Suara dari Timur

Papuaku, Papuamu

Bagi kebanyakkan orang Indonesia, Papua mewakili beberapa hal yang sewarna: konflik, kekerasan, dan keterbelakangan. Penampilan fisik orang Papua yang berbeda kerap jadi sumber kecurigaan berbau rasisme. Bagi sebagian besar orang yang tidak tinggal di tanah Papua, berbagai persoalan di sana terasa sebagai sesuatu yang jauh dan tidak relevan.

Berangkat dari itu, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS) menggandeng Tempo untuk sebuah misi khusus: memetakan persoalan mendasar di Papua dan melihat sisi lain dari konflik menahun di ujung timur Nusantara itu. Lahirlah foto-foto ini.

Sepanjang Oktober sampai November 2016 lalu, delapan fotografer Tempo berkeliling ke sepuluh kabupaten di Provinsi Papua dan Papua Barat; mulai dari Jayapura, Wamena, Biak, Fak-Fak, Sorong, Nabire, Yahukimo, Boven Digoel, Timika hingga Merauke. Mereka mengabadikan toleransi beragama yang kental, interaksi keseharian pendatang dan pribumi, gelak tawa anak-anak sampai tradisi adat yang menjiwai cara pandang orang Papua mengenai lingkungannya.

Potret yang getir juga terekam. Sebuah keluarga yang terancam digusur dari pulau tempat tinggal mereka bergenerasi-generasi, desa adat yang terkepung perkebunan sawit sampai penambangan emas yang justru menyingkirkan penduduk setempat. Semua berkecamuk dengan latar belakang ketegangan soal identitas nasional bernama Indonesia. Semoga foto-foto ini membuat Papua terasa lebih dekat. (*)

Penyusun

Kurator

  • Mahanizar Djohan
  • Bodhi CH
  • Puri Kencana Putri

Editor Naskah

  • Wahyu Dhyatmika

Fotografer

  • Rully Kesuma
  • Subekti
  • Tony Hartawan
  • Dhemas Revianto
  • M Iqbal Ichsan
  • Dian Triyuli H
  • Frannoto
  • Pius Erlangga

Desain dan Teknologi