SENJAKALA
KETOPRAK TOBONG
FOTO-FOTO "PROJECT TOBONG" YANG MEREKAM AKTOR-AKTOR KETOPRAK KELANA BHAKTI BUDAYA KARYA RISANG YUWONO DAN HELEN MARSHALL
Scroll
FOTO-FOTO "PROJECT TOBONG" YANG MEREKAM AKTOR-AKTOR KETOPRAK KELANA BHAKTI BUDAYA KARYA RISANG YUWONO DAN HELEN MARSHALL

Senjakala Ketoprak Tobong

Ketoprak tobong di ambang kepunahan. Hanya satu-dua yang bertahan di daerah-daerah. Seorang anak juragan sebuah kelompok ketoprak tobong di Yogyakarta menggelar pameran fotografi mengenai aktor-aktor ketoprak milik bapaknya di Horniman Museum and Garden, London, sampai April 2016, atas dukungan Art Council dan British Council. Tempo mencoba menelusuri kehidupan kelompok ketoprak tobong yang tersisa di Kediri dan Yogyakarta.

Malam itu Mardi Suwarno mendapat peran sebagai raja di Kerajaan Jenggala. Bertelanjang dada, ia mematut diri di ruang rias yang bersebelahan dengan kandang sapi dan dapur. Ia mengenakan jarit dan kalung berkilauan. Mahkota-mahkotaan berwarna hijau dan ke emasan menutupi kepalanya.

Ada 13 orang berjejal di ruang 4 x 6 meter itu. Mereka adalah pemain ketoprak tobong Kelana Bhakti Budaya. Sembari menunggu giliran tampil, ada yang masih berlatih menembang atau sekadar menyempurnakan riasan. "Kami ditanggap (diundang) untuk acara Natal," kata Mardi, Desember 2015. Mardi dan kawan-kawan malam itu menggelar pentas di Dusun Kedungwuluh, Kelurahan Sambeng, Boyolali, Jawa Tengah. Mereka diundang oleh panitia Natalan Gereja Baptis Indonesia Cukilan, Boyolali. Meski lokasi pentas cukup jauh, sekitar 47 kilometer dari Kota Boyolali, dengan medan yang sulit dilalui dan hanya bisa dilewati truk atau sepeda motor, mereka tetap menerima order untuk tampil.

"Ini sifatnya pelayanan," ujar Dwi Tirtayasa, 68 tahun, pengelola Kelana Bhakti Budaya. Itu sebabnya, Dwi, yang juga mantan pendeta, tak mematok harga seperti pentas pada umumnya. "Biayanya hanya Rp 6 juta. Biasanya kami mematok bayaran Rp 11 juta," katanya. Malam itu Dwi memboyong 20 pemain dan 13 penabuh untuk pentas yang dimulai pukul 10 malam.

Susah sekarang mencari ketoprak tobong di Yogyakarta. Kelana Bhakti Budaya bisa disebut satu-satunya kelompok ketoprak tobong yang masih hidup di Yogya. "Hanya Kelana Bhakti Budaya yang masih bertahan di Yogyakarta, yang lain sudah tergilas," kata Bondan Nusantara, 63 tahun, pengamat ketoprak di Yogya. Seperti seniman-seniman trubadur Eropa, ketoprak tobong adalah rombongan ketoprak yang berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain. Tobong—dalam bahasa Jawa—singkatan dari toto-bongkar, yang artinya ditata dan dibongkar alias bongkar-pasang.

Menurut Bondan, zaman dulu, suatu grup ketoprak tobong biasa berpindah-pindah lokasi setiap tiga bulan sekali. Para pengelola kelompok ketoprak tobong harus piawai bekerja sama dengan pemerintah desa tempat mereka bakal berpentas. Sebaliknya, pejabat desa harus mampu mengajak penduduk sebanyak mungkin untuk menonton pementasan tersebut. Setelah pentas, biasanya mereka memberikan 10-15 persen hasil penjualan tiket ke desa. Tapi, lama-kelamaan, karena ongkos pindah yang mahal—dari membongkar panggung hingga menyewa truk kemudian membangun lagi—ketoprak tobong memilih menetap lebih lama, enam bulan hingga lima tahun. Dan kini hampir tidak ada lagi yang tersisa, kecuali Kelana Bhakti Budaya.



