Pesta Terakhir Aktivis Ambon

Kematian tokoh hak asasi manusia dan Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Wilayah Maluku, Yohanes Yonathan Balubun, masih meninggalkan kejanggalan. Autopsi mengungkap penyebab kematian. Liputan ini bagian dari program Investigasi Bersama Tempo, yang terselenggara berkat kerja sama Tempo, Tempo Institute, dan Free Press Unlimited.

JALAN Ina Tuni, Waihoka, Ambon, Kamis tengah malam, 7 April 2016, itu terlihat sepi. Hanya Elly Lewerissa, pemilik salah satu rumah di sana, yang tampak masih beraktivitas. Ia sedang membersihkan pekarangan. Menjelang pukul 1.30 WIT, pria paruh baya itu menyudahi aktivitasnya. “Saya membuang sampah ke tong seberang, lalu masuk ke rumah untuk beristirahat,” kata Elly, pertengahan September 2019.

Beberapa menit usai mengunci pintu, Elly mendengar suara besi berdentang kencang. Ia menduga ada seseorang memukul tiang listrik yang berdiri di ujung pekarangan rumahnya. Beberapa detik kemudian, suara klakson sepeda motor menjerit panjang dari lokasi yang sama. Ia bergegas membuka pintu lalu menuju asal suara.

Ia terkejut. Seorang pria bertubuh tambun tertelungkup di atas tangki sepeda motor merek Honda Verza. Sepeda motor berkelir hitam itu ambruk ke arah kiri. Kepala sang pria berada di atas setang. Ban depan terperosok ke dalam got yang memiliki kedalaman sekitar 30 cm. Kaki kiri si pria ikut masuk ke dalam got.

Elly bergerak mendekati pria tambun yang tampak pingsan itu. Ketika berjalan menuju sang pria nahas, ia melihat dua orang mengendarai satu unit sepeda motor jenis matic di dekat tiang listrik. Mereka tampak kaget, lalu tancap gas melewati Elly. Keduanya menggunakan helm fullface, dan berjaket warna gelap.

Mereka mendadak berhenti, lalu berbalik mendekati Elly. Ia mendengar salah seorang berbicara dengan suara serak dan dibuat berbeda dari orang normal. “Bapak, itu ada orang jatuh. Tolong diangkat ee…,” kata Elly menirukan ucapan salah seorang pengendara. Ia tak membalas kalimat itu. Ia bergegas mendekati sang pria tambun. Kedua pengendara pergi ke ujung jalan.

Suara ribut di ujung pagar turut menarik perhatian Adio Tuapaninaya, tetangganya. Rumahnya beberapa meter dari lokasi kejadian. Adio juga mengaku melihat dua pengendara sepeda motor itu. Ia mengabaikan mereka dan berfokus menolong sang pria tambun. Ia dibantu Barce Rumpuin, Simon, dan beberapa warga lain yang ikut keluar rumah.

Mereka mengangkat tubuh sang pria tambun. Barce ikut mengangkat bagian kepala yang berdarah. “Kepala belakangnya terasa lembek sekali,” kata Barce kepada Tempo. Mereka mengaku bingung. Wajah dan tubuh korban tak terdapat luka lecet layaknya kecelakaan. Tak ada helm di sekitar korban.

Tempat Kejadian Perkara saat malam hari.

Mereka menarik sepeda motor bernomor polisi DE 3112 LS itu dari dalam got. Sepeda motornya tampak masih mulus. Bannya masih terlihat melingkar. Mereka juga tak menemukan ada ceceran darah di jalan. “Mulutnya juga tak tercium aroma alkohol,” tutur Simon.

Mereka memeriksa isi dompet korban. Di sana tercantum nama Yohanes Yonathan Balubun, 41 tahun, warga Jalan Haruhun, Ambon. Mereka semakin kaget. Rumah Yohanes hanya berjarak 300 meter dari lokasi kejadian. Warga biasa menyapanya dengan Yanes. Orang-orang mulai berkerumun. Sementara, kedua pengendara yang sempat memperhatikan mereka dari kejauhan, menghilang entah ke mana.

