Melacak Jejak Si Molly
Sejumlah bandar kakap yang ditangkap BNN dua bulan terakhir mengungkap satu fakta penting
Scroll
Raffi Ahmad ketika dibebaskan dari BNN

Melacak Jejak Si Molly

RUANG rapat di lantai enam gedung Badan Narkotika Nasional, Jalan M.T. Haryono, Jakarta Timur, itu mendadak senyap. Deputi Pemberantasan BNN Benny Jozua Mamoto tampak berkali-kali menghela napas panjang, sementara tiga penyidik di hadapannya menunduk dalam-dalam.

Sore itu, awal Oktober 2013 lalu, Benny baru saja menerima kabar tak enak dari tiga anak buahnya tersebut. Beberapa jam sebelumnya, mereka baru saja selesai melakukan gelar perkara kasus Raffi Ahmad bersama para jaksa di gedung Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan.

Raffi adalah selebritas muda papan atas yang sedang berada di puncak karier. Wajah rupawannya ada di hampir semua layar kaca. Dinihari, Ahad, 27 Januari 2013, petugas BNN menggedor rumah sang artis di bilangan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, dan menemukan jejak pesta narkotik dan obat berbahaya (narkoba).

Di sana, penyidik menemukan 14 pil methylenedioxymethcathinone (MDMC) alias metilon dan dua linting ganja.

Penangkapan Raffi segera menjadi kepala berita. Selama berhari-hari setelah penggerebekan itu, ratusan wartawan mengepung gedung BNN untuk memperoleh informasi tentang perkembangan kasus ini.

Yang jadi masalah, zat psikotropik yang ditemukan di rumah Raffi adalah narkoba jenis baru. Metilon belum masuk daftar zat terlarang dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

Sejak Februari sampai Oktober--kurang-lebih delapan bulan--berkas perkara artis asal Bandung itu tujuh kali bolak-balik dari BNN ke kejaksaan.

Sampai pertemuan terakhir, akhir Oktober itu, jaksa berkeras menolak melanjutkan kasus Raffi ke pengadilan. "Jaksa ingin ada daftar yang mencantumkan MDMC sebagai zat terlarang," kata Benny kepada Tempo, awal Desember 2013 lalu. Daftar itu sampai sekarang tidak ada.

Walhasil, Raffi pun melenggang bebas. Akhir April 2013 lalu, setelah menjalani rehabilitasi selama tiga bulan di Lido, Sukabumi, pemuda 26 tahun itu meninggalkan gedung BNN.

Lepasnya Raffi membuat Benny dan koleganya pusing tujuh keliling. Mereka tak bisa bergerak meski tahu peredaran narkotik baru ini terus meluas ke pelosok Nusantara.

Sejumlah bandar kakap yang ditangkap BNN dua bulan terakhir mengungkap satu fakta penting: Indonesia sudah masuk peta jaringan perdagangan global metilon dan puluhan jenis narkotik baru, yang diselundupkan dari Cina dan Eropa.

Ratu Disko Baru
Suasana di sebuah diskotik di Jakarta. Dok. TEMPO
Scroll
BNN berhasil mengamankan tujuh orang tersangka, dua diantaranya oknum TNI Angkatan Udara Lanud Pekanbaru dan barang bukti sebanyak 430 butir ekstasi, 97 butir happy five dan 514,5 gram sabu. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Ratu Disko Baru

SEBUTIR pil itu tak lebih besar daripada pil obat sakit kepala biasa. Ada logo hati di salah satu sisinya. Warnanya oranye cerah seperti jeruk matang.

Sepintas bentuknya tak istimewa, tapi inilah si molly, "ratu" pesta baru di kalangan pengguna narkoba berkantong tebal di negeri ini.

Tempo beruntung bisa membeli pil metilon ini dari seorang pelayan diskotek Club SP, Pekanbaru, akhir November 2013 lalu. Klub malam ini ada di lantai lima Senapelan Plaza, Jalan Sudirman. Di ibu kota Riau ini, metilon lebih dikenal dengan sebutan "vitamin".

Biasanya pengunjung baru tak akan memperoleh akses pada barang haram itu. Pil itu baru muncul setelah Tempo "menyogok" seorang penari telanjang dengan empat seloki Jack Daniel's.

Sebutir pil molly itu harus ditebus dengan duit Rp 350 ribu. "Ini barang baru. Kalau ekstasi biasa, harganya cuma Rp 250 ribu," ujar si pelayan setengah berbisik.