***
PENTAS KELOMPOK KETOPRAK TOBONG KELANA BHAKTI BUDAYA ASAL YOGYAKARTA DI DESA BLIMBING, KALIREJO, BOYOLALI, JAWA TENGAH, DESEMBER TAHUN LALU

Di Yogyakarta, ketoprak tobong pertama kali muncul pada 1930-an. Kelompok ketoprak pertama yang manggung adalah Langen Budi Wanudyo. Mereka biasa berpentas di sekitar Pasar Demangan, Kabupaten Sleman. Kelompok ini awalnya menggelar pentas di Solo, tapi pemerintah Belanda melarang dengan alasan ketika ketoprak tobong manggung sering diikuti dengan perjudian di lokasi sekitarnya. Lalu mereka pindah ke Yogyakarta. Di Kota Gudeg, sambutan warga cukup positif. Kehadiran Langen Budi Wanudyo bahkan mampu menginspirasi warga Yogyakarta untuk mendirikan kelompok ketoprak. Tokoh legendaris ketoprak tobong pada masa itu antara lain Tjokrodjoyo, Basiyo, Gliding, dan Khadariyah. Ada tiga kelompok sangat terkenal di Yogyakarta, yakni Kridomardi, Mardiwandowo, dan Sandiworo Wargo.

Menurut Bondan, pada 1930-an, latar panggung ketoprak tobong yang menampilkan visual kerajaan, hutan, pendapa, dan sebagainya digambar di atas karung bagor dan disambungsambung. Kini latar panggung lebih banyak memakai bahan kain. Untuk "tata cahaya", dulu digunakan lampu petromaks dengan bingkai kertas merah, kuning, dan hijau. Kertas berwarna itu digunakan untuk memunculkan suasana dramatis. Bila muncul adegan perang, kertas merah yang dipasang. Sedangkan adegan romantis menggunakan kertas hijau.

Ketoprak tobong mengalami masa suram ketika peristiwa G-30-S pada 1965 meletus. Aktivitas ketoprak tobong sempat terhenti total. Sejumlah seniman ditangkap karena dicurigai dekat dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Kala itu Lekra mencoba memanfaatkan ketoprak sebagai sarana perjuangan dan propaganda. Mereka bahkan mengubah seni tradisional itu menjadi seni progresif revolusioner. Ketoprak Kridomardi, di bawah naungan Lekra Yogyakarta, misalnya, saat menampilkan lakon Bandung Bondowoso berbeda dengan Bandung Bondowoso konvensional. Bandung Bondowoso yang semestinya berkisah tentang kesatria yang membangun seribu candi dalam satu malam berkat bantuan jin diubah menjadi kisah pembangunan candi dengan cara kerja paksa. Tapi ternyata cerita seperti itu malah digandrungi para petani, buruh, dan masyarakat kelas bawah.

Sejak peristiwa 1965 itu, kehidupan seniman ketoprak tak menentu. Mereka ditangkap dan dipenjarakan karena dianggap berafi liasi dengan Partai Komunis Indonesia. Apalagi sejumlah pengurus PKI menjadi orang penting di kepengurusan ketoprak. Anggota Fraksi PKI Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Yogyakarta, Tjokro Djadi, misalnya, menjadi Ketua Badan Kontak Ketoprak Seluruh Indonesia. Tjokro kemudian hilang dan diduga dieksekusi.