Para tetangga membawa Yohanes ke Rumah Sakit Sumber Hidup, Ambon, sekitar empat kilometer dari lokasi. Hanya beberapa jam ia di sana. Dengan alasan peralatan yang minim, kerabat meminta dokter merujuk Yohanes ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. M. Haulussy.

Yohanes ternyata cukup populer di Ambon. Ia aktivis hak asasi manusia, seorang pengacara, dan Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Maluku. Kabar “kecelakaan” itu merebak cepat di kalangan aktivis. Mereka mendatangi dan memastikan korban adalah Yohanes. Ia terbujur lemas tak sadarkan diri di ruang instalasi gawat darurat.

Peristiwa ini juga diduga menarik perhatian aparat. Tiga petugas RSUD Dr. M. Haulussy yang tak mau disebutkan namanya mengatakan ada dua pria mengaku intel Komando Daerah Militer XVI Pattimura yang menanyakan kondisi dan meminta rekaman autopsi awal, saat Yohanes masih terkulai di IGD. Pihak rumah sakit menolak permintaan itu.

Mereka juga menyebutkan ada seorang perempuan yang bolak-balik ke ruang IGD memeriksa kondisi Yohanes. Ia bukan perwakilan keluarga karena tak tampak menemui dan berbicara dengan keluarga Yohanes yang berada di dalam ruangan. Rambut perempuan itu dikuncir, bertubuh tinggi dan berusia mendekati 40 tahun.

Sketsa wanita misterius yang memeriksa kondisi Yohanes.

Keluarga Yohanes tak menyimak kehadiran tiga orang tersebut. Menurut Ruth Lawalata, istri Yohanes, mereka berfokus menangani korban. Mereka sempat berharap kondisi bapak dua anak itu membaik karena tubuhnya sempat bergerak pada Jumat subuh, 8 April 2016.

Sekitar pukul 05.00, Yohanes menghembuskan nafas terakhir diduga akibat pendarahan di kepala. “Beta sempat gembira karena tubuhnya mulai bergerak. Tapi itu hanya sebentar. Akhirnya dia pergi untuk selama-lamanya,” kata Ruth, akhir September 2019, sambil menitikkan air mata.

Polisi melakukan olah kejadian perkara di lokasi penemuan Yohanes, saat ia masih dirawat di rumah sakit. Mereka juga memeriksa sejumlah saksi. Mereka menduga Yohanes mengalami kecelakaan tunggal.

Namun, teman-teman sejawat menganggap kematian Yohanes tak wajar. Menurut mereka, Yohanes memang suka minum tapi bukan pemabuk. Ia juga dikenal sebagai pengendara yang tidak suka mengebut. Prasangka buruk mulai muncul. “Banyak kejanggalan dari peristiwa kematian Yohanes,” kata Koordinator Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Provinsi Maluku, Benny Sarkol.

Pada peringatan Hari HAM Internasional, Selasa, 10 Desember 2019, Komnas HAM Maluku bersama sejumlah aktivis di Ambon berkumpul untuk mengenang Yanes, panggilan akrab Yohanes. Ia ditasbihkan sebagai tokoh pembela hak asasi manusia di Maluku. Acara ini juga bertujuan agar Kepolisian Daerah Maluku kembali membuka penyelidikan kematian Yohanes.

Dengan pengungkapan kematian Yohanes, akan memberikan jaminan kepada aktivis lain untuk mengadvokasi kasus-kasus pelanggaran HAM. “Maluku seolah-olah menjadi daerah yang rawan bagi para aktivis HAM,” kata Benny.

