Benggala, 16 tahun, mati pada 8 September 2012 akibat gangguan metabolisme tubuh. (Dok. PKBSI)
Scroll

Setelah Michael Tak Mengaum Lagi

HARI itu, Senin, 6 Januari 2014, Michael tampak gelisah. Singa Afrika (Panthera leo) berusia hampir dua tahun itu berjalan hilir-mudik di kandangnya yang berukuran 3 x 3 meter. Dia baru sembilan bulan menghuni Kebun Binatang Surabaya (KBS). Pada Maret 2013 lalu, seorang pencinta satwa menitipkannya di sana.

Sore hari, dua penjaga singa, Supadi dan Sukamto, menengok Michael sebelum pulang. “Sekitar pukul 16.00,” kata Supadi ketika diperiksa polisi. Mereka tak menemukan kejanggalan apa-apa. Meski banyak bergerak dan agresif, perilaku singa jantan itu dinilai wajar karena diduga sedang mengalami berahi. Total ada enam ekor singa di sana, dengan kandang terpisah-pisah--empat di antaranya betina.

Sepintas tak ada yang mencurigakan malam itu. Tiga petugas keamanan kebun binatang yang berpatroli, yakni Vincentius Abel, Munardi, dan Agus Tono, sempat melewati kandang Michael menjelang tengah malam. “Tapi mereka mengaku tak mendengar suara apa-apa,” ujar Kepala Unit Tindak Pidana Tertentu Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya Ajun Komisaris I Kade Bagus, akhir Januari 2014.

Keesokan harinya, sekitar pukul 05.30, Supadi tiba di tempat kerjanya. Di depan kandang singa, dia tertegun. Michael tergantung kaku di tengah kandang. Lehernya terjerat tali timah penarik pintu. Lidahnya menjulur, kakinya memar. Ada kuku kaki belakang menancap di leher, pertanda dia sempat meronta, mencakar tali itu, sebelum akhirnya lemas kehabisan oksigen.

Supadi bergegas menghubungi petugas keamanan dan manajemen kebun binatang. Tanpa menunggu polisi, mereka memindahkan Michael dan membersihkan tempat kejadian. Seseorang tergesa memotret harimau malang itu dengan kamera di telepon seluler. Foto itu dengan cepat menyebar ke media massa. Kecaman pun datang bertubi-tubi. Semua orang bertanya: siapa yang membunuh Michael?

***
WAJAH Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tampak sumringah. Pertemuannya dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, dan Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya di Istana Negara, 21 Januari 2014 lalu, berjalan sesuai dengan harapan.

Presiden meminta Kementerian Kehutanan segera menerbitkan surat izin lembaga konservasi untuk Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya, yang didirikan Risma dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Surabaya. “Kami akan mengembalikan KBS menjadi ikon kebanggaan Kota Surabaya,” kata Risma dengan mata berbinar.

Tanpa izin itu, posisi Risma selama ini memang seperti sopir tembak: mengendarai mobil tanpa surat resmi. Dia tak kuasa menyelesaikan berbagai sengkarut dalam pengelolaan KBS. Ketika hendak mengurus satwa, Direktur Utama PD Taman Satwa KBS Ratna Achjuningrum--orang yang dipercaya Risma untuk memperbaiki KBS--berhadapan dengan Tony Sumampau, Direktur Utama Taman Safari Indonesia, yang ditunjuk Kementerian Kehutanan menjadi Ketua Harian Tim Pengelola Sementara. Tony punya izin mengelola lembaga konservasi.

Baca: Risma Sambut Wira, Harimau Sumatera untuk KBS

Ketika mau mengelola gedung, kendaraan, dan aset lain di KBS, Ratna berhadapan dengan Stany Soebakir, Ketua Perkumpulan Taman Flora dan Satwa Surabaya, yang mengelola KBS sejak 1981. Perkumpulan ini mengajukan gugatan ke pengadilan, mengklaim seluruh aset KBS sebagai milik mereka. “Di sini memang banyak konflik,” ujar Ratna ketika diwawancarai Tempo, akhir Desember 2013 lalu.

