Menteri Tjahjo
dan Kisah Perburuan
Harimau Sumatera
PEMBURU membantai gajah dan harimau Sumatera di Aceh demi gading dan kulit yang berharga mahal. Mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka, tentara, dan polisi disebut terlibat.
Scroll

Menteri Tjahjo dan Kisah Perburuan Harimau Sumatera

Perburuan gajah dan harimau di Pulau Sumatera masih terus berlangsung, dilakukan berjamaah oleh para petani, militer, eks Gerakan Aceh Merdeka, dan pejabat daerah. Pembelinya adalah para petinggi militer, polisi, dan pejabat negara. Pada 12 Februari lalu, ujug-ujug Menteri Dalam Negeri Tjahjo di TVOne pamer lima koleksi patung kulit harimau sumatera di rumahnya. Para pecinta lingkungan geger.

Setahun sebelumnya, Tempo pernah menginvestigasi perburuan dan penjualan kulit harimau sumatera serta gading gajah di Aceh. Berikut ini kisahnya…

Para aktivis perlindungan satwa terkejut saat menonton dialog santai Menteri Dalam Negeri Tjahjo di TVOne pada 12 Februari lalu. Politikus dari PDI Perjuangan itu memamerkan lima koleksi patung kulit harimau sumatera dan macan tutul serta dua kulit beruang di rumahnya. Di kalangan kolektor, patung awetan itu disebut offset. Aksi pamer itu sontak memunculkan ratusan protes kepada Tjahjo di jagad Twitter dan Facebook.

Tjahjo bergerak cepat. Sehari berselang, lewat akun twitternya, ia berjanji akan mengembalikan lima offset koleksinya itu ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Ia mengaku membelinya dari seorang teman, di antaranya pada puluhan tahun lalu. “Niat saya baik, untuk merawat mereka,” kata Tjahjo dalam cuitannya pada 13 Februari lalu.


Tjahjo sebenarnya tidak sendiri. Legal Adviser Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS) Irma Hermawati mengatakan sebenarnya masih banyak pejabat sipil, militer dan polisi yang menyimpan patung kulit harimau di rumah mereka. Padahal tindakan itu jelas melanggar Undang-Undang-Undang Nomor 50 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Nasib yang sama juga dialami gading-gading gajah sumatera. Hingga sekarang, kata Irma, banyak tongkat komando militer dan polisi yang masih menggunakan gading. Ada pula yang hobi mengoleksi barang-barang ini, karena dianggap meningkatkan status sosial. “Para pejabat itu bisa dihukum bila masih menyimpan gading, patung kulit harimau dan sejenisnya,” kata Irma Ahad, 21 Februari 2016.

***

Gading Gajah Hilang di Aceh

Jumlah populasi terbesar gajah sumatera dan harimau sumatera ada di Aceh. Di sana pula perburuan besar-besaran keduanya beserta satwa dilindungi lainnya masih terus terjadi. Pada Maret tahun lalu, selama seminggu Tempo mendatangi beberapa tempat di Aceh untuk menelusuri jual-beli gajah dan harimau. Di mana-mana dua hewan itu diburu.

Alasan perburuan yang sering dikemukakan adalah konflik dengan penduduk. Faktanya, gajah sering masuk permukiman. Pada 2014, misalnya, dua gajah mati tersengat listrik di dekat sebuah kebun di Kecamatan Trumon Timur, Aceh Selatan, sekitar delapan jam bermobil dari Medan.

Kepada Tempo, Zulkifli, 44 tahun, pemilik kebun, bercerita pada 2013 ladang jagung di desa itu dihancurkan gerombolan gajah. Penduduk kemudian patungan merentangkan kawat listrik sekeliling ladang. Gerombolan gajah biasanya lari lintang-pukang jika tersengat listrik. Jebakan ini kadang-kadang makan tuan. Dua warga Trumon tewas karena menyentuh kawat bertegangan tinggi itu.

Tahun lalu dua gajah tak selamat. Gajah pertama tewas di dekat ladang Zulkifli. Mayatnya dikubur dengan kawalan polisi dan tentara. Kuburannya diberi beling agar tak ada orang menggali untuk mengambil gadingnya. Seekor lagi tewas di dalam hutan. Gadingnya dijual ke Medan. "Yang mengambil mantan anggota GAM," kata Zulkifli.

Sekretaris Partai Aceh Suadi Sulaiman alias Adi Laweung menyatakan tak ada mantan tentara Gerakan Aceh Merdeka yang berburu gajah. "Kami tidak mau macam-macam," katanya, Kamis pekan lalu.

Cerita pembantaian gajah terdengar lebih santer di Meulaboh, Aceh Barat. Kabupaten ini merupakan salah satu kantong populasi gajah di Aceh. Di sana pula banyak sekali penemuan gajah mati secara tak wajar. Gading mereka rata-rata menghilang. Pada 4 Mei 2014 polisi menangkap Dedi Julian dan Ahmad Farial karena menjual 4 kilogram gading dan 650 kilogram tulang gajah kepada polisi yang sedang menyamar. Otak perdagangan itu, Dedi, meninggal tahun lalu karena keracunan minuman keras oplosan.