Tokoh lain adalah Sasmito, yang ditahan di Pulau Buru selama 13 tahun. Sasmito adalah tokoh atau pengurus Kridomardi. Ia anggota DPRD Kota Yogyakarta. Ibunda Bondan Nusantara sendiri, Khadariyah, ditahan selama 7 tahun di penjara Ambarawa dan Semarang. Padahal Khadariyah, kini 93 tahun, bukanlah anggota Lekra. Ia ditangkap karena memilih Partai Komunis Indonesia saat pemilihan umum.

Pada zaman Soeharto, ketoprak tobong banyak digunakan sebagai sarana menyampaikan program pemerintah. "Enggak boleh ada lakon yang kritis. Si jahat harus pakai baju merah," kata Bondan. Pada 1970-an, semasa Orde Baru, selalu ada pembenaran terhadap kekuasaan, seperti cerita Sumpah Palapa Gajah Mada. Dalam pementasan ketoprak dengan lakon Ki Ageng Mangir, pemeran tokoh tersebut wajib memakai kostum merah. Ki Ageng Mangir dianggap simbol pemberontakan. Sedangkan Panembahan Senopati berbaju kuning. Perawit juga wajib memakai kostum kuning.



***
RUANG RIAS KELOMPOK KETOPRAK TOBONG KELANA BHAKTI BUDAYA

"ERA kejayaan ketoprak tobong kini sudah habis," kata Bondan. Tapi juragan ketoprak tobong Kelana Bhakti Budaya, Dwi Tirtayasa, tetap gigih mempertahankan kelompoknya. Ia sadar, di Yogya, grup keto praknya menjadi "the last Mohican". "Ada atau tidak ada penonton, kami tetap harus pentas," katanya. Meski grupnya tampil dengan minim penonton, Dwi tetap harus mengongkosi para pemain. Biasanya ia memberi uang transpor Rp 25-50 ribu per orang. "Kalau tidak ada penonton, ya, nombok. Paling tidak Rp 500 ribu untuk uang transpor seluruh pemain," ujar Mak Kamek, 67 tahun, orang yang bertanggung jawab terhadap kesiapan panggung saat akan berpentas.

Untuk bertahan, Kelana Bhakti Budaya mengandalkan sejumlah donatur dan jejaring dari komunitas gereja. Uang yang mereka kumpulkan digunakan untuk biaya transportasi atau ongkos pengobatan pemain yang sakit. Pernah ada pemain yang meninggal dan membutuhkan biaya pemakaman. Nelly Vjsma, 63 tahun, istri Dwi, terpaksa meminta bantuan donatur untuk biaya pemakaman itu.

Para pemain pun tetap setia. Jengki Sutarti asal Prambanan, Sleman, misalnya, bermain ketoprak sejak 1970. Meski sekali pentas dibayar Rp 25-50 ribu, ia tak pernah mengeluh soal besaran honor. Kusdariyanti, 50 tahun, asal Klaten, pun sama. Ia pernah bergabung dengan Siswo Budoyo pada 1975-1984. Waktu itu ia dibayar Rp 500 dari hasil penjualan karcis pementasan. "Banyak dukanya," kata Kusdariyanti. Ia kini membuka usaha katering. "Saya tak ingin meninggalkan budaya Jawa dan akan terus bermain." Bersama "bala tentaranya" itu, Dwi mencoba tetap optimistis. "Suatu saat orang akan jenuh dengan dunia hiburan layar kaca dan mencari ketoprak. Yogya ini tempat tumbuh seni Jawa ketoprak, sama seperti Bali dengan kesenian barongnya," ujarnya.