Ratna baru mulai bekerja September 2013 lalu. Dia secara khusus melamar untuk mengisi posisi Direktur Utama KBS. Tak punya pengalaman mengelola lembaga konservasi, sebelumnya dia pegawai sebuah peternakan untuk rumah potong hewan di Wonokoyo, Surabaya. “Saya diseleksi dan lolos,” katanya ringan.

Sebagai orang baru, Ratna berusaha tidak larut dalam konflik di KBS. Itu tidak mudah, mengingat konflik soal pengelolaan kebun binatang di jantung Kota Surabaya ini sudah berakar lama, setidaknya sejak 1997. Sumber perseteruan tak pernah beranjak dari soal perebutan aset. Semua orang tahu, salah satu aset KBS yang paling diincar adalah tanah mereka yang luas di jantung Kota Surabaya.

Kliwon, Jerapah yang tewas di Kebun Binatang Surabaya

DOKUMEN setebal lebih dari 36 halaman itu berjudul “Laporan Hasil Kajian atas Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya”. Dibuat oleh para akademikus Universitas Airlangga, audit ini dilakukan atas permintaan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada pertengahan 2013 lalu.

Kajian dibagi menjadi empat, yakni audit atas laporan keuangan, audit sosial, kajian hukum, dan kajian kelembagaan. Audit keuangan, misalnya, menemukan bahwa nilai aset KBS sampai Mei tahun lalu sekitar Rp 160 miliar. Tanah seluas 15 hektare yang ditempati KBS adalah aset dengan nilai tertinggi, yakni sekitar Rp 153 miliar.

Di bank, pengelola kebun binatang itu punya duit kurang-lebih Rp 6,5 miliar. Tapi yang mengejutkan adalah temuan auditor bahwa sebagian besar dana itu tidak bisa diakses pengelola. Uang yang membeku itu tersebar di 14 rekening terpisah dan disimpan di belasan bank. Yang terbesar ada di Bank Mayapada, Rp 2,7 miliar. Sebagian lain hanya berisi belasan juta rupiah. Bahkan ada rekening yang isinya ratusan ribu saja.

Dari pemeriksaan Kantor Akuntan Publik Santoso dan Rekan, ditemukan bahwa semua rekening tak aktif itu dibuka oleh Perkumpulan Taman Flora dan Satwa Surabaya, tapi dibuat oleh pengurus yang berbeda-beda. Rekening di Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur, misalnya, dibuat oleh Basuki Rekso Wibowo. Isinya Rp 600 juta.

Baca: Bonbin Surabaya Kecam Berita Keeper Hamili Orangutan

Sedangkan rekening di Bank Mandiri dibuat Perkumpulan atas nama Komang Wiyasa. Isinya Rp 900 juta. Rekening terbesar di Bank Mayapada dibuat atas nama Stany Soebakir. Selain di bank, uang disimpan dalam beberapa brankas terkunci di kantor KBS. Karena besarnya isi rekening tidak aktif tersebut, laporan keuangan KBS dinyatakan disclaimer.

Tak hanya itu. Sejumlah aset KBS pun tidak tercatat dengan baik. Auditor menemukan ada catatan kepemilikan aset berupa tanah seluas 25 hektare di Gondoruso, Lumajang, senilai Rp 500 juta. Lahan itu disebut sebagai bagian dari proyek penangkaran satwa KBS. Namun auditor tidak berhasil menemukan bukti sertifikatnya. Tempo, yang berkunjung ke sana pekan lalu, bahkan menemukan lahan tersebut terbengkalai. Dengan kata lain, proyek penangkaran itu tak ada jejaknya.

Hasil audit lain tak kalah mencengangkan. Kajian sosial yang dilakukan Mustain Mas’ud dan Bambang Budiono, misalnya, menemukan bahwa sistem manajemen KBS amat tidak profesional. “Banyak pengunjung tidak membayar tiket masuk lantaran masih ada hubungan kekerabatan dengan petugas ticketing,” begitu tertulis dalam laporan ini.

Kajian kelembagaan menemukan bahwa karyawan KBS terkotak-kotak pada kubu-kubu yang berseteru. “Ini menyebabkan manajemen tidak bisa berjalan baik,” demikian ditulis dalam laporan hasil audit itu.