Jejak metilon di Pekanbaru pertama kali tercium pada Juli 2013 lalu. Ketika itu, BNN menangkap dua bintara TNI Angkatan Udara, Sersan Mayor Bambang Winarno dan Sersan Dua Riki Yunardi, yang ternyata punya pekerjaan sampingan jadi bandar narkoba.

Mereka mengedarkan zat memabukkan di tempat-tempat hiburan malam di Pekanbaru, seperti diskotek XP, Club SP, dan MP. Ketika dua sersan ini ditangkap, BNN menemukan 300 butir pil ekstasi dan metilon.

Baca: Terungkap, Jual-Beli Narkotik Kian Canggih

Ketiga diskotek itu sebenarnya bukan tempat sembarangan. Di kalangan clubber di Pekanbaru, tiga lokasi hiburan di pusat kota ini dikenal sebagai kawasan elite yang "aman" untuk berjudi dan membeli narkoba. Pemilik ketiga tempat itu, Dedi Handoko, sudah tersohor sebagai "orang kuat" di Pekanbaru.

November lalu, ketika Tempo datang ke Club SP, tampak jelas bagaimana pintu masuk diskotek ini dijaga belasan pria bertubuh tegap dengan rambut cepak.

Mereka memeriksa setiap pengunjung dengan kesigapan dan kewaspadaan yang hanya dimiliki pasukan terlatih. Gaya bicara mereka dan cara mereka menyapa satu sama lain pun khas gaya militer. Sayangnya, tak satu pun dari mereka mau menjawab pertanyaan Tempo.

Ketika dimintai konfirmasi, Dedi Handoko membantah kabar bahwa klub malamnya menjajakan pil haram si molly. "Semua karyawan saya sudah menandatangani surat pernyataan tak akan menjual narkoba," ujarnya. Bagaimana kalau masih ada yang berjualan? "Itu urusan pribadi mereka."

Di Jakarta, Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto juga membantah tudingan bahwa prajuritnya nyambi jadi penjaga diskotek di Pekanbaru. "Kami tidak akan memberikan toleransi," katanya.

Favorit Anak Muda
Dari kiri, Lysergic Acid Diethylamide (LSD) sintetis, mitragyna speciosa atau kartom, dan methylone atau dikenal dengan nama N-BOMB, beberapa obat terlarang jenis baru di Jakarta, Kamis, 14 November 2013. [TEMPO/STR/Seto Wardhana]
Scroll
"Rasanya lebih asyik dari ekstasi. Waktu itu saya dapat dari tamu asal Jakarta. Dia menyebutnya molly. Itu sebutan tenar untuk metilon,"

Favorit Anak Muda

Perempuan cantik berambut panjang asyik ajojing sendiri di samping meja yang berantakan dengan gelas bir dan botol air mineral. Goyangannya terkadang tak seirama dengan ketukan house music yang mengentak. Sambil sesekali mengisap rokok, ia tampak larut dalam permainan sinar laser yang menerpa wajahnya yang basah oleh keringat. Matanya terpejam.

Ayu, begitu ia memilih nama samarannya saat berkenalan dengan Tempo pada awal November lalu. Tanpa malu-malu, ia mengaku berprofesi sebagai pelacur yang biasa mencari pelanggan di tempat dugem. Ladies night--malam ketika wanita gratis masuk ke tempat hiburan--adalah waktu yang biasa ia gunakan untuk "beredar".

Diskotek itu terletak di lantai dua kompleks pertokoan di bilangan Pasirkaliki, Bandung. Lantaran musik berdentam superkeras, Ayu, yang malam itu berpakaian serba mini, mengajak Tempo ngobrol di ruangan yang lebih sepi, satu lantai di atas pintu masuk diskotek. Di sana sudah ada Reni, kawannya.

"Saya tahu itu. Molly namanya!" perempuan belia itu berteriak ketika mendengar deskripsi soal bentuk dan efek narkoba baru yang sedang hit di klub-klub malam Ibu Kota.

"Rasanya lebih asyik dari ekstasi. Waktu itu saya dapat dari tamu asal Jakarta. Dia menyebutnya molly. Itu sebutan tenar untuk metilon," ujar Ayu. Kali ini dia berbisik. Perempuan lulusan sebuah sekolah menengah atas di Indramayu ini mengaku sudah lima tahun jadi pengkonsumsi ekstasi.