Mengikuti jejak perburuan gajah hingga ke kabupaten ini, Tempo berjumpa dengan Farial, 65 tahun, di Pengadilan Negeri Meulaboh. Dia membantah dakwaan polisi. "Saya dijebak," katanya.

Pada saat yang sama, pengadilan tengah memproses Husen bin M. Jainun, yang bersama sepuluh temannya tertangkap tangan membunuh dan menjual gading gajah pada 12 April 2014 di Desa Pantai Cermin, Meulaboh. Namanya tercantum sebagai terdakwa kedua, bertugas menjual gading. Ia mengaku hanya sopir. "Saya tak tahu itu gading siapa," katanya.

***

Para Penjual
Kulit Harimau
ke Pejabat
Farial, 65 tahun, di PN Meulaboh
Scroll
Ladang jagung Zulkifli yang berkawat listrik. (Foto: Mustafa Silalahi)

Para Penjual Kulit Harimau ke Pejabat

Ahmadi, 34 tahun, mantan penjual gading dan offset harimau--kulit harimau yang sudah dibuat menjadi patung dengan memasukkan kapas atau busa ke dalamnya--di Kabupaten Bener Meriah, mengatakan sejumlah aparat militer sering terlibat. Pengakuan ini ia utarakan saat Tempo berkunjung ke rumahnya pada April 2015. "Saya sering mendapatkan gading dari tentara," kata mantan Ketua Komisi Independen Pemilu Bener Meriah itu.

Gading dan patung dari kulit harimau dipercaya menjadi lambang kemakmuran, kewibawaan, dan kekuasaan. "Itu sebabnya banyak petinggi polisi dan tentara mengoleksinya," kata Kepala Sub-Direktorat Tindak Pidana Tertentu Markas Besar Kepolisian, Komisaris Besar Luky Ardiansyah, Maret tahun lalu.

Luky mengatakan sering meminta para jenderal purnawirawan ataupun aktif untuk menyerahkan gading dan kulit harimau yang mereka koleksi kepada BKSDA. "Ada yang patuh, ada juga yang tak mau rugi dan menjualnya diam-diam," ujarnya.

Kepala Penerangan Kodam Iskandar Muda Letnan Kolonel Mahfud kala itu membantah tudingan bahwa tentara terlibat perburuan hewan langka. Dia menegaskan prajurit justru diperintahkan untuk melestarikan satwa dan lingkungan. "Kami tidak pernah melakukan perburuan dan penjualan itu," katanya.

Kebanyakan harimau di Aceh ditangkap menggunakan jerat baja. Jerat itu dipasang di tanah dan diberi umpan daging mentah. Jerat akan mengekang kepala dan kaki harimau yang menyentuh umpan.

Banyak juga pemburu harimau menggunakan racun. Tim BKSDA Aceh beberapa kali menemukan umpan daging beracun di dalam hutan. Racun tersebut amat ampuh, dibuat dari tuba atau ramuan tradisional. "Mereka menjaga agar kulit harimau tidak rusak," kata Genman, Kepala BKSDA Aceh.

Seorang kolektor gading dan kulit harimau yang ditemui Tempo di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, mengaku sering membeli hewan langka dari seorang pedagang bernama Suwito. Pedagang itu tinggal Dusun Pantai Buaya, Kecamatan Besitang, Langkat.

Di Medan, nama Suwito, 60 tahun, dikenal luas oleh para kolektor satwa. Semua pesanan ia sanggupi. Dari gading, kulit harimau, beruang, rusa, bahkan kambing hutan. Penjual gading juga akan menjual kulit harimau karena kedua barang inilah yang paling dicari pembeli.

Satu kilogram gading kualitas super yang sedikit retak dijual Rp 25 juta per kilogram. Kulit harimau utuh Rp 30 hingga 60 juta, tergantung ukurannya. Seorang kolektor pernah mendengar pengakuan Suwito telah menjual gading ke sejumlah tokoh, di antaranya mantan gubernur dan seorang mantan Kepala Kepolisian RI. Suwito tak pernah mengangkat telepon dan membalas pesan yang dikirimkan untuk meminta konfirmasi.

Menombak Gajah,
Menjerat Harimau

Menombak Gajah, Menjerat Harimau

Sejak April 2012 hingga November 2014, menurut data World Wide Fund for Nature (WWF), 34 gajah dibantai. Semua ditemukan dalam kondisi serupa: tengkorak terbelah, gading raib. Sepanjang 2014, dari 14 kasus pembantaian gajah, tujuh dibongkar Kepolisian Daerah Aceh. Menurut Kepala Sub-Direktorat Pidana Tertentu Ajun Komisaris Besar Mirwazi, polisi banyak memperoleh informasi dari aktivis lingkungan.

Syafrizaldi, Program Manager Fauna dan Flora International (FFI) untuk Aceh, memastikan semua pembunuhan gajah berhubungan dengan jaringan penjualan dan penyelundupan gading. Alasannya, pada setiap gajah jantan yang mati, tengkoraknya terbelah hingga ke dekat kuping tempat akar gading. “Mereka paham bagaimana cara mencabutnya. Itu tanda gadingnya memang sudah diincar,” katanya.