Yang memprihatinkan adalah temuan auditor tentang sistem pencatatan dan pelaporan kondisi hewan. “Beberapa tenaga keeper tidak dapat membaca dan menulis, sehingga pencatatan dan pelaporan kondisi satwa tidak dilakukan dengan baik.”

***

Infografis. (http://grafis.tempo.co/)

BURUKNYA pengelolaan KBS adalah buntut dari konflik panjang sejak era Stany Soebakir memimpin taman satwa itu. Konflik pertama meletup pada 1997. Ketika itu, beredar kabar bahwa pengelola berencana menukar guling lahan KBS dengan sebidang tanah seluas 100 hektare di Jurang Kuping, Surabaya Barat. “Saya ingat sudah ada beberapa pertemuan membahas masalah tukar guling ini,” kata Komang Wiyasa, pengurus KBS periode itu.

Ditemui awal Desember 2013 lalu, Komang lancar bercerita tentang sejarah pertikaian di KBS. Pucuk pimpinan kebun binatang saat itu adalah Mohamad Said, didampingi Stany Soebakir sebagai ketua harian. Menurut Komang, sebagian pengurus tak setuju KBS pindah. Pro-kontra merebak, hewan pun mulai telantar.

Pada 2001, untuk melindungi aset tanahnya, Perkumpulan menghibahkan tanah KBS ke Pemerintah Kota Surabaya. “Saya tidak tahu apa deal-nya waktu itu,” ujar Komang. Dia kemudian diangkat menjadi ketua harian menggantikan Stany.

Meski begitu, konflik tak mereda. Pada 2009, ada masalah baru. Lagi-lagi akarnya adalah soal pengelolaan aset. Sebagian pengurus menolak laporan pertanggungjawaban keuangan Stany Soebakir. Ketika para pengurus sibuk saling gugat ke pengadilan, hewan-hewan KBS mulai berguguran, mati satu persatu.

Konflik terbaru muncul pertengahan 2013 lalu. Kali ini antara Tony Sumampau dan Tri Rismaharini. Pangkalnya adalah rencana Tim Pengelola Sementara membangun kawasan komersial di sebagian lahan KBS. Untuk menutup biaya operasional, Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan waktu itu, Darori Wonodipuro, mengusulkan ada restoran di salah satu sisi kebun binatang.

Kepada Tempo, Tony membenarkan ada rencana itu. Tapi dia menegaskan tak pernah ada rencana membangun hotel dan mal di atas lahan KBS. “Itu untuk subsidi silang, agar ada dana buat konservasi,” katanya. Darori juga menolak disebut hendak menjual lahan KBS. “Itu salah besar. Saksinya banyak,” ujarnya.

Tapi Risma kadung patah arang. Selain itu, dia kabarnya curiga terhadap motif bisnis Tony. Sumber Tempo berbisik bahwa Pemerintah Kota Surabaya tak rela KBS akhirnya dikelola sepenuhnya oleh Taman Safari Indonesia. Pada Juli 2013, Risma mengambil alih pengelolaan kebun binatang itu. Untuk kesekian kalinya, konflik KBS dipicu perebutan aset.

Liang Kaspe menjalani pemeriksaan di Markas Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya, 08 Januari 2014. TEMPO/Fully Syafi

DENGAN kondisi manajemen yang amburadul, tak mengejutkan jika kondisi satwa KBS bikin miris. Sehari sebelum Michael tewas tergantung awal Januari 2014 lalu, seekor gnu (Connochaetes taurinus) atau wildebeest juga ditemukan mati. Perutnya kembung.

Dua bulan sebelumnya, pada November 2013 lalu, seekor komodo, jaguar, dan rusa juga tewas. Menurut data pengelola kebun binatang, hingga akhir 2013, sudah lebih dari 130 satwa mati. Jika dihitung sepanjang tujuh tahun, sejak 2006 hingga tahun lalu, lebih dari 1.800 satwa meregang nyawa di KBS.

Sebuah lokakarya di Surabaya pada 2011 lalu menyimpulkan ada sedikitnya tiga penyebab utama kematian satwa KBS. Penyebab utama--yang menimpa separuh hewan di sana--adalah penyakit pneumonia (radang paru-paru), hepatitis (radang hati), enteritis (radang usus), dan malnutrisi (salah makan).