Seingat Ayu, molly di tangannya ketika itu berbentuk kapsul bening. Di dalamnya terdapat serbuk berwarna putih kusam. Dia mendapatnya gratis dari sang tamu, free of charge.

Tak lama setelah menenggak metilon, kata dia, kepala terasa enteng, gerakan tangan dan badan juga lebih ringan. "Sebenarnya seperti ekstasi, tapi molly lebih cepat 'naik'-nya," ujar Ayu.

Pengalaman yang sama dirasakan Reni. "Bedanya kentara saat pengaruh obat hilang. Kalau pake ekstasi, ada rasa lelah atau mual, tapi kalau ini tetap bugar," ucap gadis 22 tahun asal Subang ini. "Mau dugem semalaman, stamina tak terkuras."

Dari dua perempuan tersebut, malam itu Tempo bisa berkenalan dengan Abo dan Benny, dua pengedar kecil yang biasa berseliweran di beberapa tempat disko di Bandung. Namun malam itu tak ada "barang". "Coba besok-besok. Hari ini kami tak kebagian pasokan," kata mereka seragam.

Tapi esok malamnya pun kosong. Menurut Abo, sejak metilon dikenal luas--setelah tertangkapnya Raffi Ahmad--pasokan pil itu dari Jakarta jadi tak menentu. Mereka menolak menceritakan siapa pemasok dari Jakarta, yang mereka sebut "Si Bos".

"Yang jelas, harganya sekarang berkisar Rp 600 ribu per butir. Terkadang kapsul, seringnya berbentuk tablet," ujarnya. Abo mengaku hanya mendapat untung 30-40 persen dari total penjualan. Jika dagangannya sedang laris, Abo bisa menjual hingga 40 butir pil metilon dalam satu malam.

Sebagai pelipur lara karena tak bisa menunjukkan bentuk metilon, Abo memberikan sejumlah stopper kepada Tempo. Pil stopper ini juga jenis narkotik, tapi fungsinya justru untuk menghentikan efek ikutan dari sabu dan ekstasi.

Datang dari Cina

NARKOBA baru yang beredar di Indonesia diperkirakan berasal dari Eropa, terutama Belanda dan Jerman, serta Cina dan Malaysia. Metilon, misalnya, diduga masuk dari dua pintu: Pelabuhan Batam dan Tanjung Priok.

Petugas memperlihatkan barang bukti dan tersangka jaringan narkotika internasional di kantor D?itnarkoba Bareskrim Polri, Cawang, Jakarta, Senin (11/11). Dalam penangkapannya, petugas mengamankan 6201 gram shabu serta menemukan 7 golongan zat baru yang ada di dunia diantaranya golongan Syntetic Khatinone, Phenethylamines, Zat tanaman dasar yang berupa Kratom dan tanaman Khatinona golongan Ketamine serta golongan Piperazine serta mengamankan sembilan tersangka. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

Jalur masuk narkoba via Batam terungkap ketika Juli lalu seorang warga Malaysia bernama Ng Chan Keong digeledah polisi di Batam. Penyidik menemukan Keong membawa lebih dari 9.000 butir metilon di bagasinya.

Polisi menduga ribuan pil ini dikirim dari Pelabuhan Johor Bahru, Malaysia. Jika sukses menembus Batam, metilon ini akan didistribusikan ke Medan, Lampung, Palembang, sampai Pekanbaru. Seorang bandar di Medan mengendalikan peredaran molly di seluruh Sumatera.

Adapun jalur Tanjung Priok dipakai untuk menyuplai narkoba jenis baru dari Cina ke Jawa dan Indonesia bagian timur. Modusnya adalah dengan menyelundupkan narkoba bersama muatan lain, seperti barang konfeksi atau peralatan elektronik.

Polisi membongkar jalur ini pada Juni lalu, ketika seorang bandar narkoba bernama Wayan Purwa dicokok di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Di sel, dia bernyanyi tentang kiriman metilon dari seorang bandar bernama Roni Chandra di Surabaya.

Cara pengirimannya ternyata simpel saja: narkoba itu dipaketkan lewat jasa pengiriman. Orang suruhan Roni di Mataram kemudian menerima paket itu, lalu meletakkannya di sebuah tempat yang disepakati--bisa di bawah batu atau pohon. Tak berselang lama, Purwa akan mengambil barang itu dan meletakkan uang pembayaran di tempat yang sama. "Jadi saya tak pernah bertemu dengan pengirimnya," kata Purwa.