Menembak hanya salah satu cara membunuh gajah. Pemburu tradisional biasanya menggunakan seunumbok, linggis besi yang diikatkan ke gelondongan kayu kemudian digantung vertikal di atas pohon. Tali itu tersambung dengan kawat yang direntangkan ke bawah. Jika gajah menyentuh kawat, seunumbok akan jatuh dan menancap di kepalanya.

Jebakan papan berpaku 5-8 inci juga sering digunakan. Paku-paku itu diolesi racun. Suriyanto, aktivis Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia yang pernah mengikuti jejak para pemburu di Aceh, kerap menemukan jebakan model ini di tengah hutan. Papan berpaku selebar satu meter itu diletakkan di dasar lubang pada perlintasan gajah. Mereka menutup lubang itu dengan dedaunan. "Bila terinjak, gajah pelan-pelan akan mati," ujarnya.

Sementara di Takengon, Aceh Tengah, Tagore Abubakar disebut-sebut sebagai juragan gading dan kulit harimau. Bupati Bener Meriah periode 2007-2012 ini sekarang anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan. Menurut seorang kerabatnya, Tagore sering memodali pawang dan pemburu untuk mencari hewan menurut pesanan pembeli. Di rumah Tagore pernah ada tujuh patung harimau dan tumpukan gading.

Pada 2014 dua orang ditangkap di Aceh Tengah dan Bener Meriah karena menjual kulit harimau. Mereka adalah Maskur, warga Takengon, dan Sersan Mayor Joko Rianto, anggota Kodim 0106/Aceh Tengah. Penduduk di sana percaya bahwa mereka terkait dengan Tagore, yang berkuasa atas jaringan perdagangan hewan langka di kedua daerah tersebut. Namun hal itu tak terbukti di pengadilan.

Salah seorang yang disebut-sebut kerap menerima orderan dari Tagore adalah mantan pawang dan pemburu harimau Yan Kule. Ditemui Tempo di warung kopi di Takengon pada April 2015, pria tinggi kekar itu bercerita sudah membunuh puluhan ekor harimau. Caranya, dipukul, dijerat, atau diracun. Asal tidak merusak kulitnya."Aku memang kenal Tagore," katanya. Tapi dia enggan membahas hubungan bisnis mereka. Tagore membenarkan beberapa kali membeli hasil buruan Yan Kule, tapi membantah pernah memodali para pemburu. Menurut dia, semua offset harimau miliknya terdaftar dan berizin. "Saya tahu undang-undang," katanya lewat sambungan telepon, April 2015.

"Semua jenderal
yang dulu ke Aceh
pernah aku kasih
kulit harimau"
Yan Kule (Mantan Pemburu Harimau) (FOTO: MUSTAFA SILALAHI)

Wawancara
Mantan Pemburu Harimau Yan Kule:

"Semua jenderal yang dulu ke Aceh pernah aku kasih kulit harimau"

Nama aslinya Yan. Usianya 47 tahun. Tinggi tubuhnya 180 sentimeter, berjanggut dan bersuara berat. Tapi, semenjak ia remaja, kerabatnya memberinya nama tambahan, Kule. Dia lalu dipanggil Yan Kule. Dalam bahasa Gayo--suku di Aceh bagian tengah--Kule berarti harimau. Di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, dia kesohor sebagai pawang dan pemburu harimau.

Yan mulai berburu harimau sejak usia 17 tahun. Yang membuat namanya melegenda, dia bisa memanggil harimau lalu membunuhnya dengan tangan kosong. "Mantranya cuma baca bismillah," katanya. Leher harimau ia jerat sampai mati atau dia pukul pakai batu. Ia mengaku terakhir berburu ilegal pada 2004. Namun pada 2013 ia pernah membunuh empat harimau yang mengganggu penduduk atas permintaan aparat keamanan. ”Setelah itu harimaunya dikuliti dan dijual,” katanya.

Berapa ekor harimau sudah Anda bunuh?
Aku nggak ingat lagi, mungkin seratusan. Dulu sekali berburu paling sedikit dapat satu harimau. Dalam setahun aku empat kali berburu harimau ke hutan.

Siapa saja pembelinya?
Siapa saja yang mau. Tapi lebih banyak tentara, polisi, dan intel. Ada yang aku antar sendiri ke Jakarta. Hampir semua jenderal tentara dan polisi yang datang ke Aceh pernah aku kasih kulit harimau.

Anda jual berapa kulit harimau itu?
Terserah mereka mau kasih berapa. Aku pernah menjualnya sampai belasan juta rupiah.

Pernah jual ke luar negeri?
Pernah ke orang asing yang banyak datang ke Aceh saat masa konflik dan tsunami. Mereka gampang membawanya ke luar karena memakai kargo diplomatik.

Negara mana saja?
Paling banyak ke Singapura, Cina. Biasanya lewat Batam dulu.

Anda masih berburu?
Tidak, tapi aku sangat hobi berburu dan tak bisa lama-lama di kota. Sekarang lebih banyak berkebun saja.