Penyebab nomor dua, yang terjadi pada 30 persen hewan yang tewas, adalah stres. Ini akibat langsung dari ketidakbecusan petugas memelihara satwa langka. Terakhir, penyebab kematian binatang di sana adalah usia tua dan penyakit genetis, seperti kanker dan tumor. Ini terjadi pada 20 persen satwa yang tewas.

Artinya, sebagian besar kematian satwa di KBS sebenarnya bisa dicegah. Faktor malnutrisi, misalnya, seharusnya tak terjadi. Pada akhir 2012, ketika seekor harimau putih bernama Santi tewas di KBS, polisi sempat turun tangan melakukan uji forensik. Hasilnya, ada kandungan formalin yang amat tinggi pada darah Santi. Rupanya, karena ketiadaan lemari es, daging mentah untuk pakan harimau diawetkan dengan cairan pengawet mayat.

Rekan Santi, seekor harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) bernama Melanie, kini sekarat. Penyebabnya juga daging berformalin. Sejak Juni 2013 lalu, dia dipindahkan dari KBS untuk dirawat khusus di Taman Safari Indonesia, Bogor.

Tempo melihat sendiri kondisi Melanie pada Oktober 2013 lalu. Tatapan matanya sayu, tak garang laiknya raja hutan. Sebagian wajahnya menghitam, kulit lorengnya kusut, dan bulunya kusam. “Hasil laboratorium menunjukkan dia menderita anemia dan ginjalnya terindikasi rusak,” kata Retno Sudarwati, dokter hewan di Taman Safari yang merawat Melanie.

***
POLISI sampai kini belum menemukan pembunuh Michael. Tapi mereka menyimpan sejumlah kecurigaan. Pekan lalu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya Ajun Komisaris Besar Farman mempertanyakan cara KBS menangani kematian singa itu. “Mereka memindahkan singa, membersihkan kandang, tanpa menunggu polisi,” ujarnya.

Selain itu, KBS langsung mengadakan nekropsi--istilah untuk pemeriksaan organ dalam hewan pasca-kematian--tanpa kehadiran penegak hukum. Ketika polisi tiba, kata Farman, mereka meminta ada uji kandungan racun dan kondisi organ dalam Michael. Waktu itu, Direktur Operasional KBS Liang Kaspe menyanggupinya.

Nyatanya, empat organ Michael baru dikirim ke Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga tiga hari setelah kejadian. Sampel feses dan darah untuk menguji kandungan racun malah tidak dikirim sama sekali.

Kepada Tempo, Ketua Unit Layanan Pemeriksaan Laboratoris Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Hani Plumeriastuti, menegaskan bahwa KBS tidak meminta uji kandungan racun. Hasil uji patologis atas organ pun tidak optimal karena kondisi sampel mulai membusuk.

“Secara prosedur, apa yang dilakukan KBS salah,” kata Farman. Dia berjanji memeriksa sejumlah pengurus KBS untuk melacak mengapa kesalahan fatal itu bisa terjadi. Walhasil, siapa di balik kematian Michael sampai kini masih misteri.

SALING SERANG
LIMA KUBU
Kepala Sub Direktorat Penyidikan Wilayah I Kementerian Kehutanan, Hariono, memberikan penjelasan tentang kondisi kandang tidur yang sebelumnya di huni oleh Michael, Singa Afrika (panthera leo) berumur 1.5 tahun yang di temukan mati tergantung di area kandang tidur Kebun Binatang Surabaya, Sabtu (11/01). TEMPO/Fully Syafi
Scroll
Pekerja berada di dalam kandang yang di siapkan bagi Macan Tutul yang akan menjadi satwa koleksi baru di kawasan Kebun Binatang Surabaya, Senin (08/7). Pemerintah Kota Surabaya akan mengeksekusi tanah Kebun Binatang Surabaya pada pekan-pekan awal Bulan Juli ini. Pemkot Surabaya menilai konflik pengelolaan KBS dipastikan tak bakal selesai dan semakin ruwet. TEMPO/Fully Syafi
Melanie, Harimau Sumatera, 15 tahun, masih bertahan, mengalami gangguan saluran pencernaan. TEMPO/Fully Syafi

Saling Serang Lima Kubu

Pengelolaan Kebun Binatang Surabaya terhambat oleh perseteruan antar-pengurus. Semua merasa paling benar.