Penyidikan polisi sejauh ini menemukan bahwa bandar narkoba jenis baru ini biasanya juga mengedarkan ekstasi dan sabu-sabu. "Menjual narkotik baru ini hanya sambilan para bandar," ujar Benny Mamoto, Deputi Pemberantasan BNN.

Henny Michele contohnya. Perempuan 48 tahun ini ditangkap pada November lalu karena kepemilikan sabu-sabu. Tapi, begitu digeledah, ternyata dia juga menyimpan belasan pil metilon dan ratusan lembar LSD sintetis.

"Metilon digunakan sebagai pengganti ekstasi, LCD menggantikan putaw," kata Direktur Narkotika dan Obat Terlarang Markas Besar Kepolisian RI Brigadir Jenderal Arman Depari, November lalu.

Transaksi Rahasia
"Kalau pake ini, kita masih bisa mengontrol diri, jadi pede dan gampang bersosialisasi,"

Transaksi Rahasia

DITENGARAI masuk ke Indonesia sejak empat-lima tahun lalu, metilon dan beberapa jenis narkotik baru kini beredar luas. Obat-obatan ini biasanya diperjualbelikan di tempat hiburan seperti bar, diskotek, dan kafe.

Dari Bandung, Tempo menelusuri perdagangan narkoba jenis baru ini sampai beberapa kota lain, seperti Jakarta, Pekanbaru, Medan, Batam, dan Mataram.

Di Ibu Kota, pada pekan pertama November lalu, Tempo bertemu dengan Soni, eksekutif muda berusia 33 tahun, yang berprofesi sebagai karyawan bagian legal sebuah perusahaan ternama di bilangan Kuningan. Lelaki yang gemar fitness ini sering nongkrong di klub Lucy in the Sky, di bekas Bengkel Cafe, Jakarta Selatan.

Dengan ringan, dia mengaku rutin menenggak molly. "Saya kenal pil mirip ekstasi ini pada Desember 2009," katanya mengenang. Obat ini, kata Soni, sekarang menjadi favorit para eksekutif muda.

Penyebabnya sederhana: molly tak menyebabkan basian--istilah pengguna narkoba untuk menyebut efek ikutan dari ekstasi. Mereka yang rutin memakai ekstasi biasanya merasa lelah dan mual-mual setelah semalaman fly.

"Kalau pake ini, kita masih bisa mengontrol diri, jadi pede dan gampang bersosialisasi," ujar pria yang punya gelar master di bidang hukum ini.

Untuk memperoleh molly atau narkotik baru lain, Soni tak gegabah. Ia selalu menggunakan jasa kurir atau perantara dalam setiap transaksi. Dia tak pernah bertemu dengan bandar besar. "Terlalu berisiko kalau ketemu bandar," katanya.

Baca: Bandar Narkoba di Lapas, BNN: Kalau Kami Serbu, Serbu Betul!

Cara transaksinya pun unik. Soni biasanya memilih kafe atau pusat kebugaran yang biasa dia datangi di kawasan Senopati, Jakarta Selatan.

Sang kurir--yang dihubungi via telepon sebelumnya--akan membawakan pil molly yang disembunyikan di dalam bungkus rokok. Di tengah percakapan, rokok itu akan berpindah tangan. "Uang ditransfer via bank belakangan," ujar Soni.

Jika keadaan pasar normal, Soni membayar Rp 500 ribu untuk setiap pil. Tapi, bila bandar sedang banjir barang, harga satu butir pil bisa terbanting separuh sampai Rp 250 ribu.

Soni juga menggunakan dua jenis narkoba selain metilon: ketamine dan LSD sintetis. "Kalau ketamine, saya pake yang bentuk cair. Harganya bisa Rp 2,5 juta," kata Soni. "Jika sudah dicairkan, ketamine sebanyak itu bisa dikonsumsi delapan orang." Di kalangan pengguna, ketamine lazim dikonsumsi bersama ekstasi.

Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Nusa Tenggara Barat Mufti Djusnir mengakui efek halusinasi yang ditimbulkan si molly lebih kuat daripada ekstasi biasa. Zat-zat di dalam pil itu berpengaruh kuat terhadap sistem pusat saraf manusia.

Mufti--yang juga ahli kimia farmasi--menunjukkan sejumlah contoh zat yang menimbulkan efek serupa. Ada serotonin, yang biasanya akan menimbulkan euforia atau rasa senang berlebihan. Ada juga dopamine, yang menciptakan halusinasi dan menyebabkan jantung bekerja lebih cepat. "Jadi mereka yang memakai metilon akan merasa mendapatkan tenaga lebih besar dari biasanya," ujarnya.