I

Ancaman Menjelang Kematian

BELASAN pengunjung memenuhi Cafe Kontempo, Pulo Gangsa, Ambon, Rabu siang, 6 April 2019. Di salah satu sudut ruangan, Yohanes Yonathan Balubun bercengkerama dengan Semuel Wailerunny dan Stella Reawaruw. Mereka tengah membahas sengketa tanah di Urimesing, Ambon.

Sepanjang pertemuan, wajah Yohanes tampak muram. Ia mengaku menerima ancaman lewat telepon dan pesan singkat, sesaat sebelum bertemu mereka. “Almarhum sempat bilang kepada beta, ada telpon yang bilang jang se macam-macam beta bunuh ose (kamu). Dia juga sempat jawab ke peneror, kalau begitu kirim ose punya nama dan NRP,” kata Stella menirukan ucapan Yohanes. 

Yohanes mengatakan ancaman itu berasal dari seseorang yang mengaku intel di Kodam Pattimura. Kepada Stella dan Semuel, Yohanes mengaku akan menghadapi ancaman itu. Kepada keduanya, Yohanes menceritakan beberapa bulan sebelum kematiannya mengadvokasi sengketa tanah antara Suku Nuaulu dengan Kodam Pattimura di Pulau Seram, Maluku. “Ada tiga tentara berseragam yang pernah mendatangi dan mengancam Yohanes,” kata Semuel.

Sepanjang Februari 2016, Yohanes berada di Desa Sepa, Pulau Seram, tempat bermukim masyarakat penganut agama Nuaulu. Yohanes mendampingi Suku Nuaulu menghadapi PT Bintang Lima Makmur yang dituduh menyerobot hutan yang diklaim sebagai lahan adat seluas 24 ribu hektare. Yohanes sudah mendampingi masyarakat sejak akhir 2004.

Ia pernah melaporkan menerima ancaman itu kepada seorang staf Komnas Ham Maluku yang juga kerabatnya, Linda Holle. Pada awal 2016 itu, kata Linda, Yohanes berniat meninggalkan Pulau Seram dengan kapal cepat di Pelabuhan Amahai, Masohi, Maluku Tengah. “Dia mengatakan ada yang ingin membunuh dengan mendorong dia dari kapal,” kata Linda kepada Tempo. Yohanes mengurungkan niat menaiki kapal. Ia memilih menggunakan perjalanan dengan mobil untuk menuju Ambon, melewati daerah lain.

Tokoh pemuda Desa Sepa, Watta Peirissa, juga mengatakan Yohanes pernah menerima ancaman pembunuhan dari tentara dan manajemen PT Bintang Lima. Ia mendapatkan ancaman karena berusaha memasuki kantor PT Bintang Lima di Dusun Rohua, tak jauh dari Desa Sepa. “Masyarakat juga mendapatkan ancaman dari mereka,” kata Watta.

Manajer Personalia PT Bintang Lima Makmur, Bahtiar Sidik Kunyo, mengakui perusahaannya bekerja sama dengan pihak Kodam Pattimura. Mereka mengelola kayu di kawasan itu. Namun, ia menolak soal tuduhan ancaman pembunuhan dari petugas perusahaan kepada Yohanes dan masyarakat. Ia tak menjawab lebih detail soal ancaman tersebut. “Saya hanya bawahan,” ujarnya, 2 November 2019.

Kepala Penerangan Kodam Pattimura, Kolonel Jansen Simanjuntak, meminta masyarakat melapor jika menerima ancaman dari personel TNI. “Anggota TNI tidak boleh menyakiti hati rakyat,” tutur Jansen kepada Tempo, pertengahan Desember 2019. Menurut dia, seharusnya tentara melindungi masyarakat. Ia berjanji untuk menindaklanjuti ancaman kepada Yohanes ke satuan intel di Kodam Pattimura. “Ini harus menjadi peringatan kepada prajurit agar tidak boleh mencubit masyarakat, apa lagi mengancam,” ujarnya.