YANG BERTAHAN
DI KEDIRI
PEMIMPIN KETOPRAK SURYO BUDOYO, SUKARDI, DI RUMAHNYA DI DESA BENDO, KECAMATAN PAGU, KEDIRI
Scroll
FOTO-FOTO "PROJECT TOBONG" YANG MEREKAM AKTOR-AKTOR KETOPRAK KELANA BHAKTI BUDAYA KARYA RISANG YUWONO DAN HELEN MARSHALL

Yang Bertahan di Kediri

Rumah di ujung batas Desa Bendo, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, itu nyaris tak terlihat. Berdiri di belakang gapura perbatasan desa, separuh teras depannya yang tak terlalu luas ditutupi tumpukan kayu dan seng. Sejengkal tanah kosong di samping rumah juga disesaki tumpukan papan dan seng bekas hingga hampir mengubur rumah sederhana itu. Di dalam rumah, seorang pria bertelanjang dada berkulit legam bersila di depan sebilah seng bermotif simbol kerajaan. Tangannya masih berlumuran cat ketika mempersilakan Tempo mengambil tempat duduk di ruang tamu 3 x 6 meter itu, yang berhadapan dengan bilah seng berbentuk gapura. Di salah satu sudutnya tertulis "Ketoprak Suryo Budoyo".

"Itu gapura tobong. Warnanya mulai pudar dan harus dicat ulang," ujar Sukardi, 55 tahun, sang pemilik rumah. Ia adalah "bos" Ketoprak Suryo Budoyo. Ketoprak Suryo Budoyo adalah satu-satunya kelompok ketoprak tobong yang masih bertahan di Kediri dan sekitarnya. Sebagai pemilik Suryo Budoyo, Sukardi, yang memiliki nama panggung Koyek, juga dipanggil sebagai juragan alias tuan.

Tapi sebutan itu sangat bertolak belakang dengan kondisi rumahnya. Tak ada perabot mewah di sepanjang ruang tamu hingga dapur. Plafon ruang tamu juga dibiarkan jebol, menunjukkan kesan sederhana bagi seorang juragan ketoprak. "Jangan dibayangkan bos ketoprak seperti Pak Sis, ya," katanya, lalu tertawa.

Pak Sis yang dimaksud adalah Siswondo, pendiri sekaligus pemilik Ketoprak Siswo Budoyo, yang dibentuk pada 1958 di Desa Kiping, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Kelompok ini pernah merajai kesenian ketoprak di Tanah Air, sering tampil di layar kaca dan berpentas ke mancanegara.

Koyek mengenal ketoprak tobong dari orang tuanya. Nama panggung Koyek ia dapatkan lantaran sering memerankan tokoh yang selalu kalah dalam pertempuran. Koyek adalah kebalikan dari kata keyok, yang artinya kalah. Namun, untuk urusan asmara, justru di ketoprak tobong inilah Koyek bertemu dengan sang istri, Sulastri.

Sebagai komandan lapangan, Koyek cukup disegani dan dihormati. Hal itu tak lepas dari komitmennya yang kuat dalam menjaga citra ketoprak di masyarakat dalam situasi apa pun. Kepada para pemain, ia selalu meminta untuk tampil prima dengan atau tanpa penonton. Sebagai kelompok ketoprak yang tak mengikat hubungan kerja dengan para pemainnya, Koyek tak berkewajiban memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Pemain yang sudah berkeluarga dituntut untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Untuk bujangan dibolehkan menumpang makan. "Biasanya yang bujang saya ajak mancing ke sungai siang hari untuk menambah lauk," kata Koyek.

Tapi untuk biaya operasional tetap dibebankan kepada juragan. Setiap hari, Koyek harus menyediakan uang Rp 100 ribu untuk pembelian bensin diesel yang menjadi sumber listrik. Sewa lahan pertunjukan Rp 300 ribu, yang disisihkan tiap hari senilai Rp 10 ribu. Sewa mobil woroworo (ledang) Rp 45 ribu, plus Rp 5.000 untuk rokok orang yang melakukan siaran melalui pengeras suara.