Masalahnya, manipulasi rasa senang yang ditimbulkan molly bisa berbahaya dalam jangka panjang. Tubuh yang penuh perasaan euforia terkadang sulit mengontrol rasa lain yang timbul. "Bisa saja pengguna tidak bisa merasakan sakit hebat akibat kram jantung karena tertutupi oleh rasa senang yang berlebihan," katanya.

Di banyak negara, korban sudah berjatuhan. Seorang pemuda Alaska, Amerika Serikat, bernama Matt Scott, 20 tahun, tewas setelah mengkonsumsi metilon pada April 2012. Sang pengedar narkoba yang menjual si molly kepada Scott kini diadili majelis hakim di Alaska.

Karena itulah BNN terus mendesak agar peredaran obat pesta ini segera dikendalikan. Caranya mudah: Kementerian Kesehatan harus memasukkannya ke daftar jenis psikotropik yang dilarang.

Pesta Belum Berakhir
Mereka yang tersisa terus berdansa, jejingkrakan, dengan stamina prima. Tak ada gurat kelelahan sedikit pun di raut wajah mereka.

Pesta Belum Berakhir

Soni mengaku menggunakan molly setiap pekan. "Meski molly lebih susah dicari ya. Lebih gampang nyari ekstasi atau sabu," ujarnya jujur.

Pria lajang bertubuh tegap itu mengaku butuh metilon untuk berpesta setiap Jumat. Dia sering fly di sebuah klub eksklusif bernama Lucy in the Sky di kompleks Bengkel Cafe SCBD, Jakarta Selatan.

"Di sana ada kamar khusus yang disulap jadi diskotek setiap malam Sabtu," katanya. Sekali datang, pengacara muda ini menghabiskan Rp 2,5 juta di sana.

Nama Lucy in the Sky diambil dari judul lagu The Beatles, Lucy in the Sky with Diamonds, atau kalau disingkat: LSD. Soni berbisik, nama klub itu memang kode untuk para penikmat zat psikotropik asam lisergat dietilamida, yang juga dikenal dengan sebutan LSD. Selain molly, LSD jenis baru memang belakangan sedang naik daun.

Pekan kedua November lalu, Tempo datang ke kamar spesial Lucy dan melihat sendiri bagaimana puluhan anak muda menyesaki setiap sudut ruangan seluas lapangan tenis itu. Sepertiganya bule atau bertampang Indo.

Di ruangan yang temaram, musik berdentam-dentam. Semua orang akrab ngobrol atau bergoyang energetik. Tanpa Soni, Tempo jelas tak bisa masuk ke sana.

Setiap kelompok pengunjung biasanya menyerahkan kartu kredit kepada pelayan, sehingga bisa memesan apa pun dengan bebas. Harga satu gelas Long Islands di sini Rp 160 ribu.

Baca: BNN Rehabilitasi Ratusan Pecandu Termasuk TNI dan Polisi

Di mana molly-nya? "Kami biasanya sudah pake sebelum ke sini," ujar Soni ringan. Wajahnya cerah, senyumnya lepas. Enam jam kemudian, ketika jarum jam menunjukkan pukul lima pagi, separuh pengunjung sudah pulang. Tapi mereka yang tersisa terus berdansa, jejingkrakan, dengan stamina prima. Tak ada gurat kelelahan sedikit pun di raut wajah mereka.

Djumhara, Manajer Restoran Lucy in the Sky, mengaku tak tahu ada transaksi narkoba di gedungnya.

SAMPAI sekarang, BNN belum mau menyerah dalam kasus Raffi. Akhir November lalu, ada kabar kejaksaan telah meminta BNN mengeluarkan surat perintah penghentian penyidikan (SP3) atas kasus ini. Tapi BNN menolak. "Hingga kini, status cegah Raffi belum dicabut," ujar sumber Tempo di lembaga itu.

Raffi sendiri tampaknya berusaha melupakan sepenggal kisah kelam hidupnya itu. Ketika ditanya soal perkembangan kasusnya seusai syuting acara musik Dahsyat di studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, awal Desember lalu, dia mengelak.

"Aduh, maaf, saya tidak bisa membahas hal itu. Ini saya harus pergi syuting lagi," katanya. Wajahnya yang semula ramah berubah jadi cemberut. Terburu-buru dia bergegas masuk ke mobilnya, dikawal seseorang berbadan tegap.

***