II

Fakta dari Makam

KELUARGA dan sahabat-sahabat meyakini Yohanes meninggal secara tak wajar. Beberapa hari setelah meninggal, mereka membentuk Tim Advokasi Sahabat Hati Yanes. Tim ini melapor secara resmi ke Kepolisian Daerah Maluku, 19 April 2016. Mereka meminta polisi menyelidiki kembali kematian Yohanes yang sebelumnya disebutkan meninggal karena kecelakaan tunggal.

Kepolisian merespons laporan tersebut dengan menyatakan mengirim surat memulai penyelidikan pada 4 Mei 2016. Mereka membongkar makam Yohanes di tempat pemakaman umum Jalan Hahurun, Ambon, sepekan kemudian. Dokter forensik dari Rumah Sakit Umum Daerah Masohi, Arkipus Pamutu, yang memimpin autopsi ulang itu. Autopsi di lakukan di sebelah liang Yohanes, dengan tertutup tirai. Isak tangis keluarga Yohanes, dan kemurungan wajah sahabat Yohanes mewarnai autopsi ulang itu.

Dokumen autopsi pertama di RSUD DR M. Haulussy yang diperoleh Tempo menyebutkan Yohanes mengalami luka di kepala depan, dan luka lebih berat di bagian belakang. Luka itu disebabkan oleh benda tumpul. Telinga kanan Yohanes berdarah akibat luka tersebut.

Dokter juga menemukan tulang rusuk ke-4,5 dan 6 Yohanes patah . Jaraknya sekitar 2,5 sentimeter dari tulang dada. Ada pula pembekuan darah di dada kanan sebesar 9x10 sentimeter. Laporan itu tak menyebutkan ada alkohol di tubuh Yohanes.

Potret laporan autopsi Yohanes.

Ditemui di RSUD Masohi, Arkipus Pamutu mengatakan tak ada yang berbeda antara hasil autopsi pertama dengan pemeriksaan ulang di penggalian makam Yohanes. Ia menyebutkan dokumen sebelumnya secara tak langsung menyebutkan kematian Yohanes diduga tak wajar. “Perkiraan kematian diduga akibat kekerasan benda tumpul seperti batu, kayu, besi atau benda keras lainnya,” katanya.

Pernyataan ini berbeda dengan temuan penyelidik Polda Maluku. Pada 11 Juni 2016, polisi mengumumkan kematian Yohanes karena kecelakaan tunggal. Dari hasil pemeriksaan saksi, polisi menduga Yohanes mabuk di malam itu. Ia pun diduga mengendarai sepeda motornya dengan kecepatan tinggi tanpa mengenakan helm. “Tidak terbukti mengalami penganiayaan,” kata Kepala Sub Direktorat 3 Direktorat Kriminal Umum Polda Maluku, Ajun Komisaris Besar Willem Tanasale.

Tempo membawa dokumen autopsi Yohanes ke dokter forensik senior Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat, Djaja Surya Atmadja, 23 Juli 2019. Setelah membaca tuntas dokumen itu, ia menduga Yohanes meninggal karena dipukul sangat keras di bagian kepalanya. “Dia ini dipukul sama benda tumpul dengan keras sekali, sehingga pendarahannya banyak,” kata Djaja. “Ini ada dua kali serangan ke kepalanya, bukan kecelakaan.”

III

Alkohol di Pesta Ulang Tahun

YOHANES Yonathan Balubun tampak rapi di malam itu, Rabu, 6 April 2016. Berkemeja tangan panjang warna biru, dan celana jins yang masih terlihat bersih. Ia hendak pergi ke pesta ulang tahun Edwin Huwae, Ketua Dewan Perwakilan Daerah Maluku, kala itu. Ruth Lawalata, istri Yohanes, mengingatkan agar tak pulang terlalu malam. Yohanes berangkat ke Sorong esok hari. “Saya minta dia jangan terlalu banyak minum, meski dia tidak suka mabuk,” kata Ruth kepada Tempo.