"Pemasukan tertinggi dari tiket pernah Rp 1,2 juta semalam saat ketroprak tobong masih digandrungi penonton. Itu terjadi pada 2010," ujar Koyek. Tapi tak jarang pula mereka tampil tanpa tiket terjual selembar pun. Toh, meski sepi penonton, ia berprinsip tak boleh ada jeda penampilan sehari pun ketika panggung pertunjukan telah ditancapkan. Meski jumlah penonton makin hari makin menyusut, Koyek memastikan tak ada satu pun anggotanya yang pensiun dari dunia ketoprak. "Ketika kentong pertunjukan dibunyikan, mereka selalu siap untuk tampil," katanya.

RAJA DI ANTARA
KIPAS ANGIN
DAN BOTOL SODA
Risang Yuwono, fotografer, anak juragan Ketoprak Kelana Bhakti Budaya, memamerkan foto-foto para aktor ketopraknya di Horniman Museum and Garden, London.
Scroll
FOTO-FOTO "PROJECT TOBONG" YANG MEREKAM AKTOR-AKTOR KETOPRAK KELANA BHAKTI BUDAYA KARYA RISANG YUWONO DAN HELEN MARSHALL

Raja Di Antara Kipas Angin dan Botol Soda

Risang Yuwono, fotografer, anak juragan Ketoprak Kelana Bhakti Budaya, memamerkan foto-foto para aktor ketopraknya di Horniman Museum and Garden, London.

Kehidupan memprihatinkan para anggota ketoprak tobong Kelana Bhakti Budaya membetot perhatian Risang Yuwono, anak pemilik Ketoprak Kelana Bhakti Budaya. Risang adalah fotografer. Ia pernah kuliah di Jurusan Fotografi Institut Kesenian Jakarta. Berkolaborasi dengan seniman Inggris, Helen Marshall, ia membuat "Project Tobong", yang didukung Art Council dan British Council.

Risang dan Helen memamerkan foto-foto mereka di Horniman Museum and Garden, London, sejak 3 Oktober 2015 sampai 16 April mendatang. Risang membawa para anggota ketoprak ke berbagai sudut Kota Yogyakarta. Mereka diminta mengenakan kostum ketoprak lengkap yang paling disukai seperti biasa mereka tampil saat pentas. "Kami bawa keliling kota sampai ke Parangtritis segala. Mereka cari gayanya sendiri saat difoto," ujar Risang.

Para anggota ketoprak tobong Kelana Bhakti Budaya sudah banyak yang uzur. Bahkan ada yang difabel. Risang menuturkan konsep fotografi nya adalah mendampingkan tradisi versus modern. Para anggota ketoprak ini seolah-olah sedang bergulat di tengah gempuran modernisasi yang tak bisa dihindari. Modernisasi disimbolkan dari berbagai barang, seperti merek minuman soda, sepeda motor, kereta api, kapal terbang, mural, dan pompa bensin. Hasilnya seperti budaya yang sangat bertabrakan, terlihat satire dan ironis.

Lihat saja, seorang pemain ketoprak yang berbusana seorang raja. Dia dipotret Risang di tengah-tengah bukit pasir, langit biru tertutup awan putih. Dia berdiri dengan kaki menginjak kotak penyimpan berlogo minuman berkarbonasi.

Atau dua orang berpakaian prajurit dipotret Risang saat cekikikan melihat "sang raja" memeluk kotak kipas pengatur udara. Foto lain terlihat seorang "aktris perempuan" berdandan ala ratu berdiri di samping seorang lelaki memanggul karung, tas plastik, dan botol air minum. Juga seorang prajurit membentangkan panah ke udara, sementara sebuah pesawat lepas landas sedang melintas.

Pameran di London itu memajang 14 foto yang dipilih sendiri oleh kedua fotografer dan para pemain ketoprak. Dari proyek ini, Risang dan Helen menyisihkan dana untuk membantu ketoprak dan para pemain. Mereka juga mempromosikan, jika ada penonton atau turis yang ingin melihat pertunjukan ketoprak secara privat, bisa memesan dengan harga tertentu. Harga itu sudah termasuk untuk pemandu, transportasi ke lokasi, sopir, tiket, dan donasi.