WALI Kota Surabaya Tri Rismaharini kehabisan kesabaran. Awal pekan ketiga Januari 2014 lalu, dia bergegas mendatangi gedung Komisi Pemberantasan Korupsi di Kuningan, Jakarta Selatan. Di sana, Risma mengadukan “hilang”-nya lebih dari 420 satwa langka koleksi Kebun Binatang Surabaya.

Dia menduga binatang bernilai tinggi, seperti komodo dan jalak bali, dijual ke pihak ketiga, sementara KBS hanya mendapat pembayaran ala kadarnya. “Ada yang ditukar mobil Innova bekas,” katanya. “Saya tidak ngawur,” ujarnya ketika ditanya apakah tidak keliru mengadukan hilangnya satwa-satwa itu ke lembaga antirasuah. “Saya sudah mempelajari aturannya.”

Pihak yang dituduh Risma berada di balik pertukaran hewan-hewan KBS adalah Tony Sumampau. Dia adalah Ketua Harian Tim Pengelola Sementara KBS sejak 2010. Direktur Utama Taman Safari Indonesia itu mengelola KBS atas permintaan Kementerian Kehutanan. Pemerintah turun tangan setelah konflik internal antar-pengurus Perkumpulan Taman Flora dan Satwa Surabaya--lembaga yang sebelumnya mengelola KBS--tak kunjung berakhir.

Dihubungi sepekan setelah laporan Risma ke KPK, Tony hanya tertawa mendengar tuduhan Ibu Wali Kota. “Hewan di KBS memang harus dikurangi karena tempatnya penuh,” katanya. Dia lalu menunjukkan enam lembar dokumen bertajuk “Berita Acara Evaluasi Kesehatan dan Pengelolaan Satwa KBS” yang dibuat pada 7 November 2012.

Berita acara itu adalah hasil penelitian tim evaluasi KBS yang dibentuk Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan. Tim yang diketuai Hadi S. Alikodra ini menemukan bahwa jumlah hewan di taman satwa itu sudah melebihi daya dukung kandang. Dari pemantauan tim ini, ada 24 jenis mamalia, 13 jenis aves (burung), dan 5 jenis reptil yang jumlahnya terlampau banyak.

Karena itu, tim tersebut merekomendasikan ribuan ekor satwa dari jenis yang overpopulasi ini dipindahkan saja. Burung jalak bali, harimau, gajah, komodo, orang utan, dan unta termasuk yang diusulkan dikeluarkan dari KBS. Beberapa satwa diminta dilepasliarkan. Yang tua-tua bahkan diusulkan disuntik mati (eutanasia). Jika tidak, hewan akan berebut tempat hidup, berkelahi, atau kawin-mawin sendiri.

Berita acara itu diteken Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Kementerian Kehutanan, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, dan Kepala Dinas Pertanian Pemerintah Kota Surabaya. “Saya menduga dokumen ini tak sampai ke tangan Wali Kota,” kata Tony. Berdasarkan dokumen inilah Tony mengeluarkan ratusan hewan KBS.

Ratna Achjuningrum, Direktur Perusahaan Daerah Taman Satwa KBS. TEMPO/Fully Syafi

Seberapa pun sengitnya, perseteruan antara Risma dan Tony baru kisah kecil dari konflik besar di KBS. Selain dua kubu itu, masih ada tiga kubu lagi. Pertikaian di antara mereka membuat taman margasatwa yang pada 1970-an pernah menjadi kebun binatang yang terbaik di Asia Tenggara ini terus terpuruk.

Tiga kubu lain itu adalah kubu Stany Soebakir, kubu Komang Wiyasa, dan kubu Basuki Rekso Wibowo. Semuanya pernah menjadi pucuk pimpinan KBS. Stany menjadi Ketua Harian Perkumpulan Taman Flora dan Satwa Surabaya pada 1981-1997, yang kemudian digantikan Komang Wiyasa. Stany naik lagi menjadi pemimpin KBS pada 2003-2009, sebelum digusur Basuki Rekso Wibowo.