Yohanes memacu sepeda motornya ke lokasi pesta, sekitar pukul 21.15 WIT. Ia membawa serta helmnya. Acara itu digelar di rumah Edwin di kawasan Karang Panjang, Ambon. Edwin mengaku tak melihat Yohanes di malam itu. Ia pun merasa tak mengundang Yohanes. “Saya tidak tahu dia datang ke acara syukuran, dan saya juga tidak tahu soal kematian Yohanes,” ujar Edwin.

Ia tak berlama-lama di acara ulang tahun Edwin. Sekitar pukul 23.00 WIT, Yohanes tiba di acara ulang tahun teman pengacaranya yang lain, Daniel Nirahua, di Swiss-Belhotel Ambon. Seorang tamu di acara itu, Yakobis Siahaya, mengaku bertemu Yohanes di acara tersebut. Keduanya berteman. Menurut Yakobis, Yohanes menenggak minuman keras di acara ulang tahun tersebut. “Dia happy-happy di acara itu,” kata Yakobis kepada Tempo.

Keduanya sama-sama meninggalkan hotel sekitar pukul 00.30, Kamis, 7 April 2016. Saat diperiksa polisi, Yakobis mengaku sempat melihat Yohanes terpeleset saat menuju parkir sepeda motor. Daniel hingga kini entah ke mana. Ia menghilang usai kasus pembobolan salah satu bank di Ambon meledak, pertengahan tahun lalu.

Pergerakan Yohanes di hari dia meninggal.

Mereka yang menolong Yohanes di malam nahas itu memberikan penjelasan yang berbeda. Dari empat saksi yang ditemui Tempo secara terpisah, tak ada yang mencium aroma alkohol dari mulut Yohanes. “Kalau dia minum pasti saya mencium aromanya karena saya yang mengangkat bagian kepalanya,” ucap Simon, salah seorang penolong Yohanes.

Fakta lain yang terungkap dari penelusuran Tempo adalah kesaksian masyarakat soal dua orang pengendara sepeda motor yang berada di lokasi kejadian di malam itu. Sejauh ini, polisi belum menelusuri keberadaan mereka. Helm Yohanes ditemukan di salah satu rumah sahabatnya. Ia diduga menyinggahi rumah itu seusai dari hotel.

Sementara, Tim Advokasi Sahabat Hati Yanes meyakini kedua pengendara tersebut mengetahui apa yang terjadi sebelum Yohanes terjatuh. “Kami meyakini Yanes dibunuh,” kata Koordinator Tim Advokasi, Yohanis Butje Hahury.

Tempo menelusuri rute Yohanes di malam itu, mulai dari Swis-Belhotel hingga jalan Ina Tuni. Hasilnya, Yohanes melewati jalanan yang mendaki dan berliku. Jarang sekali terlihat kendaraan yang melintas di atas 40-50 kilometer per jam. Kondisi jalan semakin sepi menjelang tengah malam.

“Kecelakaan” yang dialami Yohanes memicu Johanis Amahoru melakukan penelitian kecil soal kondisi fisik sekitar Jalan Ina Tuni. Johanis adalah dosen di Fakultas Teknik Sipil Universitas Kristen Indonesia Maluku. Menurut Johanis, ia meneliti kondisi jalan di sana bersama mahasiswa. Mereka menghitung kecepatan sepeda motor dan mobil di jalanan tersebut. “Semua kendaraan pasti mengurangi kecepatannya saat melewati Jalan Ina Pitu menjadi maksimal 35 kilometer per jam,” ujarnya.

Kondisi jalan, katanya, membuat pengendara berhati-hati. Apalagi bagi pengguna yang sering melewati jalan tersebut. Pandangan pengemudi juga terhalang pepohonan. “Kesimpulannya, lokasi tersebut jarang sekali untuk terjadi kecelakaan, apalagi kecelakaan tunggal, karena pengendara pasti menurunkan kecepatan,” kata Johanis.