Dihubungi Tempo secara terpisah sepanjang akhir 2013 lalu, tiga kubu itu mengklaim kelompoknya sendiri sebagai yang paling berjasa untuk KBS, sembari menjelek-jelekkan kubu lawan.

Komang Wiyasa, misalnya, terang-terangan menuding kubu Stany Soebakir menjadikan KBS sebagai “sapi perah” saja. Indikasinya, kata dia, rapat anggota Perkumpulan tak pernah digelar bertahun-tahun di masa kepemimpinan Stany. Belakangan, Stany akhirnya mengadakan rapat besar, tapi setelah dia merekrut karyawan KBS sendiri menjadi anggota. “Ini bikin kacau. Tak jelas lagi mana bos mana jongos,” kata Komang.

Stany jelas tak terima dengan tuduhan itu. Dia balik menuding kubu Komang sebagai kelompok yang paling tak becus mengurus keuangan KBS. “Di era saya, keuangan surplus, karyawan sejahtera. Baru minus ketika dia yang pegang,” ujar mantan Ketua DPRD Surabaya ini.

Stany tak bohong. Ketika memimpin KBS, dia membangun rumah untuk semua karyawan KBS. Nama perumahannya Kebraon Mitra Satwa. Ketika Tempo berkunjung ke sana pekan lalu, dari total 160 rumah bertipe sederhana, hanya sebagian yang masih dihuni karyawan KBS. Sebagian sudah dijual atau disewakan.

Baca: Kebun Binatang Surabaya Berbenah, Gaet Pakar Satwa Dunia

Masalahnya, meski royal, Stany dinilai tak cakap mengelola pembukuan KBS. Laporan keuangannya dipersoalkan pada 2009. Ketika itulah kubu ketiga masuk. “Ada banyak kebocoran keuangan dan penyimpangan di era Stany,” kata Wayan Titib Sulaksana, pengurus KBS di era Basuki Rekso Wibowo. “Semua sudut KBS dijadikan duit.”

Dia bercerita bagaimana karyawan KBS seenaknya menyunat jatah pakan 50 kilogram daging mentah untuk harimau. “Daging itu disetor ke warung rawon di Kebraon,” ujar Wayan sambil tertawa. “Pisang untuk monyet juga diambil untuk dibikin pisang goreng.”

Sampai sekarang, kubu-kubu ini masih berseteru di pengadilan. Meski kini KBS dikuasai kubu Tony dan Risma, mereka masih mengintip, mencari celah, untuk masuk ke gelanggang.

Pada Oktober 2014 lalu, misalnya, sekitar 60 pegawai KBS berkumpul diam-diam di sebuah lokasi di kawasan Kayun, Surabaya. Semuanya loyalis Stany Soebakir. Pada rapat itu, mereka sepakat membentuk tim evakuasi aset KBS. Jika gugatan mereka untuk merebut kembali pengelolaan KBS kandas di Mahkamah Agung, tim ini akan menuntut pengembalian aset.

“Pemerintah Kota Surabaya hanya punya tanah. Semua aset di atasnya adalah milik kami,” kata salah satu loyalis Stany, Lastri Pujiono, yang hadir dalam rapat dua jam itu. Sumber Tempo yang mengetahui ihwal pertemuan bercerita bahwa tim evakuasi bahkan sudah menghitung nilai aset KBS yang tersisa. “Nilainya Rp 10 miliar. Jadi, kalau dibagi-bagi, per orang mendapat Rp 100 jutalah,” ujarnya.

Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa KBS Ratna Achjuningrum mengaku tahu persis bahwa karyawannya kini sudah terbelah jadi banyak blok. “Makanya saya tidak membuat perubahan drastis. Saya khawatir ada yang sakit hati,” katanya, awal Januari 2014 lalu. Sebagai pemimpin baru, dia mengutamakan rekonsiliasi. “Kalau sampai ngambek, mereka memperlakukan hewan dengan tidak baik,” ujar Ratna pelan.